
Di pagi yang cerah, Nara bangun dengan senyum melebar. Ia pun segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Hari ini Nara begitu sangat rajin. Ia mengelap kaca jendela hingga kinclong. Lalu membersihkan rumah. Menyapu dan mengepel lantai hingga bersih.
'Sudah bersih!' Batin Nara sambil menyeka keringat yang berjatuhan.
Tadi malam, Arka menelepon dan akan mengajaknya pergi hari ini. Pria itu ingin menjemputnya dari rumah. Dan Nara menyetujuinya. Makanya Nara pagi-pagi sudah membersihkan rumah. Ia tak mau Arka datang, rumahnya belum bersih.
Setelah selesai membereskan rumah. Nara membantu Bunda membuat sarapan di dapur.
"Siapa yang mau datang?" Tanya Bunda mengulum senyum. Nara pagi-pagi sudah membersihkan rumah, biasanya jika hari libur putrinya bangun saat matahari sudah berada di tengah.
Nara tampak bingung menjawab. "I-itu, Bun."
"Itu apa?" Tanya Bunda kembali. Nara bicara setengah-setengah.
"Itu lho, Bun. Itulah." Nara menundukkan kelapa. Rasanya ia malu dan canggung mengatakan, jika kekasih hatinya yang akan datang. Pria yang telah mencuri hatinya.
"Pacar kamu?!" Tanya Bunda memastikan.
Nara mengangguk pelan. "Bo-bolehkan, Bun. Kalau dia datang kemari?" Tanya Nara takut-takut.
"Kenapa nggak boleh? Bunda juga mau lihat dia. Apa dia pria baik?" Tanya Bunda serius menatap wajah putrinya yang sudah merona.
Nara mengangguk malu dan segera memeluk Bundanya.
Bunda menggeleng sambil tersenyum. Ia berharap pria yang dekat dengan putrinya adalah pria baik.
"Bun, Na-Nara mau mandi dulu." Nara segera beranjak pergi. Ia jadi gugup sendiri.
Bunda melanjutkan membuat sarapan. Dan...
Tok... Tok... Tok
'Apa pacar Nara sudah datang?!' Bunda melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 8 pagi.
Bunda mematikan kompor dan berjalan untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka...
"Se-selamat pagi, Bu." Sapa seorang pria dengan senyum merekah.
"Pak Arka." Ucap Bunda melihat atasan Nara yang datang.
'Apa dia orangnya?!' Bunda jadi menebak-nebak. Apa kekasih putrinya adalah pria tampan ini?
"Na-Naranya ada Bu?" tanya Arka sambil menyalami tangan wanita paruh baya itu, sebagai bentuk kesopanan.
Bunda semakin yakin. Melihat sikap pria ini. Mereka pasti mempunyai hubungan khusus.
"Nara lagi mandi. Ayo... Silahkan masuk, Pak." Bunda mempersilahkan Arka masuk.
"Te-terima kasih." Arka mengangguk pelan. "Oh iya, Bu. Ini untuk anda." Arka memberikan keranjang berisi buah-buahan.
"Aduh, Pak Arka. Kenapa jadi repot-repot?!" Basa basi Bunda menerima keranjang tersebut.
__ADS_1
"Nggak kok, Bu. Ini juga..." Arka memberikan bungkusan yang lain.
Tak lama Bunda terbengong melihat buah tangan yang dibawa atasan Nara itu.
Buah, roti, kue, kopi, dan berbagai macam cemilan memenuhi meja ruang tamu.
"Sa-saya nggak tahu Ibu suka apa, jadi saya bawa saja ini semua." Ucap Arka sambil tertawa sumbang. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena mendadak gugup.
"Hah... Iya-iya. Terima kasih banyak, Pak Arka." Bunda mengangguk, menghargai pemberian Arka.
"Siapa yang datang, Bun?"
Glek
Arka menelan salivanya saat mendengar suara bariton itu.
"Atasan Nara yang datang." Jawab Bunda.
"Untuk apa dia datang pagi-pagi? Bukannya ini hari minggu?!" Tanya Ayah merasa aneh.
"Se-selamat pagi, Pak." Sapa Arka sopan. Ia pun menyalami tangan calon mertuanya tersebut.
Di salami seperti itu, membuat Ayah bingung. Dan melihat ke arah Bunda.
Bunda tersenyum sambil menggelengkan kepala. Memberikan isyarat kode agar mengerti sajalah.
Ayah juga melihat banyaknya makanan di atas meja. Apa semua dibawa oleh pria muda ini?
"Silahkan duduk." Ayah pun mempersilahkan Arka untuk duduk.
Tiba-tiba Arka merasakan tubuhnya merinding. Tatapan pria di hadapannya ini membuatnya ciut seketika.
Tatapannya datar, tapi begitu mematikan.
'Demi Nara...!!!'
\=\=\=\=\=\=
Nara keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terlilit handuk. Ia meraih ponselnya. Mungkin ada pesan selamat pagi dari Arka.
Pak Bos: Aku sudah sampai rumah kamu
'Apa???'
Mata Nara hampir keluar membaca pesan tersebut. Pesan yang dikirim pukul 8 pagi dan sekarang sudah pukul 9.
Nara pun segera berlari keluar kamar. Arka mengatakan akan datang pukul 10. Kenapa masih jam 8 pria itu sudah datang? Apa pria itu sudah berada di dalam rumahnya? Atau masih menunggu di luar?
"kok?" Nara terdiam di ruang tamu. Melihat pemandangan itu.
Terlihat Ayah bersama dengan seorang pria.
"Saya kalah lagi, Pak." Tawa Arka yang kembali kalah bermain catur.
"Kamu masih harus belajar."
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan saya menjadi murid Bapak."
Kedua pria berbeda generasi itu tampak mengobrol dengan santai diiringi tawa.
"Nara." Ucap Arka saat melihat wanita itu berdiri dengan handuk masih terlilit di kepala.
"Anda-anda... sudah datang?"
Arka mengangguk sebagai jawaban. Wajahnya sudah bisa tersenyum lebar sekarang. Setelah berusaha keras mencairkan kegugupan dengan pria paruh baya tersebut.
Tak lama, mereka sarapan bersama. Bunda mengajak Arka untuk makan bersama.
"Ayo, Pak." Ajak Nara menganggukkan kepala. Ia sudah menyisir rambutnya rapi.
Arka pun duduk di kursi makan. Nara menghidangkan sarapan di atas meja.
Bunda mengambilkan Ayah sarapan. Lalu Nara mengambilkan untuk pria di sampingnya itu.
"Makan yang banyak." Tawar Ayah. Melihat Nara sedikit mengisi piring untuk pria itu.
"Sudah cukup, Pak." Arka menolak halus. Porsinya sudah cukup diambilkan Nara. Karena sebelum keluar, dia juga sudah sarapan.
Mereka pun sarapan bersama. Nara merasa canggung dengan tatapan Bunda yang selalu tersenyum.
'Mereka sangat cocok!' Bunda senang melihat Nara bersama pria tampan itu. Arka sepertinya pria baik dan bertanggung jawab.
Setelah selesai makan, Arka meraih tangan Nara di sampingnya.
Nara melihat ke arah Arka dengan wajah ketakutan. Arka berani memegang tangannya ketika ada kedua orang tuanya.
"Ada hal penting yang ingin saya katakan kepada Bapak dan ibu." Ucap Arka dengan wajah tegas.
Ayah dengan wajah serius melihat ke arah pria itu.
Arka menetralkan detakan jantungnya. Tatapan pria paruh baya itu lagi-lagi membuatnya gugup. Arka perlahan menarik nafas pelan.
"Saya mencintai Nara. Dan saya meminta izin pada Bapak dan Ibu untuk menikahinya." Ucap Arka cepat dan tegas. Dengan tatapan serius penuh ketulusan.
"Mas..." Ucap Nara pelan. Ia tak menyangka Arka mengatakan hal seperti itu.
Lagi dan lagi, Bunda tak dapat menahan senyumannya. Arka mengatakan niat hatinya dengan begitu tulus.
Berbeda dengan Ayah. Yang masih menatap Arka dengan sorot mata datar. Mencari ketulusan dan keseriusan di mata pria itu.
"Saya sangat serius dengan Nara. Saya berharap Bapak dan Ibu dapat merestui." Tambah Arka kembali meyakinkan, jika ia sangat serius dengan semua perkataannya.
Nara terpaku sesaat mendengar ucapan Arka. Pria itu begitu sangat serius dan tulus mengatakan maksud hatinya. Bukan hanya di depannya saja. Tapi, langsung di depan kedua orang tuanya.
Dan lagi... Hati Nara berdebar kembali.
"Aku tidak setuju...!!!"
.
.
__ADS_1
.