
"Apa?" Arka menghentikan langkahnya dan menundukkan kepala melihat Nara yang masih dalam gendongannya.
"A-apa?" Tanya Nara kembali dengan wajah gugup. Wajah pria itu terlalu dekat dengannya.
"Tadi kamu bilang apa?" Tanya Arka memastikan kembali. Tadi ia mendengar bahwa Nara mengatakan menyukai dirinya.
"Saya? saya ada bilang apa memangnya, Pak?"
"Makanya aku tanya lagi. Kamu bilang apa tadi?!" Arka kembali memastikan.
"Nggak ada." Geleng Nara cepat. "Turunkan saya, Pak."
Arka menurunkan Nara segera. "Tadi aku dengar, kamu bilang kalau kamu menyukaiku!"
"Sa-saya? anda salah dengar, Pak. Saya tidak ada mengatakan apapun." Sanggah Nara lalu setengah berlari ke parkiran.
Nara kesal dengan dirinya. Tanpa meminta izin pada hati dan pikirannya. Mulut ini bisa mengatakan hal seperti itu. Wanita itu menutup wajahnya yang sudah merah merona, menahan malu.
'Imutnya!' Arka gemas melihat sikap wanita itu yang malu-malu begitu.
'Dia mau ke mana?' Arka melihat Nara yang kebingungan mencari mobil yang terparkir.
"Nara." Arka pun menghampirinya.
"Mobilnya di parkir di sana!" Tunjuk Arka pada arah sebaliknya.
"Ahh iya." Nara mengangguk lalu melihat wajah Arka yang full senyum. Nara pun membuang muka dan melangkah ke arah yang ditunjuk Arka.
Mereka telah berada di dalam mobil. Arka melirik Nara yang menatap sisi samping saja. Wajah Nara begitu sangat merah, bahkan hembusan nafasnya terdengar jelas.
"Sayang..." Panggil Arka pelan.
Nara mendengar namanya dipanggil, tapi ia tak mau menoleh. Ia dengan mode budegnya.
"Sayang, tadi kamu bilang apa? aku ingin mendengarnya." Arka masih membahas hal itu.
Nara diam tak merespon. Bagaimana mungkin Arka ingin mendengar ungkapan yang tanpa sadar terucap itu.
"Nara..." Panggil Arka kembali. Nara malu-malu untuk mengulang perkataannya.
"Nara... katakan sekali lagi. Seperti yang kamu bilang tadi. Kalau kamu mencintaiku, menyayangiku seumur hidupmu." Arka mulai mengarang bebas, karena Nara tak mau meresponnya. Ia akan asal berkata saja.
"Tadi aku juga dengar kamu bilang kalau aku satu-satunya pria yang ada di dalam hatimu. Kamu mencintaiku sampai mati, sampai titik darah penghabisan. Mencintaiku-"
"Sa-saya nggak ada mengatakan itu, Pak. Anda kenapa buat-buat cakap?!" Nara geram menjawab semua tuduhan asal pria itu. Ia menatap Arka dengan wajah kesal.
"Tadi saya mendengarnya begitu." Arka mengulum senyum menggoda Nada.
"Saya tidak mengatakan itu, Pak. Saya bilang kalau-" Nara menjeda ucapannya dan melihat Arka yang tertawa.
Pria itu tak dapat untuk menahan diri melihat tingkah wanitanya. Yang begitu imut dan menggemaskan.
"Pak Arka!" Nara yang kesal mencubit perut Arka. Pria itu ternyata sengaja memancing untuk mengatakan perasaannya.
"Sayang..." Arka memegang tangan yang telah mencubit perutnya itu. Tangan mungil yang punya japitan lumayan sakit.
"Aku ingin mendengarnya sekali." Pinta Arka dengan wajah memohon.
Nara membuang pandangannya, tatapan Arka tak baik untuk hatinya.
"Nara..." Panggil Arka kembali.
Arka merangkup wajah Nara dengan kedua tangannya. Ia menatap bibir wanita di hadapannya itu. Ada rasa ingin menikmati rasa manis itu kembali.
__ADS_1
Dekat... dekat dan semakin dekat. Wajah mereka perlahan mulai mendekat.
Nara mulai kembali merasakan degupan di dadanya, yang seperti berlomba lari. Ingin mendorong pria itu menjauh, tapi tubuhnya bahkan tidak bisa diajak kompromi.
Mata Nara mulai memejam saat merasakan rasa kenyal menyentuh bibirnya. Menggigitnya dan melu-matnya lembut.
"Aku mencintaimu, Nara." Ungkap Arka kembali menatap Nara.
Pandangan lembut Arka, membuat wajah Nara merona. "Aku... aku-aku menyukaimu!"
Nara pun mengakui perasaannya. Jika ia menyukai pria di hadapannya itu.
"Katakan sekali lagi!" Pinta Arka dengan wajah kembali tersenyum.
"Aku menyukaimu, aku menyukaimu, aku menyukaimu, Pak Arka." Nara mengulang sampai 3 kali. Ia tak mau mengulang-ulangnya lagi.
"Terima kasih." Ucap Arka dengan bahagia. Ia kembali mendekatkan wajah mereka. Kembali mencium bibir Nara. Merasakan kembali rasa itu diiringi debaran hatinya.
Arka menjauhkan bibirnya, melihat Nara yang mengatur nafasnya. Ciumannya membuat Nara kehabisan nafas.
Tangan Arka terulur meraih tubuh Nara. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Pria itu tersenyum merasakan debaran hati mereka yang saling bersahutan. Yang saling bergantian berdebar hebat.
Arka sangat bahagia, perasaannya selama ini terbalaskan. Nara juga mempunyai perasaan padanya.
"Nara, aku sangat mencintaimu!!!"
\=\=\=\=\=\=
Nara segera turun dari mobil. Ia meminta turun di tempat biasa.
Nara terus berjalan cepat tanpa melihat ke belakang. Ia masih malu dan canggung. Sepanjang perjalanan pulang saja, mereka saling diam tak bersuara.
Begitu masuk rumah, Nara segera masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur memegangi dadanya yang masih berdebar-debar.
Nara kembali merasakan debaran hebat di dalam hatinya. Hatinya kembali berdebar bukan karena Adam. Melainkan pada pria lain. Pria yang perlahan masuk dalam kehidupannya.
Tangan Nara merangkup wajahnya sendiri, yang mendadak panas dan merah. Ia kembali mengingat rasa hangat hembusan nafas pria itu. Bahkan ciuman Arka yang membuatnya candu.
Wajah yang penuh senyuman mendadak sendu. Perasaan sedih menghampiri Nara.
Arka mengatakan bisa menerima apa adanya Nara. Tapi bagaimana dengan ibunya, atau keluarga besarnya. Tiba-tiba Nara mulai takut dan minder.
Nara mulai kembali dihantui ketakutan akan kondisinya sekarang.
Ting
Nara tersadar karena suara pesan masuk. Pak Bos mengirim pesan.
Pak Bos: Sayang, jangan lupa minum obat
Pak Bos: Istirahat
Pak Bos: Aku tidak mau kamu sakit
Pak Bos: I love you, Nara
Nara senyum-senyum membaca pesan yang dikirim. Pesan yang penuh perhatian seorang Arka.
"Terima kasih, Pak." Nara mengetik lalu mengirim pesannya.
Deringan ponsel membuat mata Nara terbelalak. Arka menelepon dirinya.
Nara berdehem, mengatur suara sebelum menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"Iya, Pak." Jawab Nara.
"Sayang, sudah minum obat?"
Nara mengangguk. "Sudah, Pak."
"Kamu kenapa masih canggung begitu. Panggil aku dengan sayang, cinta, abang, kanda, akang-"
"Mas." Sela Nara cepat. "Mas Arka."
"Baiklah." Arka tersenyum puas. Nara mempunyai panggilan spesial untuknya.
Keduanya perlahan mulai mengobrol. Dari yang kaku dan canggung. Kini mulai terlihat santai.
Senyum dan tawa terdengar mengiringi obrolan mereka.
"Sayang, besok kita ke pantai yuk. Lihat manset." Ucap Arka.
"Manset?" Nara mendadak bingung.
"Itu matahari tenggelam." Arka menjelaskan.
"Itu sunset lho, Mas." Nara menggeleng. Candaan Arka garing.
"Sudah ganti ya." Ledek Arka.
"Besok aku jemput jam 9 ya." Timpal Arka kembali. Ia ingin ke pantai berdua dengan Nara.
"Tapi... Besok kita mau datang ke acara ulang tahun anak temannya Mas Arka." Nara mengingatkan kembali. Mungkin Arka lupa.
Arka baru ingat. Besok anaknya Adam akan berulang tahun. Ia merasa berat membawa Nara ke acara tersebut.
"Pulang dari pantai kita baru ke sana." Jawab Arka.
"Tapi acara siang, Mas."
"Memang siang. Tapi, kita datangnya malam saja. Siang itu masih acara anak-anak. Memang kamu mau lihat badut?!" Ledek Arka kembali.
"Tiap hari aku sudah lihat." Nara mengulum senyum.
"Maksud kamu?!" Arka jadi kesal.
"Nggak ada."
"Kamu bilang aku badut?"
"Aku nggak ada bilang kok."
"Secara tak langsung, kamu mengatakan aku badut loh, Nara." Arka mendengus kesal.
"Aku bilang..." Nara menjeda ucapannya.
"Bilang apa?" Tanya Arka kembali.
"Aku bilang... kalau aku menyukaimu." Setelah mengatakan itu, Nara mengakhiri panggilan mereka.
Arka tersenyum, mendadak kesalnya hilang mendengar perasaan Nara kembali.
'Aku sangat sangat dan sangat menyukaimu...'
.
.
__ADS_1
.