Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #5 Guruku Idolaku


__ADS_3

Pulang sekolah Difan sengaja menunggu Aca dan Ical di gerbang sekolah.


"Hai Cal, Ca. Pa Kabar?" tanya Difan.


"Baik Kak. Jadi beneran kakak ngajar disini?" tanya Ical tak percaya.


"Iya. Pulang bareng yuk. kebetulan aku bawa mobil." ajak Difan.


Mereka pun masuk ke mobil Difan. Ical duduk di samping Difan sedangkan Aca duduk di bangku belakang.


"Kamu kelas berapa Cal?" tanya Difan.


"Aku kelas 1-5 kak. Lusa baru ada pelajaran bahasa inggris." jawab Ical.


"Aku belum hafal jadwal kelasnya." kata Difan sambil terkekeh.


"Kak, maaf ya tadi aku menghindar pas di kelas. Aku kaget lihat kakak disana." kata Aca dengan suara pelan.


"Gak papa Ca. Kakak juga sengaja gak cerita ke kalian. Biar surprise." kata Difan sambil tersenyum pada Aca.


"Kita cari makan dulu yuk. Aku males kalo langsung pulang." kata Difan.


"Emang kenapa?" Ical penasaran.


"Kan ada pengantin baru di rumah. Bikin gerah." Difan tertawa sambil melirik Aca dari kaca spion. Aca yang tertangkap basah sedang menatap Difan pun langsung menunduk malu.


"Aku wa Bunda dulu deh. Biar gak khawatir nungguin kami." kata Ical.


"Kamu kok diem aja Ca. Biasanya juga cerewet." tanya Difan.


"Gak papa Kak. Lagi males ngomong aja." jawab Aca sekenanya.


"Bohong tuh. Dia jadi pendiam kalo deket sama cowok yang disukanya." celetuk Ical yang langsung dicubit oleh Aca.


"Auw.. Sakit Ca." Ical mengusap lengannya bekas dicubit Aca.


"Syukurin. Makanya jangan bawel." gerutu Aca.


"Suka itu gak selamanya bisa memiliki Ca, Cal." Difan tiba - tiba membuat suasana jadi hening.


"Pengalaman pribadi ya kak?" tanya Ical.


"Hehehe. Iya. Nyesek sih rasanya tapi kita harus terbiasa. Kita harus move on." kata Difan dengan suara tercekat.


"Tuh dengerin Ca. Apalagi kalo perbedaan umurnya terlalu jauh ya kak. Harus sadar diri sepertinya." sindir Ical pada Aca.


"Emang siapa Cal?" tanya Difan yang memang tidak tahu kalo Aca menyukainya.


"Temen aku Kak. Dia suka sama ciwok yang usianya beda 12 tahun. Bahkan cowok itu jadi gurunya." kata Ical sambil melirik Aca.


"Wah berarti gurunya suka sama anak di bawah umur. Gak boleh itu. Bisa dipecat." kata Difan serius.

__ADS_1


"Gurunya gak tau kalo si cewek suka sama dia. Gurunya cuma anggap si cewek adik aja karena mereka memang tetanggaan." kata Ical lagi yang bikin Aca tersedak.


"Minum Ca. Nih ada air." Difan menyodorkan air mineral yang masih utuh.


"Kalo kasusnya gitu gimana kak? Yang salah siapa?" tanya Ical lagi.


"Ya gak ada yang salah. Namanya cinta gak pernah salah. Cuma waktunya aja gak tepat." kata Difan.


"Maksudnya Kak?" kali ini Aca yang bertanya.


"Kalo memang si guru suka sama cewek itu ya tunggu aja sampai si cewek lulus sekolah. Baru bisa dipacarain atau dinikahin." Difan memberikan solusi yang membuat Aca tersipu malu.


"Kalo Kakak di posisi guru itu gimana kak?" tanya Ical lagi.


"Kakak sepertinya akan susah suka sama tetangga yang sudah dianggap adik." Difan menjawab dengan santai tanpa tahu bahwa ada hati yang kecewa mendengarnya.


"Gak ada kesempatan sama sekali?" Aca coba meyakinkan dirinya sendiri.


"Bisa aja sih. Tapi susah ya. Kan dia sudah dianggap adik, mana mungkin menjadi kekasih apalagi istri." jawab Difan sambil membelokkan mobilnya ke tempat makan yang mereka tuju.


"Kasian ya si cewek." celetuk Ical sambil melirik Aca yang menahan tangis.


"Udah sampai nih. Yuk turun." Difan mengajak mereka untuk masuk ke tempat makan.


"Kak, aku mau ke toilet dulu ya. Pesenin makanan buat aku ya Cal." kata Aca mendahului mereka.


"Siap." jawab Ical memandang punggung saudara kembarnya. Ingin rasanya dia menyusul Aca dan menghiburnya tapi dia takut Kak Difan curiga.


Mereka pun langsung memesan makanan. Tak lupa Ical memesankan untuk Aca. Sampai minuman datang, Aca belum kembali dari toilet.


"Ngantri kali kak." Ical coba mencari alasan.


Tak lama Aca datang dengan muka ceria.


"Maaf ya tadi antri di toiletnya." kata Aca sambil duduk di sebelah Ical.


"Gak papa. Bentar lagi makanannya juga datang." kata Difan.


"Kakak kapan mau nyusul kak Dafa dan kak Hana?" tanya Aca.


"Baru aja mau menata hati setelah patah hati. Jangan ditanya dulu kapan nyusul." kata Difan.


"Jadi kakak suka sama kak Hana juga?" Aca bertanya dengan polosnya.


"Hehehe. Ketauan juga kan. Tapi kakak udah ikhlas kok. Cuma ya masih belum terbiasa melihat kemesraan mereka." jawab Difan.


"Kenapa Gak sama kak Kinan aja ?" celetuk Ical.


"Kinan udah punya pacar. Kemarin kan dibawa. Sama - sama dokter." kata Difan.


"Oh itu pacarnya ?" Ical tak percaya.

__ADS_1


"Kayaknya sih gitu. Kemarin aku denger Manda ngomel soalnya." kata Difan.


"Ooh.. Kasian juga ya kak Kinan." kata Ical.


"Makanya kamu kalo punya pacar gak boleh sembunyiin dari Bubun." kata Difan pada Aca.


"Uhuk.. Uhuk.." Aca langsung tersedak mendengar ucapan Difan.


"Kalo makan pelan - pelan dong Ca." Ical menyodorkan segelas teh manis pada Aca.


"Makasih Cal. Kakak sih ngomongnya gitu, aku jadi kaget." gerutu Aca.


"Kak Difan tetep akan tinggal serumah sama kak Dafa dan kak Hana?" tanya Ical.


"Ya gak lah. Mereka akan pindah ke rumah sendiri. Mereka akan menempati rumah neneknya Hana di Griya Pelangi." kata Difan.


"Syukur deh jadi Kakak gak usah sedih lagi." kata Aca.


"So sweet banget sih kamu." Difan mengacak - acak rambut Aca.


"Iih.. Kakak! Rambut aku jadi berantakan nih." Aca merajuk.


"Udah sore kak. Kita pulang yuk." Ical mengingatkan.


"Yawda aku bayar dulu ya. Kalian tunggu di mobil aja. Aku sekalian mau ke toilet dulu." Difan melemparkan kunci mobil ke Ical.


"Gimana tuh. Nyerah gak kamu." kata Ical saat mereka sudah di mobil.


"Sebelum janur kuning melengkung aku bakal usaha terus dong." kata Aca dengan semangat.


"Gak denger jawaban kak Difan tadi? Kamu udah gak ada harapan Ca." kata Ical sedikit keras.


"Biar aja. Yang penting aku tetep idola in kak Difan." Aca gak mau menyerah.


"Terserah kamu deh. Asal jangan nangis bombay lagi kalo kak Difan tiba - tiba mau nikah." Ical memperingatkan Aca.


"Insah Allah gak. Posisi ku sekarang hanya sebagai penggemar dan Kak Difan adalah guruku juga idolaku." Aca tetap pada pendiriannya.


"Okelah. Nanti aku siapin tisu yang banyak kalo kamu patah hati." Ical langsung diam ketika melihat Difan menuju ke arah mobil.


"Dasar bawel." Aca melipat tangannya di depan dada sambil membuang muka.


"Yuk kita pulang." Difan sudah menghidupkan mobilnya dan melaju untuk mengantar si kembar ke rumahnya.


Jangan lupa tetap dukung Author..


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏


Bersambung


__ADS_2