
"Aku akan bercerai dari Yola, Ma." Ucap Adam melihat sang Mama yang sedang membuat sarapan.
Tadi malam, Adam meninggalkan rumah dan membawa sang putra ke rumah keluarganya. Ia tak mau, Mario tinggal dengan wanita pengkhianat itu.
"Kalian sudah menikah dan punya anak. Coba bicarakan secara baik-baik." Saran Mama. Adam sudah memiliki anak dari wanita itu. Bagaimana pun juga, wanita berambut pirang itu ibu kandungnya.
"Tidak bisa, Ma. Aku tidak akan bisa bertoleransi dengan perselingkuhan. Yola juga ingin bercerai denganku. Jadi untuk apa aku pertahankan." Adam masih dengan keputusannya. Ia juga sudah lelah menghadapi sikap dan sifat wanita itu. Yang jauh berbeda dengan Nara.
Mama diam. Adam tidak mau dikhianati. Padahal dulunya, putranya ini juga telah mengkhianati Nara. Wanita yang begitu tulus mencintai dan menerima putranya.
"Ma, izinkan aku dan Mario tinggal di sini. Nanti setelah selesai perceraian, kalian pindah saja ke rumahku." Adam mengutarakan niatnya. Ia tidak bisa membiarkan Mario tinggal sendirian. Dan tak mungkin juga Mario dibawa bekerja.
"Ya, Ma. Nanti aku akan pekerjakan baby sister untuk Mario. Mama hanya mengawasinya saja." Adam memohon.
"Nanti kita bicarakan dengan adik-adikmu ya." Semua harus dikompromikan terlebih dahulu.
"Kamu nggak pergi kerja?" Tanya Mama kembali.
Adam menggeleng. "Aku ambil cuti 3 hari, Ma." Adam akan menjaga Mario, takutnya Yola datang saat ia sedang pergi ke kantor. Dan mengambil anaknya.
"Mas Adam... Kembalikan Mario."
Baru juga dipikirkan, wanita itu sudah sampai rumah Mamanya saja.
Adam bangkit dan beranjak akan menemui wanita yang berteriak-teriak. Hari juga masih pagi, sudah membuat keributan.
"Ada apa? Bisanya pagi-pagi menganggu ketenangan saja." Ucap Adam begitu membuka pintu.
"Mana Mario?" Yola mendorong Adam untuk masuk dan ia akan menjemput Mario.
"Jangan kamu berani-beraninya mengambil Mario dariku!!!" Adam mencekam tangan Yola dengan kuat.
"Mas, Mario anakku. Aku ibunya, aku yang lebih berhak atasnya." Yola memaksanya.
"Ibu macam apa yang menitipkan anaknya untuk pergi dengan selingkuhannya?!" Adam mengingatkan perlakuan Yola.
Yola diam. Selama ini ia memang menitipkan Mario, lalu pergi menemui pria itu.
"Kamu tidak berhak atasnya. Lebih baik kamu pergi saja." Usir Adam menggeret Yola keluar dari rumahnya.
"Mas, Mario anakku!"
"Diamlah!!!" Adam tak peduli, ia tetap mengeret Yola.
"Sampai bertemu di pengadilan!" Adam menepis tangan Yola dengan kuat.
"Mas, kembalikan Mario padaku. Aku akan membesarkan Mario bersamanya!" Yola berteriak-teriak di depan rumah Adam.
Adam yang kesal kembali membuka pintu, menemui wanita tersebut.
"Pergilah... Jangan sampai aku memanggil warga untuk mengusirmu!!!"
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
"Mas, kenapa jemput lagi sih? Aku bisa ke kantor naik ojek loh." Nara memasang sabuk pengamannya. Ia merasa tidak enak hati, Arka kembali menjemputnya.
"Sekalian jalan, Sayang." Jawab Arka sambil memasang sabuk pengaman juga. Ia melirik paper bag yang dibawa Nara.
"Kamu bawa apa?" Tanya Arka.
"Kukis, Mas. Untuk ibu anda." Jawab Nara sambil tersenyum.
"Untukku?" Tanya Arka. Jika untuk Mommynya, sudah dipastikan dia tidak akan kebagian.
"Ada." Nara mengeluarkan satu toples untuk Arka.
"Terima kasih, Sayang." Arka mengelus kepala Nara. "Masukkan dalam tas kamu saja, aku ingin memakannya di kantor."
Nara mengangguk dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Yang untuk Mommyku letak saja di kursi belakang. Jangan dibawa ke kantor. Nanti habis diminta." Tawa Arka dan membuat Nara jadi tertawa juga.
Sepanjang perjalanan, Nara tersenyum-senyum melihat pria yang sedang fokus menyetir. Pagi-pagi ia disuguhi pemandangan wajah tampan, yang membuat hati menjadi nyaman.
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Arka melirik Nara sejenak, lalu kembali fokus pada jalanan.
Wajah tampan Arka, semakin dilihat semakin makinlah. Nara masih terpaku pada pesona Arka.
"Sayang..." Arka mencubit pipi Nara, menyadarkan Nara dari lamunannya.
"Hah? I-iya, Mas?" Tanya Nara bingung dan segera mengalihkan pandangannya. Ia tidak mau Arka melihat wajahnya yang sudah merona.
Nara menggeleng. "Ti-tidak ada, Mas."
Tak lama mobil pun berhenti. Nara membuka sabuk pengamannya.
"Aku masuk dulu, Mas." Pamit Nara menundukkan kepala sejenak.
Nara keluar dari mobil dan ia terkejut ketika melihat Arka keluar juga dari mobil. Pria itu menghampirinya.
"Ayo, kita masuk bersama." Arka meraih tangan Nara dan menggenggamnya erat.
"Pak!!!" Nara menggeleng. Mereka masuk bersama dengan bergandengan tangan. Para karyawan pasti akan menggosipkan mereka.
"Ayo!!! Cepat atau lambat, mereka juga akan tahu hubungan kita."
"Tapi, Pak. Tidak sekarang juga-"
"Nara..." Potong Arka. "Mau sampai kapan? Mereka harus tahu kalau kita sudah bersama. Jadi tidak ada lagi yang berusaha merayu aku ataupun kamu."
"Tapi-"
"Apa kamu rela, ada yang merayuku?"
"Tidak, Pak." Jawab Nara cepat dan menutup mulutnya saat menyadari ucapannya yang keluar begitu saja.
"Ayo, sayang." Arka tersenyum dan semakin mengeratkan tangan.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak." Sapa Sam saat menghampiri keduanya.
"Pagi." Jawab Arka dengan wajah santai.
Nara berusaha melepaskan tangan Arka. Ia malu, Sam terus menatapnya dengan ekspresi curiga.
"Selamat pagi, Nara." Sam juga menyapa Nara yang jadi menundukkan kepala. Sepertinya wanita itu malu dan gugup.
"Pa-pagi, Pak." Jawab Nara gugup tanpa melihat Sam.
Sam menggulum senyum, melihat pasangan ini yang sepertinya akan terang-terangan menunjukkan hubungan mereka, yang selama ini sudah disembunyikan.
"Gandengan terus, Pak. Seperti mau menyeberang jalan saja." Ucap Sam meledek keduanya. "Haha... Saya permisi, Pak. Ada yang harus segera saya kerjakan."
Sam segera kabur meninggalkan mereka, saat melihat tatapan mata pria itu. Yang tajam setajam silet.
"Mas, pak Sam jadi tahu itu." Nara akan melepaskan kembali genggaman tangan Arka.
"Biarkan saja. Aku mau semua orang tahu kalau kamu milikku. Ayo, sayang..." Arka menggandeng Nara. Ia sudah tidak mau merahasiakan lagi hubungan mereka. Semua orang harus tahu jika Nara adalah wanita yang dicintainya.
Mereka berjalan bergandengan tangan memasuki loby kantor. Nara hanya menundukkan kepala. Ia tidak mau melihat tatapan para karyawan.
Berbeda dengan Nara. Arka sama sekali tidak peduli. Meski para karyawan melihat mereka dengan berbagai ekspresi.
"Kenapa kamu terus menundukkan kepala? Lain kali tegakkan kepalamu." Arka mengingatkan Nara. Ia melepaskan genggaman tangan setelah sampai di depan meja kerja sang sekretaris tercintanya.
"I-iya, Pak." Jawab Nara pelan.
"Mana kukisku?" Arka menengadahkan tangannya.
Nara membuka tas dan mengambil toples kukis.
"Apa kamu mau?" Tawar Arka.
Nara menggeleng. "Itu untuk anda."
"Aku habiskan ya."
"Selamat menikmati, Pak."
Arka melangkah masuk ke ruangannya sambil membawa toples kukis. Ia pun duduk di kursi kebesarannya dan membuka toples tersebut.
Wajah Arka gemas melihat bentuk kukisnya. Nara membuatkan kukis berbentuk hati.
Arka memakan sambil memejamkan mata merasakan rasa manis kukis tersebut.
'Makan kukis bentuknya seperti ini, bikin aku makin love love sama kamu, Nara...'
.
.
.
__ADS_1