
Nara setengah berlari memasuki loby perusahaan. Ia tadi kesiangan bangun, hingga terlambat pergi ke kantor. Mana jalanan cukup macet lagi.
Di dalam lift, Nara gelisah pergerakan lift ini terlalu lambat.
'Semoga pak Arka belum sampai, semoga dia belum sampai!' Harap Nara agar atasannya itu belum datang.
Nara tak mau Arka tahu dirinya datang terlambat. Walau nggak bisa datang sebelum jam kerja, minimal Nara harus ontime.
Itu bisa mempengaruhi kinerjanya di mata atasannya.
Nara tak pandai mencari muka, jadi yang diandalkannya bekerja dengan baik dan disiplin pastinya.
Sementar di depan meja Nara, Arka berdiri sambil melipat tangan. Melihat meja sekretarisnya yang kosong.
Pria itu pun melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 8.15 menit. Dan Nara masih belum datang juga.
'Apa dia masih sakit? seharusnya dia berobat ke dokter!' Arka jadi bertanya-tanya dalam hati. Mengingat wanita itu juga tak membalas pesan yang dikirimnya semalam.
Tak tak tak
Suara langkah kaki membuat Arka membalikkan tubuhnya. Terlihat seorang wanita berlari ke arahnya.
Citt...
Nara mengerem mendadak saat melihat pria yang berdiri di dekat mejanya.
'Astaga! Pak Arka!!!'
"Se-selamat pagi, Pak." Sapa Nara dengan nafas memburu. Menundukkan kepalanya sejenak. Ia takut Arka akan memarahinya.
"Pagi." Jawab Arka melihat Nara yang ngosh-ngoshan. Sepertinya wanita ini berlari karena terlambat.
Nara tersenyum tipis sambil berjalan ke mejanya.
"Kamu sudah sembuh?" Tanya Arka yang menghentikan langkah kaki Nara.
"Su-sudah, Pak." Jawab Nara gugup.
"Kamu sudah ke dokter?" Tanya Arka kembali.
"Hah? Hanya sakit perut bia-"
Nara terpaku, saat tangan besar itu menyentuh dahinya. Sepertinya Arka sedang mengecek suhu tubuhnya. Tapi, tidak begini juga.
"Tidak demam." Gumam Arka. Suhu tubuh Nara normal.
"Pak, saya sakit perut bukan demam."
"Hah?" Arka tersadar dengan perbuatannya yang tiba-tiba pada wanita itu.
Pria itu segera menjauhkan tangannya dari kening sekretarisnya itu. Bisanya ia tanpa sadar memegang kening Nara. Wajah Nara juga tampak kaget.
"Sa-saya cuma memastikan. Kalau kamu masih sakit, kamu harus ke rumah sakit saja. Atau pulanglah untuk beristirahat." Arka berusaha menutupi kegugupannya.
"Saya sudah sehat, Pak." Nara segera ke meja kerjanya.
"Hmm. Baiklah." Arka menatap Nara sejenak dan berlalu ke ruangannya.
'Aku nggak demam.' Nara meletakkan tangannya di kening.
Nara mulai mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
"Pagi Nara... Kamu sudah sembuh?" Tanya Sam, melihat Nara sudah kembali bekerja.
"Sudah, Pak." Jawab Nara.
"Saya mau ke ruangan pak Arka."
"Tunggu sebentar, Pak." Ucap Nara sambil mengambil sesuatu dari tasnya.
Sam diam menunggu Nara.
"I-ini untuk pak Sam." Nara memberikan paper bag pada Sam.
"Apa ini?" Tanya Sam penasaran. Ia mengambil sebuah kotak yang berada di paper bag tersebut. Dan membuka kotak itu.
"Dasi?" Sam bingung kenapa Nara memberinya sebuah dasi. Dasi polos berwarna hitam.
"Saya harap Pak Sam suka hadiahnya. Itu dari gaji pertama saya, karena selama ini Bapak sudah sabar mengajari dan membimbing saya di sini." Nara memberikan hadiah pada Sam, sebagai ucapan terima kasih.
Sam sangat baik padanya. Nara yang tidak tahu apapun soal pekerjaan sekretaris, diajari dan dibimbing oleh pria itu.
"Aduh Nara... Kamu kok jadi repot-repot sih?!" Sam senang di berikan hadiah oleh Nara.
"Akan sering-sering saya pakai!" Sam menghargai pemberian Nara.
Nara mengangguk. Ia juga senang Sam menyukai pemberiannya. Padahal saat membeli, Nara takut Sam akan menolak hadiahnya.
Tak jauh dari mereka, Arka berdiri melihat interaksi keduanya. Nara ternyata memberikan hadiah pada Sam dengan gaji pertamanya.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Sam yang kaget saat ia melihat ke arah ruangan Arka. Atasannya itu berdiri di depan ruangan.
"Pagi. Ikut ke ruangan saya." Jawab Arka dingin.
Sam menganggu sejenak. Lalu ia melihat Nara. "Nara... Terima kasih banyak."
Arka melirik mereka sejenak sebelum masuk ke ruangannya. Lalu ia tersenyum samar.
'Aku akan dapat hadiah juga, kan?!'
\=\=\=\=\=\=
Di ruangannya, Arka tersenyum-senyum sendiri. Ia mengkhayalkan Nara yang juga akan memberikan hadiah padanya.
Arka jadi tak sabar dengan hadiahnya. Sam diberikan hadiah dasi oleh Nara.
Kira-kira apa yang akan Nara berikan padanya?
Apa dasi juga?
Kalau pun dasi yang sama. Pasti berbeda warna.
Tok
"Masuk." Jawab Arka cepat. Padahal baru satu kali ketukan pintu.
Pria itu merapikan pakaiannya dan membenarkan posisi duduknya. Ia akan bersikap biasa saja.
Arka tersenyum tipis saat melihat orang yang masuk. Ya, orang yang akan memberinya hadiah.
"Pak, ini berkas yang anda minta." Ucap Nara sopan sambil meletakkan di atas meja.
Pria mengangguk dan melihat ke arah tangan Nara.
__ADS_1
'Mana hadiahku?'
Sudah tak ada apapun ditangan Nara, setelah menyerahkan berkas-berkas itu.
"Saya permisi, Pak." Karena sudah memberikan yang Arka minta, Nara pun keluar dari ruangan Arka.
Pria itu terdiam sejenak. Ia merasa bingung, kenapa Nara belum memberikannya hadiah?
'Oh, mungkin ia akan memberikannya saat jam pulang kantor.'
Arka kembali tersenyum mengingat Nara yang pernah memintanya menunggu di parkiran. Hanya untuk memberikan kukis.
Pria itu yakin, Nara akan memberikan hadiah dengan cara seperti itu lagi. Wanita itu tak mau Sam atau karyawan lain tahu. Jika ia memberikan sesuatu pada atasannya.
Arka akan berpikiran positif dan menunggu. Walaupun sebenarnya ia sudah sangat tidak sabar menerima hadiahnya.
Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan senyum yang terus mengembang.
Waktu berlalu begitu cepat. Sekarang sudah pukul 4 sore. Waktunya untuk pulang dan meninggalkan pekerjaan yang menumpuk itu.
Arka mengetuk-ngetuk jarinya sambil menatap layar ponselnya yang masih gelap. Belum ada pesan masuk dari sekretarisnya itu.
'Kenapa lama?!' Batin Arka kesal.
Sudah 15 menit berlalu dari jam pulang kantor. Tapi Nara tidak ada menghubunginya.
'Apa dia sudah pulang?'
Arka berjalan membuka pintu dan melihat Nara masih ada di meja kerjanya. Wanita itu begitu tampak serius mengerjakan sesuatu.
"Nara... Kamu belum pulang?" Tanya Arka yang menyamperi Nara.
"Be-be-belum, Pak." Jawab Nara gugup karena kaget, Arka tiba-tiba muncul. Pria itu seperti hantu saja.
Arka melihat Nara dengan wajah bertanya.
"Masih ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan." Nara menjawab raut wajah Arka.
"Apa Bapak mau pulang?" Tanya Nara kemudian.
"Iya, saya mau pulang." Jawab Arka cepat dan semangat. Nara pasti akan memberikan hadiahnya sekarang. Tak ada siapapun di sekitar mereka. Sam sudah pulang.
"Hati-hati di jalan, Pak. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya." Nara menundukkan kepala sejenak, memberi hormat.
Lho?
Arka jadi terdiam. Kenapa Nara tidak memberikan hadiah padanya?
Wanita itu malah sibuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu jangan lembur sampai malam." Pesan Arka.
"Baik, Pak." Nara mengangguk mengerti. Ia merasa aneh melihat sikap Arka yang sok perhatian.
Arka memilih pergi membawa kekecewaannya. Ternyata Nara tidak memberikannya hadiah. Ia tidak mendapat cipratan gaji pertama wanita itu.
'Ngarep!'
.
.
__ADS_1
.