
"Apa kau kecewa, ternyata aku masih selamat?!" Adam memiringkan kepalanya. Kedatangan Arka pasti untuk memastikan kecelakaan itu.
Adam sudah berpikir jika Arka akan bersorak gembira. Mendengar kecelakaannya.
"Adam Adam..." Arka menggeleng sejenak. Adam salah mengartikan kedatangannya.
"Walaupun hubungan kita sekarang tidak seperti dulu. Setidaknya aku tidak boleh menyumpahi teman, bukan?"
Adam hanya diam dan masih tak mau melihat Arka.
Sementara di luar kamar pasien, Nara duduk menunggu suaminya. Ia tidak mau masuk bertemu Adam.
"Nara..."
Wanita hamil itu kaget saat pundaknya ada yang menepuk. Ia pun segera menoleh.
"Ma... Ma-ma..."
Tak lama, Nara berada di taman rumah sakit. Ia tersenyum haru melihat wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.
"Ma- Mama sehat kan?" Tanya Nara pada ibu kandung Adam.
Mama mengangguk dan kembali memeluk Nara. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Nara. Dan Nara masih memanggilnya Mama.
"Mama sehat, Nak. Kamu sehat kan? Bayi-bayi kamu juga sehat kan?"
Nara mengangguk setelah pelukannya terlepas. "Mereka sehat, Ma."
Mama senang melihat Nara. Tak lama bertemu, kini mereka bertemu lagi dengan kondisi Nara sudah berbadan dua.
Kehamilan adalah hal yang selalu diharapkan menantunya kala itu. Bahkan Nara sering menangis setiap membahas perihal dirinya yang tak kunjung hamil.
Dan sekarang... harapan Nara telah terwujud. Nara telah hamil, walaupun bukan dengan putranya.
"Ma, maafin Nara ya. Wa-waktu pernikahan... Nara tidak mengundang Mama." Ada rasa tidak enak hati Nara pada Mama.
Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Nara. Ia sangat mengerti untuk hal itu.
__ADS_1
"Nara... Mama sangat senang bertemu kamu lagi. Kamu harus selalu bahagia, Nak. Mama minta maaf atas sikap Adam selama ini sama kamu..." Mama merasakan, kesalahan Adam seperti tembok pembatas antara dirinya dan Nara. Masih ada rasa canggung di antara mereka, tidak seperti saat itu. Saat di mana Nara masih menjadi menantunya.
"Mama... Nara sudah ikhlas dengan semuanya."
Mama malah menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maafkan Mama, Nak..." Wanita paruh baya itu sangat menyesal. Ia tidak bisa mendidik putranya. Hingga menyakiti wanita yang hatinya sangat baik.
"Mama... Jangan begini. Kita lupakan saja semua." Ucap Nara memeluk Mama.
"Terima kasih karena saat Nara masih bersama Adam, Mama sangat baik dan bisa menerima Nara. Mama juga menganggap Nara seperti putri Mama sendiri. Menganggap Nara bagian dari keluarga Mama..." Nara mengatakannya sambil berlinang air mata.
Mama jadi ikut berlinang air mata. Jika boleh memilih, rasanya Mama ingin Nara saja yang menjadi anak kandungnya dan bukanlah Adam.
Tak jauh mereka, Arka melihat interaksi Nara dengan Mamanya Adam. Keduanya terlihat saling menyayangi.
Arka yakin, pasti saat Nara masih bersama Adam. Hubungan Nara dan Mamanya Adam pasti sangat baik.
Nara itu anaknya sangat penurut dan pandai membawa diri. Mommynya saja saat pertama kali bertemu Nara, langsung dekat.
"Mas Arka..."
"Ma, ini Mas Arka. Suaminya Nara." Nara memperkenalkan Arka pada mantan mertuanya itu.
Mama tersenyum saat Arka menyalami dirinya. Ia jadi ingat, saat Adam sering membawa Arka ke rumah saat zaman mereka berkuliah. Dari dulu Arka itu anaknya memang sangat sopan.
Tak lama setelah mengobrol kembali sebentar dengan Mamanya Adam. Nara mengajak Arka pulang. Ia mulai letih.
"Ma, kami mau pulang."
"Iya. Mama juga mau lihat Adam lagi."
"Mama, jaga kesehatan ya." Nara menyalami dan kembali memeluk Mama.
"Iya, Nak. Kamu sehat-sehat. Nanti kalau sudah lahiran kabari Mama. Mama bolehkan lihat cucu-cucu Mama?"
Nara dengan cepat mengangguk. Meski hubungannya dengan Adam telah berakhir, tapi tidak dengan Mama. Ia masih menganggap wanita paruh baya itu seperti Mamanya sendiri.
__ADS_1
"Iya, Ma. Nanti Nara kabari. Oh iya, Ma... kirim salam sama yang lainnya."
Mama mengangguk paham.
"Tante kami permisi pulang. Jaga kesehatan selalu ya." Arka pamit sambil menyalami.
"Sayangi putri Tante dan anak-anaknya." Pesan Mama.
"Pasti, Tante." Arka berucap yakin.
'Nara sangat bahagia. Putriku harus selalu bahagia.' Mama masih menatap kepergian Nara. Ia tersenyum melihat Arka yang begitu perhatian. Tetap sabar menuntun Nara.
"Mas, tadi gimana keadaan Adam?" Tanya Nara setelah mereka berada di dalam mobil.
"Dia baik." Jawab Arka.
"Oh syukurlah." Nara bernafas lega.
kruk...
"Mas, anak kita lapar!" Nara mengelus perut buncitnya.
"Anak kita, apa kamu yang lapar?" Ledek Arka.
"Dua-duanya, Mas." Ucap Nara sambil tertawa.
"Kamu mau makan apa?" Arka memasangkan sabuk pengaman dengan hati-hati.
"Aku mau makan bubur." Ucap Nara bahagia.
"Bubur?"
Nara mengangguk. "Bubur dengan suiran ayam yang banyak. Sepertinya sangat lezat."
"Baiklah... Mari kita meluncur!!!"
.
__ADS_1
.
.