Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
#56 Perebutan Warisan


__ADS_3

"Udah Aa. Gak usah maksa gitu. Kita juga bukan pengemis kok." Yoga mengusap punggung Ibunya yang mulai menangis.


"Syukurlah kalo sadar." Teh Ochy memandang sinis pada Andri.


Suasana makin terasa tegang dan memanas.


"Mbak, sudah gak usah dipikirkan perkataan Andri. Saya ikhlas kok merawat Papa." Ibu Titi memandang lembut pada Mama.


"Tapi Bu. Ibu yang mengurus Papa di saat sakitnya. Ibu juga harus dapat warisannya." Andri berkata pada Ibunya.


"Gak Papa Nak. Ibu terima yang sudah diberikan oleh keluarga mereka." Ibu masih menunduk sambil menangis.


"Kalo mau bicara merawat. Mama juga selama ini merawat selama berpuluh tahun. Menemani Papa dan membesarkan anak - anak Papa. Kalian hadir beberapa tahun terakhir tapi mau menggugat harta Papa?" Teh Ochy mulai meninggikan suaranya.


"Udah Teh. Kamu duduk dulu." kata Mama sambil menarik tangan Teh Ochy untuk duduk kembali.


"Iya Ma." Teh Ochy menuruti permintaan Mama.


"Titi, Saya berpikir dan memutuskan untuk menyewakan kamu ruko di dekat pasar sebelah ruko Santi." Kata Mama.


"Tapi Ma.." Teh Ochy menghentikan protesnya saat Mama menatapnya tajam.


"Saya hanya bisa memberikan modal ini buat kamu Ti. Kamu bisa membuka lagi warung makan di dekat pasar. Nanti uangnya kamu puterin buat sewa ruko tahun berikutnya dan buat makan kamu." kata Mama sambil memegang tangan Ibu.


"Yang benar Mbak? Makasih." kata Ibu sambil menahan tangisnya.


"Lumayan bisa buat ngisi kegiatan kamu. Kamu mau kan?" Mama bertanya pada Ibu.


"Mau Mbak. Makasih." Ibu mencium tangan Mama. Mereka pun berangkulan. Sissy ikut terharu melihat Mama dan Ibu berpelukan. Sedangkan Ochy hanya membuang muka.


"Baiklah Bu. Kita sudah sepakat mengenai pemberian rumah ini untuk Ibu Titi." kata Kang Didi.


"Iya Kang. Tolong bantu mereka mengurus balik nama rumah ini. Biaya biar kami yang tanggung." kata Sissy.


"Baik Si. Saya akan urus semuanya." Kang Didi merapikan berkas yang ada.


"Mengenai harta yang lain kita bicarakan terpisah nanti." kata Sissy lagi.


"Siap." Kang Didi mengangguk.


"Kalau sudah selesai semua, saya pamit dulu ya. Assalamualaikum." Teh Ochy langsung pergi meninggalkan rumah Almarhum Papa.


"Waalaikumsalam." jawab semuanya kompak.


"Kami juga pamit dulu ya ke rumah Santi. Makasih ya semuanya. Mohon maaf kalo ada perkataan yang kurang berkenan." Rio pamit mewakili semuanya. Om Dani dan Om Yana pamit untuk pulang ke rumah mereka masing - masing.


"Ochy, sini Mama mau bicara." panggil Mama saat masuk ke rumah.


"Iya Ma. Kenapa sih Mama bersikap lembek sama mereka." Ochy langsung protes sebelum Mama berkata apa - apa.


"Mama tahu kamu masih kecewa dengan sikap Papa sama kamu dulu. Tapi kamu gak boleh berkata kasar seperti itu." kata Mama lembut.


"Tapi Ma, mereka tuh ngelunjak. Udah dikasih rumah masih minta yang lain. Gak tau apa perjuangan kita selama ini. Papa gak pernah peduli sama kita terutama Mama dan aku." Ochy mulai menangis memeluk Mama.


"Iya Mama tau Teh. Tapi Mama pengen kamu maafin Papa ya. Biar Papa tenang di alam sana." Mama membelai lembut rambut anaknya yang keras kepala itu.

__ADS_1


"Teteh sabar ya. Kita kan gak tau Papa pernah menjanjikan apa sama Ibu. Kita kasih sedikit jugalah buat mereka." Sissy ikut memeluk Mama dan Kakaknya.


"Emang kamu yang paling deket sama Papa De. Maafin sikap aku tadi ya Ma." Ochy memeluk erat mereka.


"Iya Teh. Maafin Mama juga." kata Mama.


"Teh, Ma, nanti malam aja kita obrolin lagi soal harta Papa ya?" kata Sissy sambil mengelus perutnya yang terasa kaku.


"Iya De. Kamu pasti capek. Istirahat dulu gih. Kasian anak kamu." Mama ikut mengelus perut buncit Sissy.


Sissy beranjak menuju kamar menyusul Rio yang sudah lebih dulu masuk ke kamar.


Dilihatnya sang suami sudah tertidur pulas.


Sissy pun ikur merebahkan tubuhnya disamping Rio. Dibelainya lembut pipi dan dagu kasar suaminya yang ditumbuhi bulu halus.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi Ma, sawah dan tanahnya bisa kita jual." kata Sissy saat mereka berkumpul malam harinya.


"Iya Ma. Biar kita lepas aja yang disini. Aku juga udah gak mau kesini lagi." kata Ochy.


"Tapi Teh, rumah kost jangan dijual. Kita kelola aja." kata Sissy lagi.


"Kenapa gak sekalian aja sih De. Nanti kita bangun rumah kost lagi di Malang." Ochy tak setuju dengan usulan Sissy.


"Papa sudah merelakan sawah dan tanah dijual. Tapi rumah kost nya jangan. Papa ingin kita masih punya ikatan dengan kota ini." Sissy menceritakan ucapan Papa yang hadir dalam mimpinya.


* flashback on *


"Papa.." Sissy membuka mata dan memeluk Papanya erat.


"Kamu sehat sayang? Cucu Papa gimana?" tanya Papa sambil mengelus lembut pipi Sissy.


"Alhamdulilah Pa, kami semua sehat." Sissy memandang lekat Papanya.


"Syukurlah. Papa senang kamu akhirnya hamil." Papa sambil mengelus perut Sissy sambil tersenyum.


"Papa sehat kan? Kok gak pernah nemenin aku sih?" Sissy berkata manja.


"Papa sudah punya kesibukan sendiri De. Papa bahagia melihat kamu udah ada yang jaga." kata Papa lembut.


"Iya Pa. Sissy bahagia bersama Rio." Entah kenapa Sissy mulai menangis melihat Papa.


"De, Papa mau minta tolong sama kamu." Papa meraih kedua tangan Sissy.


"Iya Pa. Apa yang bisa aku bantu." Sissy menatap tajam Papa.


"Tolong jangan jual rumah kost. Yang lain boleh kalian jual. Tapi rumah kost itu biar jadi pengikat buat kamu dan Ochy agar selalu ingat dengan kota ini." kata Papa dengan suara lirih.


"Iya Pa. Sissy akan kelola rumah kost itu dari jauh." Kata Sissy.


"Satu lagi De. Papa mohon kamu jangan memutus hubungan dengan Ibu ya. Hanya kamu yang bisa mengerti soal ini." suara Papa semakin terdengar lirih.


"Insha Allah Pa. Sissy akan terus berkomunikasi sama Ibu." Sissy melihat Papa tersenyum lembut.

__ADS_1


"Papa pamit ya De. Jaga diri kamu dan keluarga kecilmu. Maafin kesalahan Papa selama ini. Sampaikan juga sama Mama, dan kakak - kakak kamu." Papa terlihat semakin pucat. "Papa sudah bahagia bersama Arya disini." Papa mulai melepaskan tangan Sissy dan melangkah keluar dari kamar.


"Pa.." Sissy berteriak dalam tidurnya.


"Dek, kamu kenapa?" Rio mengguncang tubuh Sissy untuk membangunkannya.


"Mas, aku mimpi Papa datang." Sissy langsung memeluk Rio erat.


"Istigfar Dek. Kita doain Papa ya." kata Rio sambil mengusap punggung Sissy lembut.


*flashback off*


"Terserah kamu aja De. Aku gak mau ikut ngurus loh ya." Teh Ochy masih cemberut.


"Ya sudah. Nanti rumah kost biar dikelola Teh Santi aja." kata Mama.


"Siap Ma. Nanti aku transfer uangnya ke kalian." kata Teh Santi.


"Tolong untuk sawah dan tanah dibantu penjualannya ya Nak Didi." kata Mama lagi.


"Iya Bu. Nanti saya urus semuanya." jawab Didi.


"Oh iya Ma. Ini ada undangan pernikahan saya sama Kang Didi." Teh Santi menyerahkan undangan buat mereka.


"Kapan Teh?" Teh Ochy mengambil dan membaca undangan itu.


"Bulan depan Teh. Pernikahannya sederhana saja." kata Kang Didi.


"Oh iya Ma. Rumah ini gimana ya ?" Teh Santi bertanya pada Mama.


"Gimana bagaimana maksudnya? Kan ini rumah punya kalian." tanya Mama.


"Maksudnya nanti saya sama Icha akan tinggal di rumah Kang Didi." Teh Santi menjelaskan.


"Oh.. Pindah kesana ya?" tanya Sissy.


"Iya De. Kan disana ada anak Kang Didi juga." jawab Teh Santi.


"Saya akan mengambil alih tanggung jawab terhadap Santi dan Icha." kata Kang Didi sambil menatap lembut pada Teh Santi.


"Daripada kosong mending di kontrakin aja rumah ini Teh." Saran Sissy.


"Betul juga ya De. Nanti kalo Icha udah besar baru diberikan lagi." ujar Teh Ochy.


"Iya ya. Baiklah kalo begitu. Tolong restui kami ya." Teh Santi mencium tangan Mama.


"Insha Allah. Sekali - kali Icha antar liburan ke Malang." pinta Mama.


"Iya Ma. Kan memang disana ada eyangnya." Santi memeluk erat Mama.


Sissy tersenyum lega mendengar semuanya. Akhirnya semua bisa terselesaikan dengan baik. Sissy pun tersenyum dan memeluk tangan Rio.


Jangan lupa Like👍, Komen dan Vote..


Makasih🙏🙏🙏

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2