
Sissy bangun dan menyadari bahwa sekelilingnya gelap. Ternyata mata tertutup oleh kain hitam, tangan dan kakinya pun diikat. Sissy pun merasakan kalo dia duduk di sebuah kursi yang empuk. Sissy mencoba berteriak sekuat tetapi sepertinya tenaganya sudah habis saat mencoba melawan tadi. Didengarnya sebuah langkah kaki mendekatinya. Orang itu meminumkan segelas air untuknya.
"Kamu sudah bangun sayang?" suara seorang lelaki menyapanya.
"Kamu siapa?" Sissy bertanya dengan suara bergetar.
"Masa kamu lupa dengan suaraku?" lelaki itu balik bertanya. Sissy coba mengingat- ingat siapa pemilik suara itu.
"Kamu siapa?" Sissy bertanya dengan suara bergetar.
"Masa kamu lupa dengan suaraku?" lelaki itu balik bertanya. Sissy coba mengingat- ingat siapa pemilik suara itu.
"Lepasin aku." Sissy meronta-ronta.
"Kamu diam dulu dong sayang." penculik itu mencoba membujuknya agar diam.
"Bilang kamu siapa? kenapa kamu nyekap aku kayak gini?" Sissy memberondongnya dengan pertanyaan.
"Nanti juga kamu akan tau. Sudah kamu diam aja dulu." kata penculik itu lagi.
"Tolong lepasin aku." Sissy memohon pada penculik itu.
"Nih, kamu minum dulu." Penculik itu membuka paksa mulut Sissy.
"Uhuk.. uhuk.." Sissy pun tersedak.
"Kamu lapar gak sayang?" kata Penculik itu.
"Gak." Jawab Sissy ketus yang dibarengi dengan bunyi krucuk krucuk dari perutnya.
Penculik itu tertawa mendengar bunyi perut Sissy.
"Tuh kan kamu lapar sayang. Aku ambilin nasi goreng seafood kesukaan kamu ya?" Penculik itu hapal sekali makanan kesukaannya.
"siapa sebenernya penculik itu. Kok bisa tau makanan kesukaannya?" Sissy berpikir dalam hati.
"Nih makanannya. Ayo buka mulutnya." perintah penculik itu.
"Lepasin dulu penutup mata aku. Gimana mau makan kalo gak keliatan." Sissy berusaha mencari alasan agar penutup matanya dibuka.
"Jangan nyari kesempatan deh. Sini aku suapin." penculik itu seperti tau maksud Sissy.
__ADS_1
Penculik itu menyuapi Sissy dengan sabar dan telaten. Sissy merasa sebenarnya dia orang yang baik, karena perhatian dengannya. Bahkan mau menyediakan makanan kesukaannya.
Meski merasa takut dan terancam tetapi Sissy mencoba untuk menuruti apa kemauan penculik itu.
Selesai makan, Sissy pun ditinggalkan lagi di ruangan itu. Ikatan di kakinya sudah dilepas, hanya tinggal ikatan di tangan dan matanya.
"Tolong.. Tolong.. Saya ingin pipis." Teriak Sissy hingga terdengar suara pintu dibuka dan langkah kaki mendekat. Seseorang menarik tangannya hingga ia berdiri. Lalu dituntunnya ke sebuah tempat. Terdengar suara pintu dibuka dan Sissy didorong masuk ke dalam.
Ikatan mata dan tangannya dilepas. Ternyata dia sudah ada di dalam kamar mandi.
"Jangan membalikkan badan. Cepat pipis sana. Saya tunggu di luar." Perintah orang tersebut.
Sissy hanya bisa mengangguk dan segera menyelesaikan buang air kecil tersebut.
Sissy mencoba mengamati sekitarnya dan berpikir strategi apa yang harus dilakukannya. Kamar mandi itu hanya memiliki fentilasi kecil di bagian belakang atas. Sissy naik ke atas bak mandi dan mengintip keluar dari fentilasi itu. Yang terlihat hanya semak belukar seperti kebun yang tak terawat. Sepertinya tempat ini jauh dari mana-mana. Dia mencoba mencari Hp nya di kantong celana ketika diingatnya kalo dia menyimpan hp di tas nya.
"Ayo cepat keluar. Jangan coba- coba kabur." Penculik itu menggedor pintu dengan keras.
"Iya sebentar." Sissy mencoba mengulur waktu.
"Jangan macam-macam ya kamu. Apa perlu aku dobrak pintunya?" Ancam penculik itu lagi.
Sissy pun segera membuka pintu, dia berusaha melihat siapa orang yang menculiknya itu. Ternyata dia memakai masker sehingga Sissy hanya melihat sepasang mata coklat dengan bulu mata yang lumayan lentik untuk seorang cowok. Sissy seperti mengenal mata itu. Sissy langsung dibawa ke sebuah ruangan. Dia didudukkan di sebuah sofa dan tangannya diikat ke belakang. Kali ini mata nya dibiarkan terbuka.
Sissy melihat ke sekeliling ruangan mencari keberadaan tasnya. Sepertinya tas itu sudah dibawa oleh sang penculik. Tiba-tiba matanya melihat sebuah benda hitam di samping sofa, ya itu tasnya.
Sissy berusaha bergeser mendekat ke tas itu. Dia pun turun dan mengarahkan tangan nya membuka resleting tasnya. Agak susah karena posisi tangannya diikat kebelakang dan Sissy tidak bisa melihat jelas posisi resleting tas itu.
Berhasil. Dia pun mengubek-ubek isinya dan mengambil sebuah hp.
Sissy mencoba membuka sandi hp nya. Butuh 10 kali mencoba baru bisa terbuka. Sissy langsung mencari kontak di hp nya, dia pun mengirim share lock ke grup chat Pelangi dan Rio. Belum sempat menuliskan pesan tiba-tiba ada langkah kaki mendekat.
*krieettt*
Terdengar suara pintu dibuka bertepatan dengan dia duduk kembali di sofa. Sissy pun langsung berusaha menyembunyikan hp dilipatan sofa.
"Rissya Kamalia." penculik itu memanggil nama lengkapnya.
"Deg.. Siapa dia" batin Sissy penasaran.
"Apa kabar Lia sayang." penculik itu membelai wajah Sissy dengan lembut.
__ADS_1
Sissy tau seseorang yang memanggilnya dengan nama itu.
"Kamu, Mas Arif?" Sissy mencoba mengenali lagi sepasang mata itu. Ya mata Mas Arif memang berwarna coklat dan bulu mata nya lumayan lentik.
"Ternyata kamu masih ingat saya?" Kata orang tersebut sambil membuka maskernya.
"Mas, kenapa kamu culik aku?" Sissy bertanya dengan suara tercekat.
"Hahaha. Kamu jangan ketakutan gitu sayang." Suara beratnya membuat Sissy merasa terintimidasi.
"Mas, Lepasin aku. Tolong lepasin aku." Sissy memohon dengan suara lirih.
"Nanti pasti aku lepasin. Setelah kita bersenang-senang." Arif menyeringai sambil mengecup puncak kepala Sissy.
Sissy merasa risih dan merinding dengan tingkah laku Arif.
*ttrrttt.. ttrrttt... *
"Sialll.. Kenapa hp nya harus getar sih disaat seperti ini" Ternyata Arif tak mendengarnya karena hp tertutup oleh badan Sissy.
Arif sudah menjulurkan tangannya membelai rambut Sissy, mulai turun ke wajahnya dan berhenti di lehernya. Arif menarik leher Sissy mendekat ke wajahnya. Sekarang wajah mereka hanya berjarak 5 senti. Sissy bisa melihat kilat amarah sekaligus nafsu di mata Arif. Sissy yang sangat ketakutan memejamkan mata nya, dia dapat merasakan nafas Arif didepannya.
*kring.. kring.. * Suara Hp Arif menyelamatkannya.
"Tunggu ya Lia sayang. Nanti kita lanjutkan." Arif beranjak keluar ruangan sambil berbicara di telpon.
Fiuh.. Panggilan telpon itu sudah menyelamatkan nyawanya. Ada beberapa pangilan masuk dari Rio. Sissy mengetik pesan lagi ke grup Pelangi 'Tolong' ketiknya dengan susah payah.
Lalu Sissy cepat-cepat memasukkan lagi hp nya di tas hitam miliknya. Dia tak ingin Arif curiga dengan hp nya itu dan malah menyitanya.
Arif adalah kakak senior sekaligus mantan pacarnya di ekskul basket SMP, yang sengaja dihindarinya waktu Reuni akbar kemarin. Sissy punya sedikit pengalaman buruk dengan Arif.
Seperti apa kisah Sissy dengan Arif dulu?? Penasaran gak? penasaran dong ya pastinya .. hehehe.. *authornya maksa*
Tunggu kisahnya besok ya..
Jangan lupa like nya 👍👍
kasih tips/vote juga boleh banget 👌👌
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Bersambung