
Pagi itu Sissy, Rio dan Mama sudah tiba di rumah Teh Santi di Bandung.Sissy turun sambil memegangi perutnya yang sedikit ngilu karena perjalanan yang jauh.
"Assalamualaikum Teh." Sissy mengetuk pintu rumah Teh Santi.
Rumah terlihat sepi. Begitupun rumah Ibu Titi tampak sepi. Mereka menunggu sedikit lama di depan pintu. Kemudian dari arah luar Teh Santi datang dengan membawa 2 kantong besar belanjaan.
"Mama, Sissy, Rio, maaf ya kalian nunggu. Udah lama?" Teh Santi bergegas mencium tangan Mama dan mengeluarkan kunci untuk membuka pintu rumahnya.
"Gak kok Teh. Baru 10 menit aja." Kata Sissy sambil mengusap perutnya.
"Ayo masuk." Teh Santi mempersilahkan mereka masuk ke rumah.
"Rumah sebelah juga sepi San ?" tanya Mama sambil duduk di sofa.
"Ibu lagi ke Tasik. Ke rumah orangtuanya. Udah 2 minggu." jawab Teh Santi sambil membuatkan minuman untuk mereka.
"Udah Teh gak usah repot-repot. Nanti Sissy ambil sendiri." kata Sissy sambil duduk dan mekuruskan kakinya di karpet. Rio yang ikut duduk di sebelahnya pun mulai membantu memijat kaki Sissy yang sedikit bengkak.
"Bumil jangan terlalu capek ya. Apalagi abis perjalanan jauh." Teh Santi meletakkan minuman di meja.
"Makasih ya Teh." Kata Rio sambil terus memijat kaki Sissy.
"Perut kamu besar banget De. Kayak lagi hamil 7 bulan." Teh Santi mengusap perut Sissy yang membuncit.
"Iya Teh. Soalnya isinya 2. Hehehe." jawab Sissy sambil tersenyum lebar.
"Kembar? Alhamdulilah." Teh Santi tampak kaget mendengarnya.
"Iya Teh. Alhamdulilah." Rio menikmati Minuman yang disuguhkan Teh Santi.
"Oh iya Teh. Nanti Teh Ochy pesawatnya datang jam 3." kata Sissy.
"Iya De. Nanti biar Teteh jemput." jawab Teh Santi.
"Pake mobil kita aja Teh. Tapi aku gak ikut ya. Capek." Rio menawarkan mobilnya.
"Iya Gak papa. Nanti aku pinjem mobilnya ya." ujar Teh Santi yang dijawab dengan anggukan oleh Rio.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Assalamualaikum." Terdengar salam dari pintu depan.
"Waalaikumsalam." Sissy segera menghampiri pintu dan membukanya. Dilihatnya Ibu Titi membawa kantong besar.
"Neng, gimana kabar kamu?" tanya Ibu Titi.
"Alhamdulilah baik Bu. Ibu baru datang dari Tasik?" Sissy balik bertanya.
"Iya Neng. Ini ada sedikit oleh - oleh buat kalian. Mama kemana?" Ibu Titi memberikan kantong itu buat Sissy.
"Lagi istirahat Bu." Sissy mengeluarkan isi kantong itu. Ada kolontong, wajit dan rengginang.
__ADS_1
"Ya sudah Ibu juga mau istirahat dulu." Ibu Titi sudah berjalan melangkah keluar rumah.
"Makasih ya Bu." Sissy pun menutup pintu rumah. Sepeninggal Ibu Titi, Sissy langsung membuka plastik pembungkus kolontong, makanan khas tasik. Sissy menikmati makanan manis itu yang sangat disukainya.
"Dek, kamu lagi apa? Kok gak istirahat?" Rio keluar dari kamar Icha.
"Ini Mas lagi makan kolontong, oleh-oleh dari Ibu." Sissy masih asik mengunyah.
"Enak Dek? Mas kok gak dikasih?" Rio sudah duduk di sebelah Sissy.
"Ini manis. Pasti Mas gak suka." Sissy tetap menyodorkan plastik berisi kolontong. Rio mencomot satu.
"Enak Dek tapi manis. Ada yang lain gak?" Rio langsung minum untuk menetralkan mulutnya.
"Tuh ada renginang." Sissy menunjuk ke kanting plastik di meja.
Rio pun mengambil rengginang dan menikmatinya.
"Mas, jangan dihabisin, aku juga mau." Sissy protes melihat rengginang yang tinggal separuh.
"Enak Dek." Rio masih asik menikmati rengginang itu.
"Iih, Mas kok gitu sih. Jangan dihabisin." Sissy berusaha merebut kantong rengginang itu dari tangan Rio. Rio pun berusaha mempertahankannya hingga terjadilah perebutan diantara mereka, persis seperti anak kecil berebut permen.
"Assalamualaikum. Ya ampun kalian lagi ngapain?" Teh Ochy yang baru datang langsung terkejut melihat mereka.
"Ini Teh. Mas Rio gak mau bagi rengginangnya." Sissy mengadu pada kakaknya.
"Tapi kan aku mau rengginang juga Mas." Sissy mulai merengut.
"Hei, kalian ini udah mau jadi orangtua kok masih kayak anak kecil." Teh Ochy berusaha melerai.
"Habisnya Mas gak mau ngalah." Sissy masih merajuk.
"Udah. Biar adil semuanya Teteh sita." Teh Ochy langsung mengambil rengginang dan kolontong dari tangan mereka dan membawanya ke kamar tamu tempat Mama istirahat.
"Tuh kan gara-gara kamu jadi dibawa semuanya." protes Rio.
"Ya kamu yang salah Mas. Gak mau bagi aku." Sissy masih cemberut.
"Kok jadi aku yang salah." Rio masih protes.
"Tau ah. Bete. Mau tidur aja." Sissy bangkit dan menuju ke kamar Icha.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya mereka sudah berkumpul di rumah Almarhum Papa. Ada Sissy, Rio, Trh Ochy, Teh Santi, Mama, Ibu Titi, Andri, Yoga, Om Dani dan Om Yana, adik Papa serta Kang Didi, calon suami Teh Santi yang berprofesi sebagai pengacara.
"Alhamdulilah kita udah berkumpul semua ya. Saya mewakili adik dari Kang Adhi, sebagai saksi dan menengahi soal pembagian waris ini." Om Dani membuka pertemuan mereka.
"Silahkan untuk dimulai Chy." Om Dani mempersilahkan Ochy sebagai anak Papa yang lebih tua untuk mewakili keluarga.
__ADS_1
"Iya Om. Makasih." Kata Ochy.
"Ini semua adalah daftar aset milik almarhum Pak Adhi." Kang Didi membagikan selembar kertas untuk mereka.
"Disini ada 1 rumah di Bandung, 1 rumah di Malang, rumah kost, Sawah dan Tanah." Kang Didi menerangkan sejumlah aset milik Papa.
"Sesuai kesepakatan keluarga kami, Rumah selama ini ditempati oleh Papa dan Ibu Titi akan kami berikan pada Ibu Titi. Silahkan apabila akan dibalik nama." kata Ochy.
"Makasih ya Teh." Ibu Titi mengusap airmata yang jatuh di pipinya.
"Sedangkan untuk aset yang lain. Mohon maaf ya Bu, kami akan mengambil alih dan mengelolanya." Suara tegas Teh Ochy membuat Ibu Titi, Andri dan Yoga kaget.
"Maksudnya? Ibu gak dapat apa-apa lagi?" Andri bertanya pada Ochy.
"Betul. Karena Papa dan Ibu hanya nikah siri. Kami tidak bisa memberikan lebih dari rumah ini." Ochy menatap tajam pada Andri.
"Ini gak adil Teh. Ibu sudah merawat Papa selama ini terutama saat Papa sakit." Andri mulai protes.
"Kami tidak pernah meminta itu. Karena sebenarnya dengan Papa menikah lagi pun sudah melukai hati Mama kami. Siapa istri yang bisa merelakan suaminya menikah lagi." Ochy menjelaskan panjang lebar.
"Tapi kan Papa tidak meninggalkan apapun untuk Ibu. Kasian hari tua Ibu." Andri masih berusaha meminta hak Ibunya.
"Saya hanya bisa mohon maaf dan berterima kasih sama Ibu. Karena sudah mau merawat Papa yang sakit." Teh Ochy menghela nafasnya.
"Mohon maaf saya ikut berpendapat. Memang tidak ada hak waris bagi istri yang dinikahi secara siri dalam hukum islam (Koreksi bila ada salah ya)" kata Om Yana.
"Tapi kan bisa diberi sedikit kebijakan buat Ibu." Andri mulai memohon pada Mama dan Teh Ochy.
"Maaf kalo saya sih gak mau." kata Teh Ochy ketus.
"Udah Aa. Gak usah maksa gitu. Kita juga bukan pengemis kok." Yoga mengusap punggung Ibunya yang mulai menangis.
"Syukurlah kalo sadar." Teh Ochy memandang sinis pada Andri.
Suasana mulai tidak nyaman bagi Sissy. Sissy mulai mengelus perutnya yang terasa kaku.
"Kenapa Teh Ochy bersikap keras sama mereka." batin Sissy.
"Sabar ya Dek. Jangan ikutan emosi." Rio berbisik di telinga Sissy sambil ikut mengusap perutnya.
Apakah masalah ini akan berlanjut? Bagaimana sikap Mama menghadapi Ibu Tito dan anaknya?
Dukung terus ya.. Biar bisa melanjutkan cerita ini ππ
(Maaf liburnya kelamaan β)
Jangan lupa Likeπ, Komen dan Vote.
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1