
"Bila, katakan selamat ulang tahun pada Mario." Ucap Dika meminta sang putri dalam gendongannya mengucapkan selamat ulang tahun pada anaknya Adam.
"Cela-mat ta-un." Ucap bocah perempuan itu, lalu memberikan kado yang dipegangnya.
"Mario katakan terima kasih kakak." Adam juga meminta sang putra mengikuti perkataannya.
"Ta-cih." Ucap Mario menerima kado itu.
Adam dan Dika tertawa mendengar kelucuan anak-anak mereka yang menggemaskan.
"Arka mana?" Tanya Adam tak melihat temannya itu ada di sana.
"Masih di jalan. Kemungkinan malam dia datang." Jawab Dika kembali.
Adam mengangguk. "Dika... Dimakanlah apa yang bisa dimakan." Adam mempersilahkan Dika menikmati hidangan di pesta ulang tahun sederhana putranya.
"Kau tenang saja. Ku habiskan nanti semua. Sekalian nanti minta dibungkus juga." Ledek Dika sambil tertawa.
"Li... Dinikmati hidangannya." Adam juga menawarkan pada istri Dika. Uli mengangguk pelan.
Dika membawa istri dan anaknya menikmati hidangan yang tersedia.
"Mananya si Arka? Bisanya dia datangnya malam. Sudah aku bela-belai datang pun." Dumel Uli yang kesal. Ia sebenarnya tak mau datang ke acaranya Adam. Tapi, Dika mengajaknya karena Arka akan membawa gebetan barunya. Biar nanti gebetan Arka itu ada teman ngobrol.
"Dia masih di jalan." Ucap Dika menyodorkan istrinya itu gelas berisi air.
Uli melihat istri baru Adam yang berpenampilan terlalu wah. Memakai gaun ala princes berwarna pink. Make up yang cukup tebal. Dan rambut pirangnya itu digerai. Seperti wanita itu saja yang berulang tahun.
Sementara putra dan suaminya berpakaian biasa saja. Hanya memakai baju kemeja seragam.
Dan juga istri Adam itu hanya sibuk dengan teman-temannya saja. Tanpa memperdulikan putranya. Membiarkan bocah kecil itu digendong Adam terus.
"Mama." Adam tersenyum dan segera menghampiri tatkala melihat Mama dan adik-adiknya datang. Selama ini hubungan mereka sedikit renggang. Adam memohon pada keluarganya untuk menghadiri acara sang anak. Mario adalah bagian dari keluarga mereka. Adam berharap bisa memperbaiki segalanya.
"Sini sayang, ponakannya tante ulang tahun iya." Rindu mengambil bocah cilik itu dari gendongan Adam. Ia gemas dengan bocah laki-laki tersebut.
Mama menatap sendu, Mario begitu mirip dengan Adam ketika masih kecil. Mario adalah cucunya, meski terlahir dari wanita berambut pirang itu.
"Yola..." Panggil Adam agar istrinya itu menyalami Mama dan adik-adiknya.
Yola mendengus, Adam menganggu kesenangannya yang sedang menggibahi orang.
"Kalian lanjutkan saja. Aku mau ke sana dulu." Pamit Yola pada teman-temannya.
Yola berjalan mendatangi Adam. Ia melihat keluarga suaminya yang datang.
"Ada apa sih, Mas?" Tanya Yola tidak senang.
__ADS_1
"Ini Mama datang." Ucap Adam memberitahu.
"Ya sudah suruh makan saja. Ku kira tadi ada apa?!" Yola kembali berjalan menemui teman-temannya. Meninggalkan mereka begitu saja. Ia tadi mengira ada hal serius.
Adam menghembuskan nafas pelan melihat sikap istrinya yang sangat tidak sopan. Ingin menegur, tapi tidak mungkin sekarang. Tamu bahkan masih sangat ramai.
"Ma, maafkan Yola ya..." Adam pun membawa masuk Mama dan adik-adiknya ke dalam rumah.
"Sebentar, biar aku ambilkan kalian minum." Ucap Adam setelah membawa masuk mereka. Ia akan menservice keluarganya. Yola tidak bisa diharapkan.
"Sudah biar aku saja. Mario sama oomnya dulu ya." Rindu menyerahkan bocah Mario pada Bily. Dan ia pergi mengambil makanan dan minuman.
Adam terpaksa tersenyum. Seharusnya Yola melayani keluarganya. Wanita itu malah sibuk dengan teman-temannya saja.
"Itu ibunya Adam. Ayo kita sapa." Dika mengajak sang istri untuk menyapa. Uli pun mengikuti sang suami.
"Apa kabar Bu? Saya Dika. Temannya Adam saat kuliah." Dika menyalami wanita paruh baya itu.
Mama mengingat-ingat kembali. "Dika. Yang dulu sering main ke rumah." Mama mulai mengingatnya.
"Iya, Ma. Dika yang dulu sering nginap di rumah kita." Timpal Adam mengingatkan Mama.
"Sepertinya kalian dulu bertiga. Satu lagi mana?" Tanya Mama kembali.
"Arka? Arka masih di jalan. Mungkin malam baru bisa datang." Ucap Dika.
"Ini anakmu?" Tanya Mama melihat bocah perempuan dalam gendongan Dika.
Bila menyalami Mamanya Adam.
"Ini istriku, Bu." Dika juga mengenalkan istrinya.
Uli menyalami Mamanya Adam. Sebagai tanda kesopanan.
Sementara Adam, tatapannya masih memperhatikan Yola. Yang sedikit pun tidak memperdulikannya maupun keluarganya.
\=\=\=\=\=\=
"Dingin?" Tanya Arka saat bergandengan tangan dengan Nara, menyusuri pantai.
"Tidak, Mas." Nara menggeleng pelan.
Merena berjalan sambil menikmati pemandangan laut diiringi suara deburan ombak.
"Oh iya, Mas. Apa tidak jadi datang ke pesta ulang tahun anak temannya itu?" Tanya Nara. Hari juga makin sore.
"Nanti malam saja aku ke sana. Saat ini aku maunya berdua sama kamu." Ucap Arka mengeratkan genggamannya.
__ADS_1
Awalnya Arka memang ingin mengajak Nara ke sana. Tapi, mengingat Nara adalah mantan istri Adam. Arka merasa sangat berat. Bagaimana saat mereka bertemu, dan sisa-sisa rasa itu masih ada?
Hubungan Arka dan Nara baru saja dimulai. Perasaan wanita itu juga belum terlalu dalam padanya. Arka tak mau Nara meninggalkannya.
Dan juga membawa Nara ke sana. Sama saja, kembali melukai hatinya. Adam merayakan ulang tahun anaknya dari wanita selingkuhannya.
Ponsel Arka berdering. "Dari temanku. Aku jawab sebentar, ya." Arka menunjukkan penelepon pada Nara.
"Iya, Mas." Jawab Nara sambil mengangguk. Ia melihat Arka yang menjauh darinya.
Nara pun memilih duduk di tepi pantai. Memandangi lautan yang luas itu. Ia meraih ponsel dan akan mengambil beberapa foto.
Mengambil beberapa foto selfi dengan background pemandangan laut. Nara lalu membuka sosial medianya. Ia akan memposting fotonya.
Nara terdiam sesaat, melihat satu pesan masuk dari Adam.
Adam: Nara, boleh kita bertemu?
Wanita itu pun segera menutup sosial medianya. Nara kembali menatap ke arah lautan yang terbentang. Dengan pikiran yang mulai terusik. Adam ingin bertemu dengannya?
'Untuk apa?'
"Nara... Maaf ya lama." Arka menghampirinya dan duduk di samping Nara.
"Kamu kenapa?" Tanya Arka menyadari wajah Nara yang tampak bingung.
"Ng-nggak, Mas." Nara menggeleng sambil berusaha tetap tersenyum.
Arka mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menunjukkan pada Nara.
"Sayang... Ayo kita menikah?" Arka menunjukkan sebuah cincin berlian.
"Mas, i-ini..." Nara makin berwajah bingung. Arka melamar dirinya. Ini terlalu cepat.
"Kamu mau menikah denganku?" Tanya Arka kembali menatap wanita itu dengan tatapan lembut. Arka akan bergerak cepat. Ia sudah mengantongi restu Mommynya, restu orang tua Nara juga.
"Mas-Mas... Ini terlalu cepat. Kita masih butuh waktu-"
"Nara... Kita bukan anak ABG lagi. Jika sudah sama-sama yakin, niat baik tidak boleh ditunda-tunda." Jelas Arka masih dengan tatapan lembutnya.
Nara diam menatap wajah pria itu. Ekspresi Arka begitu sangat serius dan meyakinkan.
"Kamu mau kan menikah denganku?" Tanya Arka kembali memastikan.
'Aku juga ingin bersamanya!'
.
__ADS_1
.
.