
Akhirnya Aca sudah mulai bersikap seperti biasa. Hanya saja dia masih menghindari saat tak sengaja bertemu dengan Difan di sekolah. Di jam istirahat Aca sedang menikmati bakso di kantin bersama sahabatnya Kiki.
"Ca, aku masih penasaran sama Pak Difan dan Bu Fitri." kata Kiki yang langsung mbuat Aca tersedak.
"Uhuk.. Uhuk.." Aca batuk - batuk.
"Pelan - pelan dong Ca." Kiki menyodorkan es jeruknya.
"Penasaran apalagi?" tanya Aca sambil meneguk es jeruknya
"Kayaknya mereka beneran pacaran deh." kata Kiki lagi.
"Sok tahu. Kan kemarin aku bilang kalo mereka lagi ada tugas beli keperluan sekolah." Aca mencoba bersikap santai.
"Trus kan Pak Difan anak sahabat Bunda kamu. Masa kamu gak tau siapa pacarnya.
"Justru karena itu. Kalo Kak Difan punya pacar aku pasti tahu dong. Paling gak dari Bundaku." Aca masih coba bersikap santai.
"Iya juga sih." Kiki akhirnya tak bertanya lagi.
"Hai Ca." Bayu menepuk bahu Aca.
"Hai Bay. Sendiri aja?" tanya Aca mencari sosok Ical.
"Ical sama Dino masih ke toilet dulu." jawab Bayu sambil menyeruput es jeruk punya Aca.
"Hai sayang." Dino memeluk bahu Kiki dari belakang. Kiki tak menjawab hanya menunduk saja.
"Sayang? Jangan bilang kalian pacaran?" Bayu penasaran.
"Sejak kapan?" tanya Aca sambil menyenggol lengan Kiki.
"Kamu sih pake panggil sayang segala." Kiki mengomel pada Dino.
"Ya maaf. Tadi keceplosan." Dino memamerkan giginya di depan Kiki.
"Selamat ya. Kalian memang cocok." kata Ical sambil mengaduk baksonya.
"Asik. Traktir dong." Aca pindah duudk disamping Ical.
"Tuh tanggung jawab No." kata Kiki.
"Siap. Makanan kalian aku bayarin." kata Dino sambil mengeluarkan uang 100 ribu.
"Aku yang pegang uangnya." Bayu langsung mengambil uang itu.
"Giliran uang aja cepet banget." gerutu Dino.
"Kalo gak aku amanin pasti gak bakal traktir kamu." kata Bayu lagi.
"Jangan diabisin woy. Itu jatah seminggu." Dino berusaha merebut kembali uang itu tapi kalah cepat dengan Bayu.
Aca dan Ical hanya tertawa mendengar 2 cowok itu berdebat. Sedangkan Kiki masih tertunduk malu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak terasa sudah hari minggu lagi. Hari ini Sissy dan Rio pulang, setelah mundur 3 hari dari rencana awal.
"Assalamualaikum." Sissy memberi salam.
"Waalaikumsalam. Bunda, Aca kangen." Aca langsung memeluk Sissy.
"Iya, Bunda juga kangen sama kalian." Sissy juga memeluk Ical.
"Gak ada yang kangen sama Ayah?" tanya Rio sambil membawa masuk koper, kantong dan kardus berisi oleh - oleh.
"Biasa aja Yah. Kangen juga sama yang dibawa Ayah. Hehehe." Aca menghampiri Rio dan memeluknya.
"Dasar kamu nih. Anak cantik Ayah." Rio mengacak rambut Aca gemas.
"Ical kangen kok sama Ayah. Tapi bener juga kata Aca, lebih kangen sama oleh - olehnya." Ical memeluk Rio sekilas.
"Anak ganteng sama aja kelakuannya. Anak kamu nih Bun." gerutu Rio.
"Iya dong pastinya anak Bunda." Sissy tersenyum sambil memeluk Rio.
__ADS_1
"Ehem.. Uwa dicuekin nih." kata Ochy dari ruang tamu.
"Hehehe. Kangen Uwa juga." Aca dan Ical langsung memeluk Ochy.
"Uncle kemana Wa?" tanya Ical.
"Uncle langsung istirahat di rumah. Kecapekan di jalan." Kata Ochy sambil membelai rambut Aca dan Ical.
"De, Teteh langsung ke rumah ya. Kopernya biar nanti aja diambil sama Matt." Ochy langsung masuk ke rumahnya dari pintu pemghubung di taman belakang.
Aca dan Ical langsung sibuk membuka oleh - oleh. Aca berebutan memilih kaos dengan gambar gedung sate di Bandung.
"Bun, ngapain beli kebaya sih?" tanya Aca mengeluarkan 2 buah kebaya dan 2 kemeja batik dari kantong plastik.
"Itu buat acara nikahan kak Reva sayang." jawab Sissy.
"Bunda beli ?" tanya Aca lagi.
"Iya. Kemarin Bubun lihat yang bagus. Jadi beli deh. Udah ada rok sama batik nya buat Ayah sama Ical." kata Sissy.
"Mantap deh." kata Aca sambil mencoba merentangkan kebayanya.
"Suka gak sayang?" tanya Sissy yang sibuk mengeluarkan camilan dari kardus.
"Lucu Bun. Aku suka. Yang punya Bubun juga bagus." Aca merentangkan kebaya milik Sissy.
Kamu gantung trus simpan di lemari kamar tamu deh sayang. Sekalian sama kemeja batik punya Ayah dan Ical." perintah Sissy pada Aca.
"Siap Bun." Aca langsung membawa kebaya dan batik itu ke kamar tamu.
"Bun, Ayah bikinin kopi ya!" teriak Rio dari teras belakang.
"Iya Yah. Bentar, airnya belum mendidih." jawab Sissy.
"Antar ke teras belakang ya." kata Rio lagi.
"Siap Yah." Sissy langsung menyiapkan camilan ke piring.
"Ca, Ical, Tolong antarkan oleh - oleh ke rumah Mama Amira, Manda Zizi dan Mama Yoan." kata Sissy pada kedua anaknya.
"Jangan dong sayang. Nanti Ical susah bawanya. Kamu temenin ya." kata Sissy.
"Iya deh Bun. Aca ambil jaket dulu." Aca langsung naik ke kamarnya mengambil jaket.
"Ca, kalo ketemu Kak Difan gimana?" tanya Ical yang masuk ke kamar Aca.
"Biar aja. Aku nyantei aja kok. Kan aku udah move on." kata Aca.
"Beneran?" tanya Ical lagi.
"Iya. Malahan aku mau ingatkan Kak Difan soal hubungannya dengan Bu Fitri." kata Aca sambil tersenyum penuh misteri.
"Maksud kamu apa?" Ical menarik tangan Aca agar jangan turun dulu.
"Ya cuma mau ngingetin kalo sikap mereka udah mencurigakan. Jangan backstreet gitu loh." kata Aca sambil tertawa.
"Kirain mau ngapain." Ical lega dengan jawaban Aca.
"Nyantei aja bro. Sekali lagi aku bilang aku udah move on." Aca langsung tutin ke bawah.
Mereka pun mengantarkan oleh - oleh satu persatu ke rumah sahabat Bundanya. Tujuan pertama ke rumah Yoan. Aca berdoa dalam hati agar yang membuka pintu bukan Difan.
"Assalamualaikum." Ical mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." ternyata yang membuka pintu adalah Difan.
"Kak Difan. Mama Yoan ada?" sapa Ical.
"Kalian. Ayo masuk." ajak Difan.
"Gak usah Kak. Cuma mau nganter oleh - oleh dari Bunda." Aca menyerahkan kantong pada Difan.
"Bener gak masuk dulu?" tanya Difan lagi.
"Gak Kak. Makasih. Ini masih mau ke rumah tante yang lain." jawab Ical mewakili Aca yang hanya terdiam.
__ADS_1
"Salam buat Bunda dan Ayah. Bilang makasih." kata Difan.
"Iya Kak. Salam juga buat Mama Yoan ya." kata Aca sambil tersenyum.
Setelah agak jauh, Ical mulai menggoda saudaranya.
"Katanya mau memperingatkan Kak Difan soal Bu Fitri?" ledek Ical.
"Mulutku langsung kaku pas ngelihat Kak Difan." jawab Aca lirih.
"Dasar sok tegar padahal masih baper." kata Ical lagi.
"Berisik banget sih. Dasar bawel." gerutu Aca sambil mencubit pinggang Ical.
"Sakit Ca. Ntar aku nabrak loh." kata Ical panik.
"Abis kamu malah ledekin aku." kata Aca merajuk.
"Ya maaf. Abis kamu lucu." Ical tertawa melihat tingkah Aca.
"Maksudnya?" tanya Aca.
"Dari rumah aja sok - sok an tegar. Pas ketemu orangnya langsung diam mematung." kata Ical sambil tertawa.
"Hehehe. Iya juga sih. Tindajan tak semudah omongan." Aca ikut tertawa bersama Ical.
Mereka pun meneruskan mengantar oleh - oleh ke rumah Mama Amira dan terakhir ke rumah Manda Zizi.
*ting tong..*
"Assalamualaikum." Aca memberi salam.
"Waalaikumsalam." jawab suara perempuan.
"Eh, Aca, Ical." ternyata Zizi yang membuka pintu.
"Manda, ini ada oleh - oleh dari Bunda." Aca menyerahkan kantong pada Zizi.
"Bunda kamu udah pulang?" tanya Zizi.
"Tadi pagi pulangnya." jawab Zizi.
"Ayo masuk dulu." Zizi mempersilahkan mereka masuk.
"Gak usah Nda. Mau langsung pulang aja." kata Ical.
"Loh..Ada tamu ya Nda." kata Kian yang sudah terlihat rapi.
"Kamu mau kemana?" tanya Zizi pada Kian.
"Mau ke rumah temen Nda." jawab Kian yang baru sadar kalo tamunya adalah Aca dan Ical.
"Hai Kak Kian." sapa Ical. Aca hanya tersenyum mengangguk.
"Hai Ca, Cal." Kian menatap lekat gadis di hadapannya itu. Meski hanya memakai celana selutut dan kaos oblong tapi tetap terlihat cantik dan manis. Tanpa sadar Kian tersenyum sendiri.
"Ehem.. pandangi aja terus." Zizi membuyarkan lamunan Kian.
"Manda apaan sih?" Kian salah tingkah.
Zizi hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
Gimana hubungan Kian dan Aca? Kira - kira Aca bakal suka juga sama Kian atau gak?
Jangan lupa tetap dukung Author..
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung
__ADS_1