KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 53 - Couple


__ADS_3

"Si-siapa yang mengirim pesan seperti itu?"


"Siapa lagi? Kamulah, sayang. Lihat ini." Arka mendekatkan ponselnya. Menunjukkan pesan yang telah dikirim Nara.


"Aku merindukanmu, aku merindukanmu, aku merindukanmu!"


"Saya tidak pernah mengirim pesan itu." Sanggah Nara cepat.


"Lihat ini kalau anda tidak percaya." Nara mengeluarkan dan menunjukkan ponselnya, tak ada nama Arka di list obrolannya.


"Sudah kamu hapus, kan?!" Tanya Arka memastikan.


"Iya... sudah saya ha-" Nara menutup mulutnya. Ia malah ceplos berucap.


Arka menarik gemas hidung Nara. "Kamu kira, pesan yang kamu kirim akan terhapus dengan menghapus semua orbolan kita? Itu tetap akan terkirim, Sayang."


"Benarkah?" Nara menatap serius.


"Ini buktinya." Arka masih menunjukkan ponselnya.


"Ok... Sekarang apa kamu merindukanku?" Arka langsung pada intinya saja.


Nara pun menggelengkan kepala. Tak membenarkan ucapan yang terasa cukup menggelikan di telinganya.


"Kamu merindukanku?!" Arka mengangguk yakin.


"Tidak." Geleng Nara.


"Iya."


"Nggak, Pak."


"Saya yakin."


"Anda saja yang kepedean!" Ucap Nara mencibir sejenak. Sudah dibilang tidak, tetap saja pria itu bersikeras.


"Nara... Kamu..." Arka tak habis pikir, Nara mengatakan dirinya kepedean. Padahal wanita itu yang telah memancing kepedeannya. Jika tidak begitu, ia juga tak akan tergesa-gesa kembali ke kantor untuk menemui wanitanya.


"Saya akan kembali bekerja. Permisi, Pak." Permisi Nara seraya tersenyum tipis.


Saat Nara akan berjalan keluar ruangannya, dengan cepat Arka menarik tangan Nara ke arahnya. Membuat kepala Nara hampir terantuk dada tegap atasannya.


"Pak Arka, apa yang anda lakukan?" Nara juga kaget, Arka yang tiba-tiba mengangkat dan mendudukkannya di atas meja.


Nara akan mencoba turun dari meja, namun pria itu menahan dengan meletakkan kedua tangan besar di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Mengunci agar ia tidak pergi.


"Nara." Ucap Arka menarik nafasnya sejenak. Ia menatap wanita yang berada di hadapannya.


"Pak, tolong lepaskan saya." Nara masih menggeliat minta dilepaskan.


"Apa kamu tahu? Aku langsung bergegas kemari karena menerima pesan darimu. Aku ingin mendengarnya langsung. Jadi tolong katakan jika kamu merindukanku!" Pinta Arka penuh harap.


"I-itu tadi..." Nara mulai bingung mau membuat alasan apa. Mau mengatakan ia tanpa sadar mengetik kata itu, tidak mungkin. Pria itu akan semakin kepedean, jika ia tanpa sadar memikirkan pria itu. Mau ditaruh di mana wajahnya.


"Pak, saya mau kerja. Masih banyak yang harus saya selesaikan." Nara pun memelas. Ia ingin melanjutkan pekerjaannya, agar tidak lembur nantinya.


Melihat wajah sedih Nara, Arka jadi tidak tega. "Cium dulu." Arka memajukan bibirnya.


"Apaan sih, Pak? Ini di kantor!" Nara mengingatkan lokasi mereka sekarang.


"Kalau di tempat lain, memang kamu mau?" Arka sengaja menaik turunkan alisnya menggoda janda yang wajahnya sudah memerah, bak kepiting rebus.


"Pak Arka!!!" Nara mendorong dada pria itu, agar memberinya jalan untuk pergi.

__ADS_1


Tapi percuma saja Arka sepertinya enggan bergeser, malah semakin mendekat dan merapatkan diri.


"Sekali saja. Anggap saja itu ciuman selamat siang." Arka tetap memajukan bibirnya.


Nara menggeleng, pria tampan itu mulai aneh.


Arka makin memajukan wajahnya. Perlahan mengikis jarak di antara mereka.


Jantung Nara kembali berdetak kencang, merasakan setiap hembusan nafas pria itu. Yang semakin terasa menerpa wajahnya.


"Se-se-selamat siang, Pak Sam." Ucap Nara dengan mata terbelalak menatap ke arah depan.


Arka jadi terkejut. Pria itu segera menjauh dari Nara. Ia menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal. Dengan wajah yang sudah dinormalkan, Arka membalikkan badan untuk melihat ke arah depannya.


Tapi...


"Saya permisi, Pak." Nara menundukkan kepala dan segera keluar.


"Astaga, Nara!!!" Arka kesal. Wanita itu sudah membohonginya. Ia mengira Sam ada dan melihat semuanya. Tapi ternyata hanya trik wanita itu untuk kabur darinya.


'Memang janda menggemaskan!!!'


\=\=\=\=\=\=


"Sayang, sudah sampai. Ayo, bangun." Arka mentoel-toel pipi Nara. Selama di perjalanan wanita itu tertidur pulas.


"Ma-maaf, Pak. Saya ketiduran." Nara membuka matanya. "Di mana ini?" Nara bingung melihat sekitar.


"Di parkiran. Kita mau jalan tapi."


Nara mengangguk dan melepaskan sabuk pengamannya.


"Ayo, sayang."


"Pak, saya bisa sendiri." Nara tak nyaman diperlakukan seperti itu. Ia bisa membuka pintu mobil sendiri.


Arka hanya tersenyum sambil mengulurkan tangan. Nara melihat Arka sejenak lalu tersenyum menerima uluran tangan pria itu.


"Kita mau ngapain ke sini, Pak?" Tanya Nara saat mereka memasuki Mall.


"Jalan-jalan sambil cuci mata." Arka mengeratkan genggamannya.


"Cuci mata bisa di kamar mandi, Pak." Nara meledek pelan.


"Apa kita ke kamar mandi saja?" Goda Arka pelan.


"Pak!!!" Nara memelototi pria itu.


"Mandi bersama sambil berhaha hihi, pasti kamu mikir ke situ, kan?!" Tuduh Arka.


"Ti-ti-tidak."


Arka malah tertawa puas melihat Nara yang mendadak gugup. "Nanti setelah kita menikah. Akan aku kabulkan apa yang tadi sempat kamu pikirkan!"


"Saya tidak memikirkan apapun!" Sanggah Nara tidak terima.


"Masa? Wajah kamu saja..."


"Pak Arka!!!" Nara yang kesal pun mencubit gemas perut pria itu.


Bukannya kesakitan, Arka malah tertawa bahagia. Nara sudah mulai tidak terlalu kaku padanya.


Arka membawa Nara memasuki toko jam tangan. Saat masuk, mata Nara sampai memicing karena kilauan berbagai jam tangan yang tersusun di etalase.

__ADS_1


"Tolong jam tangan couplean." Ucap Arka pada penjaga toko.


Tak lama dikeluarkan beberapa jam tangan couplean berbagai merek.


"Kamu mau yang mana?"


"Tidak usah, Pak. Jam tangan saya masih ada." Tolak Nara.


Arka tak mau niat baiknya ditolak Nara lagi. Ia mencoba memakaian di tangan Nara.


"Pak, tidak usah."


"Diam dulu."


Arka masih mencocokkan di tangan wanitanya. Tak lama ia tersenyum puas melihat jam tangan simpel yang cocok di pakai Nara. Wanita itu pasti tidak akan menolak, karena jam tangannya tidak terlalu mencolok.


"Ini saja." Arka mengangguk senang. "Pakaikan."


Nara memakaian jam tangan ke Arka, sambil melihat pria itu yang tidak peduli dengan ekspresi sekarang.


"Bagus!" Arka merapatkan tangannya dengan tangan Nara. Arka pun memberikan kartu ATM nya pada penjaga toko.


"Pak, saya tidak bisa menerima ini." Nara menolak kembali, sambil melepaskan jam tangan. Jam tangan ini memang simpel, tapi harganya tidak sesimpel itu. Gajinya 3 bulan di perusahaan itu saja, bahkan masih belum cukup untuk membayar benda kecil tersebut.


"Ini hadiah dariku." Arka menahan tangan Nara yang akan melepaskan jam tangan.


"Saya tidak sedang berulang tahun, Pak."


"Anggap saja ini hadiah karena kamu sudah mau membalas perasaanku."


"Tapi, Pak-"


"Lihat... Kita seperti pasangan-pasangan lain yang mempunyai barang coupel." Arka begitu sangat bahagia.


"Tapi, Pak. Ini-" Nara masih enggan menerimanya.


"Begini saja biar impas. Kamu gantian memberikan hadiah. Gimana?" Saran Arka kemudian.


Nara mulai berpikir. "Anda mau hadiah apa?"


"Yang penting couplean sama kamu."


"Hmm... Apa ya?" Nara bingung, hadiah apa yang mau diberikan pada pria itu. "Ka-kalau nggak mahal, boleh?"


"Boleh." Arka mengangguk. Apapun dari Nara, ia dengan senang hati dan lapang dada menerimanya.


"Da-laman couple lucu juga." Cengir Arka dengan pikiran yang sudah berkelana.


Nara membelalakkan matanya. Ucapan pria itu asal ucap saja.


"Sekarang kita mau ke mana?" Arka pun merangkul Nara.


"Pulang." Ucap Nara kesal.


"Pulang?" Arka rasanya tidak rela pulang secepat ini. Matahari bahkan belum tenggelam.


"Ayo, kita cari pakaian da-lam yang couplean!"


"Astaga, Pak Arka!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2