KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 45 - Perhatian Arka


__ADS_3

"Bisakah... bisakah anda memelukku?"


Arka melihat Nara dengan ekspresi bingung. Kenapa Nara tiba-tiba meminta ingin dipeluk olehnya?


Pasti dia sedang bermimpi, kan!!!


Atau sedang berkhayal.


'Aku pasti hanya berkhayal!!!'


"Ma-maaf, Pak. Lupakan saja." Nara akan membuka pintu mobil. Melihat ekspresi bingung atasannya, Nara jadi malu telah mengatakan hal bodoh itu.


Dengan cepat Arka meraih Nara dan memeluknya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sepertinya ini bukan khayalan, tapi kenyataan.


Nara terdiam kembali merasakan debaran hati pria itu. Suara degupan dari dada tegap Arka, seperti nyanyian yang membuatnya tenang.


Perlahan Arka melonggarkan pelukannya. Sepertinya sudah cukup lama ia memeluk wanita itu.


Saat merasakan pelukan itu melonggar. Tangan Nara malah membalas memeluk tubuh kekar tersebut.


Arka terdiam merasakan detakan jantungnya yang berdetak tak stabil.


Merasakan tangan Nara yang makin memeluknya dengan erat, Arka pun kembali memeluk tubuh Nara.


Memeluk dengan erat. Seolah Nara adalah miliknya yang begitu sangat berharga. Yang harus dilindungi sepenuh jiwa dan raganya.


Wajah bahagia Arka terbit sudah. Sekarang ia seperti sedang bermimpi dan jika ini hanyalah mimpi. Harapannya agar mimpi ini panjang.


"Seminggu." Ucap Nara pelan dalam pelukan Arka.


"Hah... apa?" Tanya Arka bingung. Apa maksudnya Nara memberikan kesempatan padanya.


Nara melepaskan pelukannya diikuti Arka. Keduanya saling menatap dengan tatapan mendalam.


"Baiklah. Kurang dari seminggu, saya yakin kamu akan membalas perasaan saya." Arka tersenyum yakin. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini. Untuk meyakinkan Nara akan perasaannya.


Nara mencemberutkan wajahnya. Pria ini pedenya memang selangit.


"Boleh saya antar kamu sampai rumah?" Tanya Arka bertanya terlebih dahulu.


Mendapat anggukan, Arka pun melajukan mobilnya menuju depan rumah Nara.


"Maaf... Pak, Buk. Saya mengganggu istirahatnya Nara." Arka berbasa basi sejenak pada orang tua Nara.


"Namanya juga mendadak. Jadi wajar saja." Ucap Bunda melihat pria muda yang begitu tampan. Sangat sopan dan tampaknya baik.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Arka pamit. Ia menyalami Ayah dan Bunda. Lalu ia menundukkan kepala pada Nara.


Arka pun berjalan menuju mobilnya. Nara mengantarnya sampai teras.


Setelah mobil itu pergi.


"Kak Nara... Kakak ada hubungan dengan pak Arka?" Tanya Gio penasaran.


"Ada." Jawab Nara santai.


"Apa? Kak... Jangan mau dirayu dia. Pak Arka itu playboy. Dia itu penjahat wanita." Gio tak setuju kakaknya terjerat oleh playboy seperti Arka. Nara akan merasakan sakit melebihi yang pernah Adam torehkan.


"Hubungan kami itu hubungan kerja. Hubungan atasan dengan bawahan." Nara menggeleng melihat adiknya.

__ADS_1


"Tapi, aku tak yakin kak." Gio selalu tak yakin.


"Nggak yakin kenapa?"


"Dia datang nyarii kak Nara untuk pekerjaan? Sepertinya itu hanya alasan!"


"Flashdisknya kakak bawa. Ya, dia cari kakaklah." Nara bersikap biasa saja. Seolah Arka memang datang untuk pekerjaan yang mendadak.


"Gio, sudah. Berhenti mencurigai kakakmu. Kalaupun Nara punya hubungan dengan atasannya itu, Bunda setuju saja. Sudah tampan, sopan dan baik lagi." Bunda senang melihat Arka. Tipe-tipe idaman wanita.


"Bunda... kenapa setuju kakak Nara sama duda playboy itu?!"


"Pak Arka duda?" Bunda memastikan kembali. Ternyata atasan Nara itu duda.


"Iya, dia itu duda. Sebulan menikah dicerai istrinya, akibat ketahuan perselingkuhannya. Simpanannya iti banyak di mana-mana." Jelas Gio yang sering mendengar gosip tentang Arka.


Nara terdiam mendengar ucapan Gio. Jika Arka memang pria seperti itu, bagaimana dirinya nanti? Nara sudah memberikan kesempatan pula pada Arka.


Apa Arka memang benar-benar seperti itu?


Ayah melihat ekspresi wajah Nara yang agak murung, saat Gio menjelekkan atasannya tersebut.


"Gio..." Panggil Ayah dengan sorotan tajam.


"Iya, Yah. Aku cuma memberitahu kakak saja." Gio membenarkan diri.


"Ini sudah malam, ayo... Kita tidur."


Percakapan itu pun selesai. Mereka kembali ke kamar masing-masing.


Jika sudah perintah bos besar di rumah itu, tak boleh ada yang membantah. Wajib dituruti.


\=\=\=\=\=\=


Bukan hanya senyuman, bahkan sentuhan. Nara kembali mengingat bagaimana sentuhan tangan pria itu mengelus kepalanya.


Lalu... Pelukan pria itu juga terasa begitu nyaman. Nara merasa perasaannya aneh saat berada dalam pelukan Arka. Perasaan aman dan dilindungi.


'Astaga Nara!!! Apa yang kau pikirkan?!!'


Nara meruntuki diri sendiri yang mudah baperan. Sudah lama ia tidak merasakan perhatian seorang pria. Semua perlakuan lembut pria itu, membuatnya seperti merasakan kembali rasa yang pernah hilang.


Ting


Nara menghempas selimut, saat mendengar suara notifikasi pesan masuk. Ia bangkit dan meraih ponsel yang berada di nakas.


Nara tersenyum samar saat membaca pesan dari Arka. Ia hanya melihat notifikasi tanpa membuka pesan.


Pak Bos: sudah tidur?


"Apa aku balas? tunggu dulu. Jangan langsung balas pesannya. Tunggu sebentar lagi." Nara bermonolog sendiri. Ia tak boleh membalas pesan langsung dari Arka, harus ada time-nya. Biar pria itu nggak berpikiran jika ia senang mendapat pesan darinya.


Nara membaringkan tubuhnya kembali ke tempat tidur. Ia akan membalas pesan dari Arka sekitar 10 menit lagi.


Tring....


Suara jam beker membangunkan Nara. Hari sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Nara mendudukkan diri di tempat tidur. Merenggangkan tubuh disertai menguap panjang.


Wanita itu terpaku sejenak. Sepertinya ia melupakan sesuatu.

__ADS_1


'Astaga!!!' Batin Nara setelah mengingatnya.


Nara mencari-cari ponselnya. Setelah menemukannya ia terdiam memandangi ponsel tersebut.


Niat hati mau membalas pesan tersebut dalam 10 menit, nyatanya ia malah tidur sampai pagi.


Nara jadi bingung sendiri. Mau membalas atau tidak. Tapi ia saja juga belum membaca pesan tersebut.


Pak Bos: sudah tidur


Pak Bos: mimpi indah


Pak Bos: selamat malam


Pak Bos: Nara 😘


Arka mengiriminya pesan sampai 4 kali. Dengan durasi satu pesan dengan pesan lainnya sekitar setengah jam.


Nara mulai bingung mau membalas dengan balasan seperti apa. Ini juga sudah pagi.


Wanita itu melempar ponsel ke bantal. Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Nara sudah sampai di loby kantor. Ia berjalan menuju lift dengan pikiran yang berkelana.


Ekspresi seperti apa jika bertemu dengan pria itu?


"Selamat pagi, Nara." Sapa Arka dengan senyum ceria. Ia sengaja datang lebih cepat dan menunggu Nara di sana.


Nara terpaku sejenak melihat pria itu. Arka sangat tampan dengan senyuman manis yang bisa melelehkan hati orang yang melihatnya.


"Pa-pagi, Pak." Sapa Nara kembali menghempaskan lamunannya. Ia tidak boleh kagum pada pria itu.


"Ayo!" Arka mempersilahkan Nara masuk terlebih dahulu ke dalam lift.


Nara jadi bingung, seharusnya atasannya dahulu. Setelah itu, ia mengikuti.


Melihat Nara yang bingung, Arka menggandengnya masuk ke lift. Ia pun segera menekan tombol, agar lift segera tertutup.


Arka tak mau ada karyawan lain yang naik lift bersama mereka. Ia sedang ingin berdua dengan Nara.


"Pak." Nara perlahan melepaskan genggaman tangan Arka.


"Ma-af." Arka meminta maaf segera. Ia menyadari Nara yang jadi tidak nyaman dengannya.


"Ini untuk kamu." Pria itu memberikan bungkusan yang dibelinya saat perjalanan.


Nara bukannya menerima, ia malah melihat Arka dengan wajah bingung. Pria itu lalu memberikan bungkusan itu ke tangan Nara.


"Terima kasih, Pak." Nara menundukkan kepala sejenak. Mau menolak, ia tidak enak hati.


"Pak... Anda sudah sarapan?" Tanya Nara kembali.


Arka menggeleng pelan. "Saya tadi tidak sempat sarapan."


Itu hanya alasan Arka. Mommynya mana mungkin membiarkan dia keluar rumah, sebelum sarapan.


"Apa anda mau membantu saya menghabiskan makanan ini?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2