
#Akhirnya Othor memutuskan untuk menulis chapter bonus, melanjutkan sedikit cerita tentang kisah rumah tangga Aca dan Difan.
Mohon maaf ya kalo ada yang kurang nyambung..
Kasih saran dong buat cerita lanjutannya.. #
Selamat Membaca 📖📖
...*****...
Usia kandungan Aca sudah memasuki trisemester kedua. Rasa mual dan pusing mulai berkurang. ***** makan Aca pun jadi meningkat drastis. Seolah membalas 2 bulan yang membuatnya tak bisa makan dan mual parah.
"Kak..." panggil Aca yang baru bangun tidur.
"Ada apa Sayang. Aku lagi bikinin susu buat kamu nih." jawab Difan dari dapur.
"Kak, Aku pengen makan lotek." kata Aca.
"Ini masih pagi sayang. Mau beli lotek dimana ?" tanya Difan.
"Ya beli dimana aja yang penting enak." jawab Aca.
"Nanti agak siangan ya Sayang. Jam 10 pasti udah ada yang jual." Difan berusaha membujuk istrinya.
"Maunya sekarang Kak." Aca mulai merajuk.
"Iya biar Kakak suruh Bi Cicih buat beli ya." kata Difan hendak memanggil pembantunya.
"Gak mau. Aku maunya Kakak yang beliin." Ical pun memgurungkan niatnya untuk memanggil Bi Cicih.
"Iya deh. Kakak belu sekarang. Mau pedes atau enggak ?" tanya Difan.
"Pedes Kak. Cabe 5." jawab Aca.
"Iya Kakak beli dulu ya." Difan pun pamit sambil membawa kunci sepeda motornya.
Dufan menuju ke daerah pasar Palasari. Mencoba memcari tukang lotek langganan mereka. Ternyata masih tutup.
"Aduh.. Masih tutup lagi." gumam Difan.
Difan pun kembali melajukan sepeda motornya menuju daerah buah batu. Beruntung ada yang jualan lotek di depan rumah. Meski masih tutup, Difan pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah sang pemilik warung lotek.
__ADS_1
*tok.. tok... *
"Permisi. Assalamualaikum." Difan memberi salam.
"Waalaikumsalam. Ada perlu apa Pak ?" tanyasang Ibu pemilik rumah.
"Apa benar Ibu jualan lotek ?" Difan menunjuk gerobak lotek di depan rumah.
"Betul Pak. Tapi belum siap Pak. Nanti jam 10 baru buka." kata sang Ibu dengan sopan.
"Maaf Bu. Ini mendesak. Istri saya sedang ngidam ingin makan lotek. Bisa bantu saya ?" pinta Difan.
"Waduh. Gimana ya Pak. Sebenernya sebagian sayuran sudah siap. Tapi saya harus jagain cucu saya dulu." jawab Ibu penjual lotek.
"Biar saya gantikan jaga cucu Ibu. Ibu toling buatkan lotek untuk istri saya." Difan mberikan solusi yang menguntungkan kedua pihak.
"Iya deh Pak. Tapi saya bikin loteknya di dalam saja." ajaknya.
"Baik Bu. Saya ikut masuk ya." kata Difan.
"Silahkan Pak." Ibu penjual lotek berjalan mendahului Difan.
Sepuluh menit kemudian lotek pesanan Difan selesai dibuat. Difan pun menyerahkan Selembar uang 50 ribu untuk sang Ibu.
"Ini saya belum ada kembaliannya Pak." kaat Sang Ibu.
"Ambil saja Bu kembaliannya." kata Difan.
"Makasih banyak ya Pak. Semoga kehamilan istrinya lancar sampai melahirkan nanti." doa sang Ibu.
"Aamiin. Malasih juga Bu udah mau saya repotkan." Difan pun pamit meninggalkan rumah Ibu penjual lotek.
Akhirnya Difan sampai juga di rumah. Dia masuk sambil tersenyum riang.
"Sayang, lotek ya datang." kata Difan. Dilihatnya sang istri sedang menikmati bubur ayam dengan lahap. Aca pun hanya menatap padanya sambil tersenyum.
"Loh.. Kamu kok udah makan, Sayang ?" tanya Difan sedikit kecewa.
"Kakak lama banget sih. Aca keburu lapar." jawab Aca dengan tanpa merasa bersalah.
"Trus ini loteknya gimana dong Sayang ?" tanya Difan lagi.
__ADS_1
"Buat Kakak aja." jawab Aca dengan santai.
"Tapi ini pedes Yang. Kakak kan gak suka pedes. Trus ini 2 bungkus loh." keluh Difan.
"Ya udah buang aja kalo gitu." Aca menjawab dengan kesal.
"Ya jangan. Kakak udah capek nyarinya." kata Difan.
"Buat Bi Cicih aja. Lagian kenapa Kakak beli banyak banget sih." gerutu Aca.
"Biar Kakak makan aja semua." Difan mulai membuka bungkusan lotek dan memakannya.
Difan sengaja memakan dengan ekpresi yang menggoda agar Aca tertarik untuk memakan lotek pesanannya.
"Hemm.. Loteknya enak banget ini. Aku makan 2 bungkus juga sanggup lah." kata Difan sambil melirik Aca.
Aca diam - diam memperhatikan Difan yang memakan loteknya dengan sangat nikmat.
Benar saja, tak lama kemudian Aca pun meminta lotek pesanannya.
"Aku juga mau Kak. Jangan dihabisin." Aca mengambil lotek pesanannya.
"Pelan - pelan makannya sayang. Gak ada yang minta kok." kata Difan saat melihat Aca makan dengan lahap dan cepat.
Bi Cicih yang melihat dari dapur hanya tersenyum melihat tingkah majikannya itu. Sungguh mesra dan membuatnya iri.
"Andai aku masih muda, mungkin kayak gitu ya." gumam Bi Cicih dalam hati sambil berlalu menuju tempat cuci.
...***...
Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopi☕ 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Juga ada "Mengejar Cinta Shavira" yang bercerita tentang kisah cinta Ical, saudara kembar Aca.
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1