KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 13 - KEPUTUSAN NARA


__ADS_3

"Adam... Mama nggak pernah mengajari kamu untuk menyakiti wanita. Kenapa kamu begitu tega melakukan hal seperti ini pada Nara?!!" Mama memukuli Adam, bahkan menjewer putranya. Ia sangat kecewa dengan sikap Adam pada sang menantu kesayangannya itu.


Mama datang dengan Rindu ke rumah Adam. Karena orang tua Nara yang meneleponnya perihal kelakuan putranya.


Mendengar cerita Adam yang sama persis dengan yang diucapkan besannya, membuat Mama makin kecewa. Tah apa yang ada dalam pikiran sang putra, sehingga melakukan hal seperti itu tanpa pikiran.


"Stop, Ma. Kenapa kalian semua menyalahkanku sih?" Adam makin tak habis pikir, tak ada yang sepihak dengannya. Baik keluarga Nara atau keluarganya sendiri, semua menyalahkannya.


"Karena kamu bersalah, Adam. Kamu sudah mengkhianati Nara dan menikah diam-diam dengan wanita itu." Mama menunjuk Yola yang dari tadi diam saja menundukkan kepala. Melihat wanita berambut pirang itu sedang hamil besar, pasti sangat menyakiti hati Nara.


Rindu memelototi wanita berambut pirang itu. Wanita pelakor yang masuk dan merusak kehidupan rumah tangga abangnya.


"Ma, aku sudah bilang aku menginginkan anak dan Nara tak bisa mengandung anakku. Aku ingin mempunyai anak kandung dari darah dagingku, bukan anak hasil adopsi. Sampai kapan aku akan memiliki seorang anak dengan keadaan Nara yang seperti itu? Kenapa tidak ada yang mengerti diriku?!" Adam mendengus kesal. Semua hanya tahu menyalahkannya.


"Adam, kamu ini-" Mama memijat pelipisnya. Bingung harus bagaimana menyadarkan Adam.


"Kalian memang belum waktunya punya anak, Adam. Kamu seharusnya sabar, Nak." Mama mempertegas ucapannya, bahwa kehamilan itu hanya masalah waktu.


"Sabar? Aku harus sabar sampai kapan, Ma?" Tanya Adam serius. "Nara itu mandul, Ma."


Plak


Mama menampar Adam cukup keras. "Jaga bicara kamu. Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Nara itu sangat sehat. Memang belum waktunya saja kalian mempunyai anak."


"Ma, Nara itu tidak sehat." Adam tetap bersikeras. Yola bisa mengandung anaknya, kenapa Nara yang sudah ia nikahi selama 5 tahun tidak bisa mengandung juga?


"Adam... Sebenarnya kamu mencintai Nara atau tidak?" Tanya Mama serius.


"Aku mencintainya, Ma."


"Jika kamu mencintainya, seharusnya kamu mengerti keadaan Nara."


"Seharusnya Nara mendukungku, Ma. Aku melakukan ini demi kebaikannya."


Mama menghembus nafas dengan kasar.

__ADS_1


"Mama sangat kecewa sama kamu. Kamu ceraikan Nara saja, untuk apa dia tetap mempertahankan suami yang tidak setia seperti kamu. Kasihan Nara jika harus sakit hati karena kamu. Nara itu anak yang baik." Mama sangat tidak setuju jika Adam beristri dua. Apalagi menyuruh Nara merawat anak hasil perselingkuhan.


"Mama... Kenapa kalian begitu menginginkan kami berpisah? Nara bahkan tak mau mencobanya dahulu menerima rencanaku." Adam kesal, semuanya sama saja.


"Dulu saat Nara masuk ke keluarga kita, aku tahu Mama tidak menyukainya. Tapi seiring berjalannya waktu, Mama menerima dirinya. Bahkan Mama lebih menyayangi Nara dari pada aku, anak kandung Mama sendiri. Tapi, kenapa Nara tidak mau mencoba untuk membiarkan anakku dan Yola masuk dalam keluarga ini? Kenapa dia malah berniat ingin berpisah dariku. Nara itu benar-benar egosi, Ma." Adam benar-benar kecewa. Ia masih dengan pemikirannya yang dianggapnya benar.


"Nara itu tidak pernah mencintaiku, Ma. Jika dia memang mencintaiku, dia akan menuruti keinginanku. Dan dia pasti mengerti, jika aku melakukan semua ini karena rasa cintaku padanya." Menurut Adam, cinta seharusnya seperti itu.


"Adam... Kamu itu salah, Nak. Berhenti membenarkan jalan pikiranmu yang sangat salah. Tak ada wanita yang mau dimadu. Coba kalau kamu di posisi Nara sekarang, apa kamu mau hidup bersama dengan wanita lain, meski kamu mencintainya?" Mama menghembuskan nafas kasar.


"Sekarang terserah kamu sajalah, Dam. Hiduplah kamu dengan wanita itu. Mama tak akan peduli lagi dan jangan pernah memaksa Nara mengikuti keinginan kamu itu." Mama pun menarik Rindu. Mereka beranjak pergi dari rumah Adam.


Mama menghapus air mata yang berlinang. Merasa sakit hati dengan tindakan sang anak, yang seenaknya itu. Adam tidak memikirkan perasaan orang-orang sekitarnya.


\=\=\=\=\=\=


Malam itu, Mama bersama ketiga anaknya mendatangi rumah keluarga Nara.


Mama meminta maaf yang sebesar-besarnya atas tindakan Adam, pada keluarga Nara. Terutama pada Nara.


"Nak, maafkan Mama. Yang tidak bisa mendidik Adam." Dengan berderai air mata Mama memohon maaf.


"Kak, jangan benci sama kami ya." Rindu juga sudah menganggap Nara seperti kakaknya sendiri. Ia takut masalah ini, akan membuat Nara membenci keluarga mereka.


Baik dari keluarga Nara ataupun keluarga Adam. Mereka bermusyawarah dan menyetujui keputusan Nara yang ingin bercerai dari Adam.


Siapa juga wanita yang mau merawat anak hasil perselingkuhan suaminya, apalagi merawat bersama wanita pelakor pula?


Nara tak mempunyai hati selapang itu untuk menerima hal tersebut. Ia sama seperti wanita-wanita yang lain. Yang tak mau berbagi suami.


Adam sudah mengkhianati Nara, untuk apa Nara tetap bertahan?


\=\=\=\=\=\=


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Adam kaget saat masuk ke kamar, melihat Yola memasukkan pakaian ke dalam koper.

__ADS_1


"Aku pergi saja, Mas. Kehadiranku di sini hanya membuat masalah untuk kamu." Ucap Yola menghapus air matanya.


"Tidak, kamu nggak boleh pergi." Adam menahan tangan Yola.


"Biarkan aku pergi, Mas. Istrimu dan keluargamu tidak menyukaiku. Aku hanya menambah masalah kamu. Biarkan aku pergi bersama anak ini." Mohon Yola dengan berderai air mata.


"Tidak!!!" Bentak Adam yang sudah kesal.


"Aku-"


"Maafkan aku." Adam memeluk Yola.


"Mungkin memang begini nasibku. Tak diterima di manapun. Padahal aku hanya ingin memiliki keluarga kecil." Yola terisak-isak meratapi nasibnya.


"Maafkan Mamamu ya, Nak. Tak bisa memberikan status yang jelas padamu. Memberikan kamu sebuah keluarga." Yola mengelus perutnya.


"Apa yang kamu katakan? Anakku akan mempunyai keluarga dan aku juga akan memberikan status yang jelas padanya." Adam tak terima mendengar keluhan Yola.


"Sudahlah, Mas. Aku nggak mau anakku hidup menderita. Tak ada yang menerima kehadirannya, bahkan keluarga kamu juga." Yola menunjukkan wajah sedih.


"Sudah, kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kita akan merawat anak ini bersama-sama. Aku janji, setelah aku dan Nara berpisah, aku akan mendaftarkan pernikahan kita."


"Tapi, Mas. Bagaimana-"


Adam menutup mulut Yola dengan jarinya.


"Jangan pikirkan yang lain. Kita pikirkan saja masa depan anak ini ke depannya. Aku akan membuat keluarga kecil kita. Aku, kamu dan anak ini." Adam meyakinkan Yola dengan tegas.


Yola mengangguk pelan. Ia sangat bahagia. Adam sudah tak menginginkan Nara lagi.


Sebenarnya Yola tak peduli pada tanggapan keluarga Adam atau yang lainnya. Yang paling penting baginya, Adam bersamanya dan bercerai dari istri pertamanya.


'Anakku sayang...Mama nggak sabar jadi istri papamu yang sah!'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2