Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #19 Kecelakaan


__ADS_3

Sudah seminggu sejak mereka pulang dari liburan bersama. Aca dan Ical pun sudah kembali sekolah seperti biasanya.


Meski berat tapi Aca sudah berusaha mengikhlaskan kedua lelaki yang sempat menarik perhatiannya. Meski belum mengumumkan hubungan mereka tapi Vanya dan Kian sering terlihat berduaan bahkan Kian pun seolah membiarkan Vanya yang bermanja - manja dengan dirinya.


"Ca, kamu gak apa - apa ?" tanya Ical ketika mereka melihat Kian menjemput Vanya sepulang sekolah.


"Gak papa Cal. Mungkin memang mereka berjodoh." jawab Aca berusaha tak mempermasalahkan hal ini.


"Yang sabar ya Ca. Jodoh kamu akan segera datang." kata Ical membesarkan hati Aca.


"Makasih ya Cal kamu udah selalu ada buat aku." Aca memeluk saudara kembarnya erat.


"Dengan senang hati. Itu tugasku sebagai saudara laki - laki mu." Ical menyalakan sepeda motornya.


Mereka pun pulang ke rumah dengan berboncengan naik sepeda motor.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini Difan dan Fitri sedang pergi ke Blitar, tempat keluarga besar Ayah Fitri tinggal. Kedua orangtua Fitri sudah meninggal dalam kecelakaan 4 tahun yang lalu. Sebelum menuju rumah Pakde Fitri, merrka menyempatkan diri ziarah ke makam kedua orantua Fitri.


"Assalamualaikum Pak, Bu. Fitri datang dengan Mas Difan, calon suami Fitri." sapa Fitri di depan pusara orangtuanya.


"Assalamualaikum Pak, Bu, Saya Difan, akan selalu menjaga putri Bapak dan Ibu." kata Difan.


"Doakan kami ya Pak, Bu. Kami akan segera menikah. Semoga saya bisa menjadi suami yang baik untuk putri cantik Kalian." lanjut Difan sambil tersenyum menatap Fitri.


"Semoga Bapak dan Ibu tenang dan bahagia disana." kata Fitri sebelum meninggalkan makam kedua orang tuanya.


Difan terus memeluk Fitri, terus menguatkannya, dalam perjalanan menuju mobil.


Tak lama mereka pun sampai di rumah Pakde Tama, Kaka dari Almarhum Ayah Fitri.


"Assalamualaikum." Sapa Fitri dan Difan.


"Waalaikumsalam." jawab seorang perempuan sambil membukakan pintu rumah.


"Bude.. Gimana kabarnya ?" Fitri mencium tangan perempuan itu begitupun dengan Difan.


"Alhamdulilah Baik Nak. Kalian apa kabar ?" Ayu, Bude nya Fitri, mempersilahkan merkea masuk.


"Alhamdulilah baik Bude. Kita abis dari makam Ayah dan Ibu." Fitri dan Difan langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Sebentar ya Bude panggil Pakde mu dulu." Ayu pun masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian Pakde Tama keluar dengan kaos oblong dan sarungnya.


"Fitri, Difan, Gimana kabar kalian ?" tanya Tama.

__ADS_1


"Alhamdulilah baik Pakde." Difan menjawab pertanyaan Taman sambil mencium takzim punggung tangannya.


"Tumben kemari. Ada apa nih ?" tanya Tama.


"Kita abis dari makam Ayah sama Ibu Pakde. Mumpung disini ya sekalian mampir kesini." jawab Fitri.


"Kalian nginep disini kan ?" Ayu keluar dengan membawa 4 cangkir teh manis hangat.


"Kok repot - repot Bude. Makasih." kata Fitri.


"Gak repot kok cuma teh aja." kata Ayu sembari duduk disamping suaminya.


"Kita langsung pulang lagi sore ini." jawab Difan.


"Kok sebentar disini nya ?" tanya Tama.


"Iya Pakde. Lagi banyak tugas di sekolah. Persiapan sebelum cuti." kata Fitri.


"Baru saja seminggu yang lalu Pakde suruh orang bersihkan makam orangtuamu." kata Tama.


"Oh pantes tadi masih bersih." kata Fitri.


"Iya kan sebulan sekali selalu dibersihkan." Ayu ikut menambahkan.


"Tanah yang disebelahnya biar buat Fitri aja ya Pakde." ucap Fitri tiba - tiba.


"Ya gak apa - apa. Fitri pengen dekat sama Ayah dan Ibu." kata Fitri santai.


"Kamu ini ngomong apa toh Nak." Tama menatap tajam pada keponakannya itu.


"Terus gimana rencana pernikahan kalian ?" tanya Ayu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Alhamdulilah sudah 80%." jawab Fitri.


"Syukurlah. Kalau perlu bantuan dari Bude jangan sungkan - sungkan ya." Ayu tersenyum memandang keponakan dan calon suaminya itu.


"Iya Bude. Makasih." ucap Fitri sambil menikmati teh manis hangatnya.


Mereka asyik mengobrol hingga tak terasa sudah sore. Mereka pun pamit pulang kembali ke Malang.


"Kami pamit dulu Pakde, Bude." kata Difan sambil mencium tangan mereka bergantian.


"Cuacanya mendung loh Nak. Apa kalian gak nginep aja disini ?" tanya Ayu.


"Gak Bude. Besok kita juga harus ngajar." jawab Fitri.


"Ya sudah. Kalian hati - hati di jalan ya. Difan, jaga keponakan Pakde baik - baik." Tama menepuk bahu Difan.

__ADS_1


"Insya Allah Pakde. Assalamualaikum." Difan berjalan mendahului Fitri yang masih berpelukan dengan Ayu. Fitri memeluk Ayu cukup lama, seakan tak akan bertemu lagi.


"Kok sikap Fitri beda ya Pak ?" tanya Ayu saat mobil Difan sudah menghilang dari hadapan mereka.


"Beda gimana Bu ? Biasa aja kok." jawab Tama.


"Mukanya kayak yang sedih. Apalagi pas mau pulang tadi. Ada apa ya sama anak itu ?" kata Ayu.


"Gak ada apa - apa Bu. Jangan berpikiran negatif dulu." Tama berusaha menenangkan istrinya. Sebenarnya dalam hatinya pun Tama merasa ada yang janggal dengan tingkah Fitri tadi. Entah kenapa Fitri selalu meminta agar tanah disebelah makam Ayah dan Ibunya dikosongkan untuknya.


"Semoga gak terjadi gal yang buruk pada anak itu ya Bu." kata Tama pada istrinya.


"Aamiin. Iya Pak. Ibu juga merasa gak enak hati ya." kata Ayu.


"Sudahlah kita masuk aja Bu." Tama mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mas, pelan - pelan nyetirnya. Hujannya besar banget." Fitri memperingatkan Difan.


"Iya Sayang. Ini aku udah pelan - pelan kok." Difan tetap fokus pada jalanan di depannya.


"Aku ngantuk Mas. Aku tidur gak apa - apa ya ?" tanya Fitri pada calon suaminya.


"Iya sayang. Kamu tidur aja. Nanti kalo sudah sampai aku bangunin." Difan menyalakan radio untuk menemaninya.


Hujan masih turun dengan deras. Sudah separuh perjalanan dilewatinya dengan lancar hingga akhirnya sebuah Mini Bus dari arah berlawanan yang sedang menyalip mobil di depannya menghadang jalannya. Difan berusaha untuk minggir tetapi tabrakan pun tak dapat dihindari. Mobil Difan ditabrak hingga terpelanting dan menabrak pohon besar disebelah kiri jalan. Samar - samar terdengar suara teriakan orang - orang yang berusaha menyelamatkan mereka berdua. Difan berusaha membuka matanya mencari calon istrinya.


"Pak, Bapak gak apa - apa ?" seseorang membuka pintu dan menolongnya.


"Tolong calon istri saya." kata Difan sebelum kehilangan kesadaraanya.


Bagaimana kondisi Difan dan Fitri ? Apakah mereka bisa selamat dari kecelakaan ini ?


Sebelumnya Author mau minta maaf karena jarang update.


Sepertinya karena banyak kesibukan lain di dunia nyata, cerita ini akan segera tamat.


Jangan lupa tetap dukung Author..


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..


Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2