KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 74 Bukan Masalah


__ADS_3

"... Jadi Adam mantan suami kamu, sama temanku itu... orang yang sama?" Tanya Arka memastikan kembali dengan wajah seolah kaget dan baru tahu. Ketika Nara menunjukkan foto mantan suaminya.


"Apa kalian teman akrab, Mas?" Tanya Nara dengan mata berkaca-kaca.


Entah kenapa, Nara merasa perasaannya sangat aneh saat ini. Jika Adam temannya Arka, berarti kemungkinan pria itu tahu semua alasan perceraian mereka. Mungkin saja Adam sudah bercerita pada Arka.


Atau ada kemungkinan, Arka akan pergi meninggalkannya.


"Ka-kami teman saat masih kuliah. Setelah selesai kuliah, kami lost kontak dengan Adam. Dan bertemu kembali saat pernikahanku." Jelas Arka dengan hati-hati sambil menatap wajah yang mulai sendu.


Nara mulai mengingat, saat itu Adam mengajaknya kondangan, ke pernikahan temannya. Wanita itu sangat jelas mengingat, karena resepsi pernikahan temannya Adam itu yang begitu sangat mewah. Tapi... Nara tidak ingat dengan Arka. Padahal Arkalah yang saat itu menikah.


"Mas, aku pulang sendiri saja!" Nara membuka handle pintu mobil. Ia berniat akan naik taksi saja. Hatinya merasa malu dan minder.


"Nara... Kamu kenapa, sayang?" Tanya Arka menahan tangan Nara dan menutup pintu mobil kembali. Ia tidak akan membiarkan Nara keluar dari mobilnya.


"Mas, a-apa yang kamu tahu tentang perceraianku?" Menurut Nara, sedikit banyak Adam pasti bercerita tentang perceraiannya pada Arka.


Apa Arka kini tahu alasan Nara sebenarnya?


Nara hanya mengatakan pada Arka, jika ia dan Adam bercerai karena dirinya yang tidak bisa memberikan keturunan.


Tapi, alasan perceraian yang sebenarnya terlalu menyakitkan untuk diingat kembali. Adam menikah dengan wanita lain, saat masih bersamanya. Lalu Adam memintanya merawat anak dari wanita lain, bersama selingkuhannya. Nara menolak dan meminta cerai. Adam pun setuju dan lebih memilih bersama wanita berambut pirang itu.


Dada Nara terasa sesak dan bergemuruh. Ia wanita yang tidak beruntung dan sangat menyedihkan. Apa yang akan Arka pikirkan tentang dirinya?


Tangan Arka meraih tubuh Nara dan memeluknya. Berada di pelukan Arka, membuat air mata Nara yang coba dibendung, bobol sudah membasahi pipinya.


"Ya, aku tahu tentang perceraian kalian. Adam pernah cerita itu."


"Tentang aku yang..." Nara menjeda ucapannya.


"Nara... Sudah hentikan. Jangan kita bahas lagi ya." Arka mengeratkan pelukannya. Ia merasakan Nara yang mulai minder dan tak percaya diri.


"Sayang, aku mencintaimu. Mau kamu mantannya temanku atau siapapun. aku tidak peduli. Mau kamu begini begitu, sudah lupakan saja semua. Tidak usah kita pikirkan masa lalu." Arka meyakinkan Nara kembali. Tak ingin tiba-tiba pernikahan yang sudah direncanakan, dibatalkan hanya karena masa lalu yang menghampiri.


"Nara, tolong jangan pikirkan yang seharusnya tidak kamu pikirkan."


"A-aku nggak pantas bersamamu. Aku-"


"Nara..." Arka kembali memeluk wanita itu.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


"Ka, bagaimana kau bisa kenal dengan mantan istrinya Adam?" Tanya Dika saat Arka bertamu ke rumah mereka.


"Benar-benar. Kapan kalian mengenal? dan bagaimana bisa bersama?" Uli datang sambil membawa nampan berisi teh dan bergabung di ruang tamu. Ia penasaran mendengar cerita Arka.


"Dia sekretarisku." Jawab Arka.


"Apa kau tahu sebelumnya kalau dia mantannya Adam?" Tanya Dika kembali.


Arka menggeleng. "Aku saja baru tahu-""


"Jadi sekarang, apa kau serius dengannya? Kalau kau tidak serius, mending cari wanita lain. Kau tahu sendiri, Arka... bagaimana Adam memperlakukannya. Jangan-"


"Aku mencintainya." Tegas Arka sangat yakin. "Aku sangat mencintai Nara." Ulang Arka kembali dengan nada tegas.


Dika dan Uli melihat Arka dengan tatapan arti. Selama mengenal Arka, mereka mengerti pria itu.


Arka itu tipe pria yang setia dalam menjalin hubungan. Ia menjalin hubungan dengan satu wanita. Saat dikhianati, Arka baru akan mencari wanita lain lagi.


"Apa Adam tahu hubungan kalian?" Tanya Dika agak bingung. Bagaimana tanggapan Adam, jika tahu mantan istrinya bersama temannya?


"Mau si Adam tahu atau tidak, biarkan saja. Lagian mereka juga sudah bercerai, tidak ada urusan lagi mantan istrinya mau dekat atau menikahi pria lain?!" Jelas Uli dengan meyakinkan Arka. Ia tak mau Arka karena beralasan teman, lalu mundur dan menjauhi Nara.


"Aku tidak mau Adam tahu soal Nara. Kemungkinan aku tak akan mengundang Adam ke pernikahan kami." Arka tak mau akan ada CLBK.


Arka mengangguk.


"Jangan-jangan kau takut saat mereka bertemu dan rasa itu masih ada. Kan?" Tebak Uli yakin.


"Iya. Mereka berpacaran dan menikah selama 5 tahun." Arka tak mau perasaan Nara jadi goyah. Hubungan yang sedang terjalin, tidak selama saat Nara bersama Adam. Perasaan Nara belum kuat dengannya.


"Tapi, Ka... kau terlalu khawatir. Adam sudah menikah dan memiliki anak. Ku rasa Adam juga sudah tidak peduli dengan mantannya lagi." Dika melihat Adam yang baik-baik saja dengan istri barunya.


"Kau salah Dik." Ucap Arka cepat. "Adam pernah bilang akan menceraikan istri barunya dan kembali pada mantan istrinya." Ingat Arka.


"Pasti karena sikap wanita itu. Kau tahu, Ka. Waktu perayaan ulang tahun anaknya itu. Si pirang itu sibuk terus dengan teman-temannya. Aku saja lihat muka si Adam itu kesal banget-"


"Uli." Dika menyenggol tangan Uli yang mulai menggosip.


"... Mukanya Adam itu mau marah, tapi karena lagi banyak tamu. Terpaksa ditahannya." Uli tak peduli. Ia kembali melanjutkan bercerita.


"Terus dia itu pakai gaun ala princes-princes gitu. Make upnya juga menor lagi. Aku saja bingung, tah siapa yang ulang tahun..."


Arka tersenyum menggeleng mendengar istrinya Dika yang begitu semangat. Ia sudah wajar dengan istri temannya itu.

__ADS_1


"Oh ya ka... kapan kita ngumpul bareng? Aku ingin mengobrol dengan Nara. Dia itu sangat baik dan nyambung juga kalau diajak ngobrol." Uli ingin bertemu dengan Nara lagi.


"Iya, nantilah..."


"Nantinya itu kapan Arka? Yang pasti besok, besok, atau besoknya lagi?" Uli memaksa.


"Nantilah, Li."


"Besok deal."


"Astaga!!! Dika istrimu ini tukang paksa."


"Kau wajar sajalah sama dia."


"Bila mana? oom tampan datang nih." Arka bangkit dan mencari anak itu.


Arka masuk ke kamar dan melihat bocah kecil itu sudah terlelap.


"Sudah tidur." Arka kecewa.


"Ini sudah malam. Anakku nggak boleh begadang." Dika menyeret Arka keluar dari kamar sang putri. Anaknya sudah tidur dan tak mau Arka mengganggunya.


Mereka kembali ke ruang tamu.


"Oh iya, Ka. Kau tahu kekurangan Nara-"


"Aku tahu." Arka menyela ucapan Uli. "Aku dan Nara sepakat. Kami akan mengadopsi anak."


Uli tersenyum melihat Arka. "Adopsi anak cowok yang dua tahun di atas Bila." Saran Uli.


"Kenapa begitu?" Tanya Arka menaikkan alisnya.


"Ya... aku mau punya menantu kaya raya. 7 turunan 7 tanjakan berliku-liku hartanya tak habis-habis. Hidup Bila kan, pasti terjamin." Uli tertawa senang.


Dika menepuk jidatnya, mendengar ucapan istrinya.


"Aku nggak mau berbesanan denganmu."


"Aku mertua baik loh, Arka..."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2