
Pagi itu, Arka sudah rapi berpakaian kantor. Ia duduk di kursi meja makan, untuk menikmati sarapan pagi.
Baru juga duduk, tiba-tiba suasana terasa membuat merinding.
Mommy menatap dirinya dengan tatapan mata sangat tajam.
"Sudah sarapan, Mom?" Arka berbasa basi pada ibu kandungnya.
"Arka... Kapan kamu akan menikah?" Tanya Mommy segera.
Arka menghembuskan nafasnya panjang. Selalu itu saja yang ditanya Mommynya. Seperti tak ada pembahasan lain saja.
"Aku tidak akan menikah lagi, Mom."
"Apa?" Pekik Mommy membuat pria itu menutup telinganya. Suara Mommgnya terlalu menggema.
"Apa kamu mau jadi duda selamanya?"
Arka mengangguk yakin.
"Nggak bisa. Kamu harus segera menikah dan memberikan Mommymu ini cucu yang lucu." Wanita paruh baya itu ingin memiliki cucu seperti teman-teman arisannya. Yang selalu memamerkan perkembangan cucu-cucu mereka.
"Arka nggak mau menikah lagi, Mom." Arka menolak dengan jelas. Ia tidak mau mendadak duda untuk kedua kalinya.
"Arka!!! Nggak semua wanita seperti itu. Jangan kamu sama ratakan dong." Mommy sadar melihat sikap Arka seperti itu. Putranya ini pasti trauma terhadap wanita dan pernikahan.
Bahkan menurut gosip beredar yang didengar wanita paruh baya itu. Arka tak pernah dekat atau menjalin hubungan dengan wanita manapun. Pria itu seolah sudah taubat dari sikap playboynya.
Ada rasa bersyukur Mommy, karena Arka tak menjadi playboy lagi. Tapi sikapnya yang seperti ini, membuat Mommynya berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan Arka sudah tidak normal. Atau mungkin Arka sudah membelok?
"Sudahlah, Mom. Biarkan aku hidup sendiri di dunia ini."
"Jangan begitu Arka. Kamu harus menikah lalu punya anak."
"No, Mom." Arka menolak. "Aku mau sendiri menjalani hidup ini. Aku akan pergi ke kantor dulu, Mom."
Arka menyalami wanita paruh baya itu. Lalu beranjak pergi.
"Arka... Mommy akan tetap mencarikan jodoh untuk kamu." Ucap Mommy yang mengiringi langkah kaki putranya, yang tak mau mendengarkannya sedikit pun.
'Arka... kamu nggak boleh membelok, Nak.'
\=\=\=\=\=\=
Sebuah mobil berhenti di parkiran perusahaan. Arka turun dari mobil itu. Saat akan menutup pintu mobil, Ia menahan tangannya.
Dia teringat liur wanita itu yang melekat di kaca mobil dan mungkin sudah menyebar ke seluruh area pintu mobilnya.
'Dasar wanita jorok!' Arka mendengus kesal mengingat kejadian itu.
Terpaksa dengan kakinya, ia menutup pintu mobil. Ia tak mau tangannya terkena kuman yang tertinggal di sana.
Arka menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan. Ia pun melangkahkan kakinya lebar. Memasuki area kantor.
Saat dia berjalan masuk melewati lobby, banyak mata menatap kagum dirinya. Bahkan mata mereka seperti akan keluar dari tempatnya.
Semenjak Arka resmi menjadi seorang duda. Banyak karyawan wanita yang masih singel atau bersuami yang tebar pesona padanya.
__ADS_1
Tah dari mana gosip itu menyebar. Hingga para karyawan tahu bahwa sekarang statusnya adalah seorang duda.
"Pagi Pak Arka." Sapa sekretarisnya dengan gaya centil dan penuh senyum menggoda.
Arka tak menanggapi, pria itu segera masuk ke ruangannya.
Pria itu mendudukkan diri di kursi kebesarannya.
Tok
Tok
Tok
Tak lama pintu diketuk.
"Masuk."
"Pak Arka, ini berkas yang anda minta." Sekretaris itu meletakkan berkasnya ke meja kerja Arka.
Arka mengalihkan pandangan. Wanita itu sengaja terlalu menunduk, hingga sesuatu yang menonjol terlihat jelas.
Arka mengepakkan tangan mengusir wanita itu.
"Pak Arka mau kopi? kopi buatan saya, tanpa sianida, lho. Atau mau kopi susu? Susunya langsung dari sumbernya!" Ucapnya sambil membenarkan blousenya yang kancingnya sudah terbuka 3.
Arka menunjukkan wajah datar dengan tatapan mata yang tajam.
"Saya permisi Pak."
Setelah sekretaris itu keluar, Arka menghembuskan nafas berkali-kali. Melihat tingkah sekretarisnya.
Hanya 2-3 hari sekretarisnya bersikap formal padanya. Setelah itu mereka secara terang-terangan menggoda dirinya.
Apa mungkin karena status dudanya?
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Arka berusaha tetap tenang.
"Pak Arka, hari ini jam 2 akan ada meting dengan departemen keuangan." Ucap Sam memberitahu.
Ternyata sang asisten yang masuk. Ia tadi mengira sekretaris penggoda itu yang masuk.
"Sam... ganti sekretaris di depan dengan sekretaris yang baru." Pinta Arka.
"Ganti? Lagi?" Tanya Sam memastikan. Baru beberapa hari, atasannya sudah mau mengganti sekretarisnya.
Arka menggangguk.
"Baik, Pak." Jawab Sam segera, tatapan mata Arka tak baik untuk kelangsungan kehidupan masa depannya.
"Tunggu, coba kamu cari sekretaris yang benar-benar ingin bekerja. Bukan untuk menggodaku." Arka sangat muak, bergonta-ganti sekretaris.
__ADS_1
"Semua berniat bekerja, Pak. Mungkin-" Sam berhenti bicara merasakan aura mencekam.
"Kamu cari yang berniat bekerja." Pinta Arka dengan tegas.
Sam membuka tabletnya. "Ini ada beberapa pelamar yang mengirim lamaran, Pak."
"Berapa usia yang paling tua?" Tanya Arka langsung.
"Hmm... 27 pak." Jawab Sam cepat. Usia max pelamar 27 tahun.
"Kenapa 27? Apa nggak ada diatas usia itu?" Arka tak ingin sekretaris usia seperti itu lagi. Yang selama ini, mereka bekerja hanya untuk menggoda dirinya.
"Itu persyaratan karyawan, Pak." Jawab Sam mengingatkan syarat perekrutan karyawan di perusahaan itu.
"Yang sudah menikah?" Mungkin jika sudah menikah, tidak akan menggoda Arka. Dan sekretaris itu bisa bekerja dengan benar dan serius.
Jadi Arka tak perlu menggonta-ganti sekretaris lagi.
"Syarat pelamar belum menikah, Pak." Lagi, Sam mengingatkan syarat-syarat perusahaan.
'Astaga!!!' Arka memijat pilipisnya. Tah siapa yang pertama kali membuat aturan seperti itu.
"Apa tak ada pelamar yang usianya di atas itu? Atau yang sudah menikah?" Tanya Arka serius. Jika seperti ini, mungkin ia akan membuat aturan baru saja.
Sam tampak sibuk, menscrol tabletnya. Melihat data pelamar yang masuk.
"Ini ada, Pak." Sam menemukan satu pelamar yang mungkin sesuai kriteria Arka.
Arka melihat Sam dengan serius.
"Nara Amelia, usia 30 tahun, seorang jan-da." Sam memelankan suara saat memberitahu status.
"Jan-da?" Arka memastikan yang didengarnya.
"Iya, Pak. Di lamarannya tertera seperti itu. Pelamar seorang janda." Sam menunjuk tablet di tangannya.
Arka mulai berpikir. Pelamarnya janda? Apa sama akan menggodanya juga seperti sekretaris yang belum menikah lainnya?
"Terima dia." Arka akan mencobanya. Jika sama seperti sekretaris pendahulunya, ia akan mengganti sekretaris baru itu segera.
Tidak ada yang sulit, bukan.
"Ta-tapi, Pak. Pelamar ini tidak sesuai dengan persyaratan perekrutan karyawan." Sam kembali memberitahu.
"Terus?" Arka menaikkan alisnya. Asistennya itu makin lama makin sangat menyebalkan. Tinggal patuhi saja perintahnya, malah banyak tanya.
"Kamu sudah bosan bekerja di sini?" Tanya Arka kemudian.
"Segera saya laksanakan perintah anda, Pak. Saya permisi." Sam bergegas keluar dari ruangan itu.
Setelah Sam keluar, Arka memijat keningnya.
'Semoga saja, pelamar itu bukan janda penggoda!'
.
.
__ADS_1
.