
Arka membawa Nara ke sebuah kafe yang masih berada di dalam kawasan Mall tersebut.
"Aku hanya becanda lho, sayang." Arka mengelus kepala Nara dengan sayang. Ia geli melihat wajah Nara yang masih mengkerucut itu.
Nara masih ngambek karena perkataan absurdnya beberapa saat yang lalu. Arka hanya becanda saja, tapi Nara malah mendiaminya.
"Nara, mau naik gaji?" Pancing Arka kemudian.
"Mau, Pak." Jawab Nara cepat. Ia segera menutup mulutnya. Lagi-lagi ia repleks menjawab.
Arka jadi terkekeh. Memang tak ada yang bisa mengacuhkan perihal kenaikan gaji.
Nara membuang pandangan wajahnya. Lagi-lagi pria itu mengerjai dirinya.
Arka mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan menyodorkannya pada Nara.
"Apa ini?" Tanya Nara bingung. Arka memberikannya sebuah kartu ATM
"Untuk kamu." Jawab Arka santai.
"Maaf, Pak." Nara menyodorkan kembali kartu ATM ke arah Arka.
"Kamu pegang saja. Ini untuk kamu. Anggap saja jatah bulanan."
Nara mengerutkan alisnya. Jatah bulanan?
"Tidak usah, Pak. Saya ada gaji bulanan." Tolak Nara. Kenapa Arka memberikannya jatah bulanan? Status mereka saja masih menjalin kasih, bukan pasangan suami istri.
"Gaji bulanan bisa kamu simpan. Pakai ini saja untuk kebutuhan kamu!" Arka kembali menyodorkan kartu ATM itu.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerimanya. Tolong jangan buat saya merasa tidak nyaman." Nara menatap Arka dengan tatapan menusuk.
"Kamu-"
"Kita akhiri saja."
"Apa?" Arka kaget mendengarnya. "Baiklah baiklah." Ia pun memasukkan kembali ke dompetnya.
Arka kekeh melihat Nara, wanita itu menolak diberi kartu ATM. Padahal bagi Arka itu adalah hal wajar. Para mantannya selalu dimanjakannya dengan memberi kartu ATM tersebut.
Tapi ternyata Nara memang berbeda. Membuat Arka makin yakin, Nara tidak melihatnya dari apa yang dia miliki saat ini.
Makanan pesanan mereka pun tiba. Wajah Nara berubah bahagia melihat makanan yang terhidang. Aromanya sangat menggiurkan.
"Ayo, dimakan." Arka mempersilahkan. Ekspresi Nara begitu ingin segera menikmatinya.
Nara mengangguk pelan. Ia pun segera melahap makanan yang menggugah selera.
Di tengah makannya, pandangan Nara melihat seorang wanita yang juga berada di tempat tersebut dengan suami dan anaknya yang masih balita.
__ADS_1
Wanita itu menyuapi sang anak dan suaminya membantu membersihkan mulut bocah tersebut yang makan berselemak. Senyum dan tawa terpancar dari keluarga kecil tersebut.
Nara terpaku sesaat, membayangkan jika saja ia dapat mengandung. Mungkin ia sudah memiliki 2 atau 3 orang anak saat ini.
Ia juga tidak harus merasakan sakit hati karena pengkhiatan dan perceraian.
"Nara..." Panggil Arka pelan melihat Nara yang diam melamun.
Pria itu mengalihkan pandangan ke arah sorot mata Nara. Ternyata wanita itu memperhatikan keluarga kecil di sekitar mereka.
Arka mengerti, sebagai wanita Nara pasti ingin merasakan mempunyai seorang anak. Anak yang berasal dari darah dagingnya. Anak yang selama 9 bulan di kandungan, lalu kemudian merasakan melahirkan dan membesarkan anak tersebut.
Tapi, jika Nara tidak seberuntung wanita-wanita lain. Apa meninggalkannya begitu saja adalah hal terbaik?
Arka meraih tangan Nara dan menggenggamnya erat. Genggaman tangan itu membuat Nara sadar dari lamunannya.
Nara melihat Arka yang tersenyum manis sambil mengangguk pelan. Tatapan mata Arka penuh makna, membuat mata Nara jadi berkaca-kaca.
"Makan yang banyak." Arka menyodorkan piring sajian pada Nara. Ia tak akan bertanya apa yang sedang Nara pikirkan. Karena itu akan kembali mengingatkan Nara akan kesedihannya.
Arka ingin Nara segera melupakan kesedihannya dan tersenyum bahagia saat bersama dirinya.
"Sayang, kamu ini makan kok belepotan begini." Arka menggeleng sambil mengelap mulut Nara yang menempel makanan.
"Ma-maaf, Pak." Nara meraih tissu dan membersihkan mulutnya sendiri.
"Ya." Jawab Nara melihat pria itu yang tampak sangat serius.
"Ayo... Kita menikah!"
\=\=\=\=\=\=
Arka menepikan mobilnya di tempat biasa. Nara masih menolak diantar sampai depan rumah. Dan Arka masih menuruti meskipun ia tidak mau seperti ini.
Hubungan mereka saat ini masih backstreet. Padahal Arka sudah tidak sabar memperkenalkan diri ke orang tua Nara. Bahwa dia bukan hanya atasan Nara, tapi pria yang sedang menjalin hubungan dengan anak mereka.
Setelah orang tua Nara tahu, ia juga akan meminta izin untuk menikahi Nara. Begitulah rencana yang sudah dipikirkan Arka.
"Sa-saya permisi dulu, Pak. Terima kasih." Ucap Nara sopan sambil melepas sabuk pengamannya.
"Kamu mau pergi begitu saja?" Tanya Arka serius. Wanita itu belum merespon perkataannya di kafe tadi perihal ajakannya untuk menikah. Selama di perjalanan mereka juga saling diam.
"Itu-" Nara mengurungkan niatnya yang akan membuka pintu. Ia melihat wajah Arka yang menunggu responnya.
"Itu apa?" Tanya Arka kembali.
"Itu... Sepertinya itu terlalu cepat untuk kita bicarakan. Dan juga anda seharusnya berpikiran matang sebelum mengatakan hal tersebut. Agar anda tidak merasa menyesal nantinya setelah memilih saya." Jelasnya. Nara tidak ingin karena perasaan sesaat Arka saat ini padanya, yang akan Arka sesali di kemudian hari.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, Nara. Aku sangat yakin menikah dan hidup bersama kamu selamanya. Kenapa harus ada penyesalan?" Arka melihat mata Nara yang mulai sendu menatapnya.
__ADS_1
"Anda sudah tahu kondisi saya sekarang. Lebih baik-"
"Aku bilang itu tidak masalah, Nara. Aku akan menerima apa adanya kamu." Sela Arka cepat melihat Nara yang mulai minder dan rendah diri.
"Sepertinya kamu yang harus berpikir matang-matang. Kamu yang belum yakin menerimaku!" Arka sudah sangat yakin pada perasaannya dan perkataan yang diucapkannya.
Dan Nara yang sepertinya masih trauma dalam bayang-bayang masa lalunya.
"Saya tidak mau diceraikan untuk kedua kalinya." Hati Nara bergemuruh merasakan sakit mengingat perceraiannya dengan sang mantan.
Arka menarik Nara ke dalam dekapannya. "Sayang, tolong jangan kamu sama ratakan semua pria. Aku dan mantan suami kamu berbeda."
Pria itu terenyuh mendengar suara isakan pelan dari depakannya. Ia mengeratkan pelukannya. "Nara... Maaf jika aku terlalu tergesa-gesa."
Arka jadi merasa bersalah. Nara masih butuh banyak waktu untuk penjajakan dan kembali percaya pada pria.
"Aku akan sabar menunggumu." Arka melepaskan dekapannya. Ia menatap lembut wajah sedih tersebut.
"Jangan sedih lagi. Aku nggak izinkan kamu berwajah seperti ini lagi." Arka mencubit gemas hidung Nara.
Perlakuan Arka membuat wanita berwajah sedih itu perlahan berubah menjadi senyum.
"Istirahatlah." Tangan Arka terulur mengusap mata Nara yang agak basah.
"Saya permisi, Pak." Nara menundukkan kepala sejenak. Lalu...
Cup
Arka terpaku sesaat. Satu kecupan mendarat di pipi kirinya.
Bugh
Pria itu tersadar dengan suara pintu mobil. Ia menggeleng melihat Nara yang sudah setengah berlari meninggalkannya.
'Imutnya!' Arka senyum-senyum menyentuh pipinya yang dikecup Nara.
Pria itu tersentak kaget mendengar suara deringan ponselnya.
"Halo..." Jawabnya segera.
...
"Ya, baiklah. Aku meluncur ke sana!"
.
.
.
__ADS_1