
"Arka!" Panggil seseorang sambil mengangkat tangan.
Arka yang baru masuk ke sebuah kafe menoleh ke arah suara. Ia pun berjalan menuju meja di sudut kafe.
"Orang sibuk nih... Nggak pernah bisa diajak ngumpul." Ledek Dika saat Arka sudah bergabung bersama mereka. Arka selalu saja beralasan, jika di ajak kumpul.
Arka hanya tersenyum. Selama ini, dia tidak bisa bergabung saat Dika mengajak berkumpul. Maklumlah, Arka sedang sibuk-sibuknya dengan kisah cintanya. Mengejar cinta sang janda menggemaskan.
"Masih pakaian kantor kau, Ka? Ngeri pengumpul dolar ini. lembur terus!!!" Adam menggeleng melihat Arka masih memakai pakaian kantor. Walaupun tanpa memakai jas.
"Maklumlah, namanya juga lagi ngumpuli modal buat nikah." Tawa Arka memberi alasan. Ia mengiyakan saja, jika Adam dan Dika menganggapnya lembur bekerja. Padahal ia lemburnya bersama sang pujaan hati.
Dika yang sedang minum hampir tersedak mendengar ucapan Arka. Adam juga menatap dengan tatapan bertanya.
"Mau nikah??? Kau lagi dekat dengan wanita, Ka?" Tanya Dika memastikan. Semenjak mendadak jadi duda. Arka selalu mengatakan tidak akan menikah lagi dan akan menduda selama-lamanya. Seumur hidupnya.
Arka juga mengatakan tidak akan mau menjalin hubungan dengan yang namanya wanita lagi.
Ternyata Arka sudah sembuh dari traumanya. Dika sebagai teman yang baik jadi bernafas lega.
Arka mengangguk sambil membayangkan wajah cantik Nara, yang sudah mencuri hatinya.
"Hohoho." Dika dan Adam mulai heboh dan penasaran.
"Gadis apa janda, Ka?" Adam menaik turunkan alisnya.
Arka melihat Adam dan Dika bergantian. Kedua temannya itu tampak sangat penasaran sekali.
"Dia... Janda." Jawab Arka singkat.
Adam dan Dika mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Jadi kapan kalian akan menikah? Jangan lama-lama, Ka. Sat set sat set Sah." Ucap Dika kemudian.
"Kenapa kau yang nggak sabaran, Dika?!" Arka mendengus kesal.
"Dari kita bertiga. Cuma kau lho Arka yang tidak punya pasangan. Cepat kau nikahi wanita itu, biar tidur ada yang nemanimu." Ledek Dika sambil terkekeh-kekeh.
Arka berdecak kesal. Ia ingin saja segera menikah dengan wanitanya. Karena Arka sudah sangat yakin dengan hati dan pikirannya. Tapi, Nara sepertinya belum bersedia melangkah ke jenjang pernikahan. Nara masih butuh waktu untuk percaya padanya.
"Ka, kenalilah wanitamu pada kami." Saran Dika.
"Benar, Ka. Hari minggu ini Mario akan berulang tahun. Kau bawa dia ke acara ulang tahun anakku ya." Undang Adam. Mario anaknya beberapa hari lagi akan genap berusia satu tahun. Adam akan mengadakan acara kecil-kecilan, untuk merayakan ulang tahun pertama sang putra tersayangnya itu.
"Iya, Ka. Kau ajak dia. Biar jumpa kita di sana. Nanti ku ajak Uli juga, jadi ada temannya wanitamu itu di sana." Dika juga ikut menimpali.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti aku ajak dia." Ucap Arka sambil tersenyum.
Mereka pun kembali mengobrol sambil menikmati kopi plus cemilan.
Sambil mengobrol, Adam meraih ponsel dan membuka sosial media. Ia terlihat membuka profil Nara. Tak ada postingan terbaru, terakhir hanya postingan ikat rambut itu saja.
Akhir-akhir ini, Adam sering menstalking sosial media Nara. Hampir setiap hari ia melihatnya. Karena Adam sangat penasaran dengan seseorang yang sedang dekat dengan mantan istrinya itu.
Postingan ikat rambut Nara juga hanya ada satu like. Dan itu like dari adiknya sendiri, Rindu. Tak ada komentar juga di sana.
Sama dengan Adam, Arka juga memegang ponsel dan mengetik sesuatu di ponselnya. Senyum tak bisa lepas dari wajahnya.
Adam menyenggol lengan Dika. Mengisyaratkan melihat Arka yang sibuk dengan ponselnya.
"Yang lagi kasmaran." Ledek Dika akan merampas ponsel Arka. Dengan cepat Arka menahannya dan segera menyimpan dalam saku.
"Aku cuma kirim pesan doang." Sanggah Arka cepat.
"Jangan lupa sarapan ya, sayang. Eh... Salah, makan malam rupanya.."
"Lagi apa dek? Lagi mikirin abang ya?"
"Bobok yang nyenyak ya. Mimpikan aku dalam tidurmu.."
Adam Dan Dika bergantian meledek Arka yang sedang di mabuk cinta.
Adam kembali meraih ponselnya. Ia kembali iseng membuka profil Nara. Wajah yang tadi tersenyum mendadak jadi serius.
Pria itu melihat postingan terbaru dari Nara. Nara memposting sebuah foto dengan tangan saling bergenggaman erat. Dengan keterangan with you pada postingan tersebut.
Adam menzoom foto itu, untuk memastikan. Apa foto tersebut diambil dari gugel, lalu Nara posting di sosial medianya.
Mata Adam fokus menatap foto tersebut. Salah satu tangan di foto itu adalah benar tangan Nara. Ia masih ingat dengan jelas tangan mungil wanita itu. Tapi tangan besar yang bergenggaman itu tangan siapa?
Perasaan Adam bercampur aduk. Hatinya sedikit kesal melihat foto tersebut. Nara bergenggaman tangan dengan seorang pria misterius.
Adam kembali melihat pertemanan Nara. Tapi tak ada satu pun nama yang mencurigakan.
Adam mulai berasumsi sendiri. Untuk apa Nara memposting foto tersebut, jika pria misterius itu tidak ada di daftar pertemanannya?
Apa Nara sengaja melakukan itu untuk memprovokasi dirinya?
"Kenapa, Dam?" Tanya Arka yang bingung melihat Adam yang terlalu serius pada ponselnya.
Dika juga melihat Adam dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Nggak... Nggak ada." Adam menggeleng. Ia dengan cepat menyimpan kembali ponselnya. Menghempas pikirannya tentang Nara. Nanti saja, di rumah akan dia cari tahu kembali.
"Apa istrimu menyuruhmu pulang?" Tanya Dika.
"Tidak." Sanggah Adam segera.
Tak lama di parkiran kafe.
"Jangan lupa kalian dua datang ke ulang tahun anakku." Adam mengingatkan kembali.
"Jam berapa?" Tanya Arka.
"Jam-jam 3-an gitu kalian datangnya. Soalnya jam segitu masih ada badutnya." Ledek Adam.
"Si-alan kau, Dam." Arka menggeleng sambil tersenyum.
"Aku cabut." Pamit Dika masih tertawa.
"Aku juga." Arka juga mengikuti.
"Hati-hati." Adam mengangguk melihat mobil Arka dan Dika yang perlahan menjauh pergi.
Adam masuk ke dalam mobilnya. Ia diam menatap depan. Pikirannya kembali mengingat postingan Nara.
Tangan Adam merogoh ponsel yang berada di kantong celananya. Adam kembali membuka sosial medianya.
Kembali menstalking Nara. Akan melihat kembali foto bergandengan tangan, tapi... postingan tersebut sudah dihapus.
Tak ada lagi postingan genggaman tangan tersebut. Nara sudah menghapusnya. Tapi kenapa dihapus?
Adam bergelut dengan pikirannya sendiri. Apa maksud Nara memposting foto tersebut kemudian menghapusnya?
Mungkin Nara sedang memberitahukan padanya, bahwa dia sudah menemukan pengganti dirinya.
Adam makin penasaran dengan pria misterius itu. Pria seperti apa yang mau menerima Nara dengan kondisi seperti itu?
Adam menzoom foto profil Nara. Ia tersenyum tipis melihat foto mantan istrinya.
Kembali mengingat saat pertama melihat senyuman manis Nara kala itu.
Adam ingin menyapa Nara. Sudah cukup lama mereka tidak pernah bertemu.
'Apa aku kirim pesan saja padanya?!'
.
__ADS_1
.
.