KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 79 - Pesan Adam


__ADS_3

"Gio... Kamu hari ini langsung ke kantornya Mas Arka, kan?" Tanya Nara saat adiknya sedang sarapan.


Gio mengangguk sambil melahap sarapan yang tersaji.


"Titip ini ya, buat mas Arka." Nara meletakkan kotak makan di atas meja.


Gio melihat kotak makan itu, lalu melihat Nara. Kakaknya itu senyum-senyum tak jelas padanya.


"Nggak mau." Tolak Gio cepat.


"Gio!!!" Nara menggoyang-goyang lengan adiknya.


"Iya-iya." Gio jadi menurut.


"Tolong ya, adikku tersayang." Bujuk Nara lembut.


"Dasar bucin!" Ledek Gio.


Setelah sarapan, Gio pun pamit. Ia memutar malas bola matanya, Nara dari tadi terus mewanti-wantinya agar tidak lupa memberikan titipannya pada Arka.


Tak lama, Gio sampai di kantor Arka. Saat memasuki loby, ia melihat Arka sudah berdiri menunggunya.


'Aku disambut abang ipar!' Gio tersenyum senang dan berjalan menghampiri.


"Mana?" Arka pun menangih.


"Mana apa?" Tanya Gio bingung.


"Titipan kakakmu." Jelas Arka kembali.


"I-ini." Gio memberikan pada Arka.


"Terima kasih." Arka penuh senyum melihat titipan Nara. Calon istrinya repot-repot membuatkan sarapan.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Sam menghampiri mereka.


"Pagi, Sam. Oh iya Sam. Ini Gio yang akan menggantikan Nara. Tolong kamu urus." Pinta Arka yang diangguki Sam.


"Gio, kamu bisa bertanya pada Sam apa pekerjaanmu. Saya naik duluan. Saya mau menghabiskan sarapan spesial ini." Arka menunjukkan titipan Nara. Lalu ia pergi dengan senyum yang terus melebar.


'Dia di sini bukan untuk menyambutku, tapi untuk mengambil titipan kak Nara! dasar bucin!' Gio mendumel dalam hati. Nggak Nara, nggak Arka mereka berdua sama saja.


Arka telah sampai di ruangannya, ia duduk di sofa sambil bervideo call.


"Sayang, kamu bawai sarapan apa ini?" Tanya Arka sambil membuka kotak makanan dari Nara.


"Buka saja, Mas. Aku harap Mas Arka suka."


"Pasti. Apapun yang kamu buat, aku pasti suka." Jawab Arka cepat. "Aku makan ya?"


Nara mengangguk. Arka pun melahap nasi goreng buatan Nara.


"Sayang, ini enak sekali." Puji Arka.


"Benarkah?"


"Iya, enak sekali. Kamu sudah makan?" Tanya Arka kembali.


"Iya... sudah makan aku, Mas."


"Sayang, aku-"


"Mas, habiskan dulu makannya. Baru lanjut bicara." Nara mengingatkan. Bicara sambil makan tak jelas apa yang dibicarakan nantinya.

__ADS_1


Arka mengangguk dan melahap cepat. Nara pun senyum melihat Arka.


'Apa aku katakan kalau semalam bertemu dengan Adam?' Arka bingung mau cerita atau tidak pada Nara.


"Sayang... Aku merindukanmu." Ucap Arka setelah menyelesaikan sarapan keduanya di pagi itu.


"Mas Arka lebay... baru juga sehari. Sudah rindu saja." Ledek Nara sambil mencemberutkan bibirnya.


"Apa kamu tidak merindukanku, sayang?" Tanya Arka serius. Ia merasakan kerinduan yang mendalam, tapi calon istrinya malah tidak.


"Kasih tahu nggak ya?!" Nara makin meledek Arka.


"Nara!" Arka gemas, ia ingin sekali menarik hidung wanita itu. Tapi, salahnya saat ini ia tidak bisa menyentuhnya.


"Mas, aku tutup ya. Mas Arka kan mau lanjut kerja." Nara merasa sudah cukup mereka melepas rindu. Arka harus kembali dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Arka dengan wajah murung. Rasanya tidak ingin mengakhiri panggilan mereka. Rasa rindunya masih terasa.


"Aku mau mandi, Mas." Ucap Nara.


"Aku ikut." Ucap Arka sambil tertawa pelan. Ia akan menggoda calon istrinya itu.


"Kemarilah, Mas!" Tantang Nara.


"Serius? biar aku meluncur sekarang!" Arka tampak bersemangat.


"Kalau Mas Arka nggak segan sama Ayah." Nara mengulum senyum mengingatkan Arka.


Wajah Arka yang begitu semangat, mendadak pucat. Jika ia ke sana penilaian Ayahnya Nara pada dirinya akan berkurang.


"Awas kamu ya, sayang. Setelah kita menikah-"


Tok


Tok


Tok


"Selamat bekerja ya Mas Arka. Semangat sayang..." Nara pun mengakhiri panggilan tersebut.


Arka sempat tersenyum, meski Nara sudah memutuskan panggilan mereka.


"Masuk."


\=\=\=\=\=\=


"Mario sudah makan, Nak?" Tanya Adam yang saat sedang bervideo call dengan sang putra.


"Pa-pa." Ucap bocah cilik itu.


Adam tersenyum. Putranya hanya masih bisa mengatakan itu.


"Kapan pulang, Bang?" Tanya Rindu kemudian.


"Sekitar dua minggu lagi." Adam pun memberitahu.


"Kok lama? Katanya tiga hari?"


"Iya, ada yang harus Abang selesaikan di sini. Abang titip Mario ya." Adam ingin menolak. Tapi, ia jika menolak. Kinerjanya akan dipertanyakan. Ia harus menuruti atasannya demi merawat Mario. Jika ia dipecat, Yola bisa mengambil hak asuh Mario dengan mudah. Itu tidak boleh terjadi.


"Hmm... Nanti pulang bawa banyak oleh-oleh!"


"Iya. Nanti Abang tambahi juga uang saku kamu."

__ADS_1


"Ok deal." Rindu tersenyum senang.


"Mario sudah ngantuk itu. Bawa dia tidur sana."


"Ya sudah, jangan lupa janjinya." Rindu mengingatkan.


Adam mengangguk dan tak lama panggilan berakhir.


Adam memijat pelipisnya. Ia ditugaskan sampai 2 minggu dinas luar kota. Ia ingat Nara minggu ini akan menikah dengan Arka.


Arka menekan-nekan ponselnya. Mengirim pesan pada Nara.


Di kamar Nara, terlihat wanita itu berbaring dengan masker menempel di wajahnya.


Nara meraih ponsel dan membuka sosial medianya. Ia ingin memposting sesuatu.


"Apa ini?" Tanya Nara bingung.


Adam: Kamu akan menikah dengan Arka?


Adam: kenapa tidak mengundangku?


'Apa dia sudah tahu?'


Nara bingung untuk membalas pesan atau tidak. Apa mau memberitahu Arka atau tidak, jika Adam mengiriminya pesan.


Adam: kamu tidak mau kembali padaku dan lebih memilih dia?


Adam: Apa karena Arka lebih kaya dariku?


Adam: Kenapa kamu jadi matre sekarang?


Nafas Nara bergemuruh, membaca satu persatu pesan yang masuk. Ia tidak suka dengan tanggapan adam tentang dirinya.


Adam berucap asal tentang dirinya. Pria itu terlalu kekanak-kanakan. Apa pedulinya Nara mau menikah dengan siapapun? Toh, mereka juga sudah bercerai.


Nara pun membalas pesan dari Adam dengan wajah menahan emosi.


Sementara Adam, menghembuskan nafas berkali-kali. Ia sudah mengirimkan pesan pada wanita yang dianggapnya matre tersebut.


'Dibalas!' Adam menekan ponselnya.


Nara: Anda siapa?


Adam mendengus kesal. Dari banyaknya pesan yang dikirim. Nara hanya membalas itu. Wanita itu seolah tidak pernah mengenalnya lagi.


Adam kembali membalas pesan pada Nara.


'Ngapain sih dia balas lagi?!' Nara mendumel, Adam membalas pesannya.


Adam: Kamu akan menyesal menikah dengan Arka. Ingatlah Nara, semua pria menginginkan adanya keturunan. Kamu seharusnya sadar dengan kekuranganmu itu.


Air mata Nara pun berjatuhan membaca pesan yang begitu menyakiti hatinya.


'Adam sia-lan!!!' Maki Nara dalam hati. Arka saja tidak masalah dengan kekurangannya. Kenapa Adam malah menyama ratakan semua pria seperti dirinya?


Nara pun menekan ponselnya kembali. Ia akan memblokir Adam saja. Agar pria itu tidak bisa mengatakan hal buruk tentangnya lagi.


'Mereka berbeda, mereka berbeda, mereka berbeda.' Nara pun meyakinkan hatinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2