Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #8 Patah Hati


__ADS_3

Semalaman Aca tak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin dengan Kian.


"Apa aku suka sama Kak Kian? Kok selalu deg - deg an kalo dekat dia." gumam Aca dalam hati. Aca sibuk membolak balikkan tubuhnya sambil memikirkan Kian dan Difan. Membandingkan kedua lelaki itu.


"Aku harus tetap setia sama Kak Difan. Lagian belum tentu Kak Kian suka sama aku. Mungkin tadi cuma terbawa suasana aja." Aca mulai sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Agghh.. Kenapa kalian bikin aku bingung? Masa aku suka sama mereka berdua?" Aca menjambak rambutnya sendiri.


Akhirnya Aca tertidur setelah berulang kali memikirkan tentang Kian dan Difan.


Di tempat lain pun Kian sedang memikirkan tentang Aca.


"Kenapa semakin lama dia semakin cantik aja." batin Kian.


"Gak sia - sia aku nungguin dia dari dulu ternyata memang besarnya cantik." Kian sudah tersenyum senyum sendiri.


"Kamu kenapa Nak? Kok senyum - senyum sendiri? Mikirin pacar ya?" Manda tiba - tiba masuk dan mengagetkan Kian.


"Manda, masuk kok gak ketuk pintu dulu." protes Kian.


"Udah Manda ketuk dari tadi, tapi kamunya malah kelihatan senyam senyum sendiri di atas ranjang." Manda menghampiri Kian dan menyimpan susu hangat di meja samping ranjang. Kian memang terbiasa minum susu hangat sebelum tidur.


"Hhmm.. Gak papa Nda." jawab Kian sambil meminum susu hangatnya.


"Pacaran boleh tapi kuliah juga harus bener. Jangan sampe pacaran kebablasan juga ya." Manda mengusap lembut rambut anak bujangnya yang sudah dewasa ini.


"Iya Nda." Kian mencium pipi ibunya.


"Ya sudah tidur sana." Manda beranjak keluar kamar Kian.


Kian pun mematikan lampu dan bersiap untuk tidur.


"Semoga kita bertemu dalam mimpi ya Ca." gumam Kian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ca, bangun. Udah siang nih." Ical mengetuk pintu kamar Aca.


Aca pun melirik pada jam di meja belajar. Ternyata sudah setengah 7. Aca langsung lari ke kamar mandi.


"Kamu kok baru bangunin aku sih Cal?" protes Aca saat duduk di meja makan.


"Dari jam 6 udah aku bangunin. Kamu sampai gak sholat subuh kan?" kata Ical.


"Emang lagi gak sholat." gerutu Aca.


"Rotinya dibungkus aja Ca. Nanti kita telat. Motor aku kan juga lagi rusak jadi kita naik angkot." ucaoan Ical membuat Aca semakin panik.


"Ya ampun. Kenapa sih hari ini sial banget. Ayo deh." Aca langsung mengambil tasnya dan bersiap memakai sepatu.


Mereka berdua pun berjalan menuju halte tempat angkot. Belum sampai di halte, dilihatnya ada mobil berhenti.


"Hai. Ayo bareng aku aja." kata Difan dari dalam mobil.

__ADS_1


"Kak Difan, Alhamdulilah." Aca langsung masuk dan duduk di kursi belakang. Ical lun mengikutinya.


"Untung ada Kakak. Kalo gak kita pasti telat sampai sekolahnya." ucap Ical.


"Kenapa gitu? Kok tumben gak bawa sepeda motor?" tanya Difan yang terlihat ganteng dengan kemeja biru dan celana bahannya.


"Tuh gara - gara tuan putri bangun kesiangan, padahal motor aku lagi rusak." Ical menunjuk Aca yang sedang asik menikmati roti bakarnya.


"Hehehe. Ya maaf Cal. Untung ada kak Difan. You're my hero." Aca memberikan tanda hati untuk Difan.


"Lebay." protes Ical yang selalu tidak suka dengan sikap Aca yang berlebihan ketika menghadapi Difan.


"Bawel." balas Aca sambil mencubit lengan Ical.


"Udah. Jangan berantem. Udah sampai nih. Kalian turun sini aja ya, aku mau parkir." Difan membelokkan mobil ke area sekolah dan berhenti tepat di depan pos satpam.


"Makasih ya Kak." kata Aca dan Ical berbarengan sambil berjalan menuju kelas mereka.


Sepulang sekolah Aca kerja kelompok di rumah Kiki. Mereka mampir dulu ke Gra****a untuk membeli buku dan bahan untuk membuat kliping.


"Ca, kamu lihat deh disana." bisik Dhea sambil menunjuk ke arah kasir.


Dilihatnya sosok lelaki dengan perempuan terlihat sangat akrab.


"Kok kayak Kak Difan?" gumam Aca dalam hati.


"Itu kan Mr. Difan?" Kiki sudah berkata terlbih dahulu.


"Iya bener." jawab Aca singkat.


"Gak. Eh, sebentar, kayaknya wajahnya familiar." Aca berpikir sejenak.


"Itu kan.." Dhea dan Kiki saling bertatapan.


"Itu Bu Fitri, guru Bahasa Jepang kelas XII." kata Kiki.


"Iya bener, itu Bu Fitri. Ada hubungan apa ya mereka?" tanya Aca.


"Kamu yang lebih kenal sama Mr. Difan. Masa gak tau sih?" tanya Dhea.


"Ya gak taulah. Kita kan beda angkatan. Jadi kenal gitu aja, gak akrab kayak sahabat." jawab Aca.


"Mereka mesra banget loh. Tapi di sekolah gak pernah terlihat bareng ya?" kata Dhea yang tak tahu dengan perasaan Aca.


"Tapi pagi aku juga berangkat bareng Kak Difan, tapi dia gak cerita apa - apa." gumam Aca yang masih terdengar oleh Kiki dan Dhea.


"Tanyain deh Ca. Biar gak penasaran." kata Dhea mulai penasaran.


"Ogah. Lagian kapan bisa ketemu lagi juga gak tau." jawab Aca kembali mencari buku.


"Kita ikutin mereka yuk?" ajak Kiki.


"Trus ini bukunya gimana?" tanya Aca sambil menunjukkan buku di tangannya.

__ADS_1


"Biar Dhea aja yang bayar. Ntar kita tunggu di depan." Kiki langsung memberikan semua belanjaan mereka dan uang 100 ribu ke Dhea.


Kiki langsung menarik tangan Aca untuk mengikuti kak Difan dan Bu Fitri. Ternyata mereka menuju ke resto fast food yang tepat berada di sebelah Gra****a.


"Kamu duduk situ Ca. Aku beli es cone dulu." Kiki menyuruh Aca duduk di kursi di belakang Bu Fitri. Mr. Difan tampak antri memesan makanan. Kiki pun ikut antri diam diam.


Aca sempat melihat Difan datang membawa nampan berisi nasi dan ayam kriuk. Aca pun langsung membalikkan badannya dan pura - pura memainkan hp nya. Tak lupa dia pun segera mengirim pesan pada Dhea untuk menyusul kesini.


"Ayo dimakan Fit." kata Difan dengan sopan.


"Makasih Mas." Jawab Fitri.


"Sepertinya mereka sangat akrab hingga saling memanggil nama." gumam Aca dalam hati.


"Mas, aku suka takut kalo ketahuan di sekolah." kata Fitri.


"Kita biasa aja kalo di sekolah. Kita juga jarang ketemu kan di ruang guru." kata Difan.


"Tapi ya suka gugup aja kalo pas ada kamu." kata Fitri lagi.


"Gak lah Semua juga tahunya kita gak terlalu akrab kan. Jadi kalo di sekolah, kamu dengan teman kamu aja, begitu pun aku." Difan memegang tangan Fitri.


"Kalau ada yang godain aku gimana?" pancing Fitri.


"Aku bisa maklum kok. Kan mereka tahunya kamu masih single. Tapi kamu juga harus maklum kalo ada yang godain aku juga." Difan mengedipkan matanya genit.


"Iya Mas. Semoga aku gak khilaf ngelabrak orang yang gidain kamu. Hehehe." Fitri tertawa.


"Ternyata mereka memang pacaran tapi backstreet. Sakit banget hati ini." kata Aca dalam hati.


Aca pun memilih pindah meja ke sisi lain di resto itu.


"Gimana Ca? Kok pindah meja sih?" tanya Kiki yang datang membawa es cone dan kentang goreng.


"Ntar kedengeran lagi kalo diam disana." Aca coba tersenyum.


"Iya juga sih. Trus ada hubungan apa mereka?" tanya Dhea penasaran.


"Kayaknya lagi beli keperluan sekolah aja deh." jawab Aca tak bersemangat.


"Masa sih? Kirain pacaran. Lagian kamu kenapa kayak orang patah hati sih ?" tebak Kiki yang sangat mengena bagi Aca.


"Biasa aja." jawab Aca singkat sambil menikmati es cone nya. Sebenarnya dalam hati memang Aca patah hati mendengar Difan memiliki hubungan spesial dengan bu Fitri.


Bagaimana kelanjutan perasaan Aca ? Apa langsung berpaling pada Kian?


Jangan lupa tetap dukung Author..


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏


Bersambung


__ADS_2