
"Bunda..." Teriak Nara keluar dari kamarnya. Ia menghampiri Bunda yang berada di ruang tamu.
"Kenapa, Nak?" Tanya Bunda dengan wajah bingung.
"Bunda... Rambut Nara." Nara menunjukkan rambut yang baru dipotongnya. Panjang pendek, sangat tidak rapi dan tidak beraturan.
"Tadi Nara potong rambut sendiri, terus jadi begini..."
"Besok kamu ke salon saja. Minta dirapikan." Bunda bernafas lega. Ternyata hanya masalah rambut. Tadinya sempat mengira, Nara kenapa-napa.
Nara diam melihat rambutnya. Mau ke salon uang saja ia tidak punya. Selama ini ia menumpang hidup bersama keluarganya. Mana mungkin meminta uang untuk ke salon.
"Ini kak." Gio yang mengerti melihat ekspresi kakaknya, menyerahkan beberapa lembar uang merah.
"Nggak usah, Yo. Nanti pelan-pelan aku rapikan sendiri." Nara menolak, ia tak enak hati.
"Sudah, besok kak Nara pergi ke salon. Sekalian beli kebutuhan kakak juga."
"Ta-tapi..."
"Ini juga untuk tambahan. Kamu bisa beli pakaian atau apa yang kamu mau." Ayah juga memberikan beberapa lembar uang pada Nara.
"Nggak usah-"
"Sudah, besok kakak pergi ke salon. Terus shoping. Kak Nara harus bahagia, biar Ayah dan Bunda senang." Bujuk Gio.
Nara memegang uang pemberian mereka.
"Te-terima kasih Ayah, Bunda dan Gio juga." Nara memeluk mereka bergantian.
\=\=\=\=\=\=
"Li,Uli... Matamu itu." Bisik Dika pada istrinya yang berada di sampingnya.
Dika menyadarkan tatapan mata tajam Uli yang begitu tidak senang melihat istri baru Adam.
Entahlah, sebagai wanita Uli tak terima perlakuan yang Adam lakukan. Pria yang tidak bisa menerima kekurangan istrinya.
"Jadi gimana kabar mantan istrimu, Dam?" Tanya Uli dengan nada kesal.
Dika menyikut lengan sang istri. Sementara Arka diam menjadi penonton.
"Kak Nara pasti baik-"
"Apa namamu Adam?" Sela Uli membuat Yola tak melanjutkan ucapannya.
Yola meremas tangannya geram.
Adam terdiam. Waktu sudah lama berlalu. Selama ini ia sibuk dengan keluarga barunya. Dan tak pernah tahu lagi kabar tentang Nara. Ia sudah lupa dengan Nara.
"Kabarnya pasti baik. Dia itu sangat cantik. Pasti banyak pria yang mengejarnya. Atau jangan-jangan dia sudah menikah?!" Uli menutup mulutnya seakan kaget dengan apa yang dipikirkannya.
Uli sangat berharap Nara sudah menikah dan menikah dengan pria baik.
__ADS_1
Deg
Hati Adam mulai tak enak mendengar kata Nikah. Apa Nara sudah menikah?
"Aku mau ke toilet." Adam bergegas berdiri dan pergi.
"Dari yang aku lihat, sepertinya Adam tidak bahagia bersamamu." Uli menatap tajam Yola.
"Jangan asal menyimpulkan, Kak. Adam sangat bahagia bersama kami. Ia mencintaiku dan anakku." Jelas Yola membalas ucapan Uli.
"Adam menikah denganmu hanya karena anak. Berbeda saat menikah dengan Nara, karena cinta-"
"Uli... Ayo makan." Dika menyuapi istrinya. Yang dari tadi mau mengajak Yola bergelut saja.
"Aku permisi ke toilet." Yola pun segera pergi meninggalkan mereka.
"Uli... Biarkan saja mereka. Itu urusan rumah tangga mereka." Dika mengingatkan istrinya.
"Aku sedih melihat Nara. Kalau kamu tahu, sakit lho berada di posisi dia. Bayangkan, suaminya diam-diam menikahi wanita lain hanya karena Nara tak bisa mengandung. Lalu dengan teganya menyuruh Nara merawat anak hasil perselingkuhan itu bersama-sama si pirang." Uli menuangkan kekesalannya. Ia sampai mengusap air mata yang jatuh begitu saja.
Uli bisa merasakan sakitnya perasaan Nara saat itu.
"Tapi, Li...-"
"Semua wanita menginginkan menjadi seorang ibu. Mengandung, melahirkan dan merawat anak-anaknyanya. Tapi, jika itu kekurangannya, apa harus begitu yang dilakukan suaminya?"
Arka dan Dika terdiam. Adam sangat tega dan kelewatan pada mantan istrinya.
"Benar-" Uli menghentikan ucapannya melihat Adam dan Yola kembali ke meja makan.
Sejenak hening, tak ada lagi percakapan. Mereka menikmati hidangan yang disajikan.
\=\=\=\=\=\=
"Bunda, Nara pergi sebentar." Nara pamit pada Bundanya.
Siang ini, Nara akan pergi ke salon untuk merapikan rambutnya.
"Iya, hati-hati." Wanita paruh baya itu mengelus kepala Nara. Ia senang melihat Nara yang mau keluar rumah. Setelah beberapa bulan ini mengurung diri.
Nara tersenyum lalu bergegas keluar. Abang ojek sudah menunggu di depan rumah.
Selama perjalanan, Nara menghirup udara luar. Selama ini ia mengurung diri di rumah, seperti seorang tahanan.
'Setelah potong rambut, aku singgah ke Mall. Beli kosmetik.'
Uang yang diberikan Ayah dan Gio lumayan banyak. Ia akan memanjakan diri dengan uang itu.
Sampai salon, karyawan salon kaget melihat potongan rambut Nara yang panjang pendek.
"Kakak, potong sendiri?" Tanyanya.
"Iya. Guntingnya tak tajam." Jawab Nara sambil tertawa. "Tolong potong sampai bahu, poninya segini saja." Nara memberitahukan potongan rambut yang diinginkannya.
__ADS_1
Nara bukan hanya memotong rambut, ia juga melakukan serangkai perawatan wajah.
Setelah beberapa jam, Nara senang melihat dirinya dalam pantulan cermin.
Rambutnya lurus sebahu dengan poni selamat datang. Wajahnya pun tampak bersih dan fresh.
Setelah dari salon, Nara kembali memesan ojek dan meluncur ke Mall. Ia ingin membeli skincare wajah. Selama ini ia tidak pernah memakai itu lagi. Tahunya hanya menangis setiap malam.
Nara keluar dari toko kosmetik membawa bungkusan. Isinya semua perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ma-maaf. Permisi." Ucap seorang pria menghampiri Nara.
"I-iya?" Tanya Nara dengan wajah takut.
"Boleh minta nomor kamu?! Aku tertarik denganmu." Pria itu menyodorkan ponselnya.
"Maaf." Nara meminta maaf dan berlalu pergi. Ia tak mau menjalin hubungan dengan pria lagi.
Nara menyadari kondisinya. Mana ada pria yang mau dengan wanita mandul seperti dia. Jika pun ada, pasti cuma ucapan saja. Ucapan semanis madu. Yang tidak sesuai dengan realitanya.
Nara akan kembali menata hidupnya. Ia tak mau membuat keluarganya sedih lagi. Jadi ia harus bahagia dengan mereka.
Nara juga bertekad, tak akan mau menikah lagi. Ia tak mau sakit hati dengan kesalahan yang sama, untuk kedua kalinya.
Biar saja selamanya ia tinggal dengan kedua orang tuanya. Hanya mereka yang bisa menerima dirinya apa adanya.
Nara membenarkan rambutnya di depan sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan. Merapikan poni-poni barunya.
Hatchi
Nara bersin dan mengeluarkan hujan lokal yang mengenai kaca mobil.
'Astaga!!!' Pekik Nara dalam hati. Ia sudah mengotori kaca mobil orang lain.
Dengan ujung kaos lengannya, Nara mengelap kaca itu dengan cepat. Sebelum yang punya mobil datang dan melihatnya.
Nara benar-benar tidak sengaja.
Saat Nara sedang membersihkannya, tiba-tiba kaca mobil itu turun.
Karena kaget kaca yang tiba-tiba terbuka, tangan Nara pun repleks memukul wajah orang yang berada di dalam mobil.
"Ma-maaf." Nara sadar akan perbuatannya. Ia menundukkan kepala sejenak sebagai tanda permintaan maaf.
Nara pun bergegas pergi, ia takut pemilik mobil turun dan memarahinya.
"Hei... Kamu berhenti!!!"
.
.
.
__ADS_1