
Nara berbaring di tempat tidur. Berbaring ke kanan, pindah ke kiri, kadang terlentang. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, mengingat hal yang telah terjadi pada mereka tadi sore.
Nara pun bangkit dan meraih ponsel di atas nakas. Lalu kembali berbaring lagi. Ia memandangi layar ponselnya. Tak ada pesan masuk atau panggilan telepon dari Arka.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Nara mengkerucutkan bibirnya, pria itu tak ada menghubunginya.
'Cuci tangan cuci kaki, tidur!' Ia pun bangkit dan menuju kamar mandi.
Saat Nara berada di kamar mandi, saat itu pula ada panggilan masuk di ponselnya.
'Kenapa tidak dijawab? apa dia sudah tidur?!' Panggilan telepon dari Arka tidak di jawab oleh Nara.
Arka mencoba menelepon sekali lagi. Tapi tetap tak ada jawaban. Sekali lagi menelepon dan tetap tak menjawab.
Hingga akhirnya pria itu memilih mengirim pesan saja.
'Selamat tidur. Mimpi yang indah.'
Arka mengetik pesan dengan wajah sangat bahagia. Ia pun segera mengirim pesan singkat tersebut.
'Baiklah, aku akan tidur juga. Menyusulmu dalam mimpi.'
Pria itu membaringkan tubuhnya lalu menyelimuti diri. Perlahan memejamkan mata. Dan tak lama...
Ngrokk ngrokk
Arka sudah terlelap dalam tidurnya.
Di kamar lain, Nara keluar dari kamar mandi. Ia duduk di kursi meja nakas, membaluri wajah dengan krim perawatan kecantikan. Sambil melirik ponselnya yang masih gelap.
'Apa pak Arka sudah tidur?' Batin Nara.
Setelah selesai dengan perawatan malam, Nara meraih ponsel. Lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Ia menekan layar ponsel. Dan...
'Astaga!!! kapan dia meneleponku?'
Mata Nara terbelalak melihat ponselnya. Ada 7 kali panggilan tak terjawab. Berarti 7 kali Arka sudah meneleponnya.
Wanita itu menyesali dirinya yang terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
'Ada pesannya!'
Pak Bos: Selamat tidur. Mimpi yang indah.
'Aku belum tidur!!!' Nara meronta-ronta dalam hati.
Nara berpikir sejenak. Ia pun berencana mengirim pesan saja. Arka akan membacanya lalu pria itu akan menelepon dirinya.
"Maaf, Pak. Tadi saya masih di kamar mandi dan saya tidak mendengar anda menelepon saya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Nara mengeja sambil mengetik kata demi kata.
Saat akan menekan tanda kirim, tangan Nara tertahan. Ia mulai berpikir.
Arka meneleponnya sampai 7 kali. Tak masalah bukan jika ia berinisiatif menghubungi pria itu kembali.
Nara menganggukkan kepala meyakinkan bahwa jika Arka bertanya kenapa dia menelepon. Ia akan kembali bertanya, kenapa pria itu meneleponnya sebanyak 7 kali.
__ADS_1
Nara menghembuskan nafas berkali-kali, lalu ia berolah raga mulut terlebih dahulu. Agar saat menelepon Arka, ia tidak mendadak gugup, canggung atau sejenisnya.
Gagang telepon berwarna hijau pun Nara sentuh.
Tut
Tut
Tut
Hatinya tiba-tiba berdebar tak menentu. Menunggu suara yang menyahut dari sana.
"Apa ku telepon lagi?" Gumam Nara pelan. Panggilannya tadi tidak dijawab Arka.
Nara melihat jam dinding, sudah hampir pukul 10 malam. Kemungkinan Arka sudah tidur.
Ponsel di letak kembali di meja Nakas. Nara berbaring dan menyelimuti dirinya.
Esok paginya. "Pagi, Mom." Sapa Arka.
Mommy melihat wajah Arka yang tersenyum bahagia, padahal hari masih pagi. Dan wanita paruh baya itu mengendus-enduskan hidungnya.
"Kamu semprot parfum sebotol ya?"
Arka terlalu wangi tidak seperti biasanya.
"Hanya beberapa kali semprot Mom. Nggak sampai satu botol. Apa begitu wangi?" Tanya Arka menatap Mommynya.
Mommy mengangguk. "Kamu seperti toko parfum berjalan." Ledek Mommy.
"Benarkah?" Arka pun mengenduskan hidung ke tubuhnya. "Kalau begitu, aku ganti pakaian saja!"
"Kata Mommy, aku seperti toko parfum berjalan."
"Haha... Tidak, cuma becanda. Paling nanti sudah sampai kantor wanginya sudah berkurang."
"Oh iya. Kalau begitu aku berangkat dulu, Mom." Arka menyalami sang Mommy. Tak lupa juga mencium pipinya.
"Kamu nggak sarapan dulu?" Tanya Mommy menahan Arka pergi.
"Aku akan sarapan bersama Nara. Aku akan menjemputnya."
"Oh... kalau begitu hati-hati." Mommy pun melepas tangan Arka. Ia senang Arka sepertinya sudah kembali dengan Nara.
'Semoga mereka cepat menikah!!' Harap Mommy.
Arka masuk ke dalam mobil, ia pun menelepon Nara.
"Nara..." Ucap Arka.
"Sa-saya, Pak."
"Kamu di mana?" Tanya Arka mendengar banyak suara kenderaan.
"Saya lagi di jalan, Pak." Jawab Nara yang sedang dibonceng abang ojek.
Arka sedikit kecewa. Padahal ia pergi cepat ingin menjemput Nara, lalu mereka berangkat bersama ke kantor.
__ADS_1
"Ya sudah. Hati-hati di jalan."
"Baik, Pak. Selamat pagi." Nara segera mematikan ponselnya.
Beberapa saat kemudian. Arka sudah sampai kantor. Ia berdiri di depan lift. Bersandar pada tembok. Sambil meninting bungkusan, ia menunggu Nara datang.
Senyumnya terbit tatkala melihat wanita yang ditunggunya memasuki lobi. Wanita itu berjalan setengah berlari dengan rambut yang digerai.
Arka terpesona sesaat, Nara begitu sangat cantik.
"Se-selamat pagi, Pak." Sapa Nara setelah berada di depan lift.
"Pagi." Jawab Arka yang tersadar dari pesona seorang janda.
Keduanya berada dalam lift bersama karyawan lainnya. Arka mengambil posisi di belakang, karena ia yang paling lama keluar dari lift itu. Nara mengikuti, ia berdiri di samping Arka.
Arka melirik Nara sejenak, saat Nara melihat ke arahnya. Pria itu segera melihat ke arah depan saja. Arka sedang mencuri-curi pandang.
Pria itu bersikap biasa. Tapi, tangannya perlahan meraih tangan Nara. Lalu membawa genggaman tangan mereka ke belakang tubuhnya.
Perlakuan Arka membuat Nara melihat ke arahnya. Atasannya ini menggenggam tangannya di dalam lift. Jika ada yang melihat, ini bisa jadi gosip.
Nara pelan-pelan menarik tangannya. Dan percuma saja. Tangan pria itu tak mau terlepas darinya.
Arka melihat ke arah Nara dengan wajah tak bersalah. Malah tersenyum tipis.
Satu persatu para karyawan turun sesuai lantai tempat mereka bekerja. Dan kini tinggal mereka berdua yang berada di dalam lift.
Arka melepas genggamannya. Nara terdiam saat pria itu malah memeluknya.
"Maaf, ya. Tadi malam aku sudah tidur. Kamu juga aku telepon nggak menjawab." Arka menjelaskan perihal telepon tadi malam.
"I-iya, Pak." Jawab Nara gugup, hatinya kembali berdebar-debar.
"Sayang, saat berdua denganku. Bersikaplah seperti wanitaku. Jangan memanggilku pak bapak. Aku ini belum bapak-bapak, loh." Arka melepaskan pelukannya. Ia memandangi wajah cantik itu.
"Pak Arka." Nara tetap mengatakan seperti itu.
"Nara..."
"Pak Arka." Ucap Nara kembali sambil menahan senyumnya. Wajah atasannya itu sedikit kesal.
"Kamu bandal ya. Nggak mau menuruti perintah saya." Arka yang gemas pun menarik hidung Nara.
Wanita itu memegangi hidungnya yang sudah memerah dengan bibir yang menggerucut.
"Nara... Jangan memancing saya." Arka memperingatkan.
Wanita itu melihat ke arah fokus mata Arka. Yang ternyata ke arah bibirnya.
"Pak Arka, jangan genit!!!"
"Genit???"
.
.
__ADS_1
.