KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 89 - Bertemu Si Pirang


__ADS_3

Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter kandungan. Arka dan Nara keluar dari ruangan dokter tersebut.


"Mas, aku hamil. Aku hamil." Ucap Nara dengan wajah yang begitu sangat bahagia. Ia akhirnya merasakan juga rasanya mengandung seorang anak. Setelah sekian lama mengkhayal dengan harapan itu.


Arka ikut senang, melihat wajah bahagia istri tercintanya. Untung saja dokter itu dapat meyakinkan Nara. Meski tadi istri sempat menyangkal ucapan dokter. Nara keras kepala dan tidak percaya.


Dan kini, Nara sudah yakin jika ia memang hamil dan ia bukanlah wanita mandul. Istrinya sudah kembali percaya pada dirinya sendiri. Mempercayai keadaannya sekarang yang sudah berbadan dua.


"Kita akan merawat dan membesarkan anak kita bersama-sama." Ucap Arka kembali. "Kita akan menjadi Papa dan Mama, sayang."


Wajah bahagia Nara jadi merona. Mendengar kata Papa Mama. Benar, mereka dalam beberapa bulan ke depan, akan menjadi orang tua. Ia akan dipanggil Mama oleh anaknya. Dan Arka akan dipanggil Papa.


Nara merasa geli sendiri membayangkan hal seperti itu.


"Mas, kita beli perlengkapan bayi ya." Ajak Nara. Ia sedang bersemangat untuk mempersiapkan kebutuhan sang anak.


"Nanti, kamu capek loh." Arka sedikit khawatir. Kata dokter saat hamil muda, tidak dibolehkan melakukan kegiatan yang melelahkan. Karena bisa membahayakan janin dalam kandungan.


"Nggak, Mas. Kan kita cuma jalan dan lihat-lihat." Nara mengerti dengan kekhawatiran suaminya. "Aku mau mempersiapkan kebutuhan anak kita, Mas. Mumpung perutku belum membesar." Bujuk Nara kembali. Saat perutnya membesar, mungkin akan sulit berjalan nantinya.


"Baiklah, kita beli kebutuhannya." Arka akan menurut. Ia tak tega melihat wajah mewek Nara. Saat nanti melihat Nara kecapekan, ia akan menyuruh Nara untuk istirahat.


"Terima kasih, Mas Arkaku sayang." Nara memeluk lengan suaminya. Ia sangat bahagia.


"Hai..." Sapa seorang wanita membuat keduanya berhenti.


Deg


Nara terdiam melihat wanita yang berdiri di depannya.


"Hah... Ternyata benar ini kamu. Apa kabar? Sudah lama juga kita tidak bertemu." Sapa wanita itu dengan senyum mengambang.


"Iya." Jawab Nara terpaksa. Wanita itu sok kenal dan akrab dengannya.


"Siapa, sayang?" Tanya Arka ingin tahu.


Nara menggeleng. "Tidak, Mas."


"Hei... Apa kau masih marah padaku? mantan maduku!!!" Ucap wanita itu penuh penekanan.


Arka pun mulai mengerti. Wanita berambut pirang ini ternyata adalah istrinya Adam. Masih istrinya tah sudah jadi mantan istrinya? Pria itu tidak terlalu tahu kabar terbaru tentang Adam.


"Ada apa?" Tanya Nara datar. Ia melihat perut Yola yang sudah membuncit. Si pirang itu pasti sedang mengandung anak keduanya Adam.


"Ku dengar kau sudah menikah. Selamat ya Nara." Yola menyelamati Nara.


Nara tersenyum paksa sebagai jawaban.

__ADS_1


"Apa ini suamimu?" Tanya Yola menatap Arka. "Ternyata lebih tampan dari Adam."


"Kami permisi dulu." Nara sangat malas berbasa-basi dengan mantan madunya tersebut. Ia tidak mau jika nanti tiba-tiba Adam datang. Nara tidak mau bertemu dengan mantan suaminya itu.


"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang hamil, Nara?" Tebak Yola dengan senyum mengambang. Nara sepertinya sedang berbadan dua. Sama seperti dirinya.


Nara diam saja tak menyahuti. Ia merasa Yola terlalu banyak tanya.


"Kau sedang hamil. Bagaimana tanggapan Adam saat tahu mantan istrinya yang katanya mandul, ternyata sedang mengandung?!" Yola menutup mulutnya seolah sedang terkejut. Ia juga penasaran bagaimana respon Adam nanti.


"Hei... Jaga bicaramu pada istriku." Ucap Arka dengan mata tajamnya. Nara baru saja mulai percaya diri. Lah, perempuan berambut pirang ini malah mengungkit masa lalu.


"Ops, sorry. Aku cuma merasa bahagia saja. Sebagai sesama wanita, aku ikut senang dengan kehamilanmu." Ucap Yola dengan tatapan tulus.


Nara menaikkan alisnya, ia tidak mengerti melihat wanita berambut pirang itu. Sebentar seperti akan meledeknya. Dan kini tampangnya seolah mereka teman dekat, yang saling berbagi kabar gembira.


"Terima kasih. Kami permisi." Nara pun menggandeng Arka pergi meninggalkan wanita yang terus mengumbar senyuman itu. Seperti ada maksud lain yang tersirat.


"Hati-hati ya. Semoga sampai lahiran lancar." Ucap Yola mendoakan dengan tulus.


Nara menggeleng. 'Si pirang yang aneh.'


Sementara senyum Yola yang mengambang tulus, kini perlahan mulai sinis.


Sejujurnya, Yola cukup kaget dengan kehamilan Nara. Adam yang sangat yakin mengatakan bahwa Nara itu mandul. Dan sekarang, ucapan Adam terbantahkan. Nara sedang hamil.


Yola sudah membayangkan, bagaimana ekspresi Adam saat tahu mantan istrinya yang mandul, ternyata bisa mengandung?


Sudah dipastikan, Adam tidak akan terima dan kebakaran jenggot. Dan disaat itu, ia akan memanasi Adam. Untuk melepaskan putranya.


'Adam... Aku akan mengambil anakku kembali!!!'


\=\=\=\=\=\=


"Kita pulang saja ya." Ajak Arka saat dalam perjalanan. Wajah istrinya tidak bersemangat, setelah bertemu si pirang itu.


Mendengar itu, Nara pun menggeleng. Ia tidak mau pulang.


"Senyumnya mana?"


Nara pun melebarkan senyumnya.


"Istri pintar." Arka mengelus kepala Nara. "Kamu tidak aku izinkan berpikiran yang tidak-tidak."


"Aku tidak memikirkan apapun!" Sanggah Nara tidak terima.


"Aku mengingatkan. Kalau kamu banyak pikiran, akan berdampak pada anak kita."

__ADS_1


Nara melihat Arka serius.


"Kamu mau nanti anak kita lahir mukanya suntuk. Karena kebanyakan pikiran."


Nara pun mencubit perut suaminya. "Nggak seperti itu jugalah."


"Makanya kalau nggak mau begitu, jangan memikirkan yang seharusnya tidak kamu pikirkan. Pikirkan saja aku. Ketampananku, cintaku, kasih sayangku..."


Nara jadi cekikikan. Suaminya itu terlalu kepedean jadi orang.


"Iya iya. Aku akan memikirkan Mas Arka." Nara mengangguk. Dari pada memikirkan orang lain, mending mikirin suami sendiri.


Arka tersenyum. "Sayang, anak kita lagi apa ya? Apa dia lapar?" Mengelus perut Nara.


"Iya, Pa. Aku lapar." Nara menirukan suara bocah.


"Ayo, kita makan. Kamu mau makan apa?" Tanya Arka memelankan laju mobilnya. Ia melihat deretan rumah makan di pinggir jalan.


Nara mulai berpikir. Ada banyak makanan yang ingin ia makan.


"Mas aku mau makan nasi."


"Ok, kita cari nasi." Arka membelokkan mobil ke rumah makan.


Tak lama, mereka memesan makanan. Arka terpelongo melihat istrinya.


"Saya pesan ini, ini, ini, jangan terlalu pedas. Ini juga, tambah ini, minumnya air putih hangat." Nara memesan apa yang ingin ia makan.


"Sayang, sebanyak itu apa tak apa?" Arka kembali khawatir.


"Akan ku habiskan semua, Mas. Anak kamu ini, mau makan itu semua." Nara mengelus perutnya. Seolah mengatakan pesanan itu kemauan anak dalam perut.


Arka mengangguk dan memaklumi. "Anak Papa lapar ya? Makan yang banyak ya."


"Mas, peganglah. Sepertinya anak kita akan memberitahu." Nara meletakkan tangan Arka di perutnya.


Dan tak lama...


Kruk... Kruk... Kruk


"Lapar dia, Mas."


"Astaga!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2