
Hari-hari pun berlalu. Arka dan Nara menjalani kehidupan pernikahan dengan bahagia. Saling mengasihi dan mencintai.
"Mas Arka, bangun." Nara membangunkan pria yang tidur di sampingnya.
Arka membuka matanya dan melihat jam dinding. "Ada apa, sayang? Masih pukul 1."
"Mas, aku lapar!" Rengeknya.
"Lapar?" Tanya Arka bingung. Mereka tadi tidak ada melewatkan makan malam.
"Iya, Mas. Aku lapar. Temani aku makan yuk." Ajak Nara menarik lengan Arka.
Tak lama, mereka sudah berada di dapur. Nara menggoreng ayam terlebih dahulu. Karena lauk makan malam sudah habis.
Nara mengisi piring Arka, lalu juga mengisi piringnya. Mereka pun makan dengan lahap.
Arka selesai makan duluan. Ia pun memandangi istrinya. Pria itu merasa tubuh Nara mulai berisi sekarang.
"Mas, kenapa lihati aku begitu?" Tanya Nara merasa aneh.
Arka pun menggeleng. "Nggak, sayang."
"Mas Arka, mau tambah lagi?" Tunjuk Nara pada sepotong ayam goreng di piring.
"Tidak. Kamu mau?" Balik Arka bertanya.
Nara mengangguk. Ia masih merasa lapar.
"Terima kasih, sayangku." Nara menkecup pipi Arka sejenak, setelah suaminya meletakkan ayam goreng itu di piringnya.
"Makan yang banyak, sayang." Arka tidak masalah, jika tubuh Nara melebar nantinya.
Setelah selesai makan, Nara membereskan meja makan.
"Ayo, kita tidur. Ini sudah jam 2 lewat loh." Arka menunjuk jam dinding.
"Gendong, Mas!" Ucap Nara manja merentangkan tangannya.
Arka segera menangkap Nara. Menggendong wanita itu ala koala. Membawa Nara kembali ke dalam kamar.
Pagi menjelang... Nara menghidangkan sarapan untuk suami dan mertuanya. Mereka makan dengan sangat lahap.
"Mau tambah lagi, Mom?" Tanya Nara menawarkan nasi goreng buatannya.
"Mommy sudah kenyang, Nak." Tolak Mommy. Pagi-pagi tidak bisa makan terlalu banyak.
"Mas Arka mau nambah lagi?" Tanya Nara menawarkan pada suaminya.
"Tidak, sayang." Tolak Arka yang juga sudah kenyang.
"Aku habiskan ya." Nara tersenyum sambil menyalin nasi goreng ke piringnya. Lalu ia pun makan dengan lahap.
Arka cukup heran melihat istrinya. Nafsu makan Nara meningkat. Tengah malam mereka sudah makan. Dan kini, istrinya nambah sarapan lagi.
'Apa dia begitu kelaparan?' Arka menggeleng pelan. Sepertinya lambung Nara cukup besar dan lebar.
__ADS_1
Berbeda dengan Mommy. Wanita paruh baya itu melihat menantunya dengan tatapan penuh arti.
'Apa Nara sedang hamil? Tapi... Arka bilang Nara mandul?' Mommy jadi bertanya-tanya. Ia juga melihat tubuh Nara yang mulai berisi.
\=\=\=\=\=\=
"Mana Nara?" Tanya Mommy saat Arka duduk di sampingnya yang sedang menonton tv.
"Lagi mandi, Mom." Jawab Arka kembali.
"Arka... apa Nara memang mandul?" Tanya Mommy memelankan suaranya. Ia tidak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka. Apalagi sampai Nara mendengarnya.
Arka menggeleng. Membuat Mommy menaikkan alisnya.
"Nara tidak mandul, Mom." Jawabnya pelan.
"Tapi, kamu bilang..." Wanita paruh baya itu jadi bingung.
Arka pun menceritakan semuanya. Tentang mantan suami Nara yang membuat istrinya jadi down.
"Ada ya pria seperti itu?!" Mommy meremas tangannya, ia sangat marah dengan sikap Adam pada Nara.
"Kasihan Nara. Kamu harus bersikap baik padanya..." Mommy jadi sedih dengan menantunya. Pasti Nara sangat down, hingga menganggap dirinya memanglah mandul.
"Arka..." Mommy lalu melihat putranya serius.
"I-iya, Mom." Jawab Arka gugup melihat Mommynya bersikap serius.
"Hamil... sepertinya Nara hamil!" Ucap Mommy yakin.
"Ha-hamil?" Arka cukup bingung.
"Tadi malam, Nara membangunkanku. Katanya lapar."
"Kan! Nara makan bukan untuknya saja, tapi untuk bayinya juga." Mommy mengutarakan pemikirannya.
"Arka... Bawa Nara periksa ke dokter." Saran Mommy segera.
"Ta-tapi, Mom. Kalau bukan gimana?" Arka takut jika Nara jadi kecewa. Dan membuat istrinya kembali minder.
"Kamu bicara pelan-pelan sama dia. Kalau Nara tidak mandul, kemungkinan besar dia untuk hamil itu ada. Kalian periksa saja dulu, jika memang belum hamil. Bisa sekalian konsultasi dengan dokter." Mommy meyakinkan Arka. Ia tahu, putranya sangat menjaga perasaan istrinya. Arka tidak mau membuat Nara kembali bersedih.
"Biarkan saja dulu, Mom. Jika Nara memang hamil, perutnya juga nanti akan membesar. Saat itu, mungkin Nara akan mau dibawa ke dokter." Menurut Arka, jika perut Nara sudah terlihat. Akan mudah meyakinkan Nara.
Mommy tampak berpikir. "Mana baiknya sajalah."
\=\=\=\=\=\=
"Hoek... hoek... hoek."
Arka terbangun dari tidurnya, karena suara dari kamar mandi.
"Nara!!!" Panggil Arka segera bangkit. Ia berlari ke kamar mandi dan melihat Nara yang terduduk lemas di lantai.
"Sayang, kamu kenapa?" Arka memegangi kening istrinya dan merangkup wajah pucat.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mas. Sepertinya aku masuk angin." Ucap Nara mencoba bangkit. Arka pun mengangkat ke tempat tidur.
"Kita ke dokter ya." Ajak Arka dengan raut wajah khawtir.
Nara menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja. Aku mau tidur sebentar, Mas."
Arka pun membaringkan tubuh Nara dan menyelimutinya.
"Sayang, aku ambilkan makanan ya."
"Tidak usah, Mas. Aku mau tidur sebentar saja." Nara pun memejamkan matanya. Ia tidak berselera makan. Tubuhnya terasa sangat letih.
Arka yang bingung, hanya dapat mengelus-elus kepala Nara. Memandangi wajah Nara yang pucat dan kelelahan.
Setelah melihat Nara sudah terlelap Arka pun keluar kamar dan menuju dapur. Ia meminta pekerja rumah untuk membuatkan bubur.
"Nara mana?" Tanya Mommy saat melihat putranya di dapur.
"Lagi istirahat. Nara muntah-muntah Mom-"
"Kan!!!" Sanggah Mommy cepat. "Muntah itu tanda orang hamil."
"Tapi, Nara bilang ia masuk angin." Arka juga tidak begitu mengerti.
"Arka... Kemungkinan Nara itu hamil. Periksa cepat, jangan nunggu nanti-nanti." Mommy tidak sabaran. Menunggu sampai perut membesar itu terlalu lama. Setelah diperiksa dokter, hamil atau tidak hamil bisa langsung ketahuan.
"Tapi, Mom..."
"Sudah kamu tenang saja."
Beberapa saat kemudian...
"A-aku tidak apa-apa. Kenapa membawa dokter, Mas?" Nara bingung, dokter ada di kamarnya.
"Nara... Kamu tadi muntah. Biar dokter periksa kamu." Ucap Mommy cepat.
"Ta-tapi, Mom. Nara tadi cuma masuk angin saja. I-ini sudah enakan kok." Ucap Nara yang sudah merasa enakan setelah tidur beberapa saat.
"Nara... Kamu mau Arka terus khawatir dengan keadaanmu? Lihat, hari ini saja dia tidak ke kantor karena ingin menemanimu. Biar dokter memeriksamu, kalau kamu sakit langsung diberi obat..." Omel Mommy panjang lebar. Ia sedikit kesal, Nara yang tidak mau berobat.
Nara menatap suaminya yang mengangguk pelan.
"Aku tidak mau kamu sakit, Nara."
Dokter pun memeriksa keadaan Nara. Mommy sengaja memanggil dokter ke rumah. Jika Nara dibawa ke rumah sakit, pasti akan menolak.
"Dok... Bagaimana keadaan istri saya? Dia sakit apa?" Tanya Arka dengan raut wajah serius.
"Gejala muntah dan kelelahan hal normal saat awal kehamilan. Selamat istri anda sedang hamil." Ucap Dokter memberitahu.
"I-istri saya ha-hamil?" Arka memastikan dan diangguki dokter.
"Ha-ha-hamil...?"
.
__ADS_1
.
.