
"Mas, apa jangan-jangan aku hamil anak kembar ya?"
Arka jadi tersenyum melihat wajah kaget Nara menebak kehamilannya.
"Kita lihat saja nanti." Jawab Arka. "Sayang, kenapa berisik?" Tanya Arka mendengar suara gaduh.
"Itu, Mas. Lagi mindahi barang-barang. Kamar kita pindah ke bawah." Ucap Nara memberitahu.
"Oh. Jadi kamu di mana ini?"
"Kamar Mommy, Mas. Tadi aku mau bantui, tapi nggak boleh. Disuruh istirahat di kamar saja." Jawabnya.
"Sayang, nanti malam kita ke rumah Ayah."
"Tapi, hari minggu Mas."
"Gio kangen sama kakaknya."
Nara tersenyum mendengar itu. Ia pun mengangguk. "Baiklah. Ya sudah, Mas Arka lanjutlah."
"Iya. Aku tutup ya. I love you."
Nara menjawab hanya dengan senyuman dan mengakhiri obrolan mereka.
"Papamu buat Mama deg deg-an, Nak." Nara memberitahu sambil memegangi dadanya.
Malam menjelang, Arka dan Nara berada di rumah orang tua Nara. Dan...
Arka menghela nafas panjang. Lagi dan lagi istrinya itu mengeluarkan air mata.
"Ayah, Bunda... Nara hamil. Ada anak di perut ini..." Nara memberitahu keluarganya dengan antusias. Dan air mata itu juga ikut jatuh membasahi pipinya.
"Selamat ya, Nak. Berarti ayah akan jadi kakek dong."
Nara mengangguk dan memeluk erat pria paruh baya itu yang mengelus kepalanya.
Ayah sangat bersyukur, Nara sudah dianugerahi momongan. Putrinya begitu sangat bahagia sekarang.
Nara lalu memeluk Bunda. Wanita paruh baya itu senang dan begitu sangat terharu.
"Kak Nara..." Gio juga memeluk kakaknya. Ia begitu bahagia dengan kondisi Nara sekarang. Senyum kakaknya terus mengembang.
"Kak... apa ponakanku ada di dalam?" Tanya Gio menunjuk perut Nara.
Nara mengangguk sambil tersenyum.
"Hai, ponakan oom!" Sapa Gio mengelus perutnya.
Kruk...
Arka meneput jidatnya mendengar suara itu kembali.
"Dia membalas sapaanmu."
"Itu bukan sapaan, itu kak Nara yang lapar." Gio mendengus kesal.
"Bunda sudah masak. Ayo, kita makan." Ajak Bunda.
"Bunda masak apa?" Nara pun segera bangkit. Ia sangat lapar.
Malam itu, Arka dan Nara menginap. Besok mereka baru kembali ke rumah Mommy.
Arka memandangi istrinya yang sudah tidur terlelap. Wajah polos Nara begitu kelelahan.
Arka perlahan mengelus wajah itu dengan lembut lalu menkecupnya.
__ADS_1
'Adam!' Batin Arka mendadak mengingat temannya itu.
Lantaran bertemu wanita berambut pirang itu, Arka jadi kembali mengingat Adam. Ia jadi penasaran dengan Adam, jika tahu mantan istrinya ternyata tidak mandul.
Ucapan Adam yang saat itu menjelek-jelekkan Nara, kini terbantahkan sudah.
'Apa Adam yang mandul?' Arka jadi berasumsi sendiri.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Pria itu pun memilih tidur saja. Ia masuk ke dalam selimut dan memeluk sang istri tercinta.
"Mas, Mas Arka..." Panggil Nara membangunkan suaminya.
Arka membuka matanya berat. Ia baru saja tidur. "Kenapa sayang?"
"Mas, aku mau makan mangga."
"Mangga?" Mata Arka terbuka sempurna. Ia melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul 3.
"Iya, aku kepingin makan mangga muda, Mas."
"Besok pagi ya. Akan kubelikan." Janji Arka.
Nara malah menggeleng. "Aku mau sekarang, Mas."
'Apa ini yang namanya ngidam?'
"Baiklah. Kamu tunggu sebentar." Arka tak tega melihat wajah mewek yang membujuknya. Lagian katanya jika ngidam nggak dituruti, anaknya saat lahir bisa encesan. Arka tak mau itu terjadi.
"3 buah ya, Mas. Yang masih muda, jangan yang matang." Nara mengingatkan.
Arka mengambil jaketnya, ia akan mencari orang yang berjualan mangga muda di jam 3 pagi.
Arka pun keluar kamar. Saat akan membuka pintu.
"Mau kemana, Bang?" Tanya Gio yang baru dari dapur.
Gio mengangguk lalu menguap lebar. Dan akan masuk ke kamarnya.
"Dek, beli mangga muda di mana?" Tanya Arka yang tak jadi membuka pintu. Ia tak tahu daerah ini, mungkin adik iparnya tahu penjual mangga muda terdekat.
"Mangga muda?" Ucap Gio masih loading.
"Kak Nara, ngidam mangga muda?" Tanya Gio memastikan ketika otaknya mulai konek.
Arka mengangguk. "Di mana toko buah yang buka jam segini?"
Tak lama, Arka keluar dari rumah ditemani Gio, untuk mencari mangga muda pesanan Nara.
"Gio, naik mobil saja?" Panggil Arka melihat Gio terus berjalan.
"Jalan saja. Dekat sini saja."
Arka pun berjalan mengikuti adik iparnya. Udara malam cukup dingin diiringi suara jangkrik yang saling bersahutan.
"Bang, itu mangga muda!!!" Tunjuk Gio pada pohon mangga rumah orang.
"Kita beli saja." Arka melihat Gio yang langsung memanjat.
"Nggak ada yang jualan mangga muda jam segini. Banyak begal." Gio memetik mangga yang muda.
"Berapa Bang?"
"Tiga."
Gio pun membawa 3 buah mangga muda pada Arka.
__ADS_1
"Dek, kita ini mencuri loh." Arka merasa tak enak. Mengambil milik orang tanpa izin.
"Bro, ku ambil manggamu 3 buah." Ucap Gio cukup keras.
"Iya, ambil saja." Ucap Gio kembali dengan nada berbeda, seolah pemilik rumah yang telah menjawabnya.
Arka terbengong tak bisa berucap. Sudah Gio yang meminta, Gio pula yang menjawab.
"Sudah, ayo kita pulang Bang." Ajak Gio merasa tak masalah.
"Ta-tapi..." Arka masih menolak.
"Tenang sajalah. Besok pagi, aku bilang sama yang punya rumah. Lagian ini rumah temanku loh. Ia juga tak masalah mangganya diambil untuk orang ngidam." Gio menjelaskan, karena melihat abang iparnya seolah menganggap mangga itu barang curian.
Arka pun jadi mengangguk. Mereka akan kembali pulang. Tapi, Arka kembali lagi, ia mengambil selembar uang dari dompetnya dan memasukkan disela pintu. Ia harus membayar mangga tersebut.
Gio menggeleng melihat Arka. Gio segan membangunkan temannya itu dijam segini. Jika Nara meminta saat siang, sudah dipastikan temannya akan memberikan satu goni mangga secara gratis.
Sampai rumah, Arka dengan cekatan mengupas mangga muda tersebut. Nara menunggu dengan wajah mengantuk.
"Ini sayang."
Nara mengunyah mangga muda itu dengan lahap. Lalu mengambil potongan mangga lagi.
Arka dan Gio saling melirik. Nara tak ada sama sekali merasa asam ataupun kecut. Mereka yang ngilu melihat Nara makan.
"Mas Arka sama Gio mau?" Tawar Nara menyodorkan mangga.
"Tidak." Kompak kedua pria itu menggeleng.
"Aku masuk dulu ya." Gio pun segera berlari ke kamarnya.
"Mas, enak loh."
Wajah Arka tidak menentu saat istrinya memaksanya untuk memakan sepotong mangga muda itu.
Gio yang mengintip di balik tembok, cekikikan melihat abang iparnya. Dipaksa memakan mangga muda.
"Lagi, Mas?" Nara akan menyuapkan kembali.
"Sudah sayang." Tolak Arka. "Ayo, kita tidur."
Nara sudah cukup banyak memakan mangga muda tersebut. Istrinya bisa sakit perut.
"Potong lagi, Mas." Pinta Nara kembali.
"Sayang, untuk besok lagi."
Nara menganggukkan kepala. "Mas, gendong."
Arka pun menurut. Ia menggendong istrinya yang makin manja.
"Mas, terima kasih ya."
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Arka bingung. Ia membawa masuk Nara ke dalam kamar.
"Untuk semuanya. Aku sangat bahagia bersamamu." Nara menatap wajah tampan itu.
"Aku yang seharusnya mengatakan itu. Aku beruntung memiliki kamu. Aku mencintai kamu, Nara. Aku sangat bahagia bersamamu." Balas Arka mengungkapkan perasaannya.
"Aw... Kenapa kamu menggigit hidungku?" Arka memegang hidungnya yang digigit istrinya.
"Aku gemas sama kamu, Mas."
.
__ADS_1
.
.