
'Kiriman?'
Nara segera turun ke loby, tadi resepsionis mengatakan ada paket yang dikirim untuknya.
"Terima kasih." Ucap Nara menerima paket tersebut.
'Da-dari saya?' Nara kaget membaca nama pengirim. Dari Saya, nama yang sama dengan pengirim bunga semalam.
Nara pun bergegas kembali ke atas. Ia penasaran ingin segera membuka kiriman itu. Apa isinya? Apa mungkin bom?
Tapi sepertinya tidak, kotaknya tidak terlalu besar dan juga berat.
Setelah tiba di meja kerjanya, Nara membuka paket itu.
'Ini?' Nara terdiam melihat isinya. Ia mengambil isi tersebut yang ternyata adalah sebuah ikat rambut kain berwarna hitam.
"Gimana? Apa kamu suka ikat rambutnya?" Tanya seorang pria dari belakang.
Nara terkejut dan membalikkan tubuhnya. Ternyata, Arka sudah berada didekatnya saja. Tak terdengar suara langkah kakinya. Mungkinkah pria itu tidak mencecah lantai?!
Tunggu dulu... Pria itu membicarakan tentang ikat rambut. Apa pengirim dari saya itu memang benar adalah atasannya?
"A-i-pak-sa-" Nara mendadak bingung mau mengatakan apa.
Arka meraih ikat rambut dari tangan Nara. Ia pun memasangkan ikat rambut tersebut.
Nara terdiam saat tangan Arka menyentuh rambutnya. Pria itu memasangkan ikat rambut dari depan, hingga Nara dapat mendengar detak jantung atasannya tersebut.
"Cantik." Puji Arka setelah memasangkannya.
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak bisa menerimanya." Nara segera melepas ikat rambut itu dan mengembalikan ke tangan Arka.
Nara menyadari atasannya itu sedang berusaha mendekatinya. Ia harus menjaga jarak aman. Bagaimanapun, Nara sudah tidak mau membuka hatinya lagi.
"Kenapa kamu selalu menolak niat baik saya, Nara?" Tanya Arka yang merasa kesal. Wanita itu selalu menolaknya mentah-mentah.
"Itu Pak... Itu-"
"Kalau kamu nggak mau, kamu buang saja!" Arka meletakkan ikat rambut itu di atas meja Nara. Lalu kembali masuk ke ruangannya.
Arka merasa kecewa dan marah. Nara sudah membangun tembok setinggi langit untuknya. Bagaimana dia melewatinya? Naik helikopter?
'Dia marah?!' Nara bingung melihat sikap atasannya itu. Ia memang tak bisa menerima pemberian Arka.
Jujur Nara sudah tak mau menjalin hubungan dengan siapapun. Jika ia menerimanya, sama saja ia memberikan harapan palsu pada atasannya itu.
Dan itu bisa mempengaruhi posisinya sekarang. Arka bisa saja memecatnya, bukan.
Nara membuang bungkus paket dan meletakkan kembali ikat rambut itu di dalam kotaknya.
Wanita itu kembali pada pekerjaannya. Terserahlah atasannya itu. Sebelum dia dipecat, bukannya dia harus tetap bekerja dengan baik. Bagaimanapun ia masih gajian bulan depan, kan.
Mata Nara kembali meliriknya sekilas. Ia mengambil kotak itu dan melihatnya kembali.
Tiba-tiba... Wanita itu mengusap matanya. Sepertinya ia salah lihat.
"1, 2, 3, 4, 5, 6? Angka nolnya ada 6?" Ucap Nara pelan tak percaya. Harga ikat rambut itu sejuta.
'Se-se-sejuta? Ikat rambut harga sejuta?!
Nara tercengang melihat harga ikat rambut itu. Harganya begitu mahal. Apa karena merek? bahan? atau apa yang membuatnya bisa semahal itu?
__ADS_1
Ikat rambut kecil itu, lebih mahal dari outfit yang dipakainya. Baju, rok, sepatu, tas bahkan tambah pakaian dalam. Jika ditotal semua tak akan menyentuh harga ikat rambut kecil tersebut.
'Ini terlalu mahal! Aku harus kembalikan!' Nara pun bangkit.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Ucap Arka. Ia melihat sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke layar komputernya.
"Pak Arka." Ucap Nara gugup dan takut. Wajah atasannya itu tegang dan sangat serius.
"Ada apa?" Tanya Arka tanpa melihat Nara.
"I-ini saya kembalikan. Saya tidak bisa menerimanya." Nara meletakkan kotak ikat rambut tersebut.
Arka merasa kesal, wanita ini tetap tak mau menerima pemberiannya.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak mau menerimanya?" Arka mengalihkan tatapannya ke Nara. Ia akan mendengarkan alasan wanita itu menolak pemberiannya.
"I-i-ikat rambut itu terlalu mahal." Ucap Nara cepat.
'Mahal? Apa sejuta mahal?'
"Berapa biasanya harga ikat rambut?" Arka malah membahas ikat rambut.
"Hah?" Nara bingung dengan pertanyaan Arka.
"Ha-harganya bervariasi. Paling murah seribuan." Nara menjawab menurut pengalamannya selama ini membeli ikat rambut.
Arka mengangguk, pria itu akan bersikap positif.
"Lima ribu, Pak."
"Kamu beli di mana?"
"Di pa-sar."
"Baiklah, nanti sore kamu temani saya membeli ikat rambut di sana!"
"Hah?"
"Nanti sore saya tunggu kamu di parkiran." Ucap Arka dengan senyum tipis.
"Ta-tapi, Pak. Sa-saya tidak bisa menerima ikat rambut-"
"Siapa yang mau memberikan ikat rambut itu padamu?" Arka menaikkan alisnya.
"Ta-tapi itu-" Nara benar-benar tak bisa menjawab. Sepertinya atasannya itu sedang mengerjainya.
"Saya ingin membeli ikat rambut yang harga lima ribu itu untuk ibu saya. Apa kamu keberatan menunjukkan toko ikat rambut itu pada saya?" Arka menunjukkan sorotan mata tajamnya.
Nara menggeleng cepat. "Ti-tidak, Pak. Saya akan tunjukkan pada anda di mana tokonya!"
\=\=\=\=\=\=
Arka memasukkan kotak ikat rambut ke jasnya. Dengan senyum melebar ia keluar dari ruangannya. Ia kembali menormalkan wajahnya saat melihat wanita itu.
"Ayo!" Ucap Arka.
__ADS_1
"Akan saya share lokasinya, Pak." Nara menekan-nekan ponselnya.
"Apa saya pergi sendiri? apa kamu sibuk hingga tak bisa menemani saya?" Arka mendengus. Untuk apa dia pergi sendiri? Ia saja hanya beralasan ingin membeli ikat rambut itu, agar bisa mengantar Nara pulang.
"Kalau begitu, Ba-bapak duluan saja." Nara tak ingin turun bersama dengan pria itu. Bisa-bisa mereka jadi gosip.
"Kamu menyuruh saya menunggu?"
"Bu-bukan begitu, Pak. Kalau begitu saya yang turun duluan."
"Na-"
Belum sempat Arka bicara, Nara sudah meninggalkannya. Wanita itu memakai jurus kaki seribu.
Jika Arka tak mau menunggunya, biar Nara saja yang menunggu di parkiran.
Nara sudah sampai di parkiran. Ia mencari di mana mobil atasannya itu terparkir. Begitu melihatnya Nara pun menghampiri.
Supaya tidak terlihat karyawan lain, Nara menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok.
'Apa dia sedang bersembunyi?'
Arka yang baru sampai parkiran, melihat tingkah sekretarisnya itu.
Arka berjalan menuju mobil dan naik ke mobil.
Bugh
Nara menghela nafas, ia langsung masuk begitu melihat Arka membuka pintu mobil.
"Ayo, jalan Pak." Ucap Nara sambil memasang sabuk pengamannya.
"Ikat rambut kamu." Arka memberikan kotak ikat rambut dari jasnya.
"Terima kasih, Pak." Nara melihat-lihat sekitarnya sambil memasang ikat rambut.
Wanita itu takut ada yang melihat mereka, ia melupakan memakai ikat rambut harga sejuta.
Arka mulai melajukan mobilnya. Ia hanya bisa mengulum senyum. Nara itu sungguh sangat imut dan menggemaskan.
"Nanti simpang lampu merah belok kiri, Pak." Nara menunjukkan arah.
Arka menggangguk paham. Ia mengikuti instruksi Nara.
"Apa saya merepotkan kamu?" Tanya Arka.
"Ti-tidak, Pak. Saya-"
Kruk
Kruk
Kruk
Arka menoleh ke arah suara. Nara menutup wajahnya dengan tangan. Suara perutnya terdengar jelas dan begitu nyaring.
"Kita makan dulu ya!" Arka tersenyum sambil menggelengkan kepala.
'Memalukan!!!' Batin Nara meronta...
.
__ADS_1
.
.