
"Hu... Hu... Hu..."
"Sayang, sudah dong. Jangan nangis lagi." Arka yang sedang menyetir bingung melihat tangis Nara yang tiada hentinya.
Tangisan yang begitu memilukan. Pasti Adam sangat melukai perasaan istrinya.
"Sayang, ayo diam dong. Kamu mau kita ke mana? Kita kencan saja. Kita belum pernah berkencan selama kamu hamil." Arka membujuk Nara sambil menepikan mobilnya. Ia tidak bisa fokus menyetir.
Bukannya malah berhenti, tangisan Nara makin menjadi.
"Nara... Sudahlah, jangan kamu dengarkan ucapan si Adam itu. Dia hanya tidak terima pada keadaannya. Dia mencari-cari alasan dan melampiaskannya ke kamu." Arka mulai membujuk.
"Sayang..." Arka menghembuskan nafas sambil mengusap air mata Nara.
"A-aku ta-takut, Mas." Dengan terisak Nara berucap.
"Kamu nggak perlu takut, ada aku di sisimu. Aku akan melindungimu dari Adam. Aku juga nggak akan terhasut atau percaya pada ucapan miring tentang kamu." Arka meyakinkan Nara, agar jangan menangis lagi.
Nara menggeleng. "Bukan karena itu, Mas."
"Jadi... kamu nangis kenapa? Katakan padaku?" Tanya Arka bingung.
"Ta-tadi waktu di kafe itu, apa ada yang merekam?" Tanya Nara dengan wajah masih meweknya.
"A-aku nggak mau nanti tiba-tiba a-aku vi-viral, Mas. Istri menghajar mantan suaminya di depan suami keduanya..." Nara mendadak takut. Tadi ia lepas kontrol dan tak bisa berpikiran jernih. Emosinya saat itu meletup-letup.
Arka tersedak mendengar penuturan istrinya. Ia mengira Nara masih menangis karena Adam. Ternyata oh ternyata...
"Sudah, kamu tenang saja. Akan aku urus semua." Tak ada yang sulit bagi seorang Arka.
"Caranya?" Nara masih takut.
"Sayang, kamu lupa. Suamimu itu kaya raya loh."
Nara pun mencibir suaminya itu.
"Kita pulang ya." Ajak Arka.
"Nggak mau."
"Jadi, kamu ke mana? Ke kan-?" Tanya Arka melihat istrinya dengan serius.
__ADS_1
"Nara, jawab jujur. Kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?" Arka baru sadar. Nara bisa tiba-tiba muncul. Dari mana istrinya tahu dia di kafe itu? Padahal ia tidak ada memberitahu siapapun, akan ke tempat itu.
Nara diam dan mulai bingung. "A-aku kebetulan lewat, Mas." Ia mulai mengarang bebas.
Arka masih menatapnya dengan sorot tajam. Ia tahu Nara sedang berbohong. Ada yang sedang disembunyikan sang istri.
"I-itu itu i-tu..." Nara jadi gugup ditatap seperti itu.
"I-ini, Mas." Nara menyerahkan ponselnya pada Arka.
Merasakan aura yang mencekam dengan cepat Nara memeluk tubuh Arka.
"Maafkan aku, Mas. Tolong maafkan aku. Aku melakukan itu bukan karena tidak mempercayaimu. Tapi... tapi, aku hanya berjaga-jaga." Nara merengek meminta maaf, ia tak mau Arka marah padanya.
"Selain untuk menyakinkan jika kamu memang berbeda dari Adam. Itu juga bisa untuk menjaga dirimu. Misalnya tiba-tiba ada yang nyulik Mas Arka. Akukan bisa segera tahu lokasimu." Ucap Nara lirih beralasan.
Arka yang tadi mau marah jadi gemas. "Banyak alasan!!!" Dengan geram pria itu mencubiti pipi istrinya. Ia akan memaklumi Nara yang memantaunya. Nara masih butuh banyak waktu untuk mempercayai orang lain.
"Sayang... kalau aku bilang aku berbeda dari Adam. Sampai kapan pun itu tidak akan berubah. Kamu harus percaya padaku. Pegang kata-kataku!" Arka menekankan ucapannya sebagai pria sejati.
Nara mengangguk dengan mengumbar senyuman. "Mas, aku mau makan es krim." Ia memeluk lengan Arka manja.
"Janganlah. Nanti anak-anak kita kedinginan."
"Ya sudah, kita beli eskrim." Arka mengelus kepala Nara. Melihat senyuman Nara mengambang, sudah membuat hatinya bahagia. Istrinya itu saat hamil saat manja dan menggemaskan.
"Ayo... kita meluncur, Mas."
\=\=\=\=\=\=
Mobil melaju kencang membelah jalanan. Menikung ke kanan lalu tiba-tiba kiri. Menyalip-nyalip kenderaan lain. Adam melajukan mobil dengan ugal-ugalan.
Emosi Adam masih naik turun. Ia masih tidak menyangka mantan istrinya itu sangatlah kasar. Selama menikah, Nara itu wanita yang begitu lembut dan penuh kasih sayang.
Tapi kini... bukan saja mulutnya yang tidak berhenti merepet, bahkan tangan dan kakinya juga ikut aktif. Menjambak,menyiram, melempar hingga menendang kursinya. Nara seperti titisan mak lampir.
'Bukan kau saja yang menyesal. Aku juga menyesal menikah denganmu!!!' Adam memukul-mukul setir mobil mengingat ucapan kejam wanita itu.
Adam meraih ponselnya saat berdering.
"Halo..."
__ADS_1
"Sudah ketemu lokasi Yola, Bang." Ucap Bily di seberang sana.
"Di mana?"
...
"Astaga!!!"
Adam melempar ponselnya. Lokasi Yola sangat jauh. Wanita itu kabur keluar kota membawa anaknya. Yola benar-benar ingin memisahkan dirinya dengan putranya.
Tak berapa lama rumah Adam.
"Jadi kamu mau bagaimana, Dam?" Tanya Mama bingung. Adam bersiap akan keluar kota.
"Apa lagi, Ma. Aku akan membawa putraku kembali." jawab Adam sambil memasukkan pakaiannya ke dalam ransel.
"Terus bagaimana Yola?" Tanya Mama kembali.
"Biarkan saja dia. Aku tidak peduli."
"Adam." Mama menghela nafas panjang. "Mau sampai kapan kalian rebut-rebutan anak?" Tanya Mama tidak mengerti. Baik Adam maupun Yola keduanya menginginkan anak itu.
"Hak asuh Mario ada di tanganku, Ma. Jika Yola merebut anakku lagi, aku akan melaporkannya." Adam bersikap santai.
"Nak... Sudahlah, kamu rujuk saja dengan si Yola. Kasihan Mario. Putramu itu butuh kasih sayang. Bukan hanya kasih sayang dari Papanya saja, tapi harus ada kasih sayang dari mamanya." Mama merasa kasihan dengan bocah kecil tersebut. Yang terombang ambing tidak jelas.
Meski tidak menyukai cara Yola, Mama berusaha mengikhlaskan saja. Bagaimana pun wanita itu ibu dari cucunya. Semua demi kebaikan tumbuh kembang sang cucu.
Jujur Mama hanya ingin menantunya Nara saja. Tapi, putranya telah mengoreskan luka yang begitu menyakitkan. Perbuatan Adam tidak bisa dimaafkan. Mama senang, karena Nara telah menikah dan bahagia dengan pernikahannya. Menantunya berhak untuk bahagia, walau bukan dengan Adam.
"Ma... sudah berapa kali aku katakan. Aku tidak mau bersama wanita itu lagi. Aku akan merawat Mario bersama kalian." Tegas Adam kembali. Ia tidak sudi kembali pada Yola.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk putramu. Tapi, kalau kamu masih bersikap egois. Kamu urus saja Mario sendiri. Selama ini saja pun kamu hanya mengikuti keegoisanmu. Saat kamu berniat memiliki anak dari wanita lain saja, kamu tidak pernah meminta izin Mama." Jelas Mama yang merasa kecewa. Dalam bertindak, Adam tidak pernah memberitahu niatnya. Jika saat itu putranya bicara padanya, mungkin ia akan marah dan menasehatinya. Adam mungkin tidak akan selingkuh dan bercerai dari Nara.
"Kamu suka seenaknya, Dam. Dan menyakiti hati banyak orang. Bukan hanya Nara. Mama juga sakit hati dengan sikap kamu yang seperti ini." Timpal Mama kembali meluapkan kemarahannya. Wanita paruh baya itu pun keluar dari kamar Adam.
"Astaga!!! Kenapa jadi seperti ini?!"
Adam melempar ranselnya. Ia kesal, Mamanya tidak mendukung keputusannya. Masih juga memaksa ia kembali pada Yola.
.
__ADS_1
.
.