
"Apa? Kak Nara diterima jadi sekretaris?" Gio tak percaya mendengar cerita Nara. Kakaknya diterima bekerja sebagai sekretaris CEO.
Padahal yang Gio tahu semalam Nara hanya melamar menjadi staff. Lah kenapa malah bisa diterima menjadi sekretaris.
Kakaknya itu sama sekali tak mempunyai pengalaman untuk itu. Nara hanya seorang SPG. Sekretaris dan SPG itu pekerjaan yang sangat berbeda.
"Iya, dek. Gajinya besar. Terus tadi aku juga diberitahu apa-apa saja pekerjaannya. Karena belum pengalaman." Nara begitu senang menceritakan pada keluarganya.
"Apa kak Nara sekretarisnya pak Arka?" Gio memastikan kembali.
Nara mengangguk.
Gio bekerja di perusahaan cabang, selalu mendengar kabar tentang para sekretaris CEO yang berada di kantor pusat. Setiap minggu Arka itu selalu berganti sekretaris.
Menurut gosip yang beredar, mengapa tak ada sekretaris yang betah. Ya, karena Arka melakukan pelecehan kepada para sekretarisnya. Arka itu pria gatal dan genit pada wanita.
Gio meyakini gosip yang didengarnya tersebut. Karena sebelum menikah Arka memang terkenal sebagai playboy. Dan baru sebulan menikah, istrinya meminta cerai.
Pasti istrinya makan hati hidup dengan pria hidung belang seperti itu.
"Kakak nggak usah bekerja di sana!" Gio tak mau Nara mendapat pelecehan. Kakaknya baru saja bangkit dari keterpurukan pasca perceraian, masa harus ditambah dengan trauma pelecehan.
Kakaknya sangat cantik. Saat Gio menemani membeli pakaian saja. Banyak mata yang terang-terangan tertangkap Gio, menatap kagum kakaknya.
Pasti Pak Arka akan seperti itu juga pada kakaknya.
"Kenapa?" Nara bingung, adiknya malah melarang bekerja.
"Kakak tahu, sekretaris yang bekerja dengan pak Arka. Paling lama itu bekerja cuma seminggu." Gio memberitahu.
"Oh." Nara baru tahu. Ia tadi tak bertanya soal itu.
"Kakak tahu kenapa mereka tidak betah menjadi sekretaris dengan gaji besar itu?" Kembali Gio bertanya.
Nara menggeleng.
"Pak Arka itu playboy. Dia gatal dan sering melakukan pelecehan kepada para sekretarisnya. Aku nggak mau kakak dilecehkan dia." Tegas Gio dengan jelas menolak Nara bekerja di sana. Sangat membahayakan kakaknya berada di kandang buaya darat itu.
Ayah dan Bunda saling melirik. Mereka sebenarnya senang Nara bekerja. Tapi jika atasannya seperti yang dikatakan Gio, mending Nara di rumah saja atau mencari pekerjaan yang lain.
__ADS_1
"Pak Arka tidak seperti itu." Bela Nara. Sehari bekerja ia tak melihat sikap Arka seperti yang dikatakan Gio. Malah Arka mau marah saja saat melihat dirinya. Atasannya itu pria pemarah.
"Belum kak. 2-3 hari kerja baru kelihatan sikap aslinya. Dia itu pria gatal kak. Mau kak Nara di pegang-pegang sama dia?!"
Baik di perusahaan pusat atau cabang. Nama Arka sudah rusak imagenya di mata karyawan. Tapi karena apa yang dimiliki pria tampan itu, para wanita menutup telinga atas gosip tersebut.
"Gatal ya digaruk, dek." Jawab Nara santai. Adiknya itu ada-ada saja.
"Lagian untuk apa dia pegang-pegang aku." Nara menggeleng. Adiknya terlalu berpikir jauh.
Gio mendengus kesal. Nara malah tak mau mendengar omongannya.
"Nara, kamu tidak usaha bekerja di sana ya ,Nak. Atau cari kerja di tempat lain saja." Ayah jadi merasa khawatir dengan sang putri. Apalagi status Nara sekarang, sering banyak disalah artikan laki-laki.
"Benar, Nak. Kamu cari pekerjaan di tempat lain saja. Atau kamu di rumah saja." Bunda juga melarang Nara bekerja.
"Kalian tenang saja. Nara kan niatnya mau bekerja. Kalau atasan Nara seperti yang Gio bilang, Nara bisa segera berhenti. Nara bisa jaga diri." Jelas Nara, agar keluarganya tidak khawatir.
Mendengar penjelasan Nara, Ayah dan Bunda pun jadi mengizinkan ia tetap bekerja di sana. Tapi mereka tetap mewanti-wanti, agar Nara menjaga dirinya.
"Kalau pak Arka macam-macam sama kakak, bilang padaku." Gio tak peduli walau itu atasannya. Jika berani macam-macam dengan kakaknya, ia akan turun tangan langsung. Berantem pun jadi demi kakaknya.
\=\=\=\=\=
Arka turun dari mobil. Ia masuk ke dalam rumah dan langkahnya terhenti, saat melihat sang Mommy bersama dengan seorang wanita muda.
Itu pasti wanita yang akan Mommynya jodohkan dengan dirinya.
Mommy pasti memiliki banyak stok wanita. Selalu berganti-ganti yang dijodohkan dengannya.
"Anak Mommy sudah pulang. Arka itu pria pekerja keras, lho. Selain tampan dan keren pastinya." Ucap Mommy membanggakan sang putra.
Wanita yang berada di sebelah paruh baya itu tersenyum malu. Ternyata aslinya jauh lebih tampan dari di foto. Bikin hati berdebar-debar saja.
Pria yang akan dijodohkan dengannya sangat tampan dan gagah. Sungguh, pria idaman banyak wanita.
"Arka..." Panggil Mommy dengan nada lembut.
"Aku capek, Mom. Aku mau istirahat. Tolong jangan diganggu." Arka akan berjalan menuju kamarnya. Ia akan kabur lagi dari perjodohan itu.
__ADS_1
"Arka!!!" Mommy menaikkan nada bicaranya sedikit. "Arka!!! Kemari dulu!!!"
Terpaksalah pria itu berputar haluan. Dari pada mendengar suara teriakan Mommynya, yang pasti membuat satu rumah ini bergema.
Dengan berjalan malas, Arka menghampiri kedua wanita itu di ruang tamu.
"Kenali ini Arka, putra tante. Dan Arka ini Linda, anaknya pak Budi." Mama memberitahu. Pak Budi rekan bisnis Arka juga.
Linda dengan begitu cepat mengulurkan tangannya. Ia sangat ingin berkenalan dengan pria tampan sejuta pesona itu.
"Mom, berhenti menjodohkanku. Mommy tahu, aku sangat mencintai fernando. Tolong mengerti aku, Mom. Cintaku pada fernando tak akan bisa tergantikan."
Linda kaget lalu menutup mulutnya tak percaya mendengar ucapan Arka. Pria itu mencintai fernando. Fernando itu kan nama laki-laki.
Pria tampan itu ternyata penyuka batangan.
"Tante, aku pulang. Aku lupa memberi makan kucingku." Wanita itu pun bergegas pamit. Ia jadi ilfill pada Arka. Padahal ia tadi sempat mengira lelaki tulen. Ternyata astaga!!!
"Hahaha..." Arka tertawa puas setelah Linda pergi. Ia berhasil menggagalkan perjodohan itu.
"Arka!!! Kalau kamu menghindar terus kapan kamu akan menikah, Nak?" Mommy menjewer telinga Arka. Ada saja yang dilakukan putranya.
"Aduh, Mom. Aku sudah bilang, aku akan menduda selamanya." Arka mengusap telinganya yang merah.
"Jangan sembarangan bicara kamu. Pokoknya Mommy akan terus menjodohkanmu. Sampai ada yang kamu nikahi." Teriak Mommy melihat putranya yang sudah kabur darinya.
Arka itu benar-benar membuat kesal. Padahal sang Mommy ingin Arka menikah dan membangun keluarga kecil bersama anak-anaknya mereka.
Mommy yang sudah semakin tua, usia juga makin bertambah. Ingin melihat Arka bahagia di masa-masa tuanya nanti.
Tapi Arka malah ingin menduda selamanya. Mommy jadi merasa bersalah karena telah membuat sang anak trauma.
Jika ia tidak tergesa-gesa dan melihat benar-benar menantunya kala itu. Arka pasti tidak akan mengalami hal seperti ini.
.
.
.
__ADS_1