
Adam menatap ponselnya, ia menatap foto Nara di sosial medianya. Menatap wajah cantik yang pernah menggetarkan hatinya.
Pria itu kembali mengingat saat Nara mengatakan akan segera menikah. Dan juga mengingat perkataan Arka yang akan segera menikah.
Keduanya sama-sama mengatakan akan menikah.
'Apa mereka berdua akan menikah?' Adam masih ragu dan tak percaya. Arka dan Nara akan segera menikah. Ia harus memastikan terlebih dahulu.
Adam melajukan mobilnya sambil mengingat kembali perkataan Arka. Perkataan Arka untuk tidak menganggu mantan istrinya, saat Adam berniat kembali pada Nara.
Mungkinkah itu kode yang diberikan Arka padanya?
Adam tersadar dengan suara ponsel yang berdering, ia pun segera menjawabnya.
"Halo..."
"Halo... Bang Adam kok belum pulang? Mario mau ketemu Papanya ini." Ucap Rindu dari seberang sana. Hari sudah gelap, tapi Adam belum pulang juga dari kantor.
"Abang lagi lembur dek." Bohong Adam beralasan. "Tolong jaga Mario sebentar ya." Timpalnya lagi.
"Ya sudah."
"Mario sudah makan, dek?" Tanya Adam memastikan.
"Sudah... Banyak Mario makannya."
"Ya sudah dek. Abang mau lanjut lagi, biar cepat pulang."
"Iya, jangan pulang malam-malam."
"Iya." Setelah mengatakan itu, Adam pun mengakhiri panggilan.
Adam melajukan mobil memasuki jalan rumah Nara.
Deg
Mata Adam menatap tajam sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Nara. Itu seperti mobil Arka.
Adam menepikan mobil tak jauh dari rumah Nara. Ia ingin memastikan ,apa pemilik mobil itu benar adalah Arka atau bukan. Mengingat mobil mewah seperti itu cukup banyak di pasaran.
'Kenapa lama?'
Adam menggerutu. Ia sudah menunggu cukup lama. Tapi, tak ada yang keluar dari rumah itu.
'Apa dia menginap?'
Mata Adam terus fokus ke depannya. Ia membenarkan posisi duduknya saat melihat seorang pria keluar dari pagar.
'Gio?'
Adam makin bingung, saat melihat Gio naik ke mobil itu dan melajukan mobil memasuki teras rumah. Lalu tak lama pagar rumah pun ditutup.
__ADS_1
Lama tak terdengar kabar Nara atau keluarganya. Kini Adam terkejut, saat keluarga Nara mempunyai sebuah mobil mewah.
Apa itu mobil Ayahnya Nara?
Atau mobil dinas Gio? Yang Adam tahu, Gio masih karyawan biasa di kantornya. Tidak mungkin mendapat fasilitas seperti itu.
Atau...
Mobil mewah itu, pemberian dari pria yang akan menikah dengan Nara?
Adam jadi sangat penasaran.
Calon suami Nara pasti pria tajir dan kaya raya. Ia ingat saat menguping, Bily mengatakan Nara akan menikah dengan Arka. Ia sangat jelas mendengar itu.
Ya, setara Arka... Memberikan hadiah seperti itu, hanya hal yang mudah.
Tapi... Apa Nara benar-benar akan menikah dengan Arka?
Hati Adam merasa tak terima, jika hal itu benar terjadi. Arka akan menikah minggu depan dan sampai sekarang temannya itu belum mengundangnya.
Atau Arka memang sengaja tidak mengundang dirinya, karena tahu dia mantan suaminya Nara?
'Apa mereka benar-benar akan menikah? di mana mereka saling mengenal?' Adam memijat pelipisnya saat merasakan kepala yang mulai pusing.
Adam juga berasumsi, pasti Arka sudah lama mengincar mantan istrinya.
\=\=\=\=\=\=
"Aduh kak, aduh aduh... Sakit loh." Gio memegangi telinganya yang sudah memerah. "Aku cuma pinjam sehari saja. Besok juga sudah aku kembalikan kok."
"Mau ngapain kamu minjam mobilnya mas Arka?" Tanya Nara kembali dengan tatapan tajamnya.
"Hmm... Ada deh." Gio sengaja mengkedipkan matanya. "Tanya itu mas Arka kesayangan kak Nara, sudah sampai rumah belum? Masuk angin apa nggak dia?"
Gio segera berlari kabur setelah puas meledek kakaknya.
Nara sangat geram dengan adiknya. Karena Gio sudah masuk ke kamar, ia pun masuk ke kamarnya.
Nara mencoba untuk menelepon Arka. Mungkin Arka sudah sampai rumah.
"Ha-halo, Mas." Ucap Nara begitu panggilan tersambung.
"Iya, sayang." Jawab Arka setelah memarkirkan sepeda motor milik Gio di bagasi rumahnya.
"Sudah sampai rumah?" Tanya Nara kembali.
"Sudah, sayang. Ini baru saja sampai." Jawab Arka berjalan memasuki rumah.
"Mas, maafin Gio ya." Nara merasa tak enak hati. Adiknya meminjam mobil pria itu, hingga membuat Arka pulang naik sepeda motor adiknya.
"Nggak apa loh, sayang. Sudah lama juga aku nggak naik motor. Besok kamu mau kita jalan-jalan naik motor saja?" Tanya Arka.
__ADS_1
"Mommy mana?" Tanya Arka pelan pada pekerja rumah.
"Ibu sudah tidur." Jawab mereka.
Arka mengangguk dan langsung menuju kamarnya.
"Boleh, Mas." Jawab Nara.
"Ok." Arka tersenyum nakal. Ia sudah membayangkan Nara sudah dipastikan akan menempel padanya.
"Oh iya, Mas. Gio tadi minjam mobil untuk apa ya?" Tanya Nara masih penasaran. Semenjak adiknya mendadak akrab dengan Arka. Nara mulai khawatir, takut jika Gio akan meminta yang tidak-tidak pada Arka.
Arka ingat adik iparnya meminjam mobil untuk pamer pada wanita yang sudah menolaknya.
Gio ditolak mentah-mentah, hanya karena mengendarai sebuah sepeda motor tahun lama. Jadi ia meminjam mobil Arka, untuk menakut-nakuti mental wanita itu.
"... Abang ipar, ini demi harga diriku. Memang dasar itu cewek matre!!! Padahal dia nggak tahu saja, aku ini akan jadi sekretarisnya bos besar..."
Arka tersenyum mengingat alasan adik iparnya tersebut.
"Katanya Gio mau jalan-jalan sama temannya." Jawab Arka beralasan. Ia tidak bisa mengatakan alasan, karena sudah janji dengan Gio.
"Astaga, Gio itulah." Nara jadi kesal. Ia takut jika mobil Arka itu nanti lecet atau terserempet atau hal lainnya. Untuk menggantinya pasti sangat mahal.
"Mas, kok dikasih? Seharusnya nggak usah dikasih pinjam. Kalau nanti-"
"Sudah nggak apa." Potong arka cepat. Ia tidak begitu peduli. "Besok aku datang pagi-pagi ke rumah kamu. Kita jalan-jalannya dari pagi saja." Tawar Arka.
"Agak siangan saja, Mas." Tolak Nara. Pagi-pagi mau ke mana mereka.
"Nggak mau!" Arka menggeleng. "Besok minggu terakhir kita pacaran. Minggu depan kita sudah menikah."
Wajah Nara mendadak merona. Minggu depan ia akan menikah. Ia akan melepas status jandanya. Dan memulai kembali kehidupan pernikahan yang kedua.
"Besok kita harus puas-puasin bertemu. Karena setelah itu kita akan dipungut." Arka menjelaskan kembali.
"Pungut?" Nara bingung. Apa yang mau dipungut.
"Iya, pungut. Itu yang seminggu sebelum pernikahan kita kan dilarang untuk bertemu." Ucap Arka sedikit kecewa. Ia tidak akan bertemu Nara sampai hari pernikahan tiba. Bagaimana rasanya? Membayangkan saja, ia seolah sangat enggan.
"Pingit, Mas. Itu pingit namanya, bukan pungut." Nara membenarkan ucapan Arka yang ngasal saja. Pungut sama pingit sudah lain makna.
"Oh pingit ya? Sudah ganti sekarang ya." Ucap Arka santai seolah merasa tak salah.
"Mas Arka... Mas Arka..."
.
.
.
__ADS_1