
"Kamu belum pulang?" Tanya Arka setelah keluar dari ruangannya.
"Pu-pulang, Pak." Jawab Nara gugup.
Nara bingung, sampai jam kantor telah berakhir ia tidak ada waktu untuk mengembalikan kotak makan itu.
"Nara, ayo pulang." Ajak Sam yang membuyarkan lamunan Nara.
Dengan langkah lemah, Nara berjalan mengikuti pria-pria itu dari belakang.
Sam yang sudah berada di dalam lift bersama Arka dan Nara, melirik keduanya.
Arka yang berdiri dengan santai, sementara Nara yang kelihatan bingung dan selalu menundukkan kepala.
"Nara, kamu kenapa?" Tanya Sam memulai obrolan.
Nara menggeleng. "Sa-saya tidak apa-apa, Pak." Jawab Nara dengan senyum yang dipaksakan.
"Hari ini gajian. Apa kamu murung karena belum gajian?" Tanya Sam kembali.
"Hah? Sudah gajian ya, Pak?" Nara melihat ponselnya.
Nara tak dapat menyembunyikan wajah bahagianya. Ia kembali menerima gaji hasil keringatnya sendiri.
Selama beberapa tahun ini, Nara tak diizinkan Adam bekerja lagi. Hingga setiap bulan, ia menerima transferan untuk kebutuhan sehari-hari.
'Apa begitu bahagianya menerima gaji?!' Arka tersenyum samar melihat ekspresi Nara yang begitu berbinar-binar.
'Apa aku chat saja pak Arka?' Batin Nara. Ia pun menscrol mencari nomor kontak Arka.
Ting
Arka meraih ponselnya. Satu pesan masuk dari sekretarisnya. Arka melihat ke arah Nara, wanita itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Nara: Pak, saya mau mengembalikan kotak makan.
Ting
Nara meraih ponselnya.
Pak Bos: Tidak usah
Nara melirik Arka. Lalu mengetik pesan.
Nara: Saya segan dengan ibu anda. Saya akan menunggu anda di parkiran.
Ting
Sam melirik keduanya. Dari tadi Ting ting bunyi pesan. Apa mereka berdua mengobrol lewat udara?
Ting
Kembali pesan masuk berbunyi dari ponsel Nara.
Pak Bos: Baiklah.
Sam menatap Nara. Merasa dilihat, Nara hanya membaca pesan yang dikirim Arka. Dan tak membalasnya lagi.
Setelah sampai di lobby utama, Nara pamitan pada Arka dan Sam.
Dengan mengendap-endap ia mengikuti Arka yang berjalan ke arah parkiran.
Nara mengumpat di balik tembok saat melihat Arka sudah naik ke mobilnya. Sementara ia masih melihat Sam berjalan menuju mobilnya.
"Iya, pak." Ucap Nara menjawab panggilan Arka.
__ADS_1
"Kamu di mana? Saya sudah di parkiran!" Ucap Arka sambil matanya mencari-cari wanita itu.
"Iya, sebentar Pak. Mobil pak Sam belum keluar. Tunggu sebentar ya, Pak." Ucap Nara segera mengakhiri panggilan.
"Saya-" Arka tak jadi berucap, wanita itu sudah menutup panggilannya.
Sementar di parkiran itu juga, Sam melihat Nara mengintip di balik tembok.
Sam melirik ke arah mobil Arka yang masih diam di sana.
'Astaga!!! Apa begitu pacaran satu kantor? Sembunyi-sembunyi biar tidak ketahuan!!!'
Sam menggeleng, ia menghidupkan mesin mobilnya. Lalu perlahan melaju pergi.
'Nara-Nara!!! Seharusnya tunggu dulu sampai mobilku berbelok?!'
Sam tertawa melihat dari spionnya, Nara yang berlari menuju mobil atasannya itu.
Nara berlari cepat sambil menutupi wajahnya. Ia takut ada yang melihatnya. Bisa menjadi gosip di kantor.
Wanita itu masuk ke mobil Arka dengan nafas yang memburu.
"Ka-kamu tidak apa?" Tanya Arka bingung.
"I-ini, Pak. Tolong berikan pada ibu anda. Sampaikan juga rasa terima kasih saya." Nara mengeluarkan kotak makanan dari tasnya. Ia memberikan pada Arka.
"Apa ini?" Tanya Arka menerimanya. Kotak makan yang ternyata ada isinya.
"Itu untuk ibu anda. Saya segan jika mengembalikan kotak makan itu dalam keadaan kosong." Jelas Nara kembali.
Arka mengangguk. "Terima kasih."
"Baiklah, Pak. Saya permisi dulu." Nara turun dari mobil Arka. Tapi ia masuk kembali saat melihat karyawan lain yang berada di parkiran juga.
Nara tersenyum canggung sejenak. "Maaf, Pak. Itu..." Ia menunjuk karyawan lain yang pada berpulangan.
"Saya antar kamu pulang." Ucap Arka.
"Ti-tidak usah, Pak. Saya akan-"
"Pasang sabuk pengamanmu." Pinta Arka menghidupkan mesin mobilnya.
"Ta-tapi, Pak." Nara merasa berat dengan tawaran Arka.
"Ya, sudah. Saya akan turunkan kamu di persimpangan." Arka juga tak mau ada karyawan lain yang melihat mereka. Bisa-bisa ia jadi bahan gosipan karyawannya.
Nara akhirnya mengangguk. Selama menuju keluar kantor. Nara menundukkan tubuhnya. Agar orang dari luar tidak ada yang bisa melihatnya.
Arka yang sedang menyetir, melirik Nara. Ekspresi wanita itu ketakutan. Padahal orang dari luar tak bisa melihat mereka. Karena kaca mobilnya yang gelap.
Nara menghembuskan nafasnya lega, setelah keluar dari area kantor.
Pria itu jadi tersenyum melihat sekretarisnya itu.
'Janda menggemaskan!' Batin Arka tanpa sadar.
"... Janda menggemaskan."
"... Janda menggemaskan."
"... Janda menggemaskan."
Perkataan Sam saat itu jadi terngiang-ngiang di telinganya.
Arka menghalau perkataan Sam itu.
__ADS_1
"Pak, saya turun di sana saja." Ucap Nara menunjuk ujung jalan.
"Di situ? tapi arah ke rumahmu itu seharusnya belok?"
"Di sana saja, Pak."
Arka mengangguk. "Kamu mau jalan-jalan ya?"
Nara mengangguk malu. "I-iya, Pak. Saya mau membelikan sesuatu untuk orang tua dengan gaji saya."
"Hmm..." Arka mengerti. Dan menepikan mobil di pinggir jalan yang ditunjuk Nara.
"Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan, Pak." Ucap Nara.
Setelah Arka mengangguk, Nara pun turun dari mobil itu.
\=\=\=\=\=\=
"Bun, kak Nara pergi ke mana? Kok belum pulang?" Tanya Gio yang khawatir. Sudah jam 7 malam dan kakaknya belum juga pulang.
"Sebentar lagi sampai rumah." Jawab Bunda santai. Nara sudah dewasa, bisa menjaga dirinya. Jadi Bunda tidak terlalu khawatir.
Gio duduk di teras rumah. Ia akan menunggu kakaknya pulang. Gio yakin, Nara pergi dengan pria itu. Begitu melihat Nara pulang, Gio akan segera menyamperi pria itu.
Mata Gio melihat sepeda motor berhenti di depan rumahnya.
"Terima kasih, Bang." Sayup terdengar suara Nara.
Gio kecewa, Nara pulang naik ojek.
"Kak Nara... Mana pria pemilik mobil mewah itu?" Tanya Gio saat kakaknya berjalan masuk.
"Astaga!!! Nggak ada pria-pria. Kakak belikan kamu pakaian lho. Kamu pasti suka." Nara menarik adiknya masuk ke rumah.
"Terima kasih ya, Nak." Ucap Ayah senang dibelikan pakaian batik oleh sang putri. Sangat pas di tubuhnya.
"Ayah jadi kelihatan lebih muda." Puji Nara. Ia memeluk sang Ayah.
"Couplean Bunda sama Ayah?!" Ucap Bunda mencoba pakaian yang dibelikan Nara.
"Iya dong. Buat pergi kondangan." Timpal Nara tersenyum senang.
"Kak, terima kasih. Aku kebagian cipratan gaji pertama kakak." Gio juga senang dibelikan pakaian oleh Nara. Ia akan memakainya saat pergi ke kantor.
"Jadi, kakak beli apa untuk pria bermobil mewah itu?" Gio kembali bertanya pada kakaknya.
Ayah dan Bunda hanya dapat menggeleng. Gio begitu sangat penasaran dengan pria yang sedang dekat kakaknya itu.
"Astaga Gio!!! Apa nggak ada pertanyaanmu yang lain?"
.
.
.
Mari mampir juga ke karya receh author yang lain...
*Cinta pertama
*Tentang kamu
*Suami random
Semoga suka dan terhibur ya!!!
__ADS_1
Terima kasih banyak๐๐๐