
"Pak, cari tempat makan lain saja! Di sana ada warung bakso yang enak." Ucap Nara memberitahu.
Arka membawanya ke sebuah restauran mewah. Yang jika berani masuk, mungkin bisa menghabiskan seperempat gajinya sekali makan.
"Ayo, turun!" Ajak Arka. Ia melepas sabuk pengaman, sambil melihat Nara masih melihat sekitarnya.
"Nara..." Panggil Arka.
Nara menoleh.
"Ayo, turun!" Ucap Arka kembali.
Nara menggeleng. "Jika pak Arka mau makan, makan saja nggak apa. Saya menunggu di sini saja."
Nara menolak ajakan Arka.
"Yang lapar kan kamu. Sudah, ayo turun." Pria itu memilih keluar dari mobilnya terlebih dahulu.
Dengan sangat berat hati, Nara pun turun. Ia mengikuti langkah Arka.
Pelayan menyambut dan membawa Arka menuju mejanya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Arka. Pria itu melihat buku menu makanan.
"Yang paling murah!" Jawab Nara cepat.
Arka menggelengkan kepala, sementara pelayan melihat ke arah pria itu.
"Mbak, bawakan menu spesial di sini. Untuk minumnya..."
"..Air putih saja. Saya minum air putih saja." Nara segera menyela.
"Samakan saja kalau begitu."
"Baik Pak, Bu... Ditunggu sebentar ya." Ucap pelayan sopan sambil undur diri.
"Kamu kenapa?" Tanya Arka yang dari tadi melihat wajah pucat Ayna.
"Nggak, Pak." Nara menggeleng cepat.
Tak lama makanan datang. Liur Nara rasanya berlinang, melihat steik yang dihidangkan. Tampak sangat enak dan aroma sungguh menggiurkan.
Nara menormalkan ekspresinya, melihat senyuman Arka.
"Selamat makan." Arka menyodorkan piring pada Nara.
Nara terdiam sesaat, melihat piringnya. Steiknya sudah dipotong-potong oleh atasannya itu.
"Pak..." Ucap Nara pelan.
"Hmm." Hanya deheman.
"Ga-gaji saya nggak dipotongkan untuk membayar ini?"
Mendengar pertanyaan Nara, Arka jadi tersedak. Ia segera meraih minumannya.
"Kamu ada-ada saja. Saya yang mengajak kamu. Jadi, ini saya traktir." Arka mentraktir membalas kebaikan Nara yang mau menemaninya.
__ADS_1
"Benar kan, Pak?" Tanya Nara belum yakin. Sungguh, ia ingin merasakan sepotong steik. Tapi, ia harus memastikan dulu.
"Iya, Nara. Makanlah keburu dingin."
"Terima kasih, Pak." Nara dengan segera memasukkan potongan steik ke dalam mulutnya. Ia sampai memejamkan mata, menikmati makanan yang sangat enak.
'Resepnya apa ya'?! Mungkin buat sendiri dengan resep yang sama akan murah.
"Tadi kamu mau mengajak makan di mana?" Tanya Arka disela makannya.
"Di sana, Pak. Ada warung bakso sangat enak. Baksonya juga besar-besar."
"Kamu sering makan di sana?"
Nara mengangguk. "Iya, Pak. Saya sering makan di sana dengan adik saya."
Arka mengangguk. Senyum licik di wajahnya pun terbit.
"Kamu harus mentraktir saya makan di sana!"
"Hah?" Nara tak jadi memasukkan suapannya.
"Saya sudah mentraktir kamu makan di sini. Jadi, kamu juga harus mentraktir saya makan di sana. Saya juga ingin mencobanya."
'Dasar perhitungan!!!' Nara mendumel, atasannya itu minta ditraktir balik. Benar-benar pria tak mau rugi.
Sebenarnya, Arka tak mau bersikap seperti itu. Tapi, mau gimana lagi? Ia mau melakukan pdkt.
Nara akan menolaknya mentah-mentah jika dia langsung mengajaknya jalan. Tapi dengan alasan ini, ia bisa berjalan lagi bersama wanita itu.
"Baik, Pak." Nara mengangguk. Hanya mentraktir balik kok. Hitung-hitung ia tak jadi berutang pada pria itu.
"Baik, Pak." Jawab Nara pelan.
'Yes!!!" Arka bersorak gembira.
"Be-besok malam?" Nara memastikan obrolan mereka.
"Iya, besok malam."
"Besok malam nggak bisa, Pak." Sanggah Nara cepat. Besok sabtu malam alias malam minggu. Bagaimana bisa malam minggu keluar dengan atasannya?
"Kenapa? Kamu itu tipe wanita plin plan. Ingkar janji dan tidak bisa dipercaya. Belum ada semenit kamu bilang iya. Sekarang sudah berubah lagi. Apa seperti ini sifat kamu Nara?" Arka menggeleng seolah menilai hal seperti itu buruk. Ia sengaja berbicara seperti itu. Untuk memancing emosi Nara.
"Sa-saya tidak begitu, Pak. Baiklah, besok malam saya akan mentraktir anda." Nara tak mau dianggap orang yang ingkar janji dan tidak bisa dipercaya.
Kan, Nara mulai emosi dan tak terima.
"Kita lihat saja. Besok saya jemput kamu jam 7 malam di rumahmu." Arka masih memprovokasi Nara.
"Iya jam 7. Tapi anda tidak boleh jemput di rumah. Kita ketemu di tempat biasa."
"Baiklah. Kita lihat saja, apa ucapan kamu bisa dipercaya?" Arka makin meragukan ucapan Nara.
Nara menyuap kembali steik. Ia mengalihkan pandangan ke semua tempat. Kecuali ke arah pria itu yang membuatnya jadi kesal.
Sesaat kemudian mereka telah selesai makan. Pelayan membawa bungkusan ke meja mereka.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Arka memasukkan kartu ATM ke dalam dompetnya.
"Oh iya, Nara. Ini bawa pulang. Untuk orang tuamu." Arka menyodorkan bungkusan berisi beberapa kotak steik.
"Hah? Ng-nggak usah, Pak." Nara kembali menolak. Ia tak mungkin menerima lagi.
"Saya segan, kamu sudah menemani saya. Pasti orang tua kamu kecarian. Titip salam saya untuk mereka."
Nara bingung mau menjawab apa. Pria itu sangat pandai mengarang alasan.
"Ayo, kita pulang." Arka pun bangkit.
Nara mengikuti sambil menenteng bungkusan itu. Ia benar-benar merasa segan dan tidak nyaman.
Sepanjang perjalanan, baik Arka maupun Nara, keduanya saling diam. Memandang jalanan.
"Pak, kita belok kanan." Ucap Nara melihat Arka yang malah terus saja.
"Bukannya rumah kamu terus?" Tanya Arka yang bingung. Apa Nara sudah pindah rumah?
"Tapi, mau singgah ke toko ikat rambut?" Nara mulai mengingatkan.
Arka menepuk jidatnya. Bisanya dia melupakan perihal ikat rambut. Sesaat Arka berpikir, ia harus memanfaatkan situasi.
"Nara, besok sore saja kamu temani saya singgah ke toko ikat rambut. Sekalian malamnya kamu traktir saya. Saya harus segera pulang. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Arka kembali mengarang alasan. Tujuannya agar besok ia bisa lama malam mingguan dengan wanita itu.
Berbeda dengan Arka yang senang dalam hatinya. Nara merasa aneh dan mendumel dalam hati.
Sebagai wanita, ia tahu semua ini hanya akal-akalan pria itu. Ia tak akan mempunyai alasan untuk menolak. Karena pria itu akan bertanya kenapa dan mengapa? disertai ekspresi wajah yang meragukan dirinya.
"Pak, saya turun di sini saja!" Ucap Nara. Rumahnya sebentar lagi sampai.
"Saya antar saja sampai rumah kamu. Saya nggak boleh menurunkan anak orang di tengah jalan."
Kan, ada saja alasan pria itu.
"Saya bilang di sini saja, Pak. Tolong... Turunkan saya di sini!!!" Nara menaikkan intonasi suaranya. Pria itu benar-benar menyusahkannya.
Melihat ekspresi Nara yang seperti marah, Arka pun mengalah. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Nara melepas sabuk pengamannya. Lalu matanya menatap Arka.
"Pak... Tolong bersikap seperti biasa."
Arka menatap Nara serius.
"Tolong jangan dekati saya. Saya tidak akan bisa membalas perasaan anda!!!" Nara akan mempertegas semuanya. Ia tak mau memberi harapan pada pria lain.
"Kenapa? Apa kamu menyukai pria lain? Atau kamu masih mencintai mantan suamimu?" Tanya Arka. Ia harus tahu kenapa?
"Itu bukan urusan anda, Pak. Saya berharap, anda akan bersikap seperti atasan dan bawahan. Saya permisi. Selamat malam." Nara pun turun dari mobil Arka.
Pria itu menghela nafas panjang, melihat Nara yang sudah jauh berjalan meninggalkannya. Nara juga tak membawa bungkusan steiknya.
'Kenapa sulit sekali mendekatimu?!!!'
.
__ADS_1
.
.