KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 73 - Kenapa Sekarang


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu, Arka dan Nara mulai sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Membahas konsep pernikahan, gaun, aula dan semuanya.


Nara menolak acara resepsi pernikahan sesuai kemauan Arka. Yang menginginkan pernikahan mewah dan megah. Nara hanya ingin resepsi pernikahan yang sederhana saja.


"Nggak sayang. Aku ingin pernikahan kita itu mewah, kamu tak perlu memikirkan tentang dananya. Itu bukan masalah bagiku."


Pernikahannya Arka kala itu, padahal hanya dijodohkan saja. Tapi, pernikahan itu diselenggarakan dengan begitu sangat mewah. Dan Arka juga menginginkan hal yang sama, apalagi ia akan menikah karena cinta. Ia ingin memberikan Nara, resepsi pernikahan yang membuat Nara terkesan dan sangat bahagia.


Tapi... Wanitanya menolak. Malah menginginkan pernikahan sederhana.


"Bukan begitu, Mas. Aku ingin resepsi yang sederhana saja." Bagi Nara, rencananya Arka terlalu begitu wah.


"Sayang... Aku hanya ingin membuatmu bahagia."


"Mas, aku akan bahagia bukan hanya karena resepsi yang mewah. Tapi... Dengan Mas Arka tetap bisa mencintaiku dan perasaan itu tak akan berubah saja, itu sudah membuatku sangat bahagia dan bersyukur." Nara memeluk tubuh Arka dari belakang.


Nafas Arka berhembus pelan, merasakan tangan mungil Nara yang memeluk dirinya.


Perlahan Arka menyatukan jemari mereka. "Nara, aku akan mencintaimu selamanya. Ya, sudah... Kita akan buat resepsi pernikahan yang biasa saja..."


Nara mengangguk pelan.


"... Menurutku." Sambung Arka kembali.


"Mas Arka!!!" Nara pun mencubit perut pria itu.


"Nara sayang..." Arka membawa Nara ke hadapannya. "Dengarkan aku."


Nara menatap tatapan lembut pria di hadapannya.


"Para tamu banyak yang harus kuundang. Rekan bisnis, teman arisan Mommy, para karyawan, keluarga besar dan yang lainnya... Mereka akan bergosip, jika pesta pernikahan kita biasa saja." Arka meyakinkan wanita cantik itu.


'Termasuk Adam.' Arka tak mau kalah dari Adam. Ia akan menunjukkan pada temannya itu, betapa berartinya Nara.


Nara diam mencoba mengerti. Benar apa yang dipikirkan Arka. Calon suaminya itu pria sukses dan seorang bos besar. Akan jadi bahan omongan jika resepsi pernikahannya biasa saja.


"Ta-tapi, Mas. A-apa aku pantas bersanding denganmu?" Nara mulai minder. Apa tanggapan orang-orang, jika istri Arka adalah sekretarisnya dan seorang janda yang diceraikan suami, karena tidak bisa memberikan keturunan.


"Kamu terlalu banyak berpikir, Nara." Arka merangkup wajah polos itu. "Pikirkan saja tentang aku. Tentang perasaanku. Tentang rasa cintaku. Tentang hati-"


Ucapan Arka terhenti saat Nara menarik lehernya. Membuat bibirnya mendarat di bibir merah muda tersebut.


Nara memejamkan mata merasakan debaran hatinya kembali. Debaran hati yang terasa bertalu makin kencang.


"Mas Arka!!!" Pekik Nara menahan wajah Arka. Pria itu mengangkat dan mendudukkannya di atas meja.


"Mas, nanti kalau ada yang masuk bagaimana?" Nara tersadar jika mereka masih di kantor.


"Aku tidak peduli. Lagian ini juga jam pulang. Mau lanjut?" Arka mengedipkan sebelah mata genitnya.


Wajah Nara jadi gugup dan malu. Apalagi tatapan Arka tak baik untuk jantungnya.


Arka mendekatkan kembali wajahnya, Nara tak menghindar. Arka pun kembali melanjutkan ciuman yang penuh kelembutan dan membuat hati melayang terbang.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


"Mas..." Panggil Nara saat keluar dari sebuah ruangan.


Arka yang tadi sibuk dengan ponselnya, menoleh ke arah suara. Ia terpaku melihat Nara. Wanitanya begitu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin.


"A-aneh ya?" Tanya Nara gugup melihat tatapan kagum Arka padanya.


"Kamu sangat cantik sayang." Arka merasa beruntung memiliki Nara. Wanita itu sangat cantik dan hatinya juga sangat baik.


'Kenapa Adam bisa menceraikanmu dan memilih wanita itu? karena kekuranganmu itu?' Arka menatap Nara sejenak. Bagi Arka, Nara sangatlah sempurna.


Arka dan Nara kini sedang melakukan foto prewed. Mereka mengikuti arahan sang fotografer, agar foto mereka akan bagus nantinya.


"Lebih dekat lagi." Pinta fotografer pada pasangan itu.


Arka mengikis jarak mereka, hingga hidung keduanya saling bersentuhan.


Nara agak canggung dan tak nyaman. Banyak mata yang melihat mereka.


"Mbak Nara... Tolong untuk lebih santai..." Ucap fotografer kembali.


Nara berusaha untuk tenang. Tapi, melihat pandangam Arka membuatnya makin berdebar.


"Aku mencintaimu." Ungkap Arka pelan.


Ser


Nara menatap mata Arka dalam. Seolah sedang menyelami dalamnya perasaan pria itu. Tanpa sadar senyum Nara perlahan muncul.


Arka terpaku sesaat menatap tatapan Nara yang penuh arti.


"Ok, bagus."


Keduanya sadar dan saling mengalihkan pandangan. Mereka tadi tanpa sadar saling bertatapan.


"Kita mau ke mana?" Tanya Arka saat menggandeng Nara keluar dari studio foto. Mereka telah selesai melakukan foto prewed.


"Jalan-jalan." Ucap Nara manja.


"Ok meluncur..."


Tak lama, mereka berkeliling sebuah Mall. Arka terus menggandeng tangan Nara.


"Kamu mau beli baju?"


"Sepatu?"


"Tas?"


"Jam?"


"Make up?"


"Sayang, kamu maunya apa sih? Semua ditolak!" Arka tak mengerti dengan wanita itu. Nara menolak apa yang ia tawarkan. Dengan alasan...


"Aku sudah punya semua itu lho, Mas." Itulah jawaban Nara.

__ADS_1


Padahal Arka ingin memanjakan Nara dengan memberikan ini dan itu.


"Jadi... Apa yang kamu belum punya?" Tanya Arka.


Nara berpikir sejenak. "Aku... Belum punya..."


"Apa? Katakan cepat!" Paksa Arka tak sabaran.


"Aku belum punya... Kamu."


"Belum punya gimana? Aku ini milik kamu." Arka menegaskan dengan wajah serius.


"Sebelum janur kuning melengkung, Mas Arka masih milik semua wanita Belum jadi milikku."


Arka jadi tertawa pelan, Nara ada-ada saja. "Kamu ini ya. Meski kata kamu aku masih milik semua wanita. Tapi... Hatiku hanya milikmu."


"Ihh... Mas Arka tukang gombal." Nara memukul manja dada tegap Arka.


"Arka..." Panggil seseorang.


Arka dan Nara melihat orang yang memanggilnya.


"Benar, ternyata kamu." Ucap Dika memastikan kembali. "Siapa?" Tanya Dika menaikkan alisnya.


Nara memberi senyum pada Dika dan istrinya.


"Sepertinya aku mengenalmu!" Ucap Uli mengingat di mana pernah melihat Nara.


"Kamu... Nara kan?" Tebak Uli cepat.


"I-iya kak. Saya Nara." Jawab Nara gugup. "Kakak siapa ya?" Nara tak merasa mengenal Uli.


"Kita ketemu saat pernikahannya Arka. Kamu datang sama mantan suami kamu si Adam. Adam itu temannya suamiku." Jelas Uli dengan semangat.


"Arka?" Tanya Nara bingung.


"Iya, pernikahan Arka. Saat pernikahan Arka, kamu datang sama Adam." Jelas Uli kembali.


"Iya kan, Ka? Ini Arka... nya?" Uli mendadak bingung. Apalagi melihat Arka dan Nara yang saling bergenggaman tangan.


"Uli..." Dika menahan sang istri untuk bicara. Sepertinya ia mulai mengerti hubungan keduanya.


'Astaga!!! Kenapa sekarang???'Arka menggerutu dalam hati. Padahal ia tidak akan pernah mau membahas Adam pada Nara. Bahkan berniat saat mereka menikah, tidak mengundang Adam. Agar Adam tidak menganggu mereka.


Arka berharap. Nara tahu Adam itu temannya saat mereka sudah sah menikah. Begitupun sebaliknya, Adam tahu, saat Nara sudah menjadi istrinya.


"Apa Mas Arka mengenal Mas Adam?" Tanya Nara dengan wajah serius.


"Adam..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2