KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 27 - Bertemu Mommy


__ADS_3

"Hah? Itu..." Nara melihat ke arah Arka, karena wanita paruh baya itu tiba-tiba bertanya tentang pernikahan. Nara tak tahu harus menjawab apa. Nanti salah jawab, Arka pasti akan marah padanya.


"Mom, kami masih dalam masa penjajakan. Belum ada kepikiran untuk menikah. Kami tidak mau terburu-buru." Arka memberikan alasan yang masuk akal. Ia pun melihat ke arah Nara.


Nara mengangguk. "Benar Tante. Kami masih dalam tahap saling mengenal satu sama lain." Nara ikut menimpali. Kalau dia diam saja, ia hanya makan gaji buta.


"Astaga! Kalian ini sudah dewasa dan bukan anak kemarin sore lho. Kalau sama-sama sudah yakin, harus segerakan pernikahan! Niat baik itu tak boleh diundur-undur." Mommy ingin melihat Arka menikah lagi.


"Iya kan, Nara?" Mommy meminta dukungan.


"Haha..." Nara tertawa sumbang. "Nara ikut Mas Arkanya saja." Wanita cantik itu mencari aman.


'Mas? Mas Arka?' Arka menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa sedikit aneh dipanggil seperti itu.


Biasanya, mantan-mantannya akan memanggil nama atau panggilan kesayangan lainnya. Honey, bunny, sweety, bla, bla, bla...


"Kalau begitu, minggu depan kita langsung datang ke rumah Nara." Mommy begitu sangat bersemangat.


"A-apa?" Kompak keduanya sama-sama bertanya.


"Minggu depan kami akan datang ke rumah kamu, bertemu orang tua Nara untuk membicarakan pernikahan. Lalu minggu depannya lagi kalian lamaran, dan minggu depannya lagi kalian menikah." Mommy akan bergerak cepat.


Ini pertama kalinya, Arka memperkenalkan seorang wanita padanya. Jadi menurut Mommy, pasti Arka sangat serius dengan wanita bernama Nara ini.


Nara melihat ke arah Arka, bertanya dengan mimik wajah bingung. Kenapa jadi seperti ini?


"Haha... Mom, tenang saja. Kami masih dalam tahap mengenal-"


"Sampai kapan?" Potong wanita paruh baya itu cepat.


"Hah itu?" Arka jadi bingung sendiri. Ia pun berdiri dan duduk di samping Mommynya.


Arka membisikkan sesuatu yang membuat wajah mommy tersenyum senang.


"Ok ok. Mommy mengerti."


Sementara Nara hanya melihat mereka saja. Tah apa yang sudah Arka bisikkan pada paruh baya tersebut. Hingga mommynya itu tersenyum.


"Nara, kamu sudah makan belum? Kebetulan mommy sudah memasak banyak makanan. Ayo... Kita makan!" Mommy mengajak Nara untuk makan bersama.


Nara melihat ke Arka, pria itu menganggukkan kepala.


Di meja makan mereka makan bersama, dengan menu yang sudah mommy persiapkan untuk calon menantunya.


"Nara, kamu bisa masak?" Tanya Mommy disela-sela makannya.

__ADS_1


"Bisa Tan." Jawab Nara cepat.


"Bagus dong. Arka itu kuat makan. Kamu nanti kalau sudah jadi istrinya, sering-sering masak."


Nara terpaksa mengangguk.


"Makanan kesukaan Arka itu..." Mommy melirik Arka yang sudah memasang wajah kesal.


"Dia sangat suka rendang jengkol." Bisik Mommy pelan yang masih jelas terdengar Arka.


"Mom!" Arka melihati sang mommy.


"Memang kamu sukanya makan itu, kok. Mommy hanya memberitahu calon istrimu." Mommy merasa tak bersalah karena sudah mengatakan hal itu.


Sementara Nara, berusaha mengulum senyum. Ternyata Rendang Jengkol adalah makanan favorit bos besarnya itu.


Sesaat kemudian... Nara pamit pulang. Hari juga sudah malam. Ayah dan Bunda tadi sudah meneleponnya.


"Tante... Nara pulang dulu ya." Pamitnya menyalami mommy.


"Kamu harus sering-sering main kemari, ya." Mommy mengelus kepala Nara, saat wanita itu menyalaminya. Ia sangat menyukai Nara.


"Arka... Jangan ngebut-ngebut bawa mobil." Pinta Mommy mengingatkan Arka.


Arka mengangguk paham. Ia pun juga berpamitan.


"Pak, ibu anda sangat ingin melihat anda segera menikah. Seharusnya tadi anda membawa kekasih anda saja." Nara membuka suara, dari tadi mereka diam saja.


"Saya tidak punya kekasih." Jawab Arka jujur. Selama ini ia tak pernah dekat dengan wanita manapun.


Nara melihat Arka dengan raut tak percaya. Setelah bekerja di sana, Nara sering mendengar gosip tentang atasannya itu.


Gosip yang sudah menjadi rahasia umum itu. Tentang keplayboy-an Arka sebelum menikah. Lalu saat menikah, pernikahannya hanya bertahan satu bulan. Banyak yang berasumsi mungkin istrinya meminta cerai, karena pria ini selalu bermain dengan banyak wanita di belakang istrinya. Bosnya itu banyak selingkuhan bahkan wanita simpanan.


"Kenapa ekspresi kamu begitu?" Arka melirik Nara.


"Saya nggak percaya. Mana mungkin anda jomblo." Jawab Nara mencibir tipis. Modelan seperti Arka jomblo? Mustahil.


"Pasti kamu sudah mendengar gosip yang tidak jelas di kantor. Mereka itu tidak tahu apapun tentang saya." Arka sudah tahu tentang gosip tersebut. Dan ia juga tidak terlalu peduli tentang itu.


Nara mengangguk pelan, mau aslinya Arka seperti apa. Ia juga tidak peduli.


Nara hanya seorang sekretaris yang bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.


"Oh iya, Nara... Terima kasih atas bantuan kamu untuk hari ini. Selanjutnya, nanti saya selesaikan sendiri dan saya juga tidak akan melibatkan kamu lagi." Arka sudah memikirkan rencana yang akan datang.

__ADS_1


"Baik, Pak." Jawab Nara lega. Tugasnya berpura-pura menjadi kekasih Arka sudah selesai.


"Pak, saya berhenti di sana saja." Tunjuk Nara pada ujung jalan. Tempat ia dan Arka bertemu tadi sore.


"Ini sudah malam. Saya antar sana kamu sampai rumah-"


"Jangan!!!" Pekik Nara menyela ucapan Arka. Pria itu kaget mendengar pekikan Nara.


"I-ini sudah malam." Arka menjawab gugup.


"Turunkan di sana saja, Pak." Nara tetap memaksa Arka menurunkannya di tempat itu.


"Sudah, saya turunkan kamu dekat rumah kamu saja. Tidak di depan rumah." Ucap Arka memberi saran. Akan bahaya jika sekretarisnya di pinggir jalan yang sepi.


"Nggak usah, Pak. Saya bisa naik taksi saja." Nara tetap menolak. Ia tak mau diantar Arka sampai rumah.


"Ini sudah malam, akan berbahaya wanita di luar sendiri. Banyak begal berkeliaran." Arka tak mau menurunkan Nara di pinggir jalan. Mengingat hari juga sudah pukul 10 malam.


Nara diam saja membenarkan. Ia juga sudah lama tak keluar rumah sendirian saat malam hari.


Arka melajukan mobilnya cukup kencang menuju ke rumah Nara.


"Pak, sudah turunkan saya di sini saja." Ucap Nara saat telah memasuki gang rumahnya.


"Mana rumah kamu?" Tanya Arka sambil menepikan mobilnya.


"Itu... 2, 3 rumah dari sini." Jawab Nara sambil membuka sabuk pengamannya.


Arka mengangguk. Setelah mematikan mesin mobilnya. Ia meraih ponselnya.


"Sudah saya transfer ke rekening kamu." Arka menunjukkan ponselnya berisi bukti transfer.


Nara melihat sejenak dan menutup mulutnya tak percaya.


"Te-terima kasih, Pak." Nara tersenyum tipis melihat nominal uang yang sebanyak gajinya satu bulan.


"Hati-hati di jalan, Pak." Ucap Nara lalu turun dari mobilnya.


Tak lama mobil Arka pun melaju pergi. Nara masih berdiri di tempatnya, melihat sampai mobil itu hilang dari pandangannya.


Saat ia membalikkan badan, tiba-tiba...


"Astaga!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2