KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 81 - Malam Pertama


__ADS_3

Warning 21+


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Resepsi pernikahan yang sangat melelahkan telah berakhir. Arka dan Nara kini berada di sebuah kamar hotel. Yang rencananya mereka akan menginap selama 2 hari di tempat itu.


Arka melihat ke arah Nara. Saat Nara melihat ke arahnya, pria itu segera membuang wajahnya. Keduanya saling bingung dan gugup dengan perasaan masing-masing. Ini pertama kalinya, mereka bersama dalam sebuah kamar.


"Kamu mau mandi?" Tanya Arka kemudian. Mereka masih memakai pakaian pernikahan.


"I-iya Mas." Ucap Nara menjawab. Ia sejenak melihat Arka. Lalu segera membuang wajahnya.


"Ya sudah, kamu mandi duluan." Tawar Arka.


"Ti-tidak. Mas Arka saja." Tolak Nara.


"Kamu saja."


"Mas saja."


"Kamu."


"Mas."


"Atau kamu mau kita mandi bersama saja..." Ucap Arka. Matanya melihat Nara yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Tak berapa lama...


"Mas Arka." Panggil Nara dari dalam kamar mandi.


"Iya, sayang." Jawab Arka.


"Mas, bisa minta tolong."


"Bisa." Jawab Arka cepat.


"Tolong ambilkan koperku."


Arka tersenyum. Nara masuk begitu saja. Pasti wanita itu lupa membawa handuk dan pakaiannya. Otak Arka sudah membayangkan wanita itu tanpa busana.


"Sebentar ya." Arka menuju koper Nara. Ia pun membukanya. Melihat apa saja yang dibawa istri barunya itu.


Segitiga pengaman penuh renda. Kaca mata gantung berbusa. Dan... Arka mengambil sebuah pakaian yang tembus pandang.


'Wow!'


"Mas, mana?" Tanya Nara yang mulai kedinginan. "Kopernya di dekat tempat tidur."


"Iya-iya. Ini." Arka memberikan pakaian pada Nara.


"Mas Arka!!! Koperku mana?" Tanya Nara dengan nada kesal. Ia meminta dibawakan koper. Lah, Arka malah membuka isi kopernya dan memberikan padanya pakaian dinas malam.


"Pakai itu saja. Kamu nggak akan kepanasan. Banyak rongga udaranya itu." Ucap Arka sambil tersenyum senang menggoda Nara


"Mas Arka!!!" Pekik Nara kembali.


"Kamu pasti sangat seksi memakai itu."


"Mas Arka, berikan koperku."


Tak lama...

__ADS_1


Arka sudah keluar dari kamar mandi dan melihat Nara yang sudah di tempat tidur. Istrinya itu bergumul dalam selimut.


'Ngambek!' Arka yakin Nara sedang merajuk padanya. Akibat tadi ia tidak memberikan kopernya. Hingga membuat Nara terpaksa keluar dengan memakai pakaian seksi itu untuk mengambil kopernya.


"Sayang." Panggil Arka yang sudah berada di tempat tidur. Ia membuka selimut yang menutupi wajah Nara.


Saat selimut itu dibuka, Nara sudah terpejam.


"Sayang, kamu pura-pura tidur kan. Ini malam pertama kita." Arka tak mau melewatkan malam pertama mereka.


Melihat Nara masih enggan membuka mata. Arka pun perlahan menkecupi seluruh wajah Nara. Tak ada respon, kecupan Arka turun ke leher putih itu. Lalu turun lagi ke bahu Nara.


Arka tersenyum merasakan tubuh Nara yang mulai merinding. Pria itu juga perlahan meniup telinga Nara.


"Mas Arka." Nara tidak bisa berpura-pura tidur lagi. Hembusan nafas pria itu membuat telinganya jadi geli.


Glek


Nara segera mengalihkan wajahnya. Saat ini Arka tidak memakai pakaian. Hanya bertelanjang dada. Menunjukkan roti sobeknya, membuat Nara ingin menikmatinya.


"Maaf. Tadi aku hanya becanda." Arka meminta maaf dengan tulus. "Istriku maafkan suamimu ini."


Rengekan Arka membuat Nara jadi tersenyum. Wajah Arka merengek minta dikasihani.


"Sayang, aku mencintaimu." Ungkap Arka lembut, seraya menatap mata yang sendu itu.


Arka mendekatkan wajahnya, perlahan merasakan bibir manis merah menggoda Nara.


Ciuman yang perlahan lembut mulai berebut. Saling membalas diiringi detakan hati yang saling bertalu.


Arka sudah berada di atas Nara, mengukung wanita itu. Nara melingkarkan kedua tangannya di leher Arka. Dan kembali saling berciuman mesra.


Arka terus menggoyang pinggulnya. Memberikan hentakan-hentakan yang membuat wajah Nara memerah. Juga membuat Nara terus mendeesah di bawah kungkungannya.


Pagi menjelang, Nara terbangun dan dihadapkan langsung dengan tubuh tegap di sampingnya.


"Pagi, sayang." Sapa Arka tersenyum manis. Ia menkecup kening Nara cukup lama.


Masih pagi, Arka kembali membuat berdebar-debar di dada.


"Mau mandi bareng?" Tanya Arka dengan senyum menggodakan iman.


Nara dengan cepat menggeleng. Ia kembali menutupi diri dengan selimut. Arka membuatnya sangat malu.


"Ayo, sayang." Ucap Arka senang.


"Mas Arka!!!" Pekik Nara kesal, pria itu menghempas selimutnya. Membuat tubuh polosnya terpampang jelas.


Nara bangkit dan meraih selimut yang telah dicampakkan Arka. Dengan cepat ia kembali menutupi tubuh polosnya. Lalu melihat Arka dengan tatapan sinis.


"Apa kamu masih malu? tadi malam aku sudah melihat semuanya. Tak ada lagi yang perlu kamu tutupi dariku. Ayo, kita buka sayang." Arka mendekat, ia akan menarik selimut Nara.


"Mas Arka!!!" Nara menjauh dari pria yang mulai menunjukkan wajah mesumnya.


"Nara... Kamu lucu banget sih!" Arka makin gemas dengan istrinya tersebut. Nara sudah berlari memasuki kamar mandi.


Tak beberapa lama, mereka berdua sarapan. Arka terus tersenyum melihat Nara sarapan. Wanita itu makan dengan lahap.


"Lapar ya?" Tanya Arka. "Ini punyaku, makanlah."


"Tidak usah, Mas. Aku sudah kenyang. Sekarang Mas Arka makan ya." Nara telah selesai makan.

__ADS_1


"Suapi." Pinta Arka manja. Nara pun menyuapi pria itu.


"Oh iya, Mas Arka. Kapan kita adopsi anak?" Tanya Nara ingin tahu. Karena mereka sudah sama-sama sepakat saat itu.


"Kamu ingin merawat anak?" Tanya Arka dengan wajah serius.


Nara mengangguk pelan. "I-iya, Mas." Mendengar suara tangisan bayi pasti menyenangkan.


"Mas, kita adopsi yang masih bayi saja." Saran Nara kemudian.


Arka tampak berpikir. Mereka baru saja menikah.


"Sayang, tahun depan saja ya. Aku masih ingin berduaan sama kamu."


"Ta-tapi, Mas."


"Sayang, biarkan semua berjalan sewajarnya. Semua itu ada waktunya." Arka meyakinkan Nara.


Nara menatap Arka dengan mata berkaca-kaca. "Apa Mas yakin aku bisa-"


Nara tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia memegangi perutnya. Mendengar perkataan Arka yang akan mengadopsi anak tahun depan. Membuat Nara beranggapan, mungkin Arka menunggu kehadiran anak dalam pernikahan mereka.


"Sayang, bukan begitu maksudku..." Arka merasa bersalah melihat wajah mewek Nara.


"A-aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama kamu." Arka meraih tubuh mungil itu dan memeluknya.


"Ayo kita jalan-jalan!" Ajak Arka kemudian. Dari pada terus membahas masalah anak. Membuat istri cantiknya bertambah sedih.


"Ayo, Mas."


"Kamu mau ke mana?"


"Hmm." Nara berpikir. "Aku ingin berlayar, Mas."


"Ok. Kamu bersiap-siaplah. Kita akan pergi berlayar." Arka pun bangkit dari duduknya.


Pria itu mengambil jaket dan memakainya. Ia melihat Nara yang masih diam di sofa itu.


"Kenapa kamu belum bersiap?" Tanya Arka.


"A-aku kan mau berlayar di hatimu, Mas." Ucap Nara dengan wajah memerah.


Mendengar itu, wajah Arka begitu berbinar. Ia melepas jaketnya.


"Ayo, kemarilah." Arka merentangkan tangannya. Nara bangkit dan berlari kecil menuju suami tercintanya.


Nara melingkarkan tangan di leher Arka. Pria itu telah menggendong dirinya ala koala.


"Kita sudah melewati malam pertama. Dan sekarang, kita harus melewati pagi pertama." Arka mengkedipkan mata genitnya.


"Ada pagi berarti ada siang dan sore juga?" Tanya Nara.


Arka mengangguk. "Sepanjang hari ini, aku ingin mendengar suara desaahanmu."


"Mas Arka!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2