
"Hah???" Nara tersontak kaget mendengar apa yang baru saja ia dengar.
Atasannya memintanya untuk menjadi kekasih? Pasti ada yang salah dengan pendengarannya saat ini.
Arka berdehem sejenak. Sepertinya dia salah berucap, hingga membuat sekretarisnya itu tampak sangat terkejut.
"Maksud saya begini... Kamu hanya berpura-pura menjadi kekasih saya-" Arka menjeda ucapannya, melihat Nara yang melihatnya dengan ekspresi aneh.
"Nara begini..." Arka melanjutkan mengatakan apa yang sudah direncanakan.
"Ja-jadi maksud Pak Arka, saya berpura-pura jadi kekasih di depan ibu anda?" Tanya Nara kembali memastikan apa yang sudah Arka sampaikan.
Arka mengangguk. "Benar. Hanya satu hari saja. Dengan begitu ibu saya tidak akan berniat menjodoh-jodohkan saya lagi." Arka yakin, Mommynya akan berhenti menjodohkannya.
"Ma-maaf Pak. Saya tidak bisa. Anda bisa cari wanita lain saja." Nara menolak cepat.
Arka mendengus sesaat, kesal melihat Nara. Wanita itu tanpa basa basi menolak dirinya.
"Saya akan membayarmu." Arka memberikan tawaran agar Nara mau membantunya.
"Maaf Pak. Saya tidak berminat." Nara tetap menolak.
"Kamu hanya perlu berpura-pura menjadi kekasih saya hanya satu hari itu saja. Saya akan membayarmu senilai gaji sebulan." Arka memberikan penawaran yang menggiurkan.
'Satu bulan gaji? Terus nanti tambah gajian. Wow!!! apa aku akan dapat gaji double dalam bulan ini?!' Nara membatin menghitung gaji yang akan di dapatnya dalam sebulan ini.
"Maaf, pak. Saya nggak bisa. Bapak bisa mencari-"
"Kenapa kamu menolak?" Sela Arka tak percaya Nara menolak tawarannya mentah-mentah.
"Apa bayaran sebulan gaji itu kurang? Kamu mau 2 atau 3 kali lipat dari gaji kamu di sini?" Tanya Arka kembali. Nara ternyata sedang mencoba bernegoisasi dengannya.
Membantunya satu hari saja, Nara sangat perhitungan sekali.
"Bu-bukan pak. Mau anda bayar berkali-kali lipat dari gaji, saya memang tidak bisa membantu anda. Saya merasa gaji saya sudah sangat cukup untuk saya." Tolak Nara kembali.
Nara tak bisa membantu Arka. Ia memang tak mau berhubungan dengan pria lagi, walaupun hanya untuk berpura-pura.
"Bapak bisa cari wanita lain yang mau berpura-pura menjadi kekasih anda. Dengan bayaran seperti itu, pasti tidak ada wanita yang akan menolak." Tegas Nara meyakinkan Arka.
'Apa kamu bukan wanita?!' Arka merasa apa yang diucapkan Nara, seperti wanita itu bukan termasuk dalam spesies yang bernama wanita saja.
"Saya permisi, Pak. Saya akan melanjutkan pekerjaan saya." Pamit Nara sambil menundukkan kepala sejenak. Lalu bergegas keluar.
"Kalau kamu menolak. Bulan ini kamu tidak akan menerima gajimu." Ancam Arka kesal. Ia harus menakuti Nara.
__ADS_1
Mendengar ucapan Arka, langkah kaki Nara terhenti. Ia membalikkan badannya.
"Saya akan merapel gaji kamu bulan ini. Mungkin kamu akan menerimanya di bulan depan atau bulan depannya lagi, atau mungkin tahun depan." Ancam Arka dengan senyuman sinis.
\=\=\=\=\=\=
Di pagi yang cerah, terlihat Nara sibuk merapikan kamarnya. Karena ini hari libur. Ia mencuci gorden, sprei dan juga selimut.
Lalu Nara merapikan lemarinya yang berantakan. Merapikan baju yang tergantung di hanger. Juga merapikan meja nakasnya
Saat membereskan kolong tempat tidur, Nara terdiam saat melihat kardus yang membuat hatinya mulai sakit.
Kardus itu berisi foto-foto dan barang pemberian Adam, saat mereka masih berpacaran dulu.
'Kenapa masih aku simpan sih?!'
Nara menghembuskan nafas lalu membawa kardus itu ke halaman belakang rumah.
Wanita itu berjalan ke dapur. "Bun, punya mancis?" Tanya Nara.
"Untuk apa?" Tanya Bunda khawatir melihat ekspresi Nara yang berusaha menahan air mata.
"Mau bakar sampah, Bun." Ucap Nara dengan suara bergetar.
Tak lama Nara menghidupkan mancis dan mulai membakar satu persatu isi dalam kardus.
Nara mengusap air matanya yang berjatuhan, air mata yang sudah tak sanggup di bendungnya. Ia kembali teringat akan semua janji yang pernah Adam katakan.
"Aku akan selalu mencintai kamu. Apapun kelebihan dan kekuranganmu. Kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan. Aku hanya akan mencintai kamu selamanya, Nara."
Ya, itu kata yang diucapkan Adam saat melamar dirinya. Ucapan yang semanis madu, hingga membuat Nara terbang bagai ke langit ketujuh.
Nara sangat mempercayai Adam dan perkataannya. Hingga ia menempatkan pria itu satu-satunya di hatinya. Satu-satunya pria yang akan dia cintai sampai mati.
Tapi... Setelah 5 tahun pernikahan, kenapa Adam tidak bisa memegang perkataannya?
Kemana ucapan Adam yang semanis madu itu?
Bagi Nara, Adam seperti seorang penipu.
'Kenapa aku harus terus mengingatnya sih? Nara, ayo move on. Dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Aku juga harus hidup bahagia. Tapi... Apa ada pria yang mau menerima kekurangan aku?' Nara sadar akan kekurangan dirinya.
Mungkin akan mudah menjalin sebuah hubungan. Tapi, jika sudah mencapai tahap serius. Apa mereka mau kekurangan dirinya?
Nara tak ingin sakit hati lagi untuk kedua kalinya. Semua orang menikah karena ingin memiliki keturunan. Apalah dayanya yang tidak bisa seperti wanita-wanita lainnya.
__ADS_1
'Menikah lagi? Untuk apa? Aku akan hidup bersama Ayah, Bunda dan Gio selamanya. Mereka menyayangiku!!!'
Dari jauh Ayah, Bunda dan Gio melihat apa yang dilakukan Nara. Membakar kenangan dengan mantan suaminya dengan berderai air mata.
Padahal waktu sudah terlalu lama berlalu dan Nara yang baru mulai kembali bangkit, harus mengingat kembali tentang masa lalunya yang kelam.
"Gio, kenapa nggak kamu buang itu?!" Bisik Bunda memelototi Gio.
Semenjak Nara menikah, kamar Nara ditempati sang putra.
"Aku juga nggak tahu, Bun." Gio memang tak pernah tahu soal kardus kenangan Nara itu.
"Biar saja dibakarnya. Itu akan membuat hati Nara jadi tenang." Ayah meyakini. Nara tidak perlu mengingat masa lalu.
Mereka segera berpencar saat melihat Nara yang akan masuk ke rumah. Tak mau Nara makin bersedih, jika tahu mereka melihat semuanya. Jadi mereka berpura-pura tidak tahu tentang apapun.
Sore itu, Nara berpamitan pada orang tuanya. Ia akan keluar sebentar.
"Ayah, Bunda... Nara keluar sebentar ya." Ucapnya menyalami kedua orang tuanya.
"Mau kemana?" Tanya Gio menyelisik.
"Jalan sama teman." Jawab Nara segera.
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Gio kembali dengan wajah curiga.
"Sudah kamu pergi. Hati-hati di jalan. Jangan pulang malam-malam." Ucap Bunda menyuruh Nara cepat pergi.
"Kak, biar aku antar." Tawar Gio akan bangkit.
"Hati-hati ya, Nak." Ayah memegangi Gio sambil menggelengkan kepala.
"Ayah, Bunda... Kenapa kak Nara dibiarkan pergi sendiri? Dia itu pasti mau jalan sama laki-laki." Gio yakin kakaknya akan ketemu dengan seorang pria.
"Biarkan saja." Bunda juga menahan Gio.
"Nggak bisa, Bun. Aku harus tahu siapa pria itu!" Gio akan mengikuti sang kakak.
"Gio." Tahan Ayah kembali menggelengkan kepala.
"Tapi, Yah-"
"Sudah percaya saja pada Nara. Ayah yakin kakakmu bisa menjaga dirinya sendiri."
.
__ADS_1
.
.