KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 33 - Nara Sakit


__ADS_3

"Hah? Apa pak?"


"Hah?" Arka tersadar dan bingung sendiri. "Kenapa?" malah kembali bertanya pada Nara.


"Ta-tadi pak Arka bilang apa?" Tanya Nara yang tak terlalu mendengar perkataan Arka barusan.


"Saya? memang sa-saya ada bilang apa sama kamu?" Arka juga bingung. Tiba-tiba ia mendadak blank.


"Maaf, Pak. Tadi saya tidak terlalu jelas mendengarkan perkataan anda." Nara juga merasa aneh. Ucapan Arka tadi seperti gumaman.


"Oh. Sudahlah lupakan saja! ini juga sudah malam. Selamat malam." Arka memilih mengakhiri panggilan itu. Dari pada ia bingung dan makin bertambah bingung.


Arka menghembuskan nafas kasar, ia melempar ponsel ke tempat tidurnya.


'Arka!!! apa yang kau pikirkan?!'


Pria itu keluar dari kamarnya. Ia pergi ke dapur. Mengambil air dalam lemari pendingin dan menenggaknya.


Arka melirik kotak makan yang berada di rak piring. Kotak itu sudah bersih dicuci. Mommynya itu sudah menghabiskan kukis tanpa sisa. Benar-benar tak meninggalkan sedikit untuknya.


Pria itu lalu kembali ke kamarnya. Dan membaringkan diri di tempat tidur empuknya.


Arka perlahan mulai memejamkan matanya. Tapi tak lama mata itu terbuka. Lalu ia kembali memejamkan matanya. Tapi, entah kenapa malah bayangan wajah Nara kembali menghiasi pikirannya.


'Astaga!!! Ada apa denganmu Arka?!' Arka kesal sendiri, ia pun menutupi dirinya dengan selimut.


Pagi menjelang, Arka berangkat ke kantor seperti biasa.


Arka menghela nafas sejenak, ia harus bersikap seperti biasa di hadapan sekretarisnya. Yang tadi malam mengganggu tidur nyenyaknya.


Dengan langkah lebar, Arka keluar dari lift menuju ruangannya.


'Dia belum datang?' Batin Arka melirik meja sekretarisnya yang masih kosong. Waktu kini telah menunjukkan pukul 8 pagi, Nara terlambat hari ini.


Arka duduk di kursi kebesarannya sambil mengerjakan tanggung jawabnya.


Ia berhenti sejenak, saat menyadari sudah 30 menit berlalu dari jam kerja kantor. Sekretarisnya itu belum menemui dirinya.


Pria itu pun bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya. Ia malah melihat Sam dan bukanlah Nara.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Sam saat melihat Arka.


"Pagi." Jawab Arka. "Mana Nara?" Tanya Arka yang melihat Nara tak ada di mejanya.


"Nara tadi baru menelepon. Ia meminta izin tidak masuk hari ini ke kantor, Pak." Jelas Sam menatap ekspresi Arka.


"Tidak masuk? kenapa? apa dia sakit?" Tanya Arka bertubi-tubi. Tadi malam wanita itu baik-baik saja. Kenapa ia mendadak sakit?


Apa Nara sudah berhenti bekerja, karena telah menerima gajinya.


"Nara sakit perut, Pak." Sam melihat ekspresi Arka yang seperti terkejut bercampur khawatir.


'Apa pacarnya sakit dia tidak tahu?! pak Arka kurang perhatian!' Sam menggelengkan kepala sejenak. Seharusnya Arka yang lebih tahu bagaimana kondisi sekretarisnya itu, kan!


"Pekerjaan Nara, saya yang akan menghandle sampai Nara kembali masuk-"


"Kapan dia kembali masuk?" Tanya Arka ingin tahu menyela perkataan Sam.


"Be-besok. Jika sakit perutnya sudah sembuh, Nara akan kembali masuk besok hari, Pak." Jelas Sam dengan gugup.

__ADS_1


"Oh." Arka menyadari sikapnya. Pria itu mengangguk sejenak dan memilih kembali ke ruangannya saja.


Arka kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia tampak berpikir sambil memegangi ponselnya.


'Sakit perut? apa dia sudah ke dokter?' Arka tanpa sadar mengkhawatirkan wanita itu.


Arka ingin menanyakan langsung pada Nara dengan meneleponnya sekarang. Tapi ia juga bingung mau bicara apa. Lagian Nara sedang sakit, ia pasti tidak sempat memegang ponsel.


'Kirim pesan saja.'


Tapi kembali wajah Arka ditekuk. Ia juga tak tahu mau mengetik pesan apa.


Apa kabar?


Kata Sam, kamu sakit?


Kamu sakit apa?


Kamu sudah minum obat?


Kamu sudah ke dokter?


Arka mengetik menghapus, mengetik lalu menghapus lagi. Ia benar-benar tak tahu harus berbasa-basi seperti apa.


'Nggak usah tanyalah. Besok dia juga sudah masuk kembali, kan!'


Arka meletakkan ponselnya dan kembali menyelesaikan tanggung jawabnya.


\=\=\=\=\=


"Nara... Bangun, Nak. Ayo makan." Ucap Bunda dengan nada lembut membangunkan sang putri.


Nara menggeleng pelan. Air hangat dalam botol yang diletakkan di perutnya, mengurangi sakit perutnya. Ia sudah mendingan sekarang.


Setiap awal datang bulan, Nara akan mengalami nyeri haid yang sangat sakit.


"Ayo, makan. Kamu belum sarapan tadi."


Nara mengangguk. Bunda membantu mendudukkan Nara.


Nara memakan sarapan yang dibawakan Bunda untuknya.


"Terima kasih, Bun." Ucap Nara pelan, matanya berkaca-kaca.


"Makan yang banyak." Bunda mengelus kepala Nara dengan sayang.


"Oh iya, kamu sudah izin tidak masuk kerja hari ini?" Tanya Bunda kembali.


"Sudah, Bun." Nara tadi sudah menelepon Sam, meminta izin hari ini tidak masuk.


Ting


Nara mencari ponselnya mendengar suara pesan masuk. Ia pun mengambil ponsel yang berada di atas nakas.


'Pak Bos kirim pesan apa?' Mendadak wajah Nara jadi pucat dan bingung.


Nara takut membuka pesan tersebut. Mungkin saja Arka akan marah, karena ia mendadak mengabarkan tidak masuk kantor.


"Siapa?" Tanya Bunda melihat ekspresi sang putri.

__ADS_1


"Nggak, Bun. Pesan dari operator." Jawab Nara memberi alasan. Dan meletakkan kembali ponsel di meja nakas. Ia tak berani membuka pesan yang dikirim Arka.


"Bun, Nara mau mandi." Nara merasa tubuhnya lengket karena bermandi keringat.


"Bunda masak air dulu. Kamu mandi air hangat saja."


"Nggak usah, Bun. Nara sudah sembuh, kok. Nara mandi air biasa saja." Nara tidak enak merepotkan Bundanya. Tadi saja ia kesakitan, Bundanya sangat khawatir.


"Sudah, tunggu sebentar." Bunda pun bergegas keluar kamar. Nara masih sakit jadi lebih baik mandi dengan air hangat.


Nara terpaksa menurut. Jika menolak percuma saja. Bundanya akan terus memaksa.


Setelah Bunda keluar kamarnya. Nara melirik ke arah ponselnya. Ia masih sangat penasaran isi pesan Arka.


'Apa aku dipecat? Apa pak Arka memecatku?'


Hal itu yang Nara takutkan.


Nara kembali meraih ponselnya. Ia menghembuskan nafas beberapa kali. Terserahlah jika ia dipecat. Ia kan benar-benar sakit, bukan sengaja membolos.


Nara membuka pesan dari Arka lalu memejamkan matanya terlebih dahulu. Selang beberapa detik ia kembali membuka mata.


Pak Bos: Cepat sembuh


Nara terdiam sesaat setelah membaca pesan tersebut.


'Apa dia salah kirim?'


Menurut Nara, Arka pasti salah kirim pesan padanya.


"Nara, sudah air hangatnya!" Teriak Bunda dari dapur.


"Iya, Bun." Nara meletakkan ponselnya di nakas. Ia pun bergegas ke dapur.


Sementara di ruangan Arka. Pria itu melipat tangan sambil menatap fokus ponselnya.


Tangan Arka yang gatal telah mengirim pesan singkat pada Nara. Tapi, kenapa sudah lama pesan itu belum dibalas juga.


'Apa sakitnya parah?'


Arka meraih ponsel dan melihat pesan yang tadi dikirimnya. Ia meletakkan kembali di meja dengan cepat.


Ceklis dua berwarna biru. Pertanda, pesannya telah dilihat Nara.


Tapi, kenapa...


'Dia tidak membalas pesanku?!!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2