Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
#47 Papa Sakit


__ADS_3

Tak terasa usia pernikahan mereka sekarang sudah menginjak 6 bulan. Sissy belum juga hamil. Rio masih sering dinas ke luar kota. Tetapi hubungan mereka masihlah hangat dan harmonis. Sebulan sekali Sissy akan berkunjung gantian ke Malang dan Jombang. Sissy memutuskan pulang ke Malang 2 bulan sekali karena saat ini dia sedang program hamil yang membuatnya tidak boleh capek.


"trrtt.. trrtt.. *


Teh Santi


Assalamualaikum De, Gimana kabar kamu & suami?


Sissy


Waalaikumsalam. Alhamdulilah baik Teh. Kabar Teteh sm Icha gimana?


Teh Santi


Alhamdulilah baik De. Cuma kondisi papa nih kurang baik.


Sissy


Loh Papa kenapa Teh? Jantungnya kambuh?


Teh Santi


Iya De. Jantung nya kmrn kambuh. Ini skrg lagi opname di RS.


Sissy


Ya Allah. Kenapa baru kasih tau skrg Teh?


Teh Santi


Kan baru tadi pagi dibawa ke RS nya. Tadi Teteh riweuh sama Ibu. Panik dia.


Sissy


Iya Teh. Sissy doain semoga Papa bisa pulih lagi.


Teh Santi


Aamiin De. Barusan Teteh juga udah telp Ochy. Tapi Teteh belum bilang Mama. Takutnya kaget.


Sissy


Iya Teh. Biar Mama gak usah tau dulu. Titip Papa ya Teh.


Teh Santi


Pasti Teteh jagain. Kan Teteh juga anaknya. Kamu doain ya De.


Sissy


Iya Teh. Salam buat Ibu juga ya.


Sissy hanya termenung memikirkan kondisi Papa. Entah kenapa tubuh Sissy terasa lemas dan sedikit pusing. Ini udah kedua kalinya jantung Papa kambuh. Kadang Sissy merasa kasian sama Papanya yang harus tinggal jauh dengan anak - anaknya. Hubungan orangtuanya yang tidak akur melatar belakangi hal itu. Bahkan setelah Mama sempat koma dan kondisi nya melemah, Papa memilih untuk tinggal di kampung halamannya dan menikah lagi disana, meskipun hanya nikah siri. Istri baru Papa nya pun sebenarnya cukup baik. Beliau adalah janda yang memiliki 2 anak yang sudah dewasa juga. Tapi Sissy hanya sekali bertemu dengan Istri Papanya itu saat Papa operasi pasang ring dulu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sissy masih melamun di ruang tengah. Memikirkan tentang kondisi Papa yang makin memburuk. Entah kenapa sejak tadi perasaan Sissy sangatlah tidak enak. Bahkan Sissy sempat muntah - muntah.


"Assalamualaikum." Rio masuk rumah sambil memberi salam.


"Waalaikumsalam. Mas udah pulang." reflek Sissy mencium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Dek? Kok tadi Mas liat kayak lagi ngelamun?" tanay Rio sambil duduk di samping Sissy.


"Papa masuk rumah sakit lagi Mas." jawab Sissy sedih.


"Kambuh lagi jantungnya?" tanay Rio smabil mengusap lembut punggung Sissy.


"Iya. Entah kenapa aku takut terjadi sesuatu sama Papa." kata Sissy sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.


"Kamu doain Papa aja biar bisa pulih kembali." Rio menarik Sissy kedalam pelukannya.


"Iya Mas." Sissy menjawab dengan lemah.


"Apa kamu mau ke Bandung liat Papa?" Rio bertanya.


"Emang Mas bisa?" Sissy memandang wajah suaminya.


"Bisa aja. Nanti Mas atur cutinya. Biar kamu juga lebih tenang." kata Rio sambil mengusap airmata Sissy yang mengalir di pipinya.


"Makasih ya Mas." Sissy memeluk Rio dengan erat.


"Apapun aku lakukan buat kamu sayang." Rio balas memeluk Sissy dengan erat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sissy terbangun karena mendengar suara orang menangis. Sissy turun dari ranjang dan masuk ke dalam ruangan yang serba putih. Dilihatnya sesosok tubuh terbaring di tengah ruangan dan ditutupi kain putih, seperti kain kafan. Di kelilingi oleh orang - orang yang menangisi sosok tersebut.


"Siapa yang meninggal?" Sissy bertanya pelan.


Semua orang tak ada yang menjawabnya dan masih sibuk menangis. Beberapa berpelukan saling menguatkan. Sissy mendekat, dilihatnya wajah - wajah yang sangat dikenalnya. Ada Mama, Teh Ochy, Teh Santi, Reva, Rara, Icha, Ibu , A arya.


"A Arya? Bukankah A Arya sudah meninggal?" batin Sissy. Sissy mulai bingung siapa sebenarnya yang meninggal. Kenapa gak ada Papa dan Rio disana? Sissy pun menghampiri jenazah tersebut. Dilihatnya wajah orang tersebut. Ternyata itu Papa, yang sedang terpejam dengan senyum yang tersungging di wajahnya.


"Papa.." Sissy berteriak sambil menghambur memeluk Papa. Diguncangnya tubuh Papa yang sudah terbalut kain kafan. Apa benar Papa sudah meninggal? Lalu dimana Rio, suaminya. Tiba - tiba ada yang memegang bahunya.


"Astagfirullah Al adzim." Sissy terbangun dan membuka matanya.


"Kamu mimpi apa Dek?" Rio menyadarkannya.


"Mas, Aku mimpi Papa meninggal." Sissy memeluk erat Rio.


"Tenang dulu ya. Nih, minum dulu." Rio menyodorkan segelas air putih ke mulut Sissy. Sissy pun meneguknya dan mengambil nafas panjang.


"Kalo sudah tenang kamu cerita sama Mas." kata Rio sambil membelai rambut Sissy.


Sissy pun menceritakan tentang mimpinya itu sambil menangis terisak - isak.


"Itu cuma mimpi Dek." kata Rio menenangkan Sissy.


"Tapi mimpinya nyata banget Mas." Sissy masih gemetar.


"Insha Allah Papa baik - baik aja Dek." kata Rio lagi.


"Kita berangkat ke Bandung ya Mas?" Sissy memohon pada Rio.


"Kamu tenang dulu ya. Besok kita telpon dulu Teh Santi. Tanya keadaan Papa gimana." Rio memeluk Sissy dengan erat.


"Sekarang aja Mas." Sissy mencari hp nya di meja samping ranjang. Ditekannya nomer Teh Santi.


"Dek, sekarang masih malam. Kasian Teh Santi sedang istirahat. Sabar dulu ya. Abis subuh kita telpon Papa." Rio mengambil hp Sissy dan mematikan panggilannya.


"Tapi Mas.." Sissy masih berusaha mengambil kembali hp nya.

__ADS_1


"Percaya sama Mas, Papa baik-baik aja Dek. Sekarang kita tidur lagi ya." Kata Rio sambil merebahkan tubuh Sissy. Rio pun ikut berbaring di sebelahnya dan menarik Sissy ke dalam pelukannya. Rio terus membelai Sissy sampai istrinya itu tertidur.


Keesokan paginya Sissy terbangun oleh suara hpnya.


*kring.. kring..*


Telpon dari Teh Santi.


"Assalamualaikum De. Maaf tadi Teteh gak denger telpon kamu." kata Teh Santi.


"Waalaikumsalam. Gak papa kok Teh. Kondisi Papa gimana Teh?" tanya Sissy.


"Alhamdulilah Papa sudah baikan De. Sudah pindah ke ruang rawat." kata Teh Santi lagi.


"Alhamdulilah. Jangan terima banyak tanu dulu Teh, biar Papa istirahat." Sissy bisa bernafas lega mendengar berita itu.


"Iya De. Ini juga gak terima tamu."


Sissy menceritakan soal mimpinya semalam.


"Kamu gak usah kesini De. Insha Allah kondisi Papa sudah stabil kok." pesan Teh Santi.


"Tapi aku mau nengok Papa Teh." ujar Sissy ngotot.


"Biar Papa istirahat dulu De. Nanti kalo Papa udah bangun, Teteh suruh telpon kamu deh." Teh Santi memberi solusi buat Sissy.


"Besok aja deh kalo kondisi nya udah pulih. Kasian." Sissy akhirnya memutuskan untuk membiarkan Papa istirahat.


"Iya De. Gitu lebih baik." kata Teh Santi sambil menutup telponnya. Sissy menutup hp nya dan menyimpannya di meja samping tempat tidur.


Keesokan harinya bahkan Papa sudah diperbolehkan pulang. Sissy pun sempat Video Call dengan Papanya dan melihat sendiri kondisi Papa yang memang sudah membaik.


"Assalamualaikum Pa." Sapa Sissy.


"Waalaikumsalam." jawab Papa sambil tersenyum.


"Papa sudah baikan?" tanya Sissy memandangi Papanya.


"Alhamdulilah De. Nih liat sendiri Papa sudah sehat. Kamu tuh yang pucat." kata Papa sambil menunjuk Sissy.


"Iya nih Pa. Semalem nangis terus mikirin Papa." kata Rio ikut nimbrung.


"Habis Papa kan sakit." kata Sissy manja.


"Hahaha. Iya De. Kamu juga istirahat, jaga kesehatan. Papa udah banyak yang ngurus kok." kata Papa.


"Iya Pa." Jawab Sissy.


"Rio, jagain Sissy tuh, jangan boleh capek-capek." Pesan Papa pada Rio.


"Siap Pa." jawab Rio singkat.


"Ya udah Papa mau istirahat dulu. Rio, Papa pesan kamu harus jaga istri dan anak kamu ya!" kata Papa sambil mematikan sambungan teleponnya.


Apa kata Papa? Anak? Emang Sissy hamil ya?


Penasaran gak? Sissy hamil atau gak?


Dukung terus Author 💪💪


Jangan lupa Like 👍, Komen dan Vote..

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏


Bersambung


__ADS_2