
"Mas Adam!!!" Panggil manja seorang wanita pada seorang pria, yang dari tadi tiada kedip. Terus menatap dirinya.
Tatapan mata pria itu sangat tak baik untuk kesehatan hati bahkan jantungnya.
"Mas..." Wanita itu pun memilih menepuk pundak Adam. Dari pada suaminya terus menatapnya seperti itu. Ia bisa grogi.
"Kamu sangat cantik, Nara. Mataku jadi hanya tertuju padamu." Puji Adam kagum pada penampilan istrinya sekarang.
Memakai gaun selutut yang berwarna pink, begitu sangat cocok di kulit istrinya yang putih. Ditambah sapuam make up tipis.
Adam tak bisa tak mengangumi sosok Nara, yang begitu sangat anggun dan mempesona. Seperti seorang bidadari. Bidadari yang terjatuh... tepat di hatinya.
"Mas... Ayo, kita cepat berangkat. Nanti makanannya habis, lho." Nara memilih berjalan duluan meninggalkan Adam. Pujian Adam tadi sudah membuat wajahnya merona.
Nara Amelia, menjalani kehidupan yang sangat bahagia. Ia memiliki suami yang sangat mencintai dan dicintainya. Suami yang begitu sangat perhatian dan pengertian pastinya.
Adam melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Ia melirik Nara yang melihatinya dengan penuh senyuman.
Senyuman manis yang membuatnya jatuh cinta. Ya, Adam jatuh cinta pada Nara karena senyuman wanita itu di awal bertemu.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?" Tanya Adam.
"Mas Adam, sangat tampan. Suamiku yang pa...ling tampan di dunia ini." Puji Nara.
"Jelas dong." Adam membanggakan diri.
"Mas... Aku sangat mencintaimu." Ungkap Nara tulus. Cintanya pada Adam sangat besar.
Adam mengelus kepala Nara dengan sayang.
"Aku juga sangat mencintaimu, Na." Balas Adam dengan sepenuh hati.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka sampai di sebuah hotel berbintang. Adam memarkirkan mobil di basemen hotel tersebut.
"Ayo turun, Na. Kita sudah sampai." Adam melepas sabuk pengamannya.
Nara juga melepas sabuk pengaman. Lalu tangannya menahan Adam yang akan bergegas turun dari mobil.
"Kenapa, Na?" Tanya Adam bingung, istrinya menahan tangannya.
Tangan Nara terulur merapikan kerah baju Adam, suaminya harus tampil rapi dan juga bersih.
"Terima kasih." Ucap Adam menatap sang istri penuh cinta. Nara wanita yang paling perhatian pada hal-hal kecil seperti itu.
"I-itu..." Nara mendadak gugup.
Ditatap seperti itu membuat hati Nara jadi berdebar-debar. Matanya beralih ke semua arah, asal jangan melihat ke arah Adam.
Bugh
Nara memilih keluar dari mobil, ia menghela nafas pelan.
Sudah 5 tahun ia menikah. 5 tahun sudah hidup bersama pria itu dan Nara masih saja berdebar-debar pada suaminya, seperti saat pertama kali bertemu.
'Menggemaskan!' Adam yang masih di dalam mobil, tersenyum melihat tingkah istrinya. Nara masih selalu gugup dan salah tingkah dengannya.
__ADS_1
Mereka lalu berjalan bergandengan memasuki aula yang berada di dalam gedung hotel tersebut.
'Wow!' Batin Nara terpukau sesaat. Melihat dekorasi aula pernikahan itu yang sangat mewah. Bernuansa gold menambah kesan menawan.
"Adam..." Seorang pria menepuk pundak Adam.
Adam pun menoleh ke belakang, melihat siapa yang menyapa. "Dika."
"Ah, benar. Ternyata kau. Sudah lama kita tak bertemu. Apa kabarmu sekarang, Dam?" Dika memeluk teman semasa zaman kuliah.
"Aku baik. Kau apa kabar juga?" Adam senang melihat temannya itu. Sudah lama ia tak bertemu dengan Dika.
"Baik dong. Oh, iya... Kenali ini Uli, istriku." Dika memperkenalkan istrinya.
"Ini Nara, istriku." Adam juga memperkenalkan istrinya.
Mereka pun saling memperkenalkan diri.
Tak lama mereka duduk bersama, sambil melahap hidangan yang tersedia.
"Bagaimana si Arka bisa mengundangmu?" Tanya Dika penasaran.
"Kami nggak sengaja bertemu di jalan. Kalau nggak salah sekitar seminggu yang lalu." Jelas Adam mengingatnya.
"Apa kau tahu?" Tanya Adam melihat serius Dika.
Dika menggeleng. Adam pun melihat ke arah pelaminan, tempat Arka dan istrinya menyalami para tamu.
Dika dan dua wanita yang bersama mereka, juga ikut melihat ke arah pelaminan.
"Si Arka itu mengancamku, jika aku tidak datang ke pernikahannya. Dia akan mengkulitiku hidup-hidup." Ucap Adam cepat sambil tertawa.
"Oh iya... Sudah berapa lama kalian menikah, Dam? Kalau kami sudah 4 tahun." Ucap Dika mengalihkan topik.
"Baru 2 tahun. Jangan ditambah-tambah dong." Uli membenarkan ucapan suaminya.
"Haha... Habis aku merasa sudah menikah lama... banget sama kamu, sayang." Dika memegang dagu sang istri dengan gemas.
Adam dan Nara tersenyum melihat keromantisan mereka.
"Kami sudah 5 tahun menikah." Adam menjawab pertanyaan Dika.
"Sudah lama juga ya, Dam. Jadi sudah berapa anggota sekarang?" Dika menatap Adam dan Nara bergantian.
Nara jadi menggeleng pelan. "Kami belum punya anak, Bang."
Adam menggenggam tangan istrinya. Seolah menenangkan. Nara sangat sensitif jika bicara tentang anak.
Selama 5 tahun pernikahan, mereka belum dikarunia buah hati. Tuhan belum memberikan bayi mungil dalam rahim Nara.
Sudah banyak Nara mengikuti anjuran memakan ini itu, yang katanya baik untuk kesuburan. Ia juga sudah konsultasi ke dokter kandungan, mungkin ia dan Adam bermasalah. Tapi dokter tidak menemukan adanya masalah pada pasangan itu. Mereka berdua sama-sama sehat. Tak ada yang mandul.
Uli menyenggol lengan Dika, melihat perubahan ekspresi Nara yang jadi murung. Sebagai perempuan, ia sangat memaklumi perasaan Nara.
"Ada waktunya itu, Ra. Jadi selama menunggu, nikmati waktu kalian berdua. Nanti kalau sudah punya anak, kuberitahu ini ya... kita itu jadi seperti orang ketiga." Ucap Uli sambil melirik suaminya. Semenjak dia mengandung, sampai anak mereka lahir ke dunia, perhatian Dika hanya tertuju pada anaknya.
__ADS_1
Nara pun jadi tersenyum mendengar ucapan Uli.
Selama ini, Nara yakin pasti ada saatnya ia memiliki seorang anak juga. Saat ini mungkin mereka masih diberi waktu lebih panjang untuk menghabiskan waktu berdua bersama.
"Aku jadi merindukan Bila. Sekarang Bila-ku berumur 1 tahun, lho. Anakku sangat imut dan menggemaskan." Dika pun merogoh ponselnya, lalu menunjukkan foto-foto sang anak yang tersimpan di ponselnya, pada Adam dan Nara.
"Pelakor kecil." Ucap Uli pelan pada Nara.
Nara tersenyum sendu melihat foto bayi mungil tersebut. Ia juga ingin merasakan kebahagiaan itu.
Setelah beberapa waktu, mereka akan pulang. Sudah cukup lama berada di sini. Sebelum pulang mereka ke pelaminan memberikan selamat pada Arka dan Rina.
"Ayo, kita foto bareng." Ajak Arka. Ini hari bahagianya. Jadi harus diabadikan.
Mereka pun foto bersama. Arka juga sempat meminta foto bertiga saja dengan teman-temannya itu.
Setelah berfoto, mereka pun berpamitan pada Arka dan istrinya.
"Adam, Nara... kami duluan ya." Pamit Dika setelah keluar dari aula. "Kapan-kapan kita harus kumpul lagi."
Adam mengangguk.
"Nara, sampai ketemu lagi." Uli melambaikan tangan.
"Sampai ketemu, kak." Nara ikut melambaikan tangan.
"Ayo, kita pulang." Ajak Adam setelah kedua orang itu pergi.
"Mas, tunggu sebentar ya. Aku mau ke toilet." Ucap Nara.
"Aku temani." Tawar Adam.
"Nggak usah, Mas. Aku sendiri saja. Mas, tunggu di mobil saja. Aku sebentar kok."
"Na-"
Belum sempat Adam bicara, Nara sudah berlalu pergi.
Adam pun berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Ia merogoh ponsel di sakunya yang bergetar.
Panggilan masuk dari Nomorku tertera di ponselnya.
"Halo..." Ucapnya setelah ponsel menempel di telinga.
"Sayang..."
.
.
.
Hai hai hai... Readers tercayang🥰
Happy reading di novel terbaru author...
__ADS_1
Semoga suka dan terhibur..
Terima kasih semuanya😊😊