
"Duda?!" Ucap kompak kedua pria yang sama kagetnya. Mendengar cerita Arka yang mendadak duda.
Arka yang baru juga menikah, mendadak menjadi duda di hari yang sama. Rekor baru.
"Kecilkan suara kalian." Ucap Arka kesal sambil melihat sekitar. Suara Adam dan Dika membuat para pengunjung yang berada di kafe itu, jadi melihat ke arah mereka.
"Apa dia mau menipumu, Ka?"Tanya Dika memasang wajah serius.
"Dia sengaja mempermalukanku." Arka menenggak habis air dalam gelasnya.
Adam menepuk-nepuk pelan bahu Arka. Temannya itu pasti merasa sangat kesal.
"Tapi, Ka..." Dika menjeda ucapannya.
"Hah?" Tatap Arka penasaran.
"Kenapa kau malah mengikuti jejakku juga, menjadi duda?" Dika melihat Arka dengan tatapan aneh.
"Kau memang penyebar virus Duda, Dika. Seharusnya aku tak usah berteman denganmu." Arka menatap Dika kesal. Tapi tak lama mereka kembali tertawa.
"Sabar, Bro. Aku yakin belahan jiwamu sedang dalam perjalanan." Dika menepuk pundak Arka untuk memberi semangat.
Arka mengangguk-anggukkan kepala pelan.
"Tapi, kenapa dia lama sekali datangnya? apa dia nggak kasihan padaku?" Arka memasang wajah sedih.
"Mungkin dia sedang terkena macet." Dika menimpali.
"Jadi, yang semalam itu istri keduamu Dik?" Tanya Adam kemudian.
Dika mengangguk. "Iya, Uli istri keduaku. Istri pertamaku sudah meninggal." Jawab Dika santai.
"Aku turut berduka cita." Adam jadi merasa tak enak hati.
"Dika ini kurang ajar. Istri pertamanya masih hidup lho, Dam." Arka malah menggeleng. Dika asal ceplos saja menjawab.
"Lho?"
"Bagiku dia sudah meninggal. Meninggal-kanku dengan selingkuhannya." Mengingat cerita mantan, membuat Dika kesal.
"Istrimu berselingkuh?"
"Iya, Dia selingkuh di belakangku. Jadi aku menceraikannya. Tiada kata maaf untuk pengkhianatan. Jadi biarkan saja dia hidup bahagia bersama selingkuhannya. Karena itu pilihannya." Jelas Dika yang tak mau ambil pusing.
Adam terdiam. Tiba-tiba ketakutan melandanya. Tentang Nara dan Yola.
Bagaimana jika Nara pergi darinya saat mengetahui kondisinya sekarang.
"Ku harap kau jangan jadi duda juga, Dam." Ucap Arka. Dika sudah menyebarkan virus duda padanya. Apa akan menyebar juga pada Adam.
"Adam nggak mungkin jadi duda. Istrinya nggak mungkin berselingkuh. Yang kulihat Nara sangat mencintaimu." Itu yang Dika lihat dari Nara saat itu.
"Tapi, nggak tahulah ya. Kalau kau yang berselingkuh darinya." Ledek Dika kembali.
"Mana mungkin aku berselingkuh!" Sanggah Adam cepat.
"Aku cuma mengingatkan. Jika kau berselingkuh dari Nara. Pasti kau akan sangat menyesal. Karena menduakan wanita sebaik itu."
__ADS_1
"Jangan selingkuh kau, Dam." Arka ikut memperingatkan Adam.
"Apa kalian ini. Aku ini setia." Adam membela diri dari bulian teman-temannya.
"Bang Adam sudah pulang?" Tanya seorang pria menyamperi ke tiganya.
Adam kaget melihat adiknya ada di sana.
"Iya. Abang sudah pulang, nih kumpul sebentar sama mereka." Adam memberikan alasan.
"Ini Bily, yang dulu masih kecil itu?"
"Bang Dika, Bang Arka apa kabar?" Bily menyalami kedua teman Adam, yang dulu sering datang ke rumah mereka.
"Kami selalu sehat dan tampan pastinya." Arka dengan mode pedenya.
"Oh iya, Bang Arka selamat atas pernikahannya." Bily mengucapkan selamat pada Arka.
"Kenapa tahu aku menikah?" Tanya Arka yang wajahnya berubah kecut.
"Aku bekerja di salah satu cabang perusahaannya Bang Arka. Jadi aku mendengar kabar tersebut. Sekali lagi, selamat atas pernikahannya." Ucap Bily tulus.
Arka terpaksa tersenyum. "Iya... Terima kasih."
Dika dan Arka malah menahan tawa. Bily mengucapkan selamat atas pernikahan Arka, sementara Arkanya sudah menjadi duda.
"Kalau begitu Bily pergi dulu. Sudah ditunggu teman." Bily permisi dan mereka mengangguk.
"Sabar ya, Ka." Dika menepuk pundaknya sambil tertawa.
"Maaf ya, Ka. Bily nggak tahu kalau kau sudah menduda." Adam menggeleng melihat ekspresi Arka yang memasang wajah sedih.
"Benar juga. Ini sudah malam. Bila-ku nggak bisa tidur jika nggak memeluk Papanya."
"Kalian!!!" Arka kesal, kedua temannya malah bergegas pulang.
Adam pulang untuk bertemu istrinya.
Dika pulang untuk bertemu anak dan istrinya.
Lah, Dirinya pulang karena apa?
\=\=\=\=\=\=
"Mas, kok pulangnya mendadak? Tapi besok pagi baru ke sana, malam ini masih menginap di sini." Yola bingung melihat Adam pulang dan membereskan kopernya.
"Maaf Yol, aku harus pulang malam ini." Ucap Adam.
Bily tadi sudah melihatnya, jika malam ini ia tetap di rumah Yola. Saat Bily pulang dan tak melihatnya, itu akan bahaya. Pasti adiknya itu akan bercerita pada Nara, bertemu dengannya di kafe. Sementara yang Nara tahu, Adam sedang bekerja di luar kota.
"Mas, besok saja." Yola menahan tangan Adam yang akan memasukkan koper ke dalam bagasi. Ia sangat tak rela, Adam pergi malam ini.
"Nggak bisa, Yol."
"Mas..." Yola jadi mendengus. "Memang begini kalau jadi yang kedua, akan selalu jadi yang kedua. Istri pertama akan menjadi yang diutamakan."
Adam menatap Yola yang sudah berwajah cemberut itu.
__ADS_1
"Kamu sabar. Setelah kita bersama, aku akan bersikap adil." Adam mengelus tangan Yola.
Ia lalu berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perut Yola.
"Sayang... Papa pergi dulu. Nanti Papa akan datang lagi." Adam mengelus dan mencium perut Yola.
"Kamu sabar ya. Aku pergi dulu." Adam mengelus kepala Yola, lalu ia pun pergi.
Yola hanya mampu menghembuskan nafas kasar, mobil Adam sudah berlalu pergi.
Adam melajukan mobil dengan laju yang cukup kencang. Ia harus sampai di rumah, sebelum adiknya itu pulang.
Mobil Adam berhenti di teras rumah, setelah menempuh perjalanan selama 30 menit.
"Mas Adam? Kok sudah pulang?" Nara yang mendengar suara mobil langsung bergegas keluar. Ia kaget melihat Adam pulang malam ini. Padahal seharusnya besok sore.
"Pekerjaanku sudah selesai, jadi aku segera pulang. Aku sangat merindukanmu." Adam menghampiri Nara dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
"Mas Adam, pasti capek. Ayo... Masuk. Aku akan buatkan teh." Nara menggandeng Adam masuk rumah. Wajah wanita itu sangat bahagia. Melihat sang suami sudah pulang.
"Ciye... Yang nempel terus kayak lem." Ledek Rindu melihat Adam dan Nara yang bergandengan.
"Sudah jam berapa ini? Kenapa belum tidur?" Tanya Adam.
"Masih jam 10, Bang. Belum mengantuk."
Adam tak bicara dan masih melihati adiknya.
"Iya-iya... Aku tidur." Rindu bangkit dan menuju kamar.
"Mama mana, Na?"
"Sudah tidur, Mas. Sebentar biar aku buatkan teh."
Adam mengangguk.
Tak lama Nara menyodorkan teh hangat.
"Mas, mau makan?"
"Nggak usah, aku sudah makan." Tolak Adam.
Nara menatap sendu sang suami yang meneguk tehnya. Wajah Adam tampak sangat letih.
"Mau mandi, Mas? Biar aku siapkan air hangat!"
"Baiklah."
Adam sedang mandi dengan air hangat yang telah Nara siapkan. Sementara Nara mengeluarkan pakaian kotor Adam, yang besok akan dicucinya.
Saat mengeluarkan pakaian, Nara menatap tajam sesuatu yang ada di pakaian Adam.
Wanita itu mengambilnya dan melihat dari dekat.
"Rambut siapa ini? Kok pirang?"
.
__ADS_1
.
.