
"Bunda!!!" Teriak Nara dari dalam kamarnya.
Bunda yang sedang di dapur, Ayah yang menonton tv bahkan Gio yang baru pulang kerja, kaget mendengar suara teriakan itu. Mereka segera berlari ke kamar Nara.
"Kenapa?" Tanya ketiganya kompak dengan raut wajah khawatir.
"Ayah, Bunda, Gio... Lihat ini. Besok aku dipanggil untuk interview kerja." Nara menunjukkan ponselnya.
Mereka bernafas lega sejenak. Ternyata Nara berteriak karena itu.
"Pakaian putihku mana ya?" Nara mencari-cari pakaian putih di lemari.
Wajahnya langsung ditekuk saat menemukannya terlipat dengan warna yang tidak bisa dibilang putih.
"Sudah kuning." Nara menunjukkan pakaian putih yang dulu tak dibawanya, saat akan tinggal bersama Adam. Pantaslah warnanya jadi kekuningan.
"Kita beli saja pakaian baru dan kebutuhan lainnya." Ajak Gio menarik tangan kakaknya.
"Ng-nggak usah, Yo. Ini biar dicuci saja terus dikeringkan. Besok pagi bisa dipakai." Tolak Nara tak enak dengan adiknya.
"Sudah, ayo kak. Ayah, Bunda, kami pergi dulu." Pamit Gio pada kedua orang tuanya.
"Nggak usah-" Nara masih menolak.
"Iya, Nak. Pergilah sana sama Gio beli pakaian. Memang kamu mau ditolak karena pakaian?" Ayah mendukung Gio membeli pakaian baru.
"Benar, payah ngilangi noda kuning seperti itu." Bunda juga menimpali.
"Ayo kak... Keburu malam."
"Tapi kamu baru pulang kerja-"
Gio menggeret sang kakak. Makin lama berdebat hari sudah makin sore dan akan menjelang malam. Bisa-bisa tak jadi mereka pergi membeli pakaian baru.
\=\=\=\=\=\=
Gio membawa Nara ke toko pakaian. Ia membelikan sang kakak kemeja putih polos, rok hitam lengkap dengan sepatunya.
Nara menolak, tapi adiknya tetap memaksa membelikannya. Karena kakaknya memang memerlukan itu.
"Dek, habislah uangmu itu." Nara membawa beberapa bungkusan, berisi keperluannya. Ia tak enak hati pada Gio.
"Aman itu, kak." Jawab Gio santai sambil berjalan menuju parkiran sepeda motor.
"Kak Nara mau makan bakso?" Tanya Gio sambil tersenyum.
Wajah pria itu langsung cemberut saat Nara menggeleng. Kakaknya menolak makan bakso, padahal Gio tahu itu makanan kesukaan kakaknya.
Nara menolak karena tak enak hati. Ia kini tak punya uang. Sudah pakaian dibelikan adiknya, masa makan bakso juga ditraktir.
Gio mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Nara duduk diam diboncengan.
"Kok belok?" Nara bingung.
"Aku lapar kak. Makan dulu kita." Gio membelok ke warung bakso.
Mereka pun mencari tempat duduk dan memesan bakso.
Gio tersenyum melihat Nara yang berbinar saat pesanan bakso spesialnya datang.
__ADS_1
Pria itu jadi ingat ketika dulu Nara sering mengajaknya makan bakso. Setiap Nara gajian, pasti mengajaknya jalan-jalan untuk beli pakaian, lalu mereka mampir ke warung bakso.
Gio yang saat itu masih sekolah. Selalu berdoa agar waktu cepat berputar. Agar awal bulan segera tiba, karena disitu kakaknya gajian. Dan Gio selalu mendapat cipratan dari Nara. Kakaknya nggak pelit padanya.
"Dek, doai ya. Besok kakak lancar interviewnya terus diterima. Nanti kalau sudah gajian, kakak traktir kamu makan bakso yang sa...ngat besar. Nggak pakai mangkuk lagi, pakai baskom." Ucap Nara meyakinkan Gio.
Gio menganggukkan kepala sambil tertawa. "Benar ya kak. Yang baksonya besar."
"Iya, lebih besar dari ini."
"2 porsi kak."
"Memang bisa habis..."
"Habis dong, aku kan rajanya bakso."
"Nanti perutmu bisa seperti bakso." Nara tertawa membayangkan adiknya bertubuh gemuk.
Gio senang melihat senyum dan tawa kakaknya lagi. Ia berharap Nara segera bangkit dari keterpurukannya. Dan memulai membuka lembaran baru lagi.
Kakaknya harus tetap bahagia.
\=\=\=\=\=\=
Nara tersenyum melihat dirinya dalam pantulan cermin.
Ia sudah rapi memakai pakaian hitam putih. Rambut Nara diikat ekor kuda lalu ia juga memoles wajahnya dengan make up tipis.
Hari ini ia akan interview kerja. Jadi ia akan rapi dan bersih.
Nara datang ke meja makan. Ia akan sarapan sebelum pergi.
'Kak Nara sangat cantik. Kok bisalah Adam lebih memilih wanita yang seperti boneka santet itu.' Gio tak habis pikir dengan mantan abang iparnya.
"Ini kamu makan dulu. Biar nggak lemas nanti." Bunda memberikan piring berisi nasi goreng.
"Terima kasih, Bun. Doai Nara diterima, biar nanti gajian kita jalan-jalan."
"Bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."
Nara tersenyum senang. Ia pun sarapan bersama orang-orang yang tulus menyayanginya.
"Kak, aku antar saja." Tawar Gio.
"Nggak usah, nanti kamu mutar-mutar. Kakak sudah pesan ojek kok." Ucap Nara menunjukkan orderan ojeknya.
Tin
"Itu sudah sampai. Nara pergi dulu ya." Nara menyalami dan memeluk orang tuanya.
"Ayah selalu menyayangimu."
"Nara juga sayang sama Ayah." Nara memeluk erat Ayahnya. Pria yang membesarkannya dengan kasih sayang. Dari ia kecil hingga ia sekarang, Ayah tak pernah memarahinya.
Gio melambaikan tangan pada kakaknya yang bergegas pergi.
Sekitar 30 menit Nara sampai di depan sebuah perusahaan. Ia pun membayar ongkos ojek dan bergegas memasuki loby. Ia tidak boleh terlambat saat interview. Itu bisa mengurangi penilaian.
Tak lama Nara berada di sebuah ruangan bersama dengan pelamar yang lain. Menunggu giliran interview.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang pria masuk ke ruangan itu. Membuat semua mata tertuju pada pria itu.
"Nara Amelia." Ucap Sam.
"Sa-saya, Pak." Ucap Nara gugup namanya dipanggil pria itu.
Nara pun berdiri dan berjalan menghampiri pria itu.
"Kamu yang bernama Nara Amelia?" Sam memastikan kembali. Ia melihat foto pelamar di tabletnya dengan orang yang berdiri di hadapannya.
"Benar, Pak. Saya Nara Amelia." Ucap Nara membenarkan.
"Ikut saya." Pinta pria itu.
Sam membawa Nara ke ruangan lain. Ia yang akan menginterview Nara langsung, sesuai dengan perintah atasannya.
'Kok beda di foto sama aslinya. Apa begini efek sudah janda? Cantik banget sih. Kalau dia masih single sudah kusikat nih!'
"Perkenalkan diri kamu." Pinta Sam.
Nara pun memperkenalkan diri. Pria itu mendengar dengan fokus dan tanpa kedip.
Ternyata janda pelamar ini dulunya bekerja sebagai SPG sebuah produk.
'Apa aku tanya alasannya menjanda?' Sam jadi kepo dengan pelamar itu.
"Baiklah. Posisi sekretaris CEO kebetulan sedang kosong. Apa kamu-"
"Sekretaris?" Nara memotong ucapan Sam dengan wajah kaget. Dia melamar jadi staff, kenapa malah jadi sekretaris.
Sam mengangguk pelan. "Benar, apa kamu berminat menjadi sekretaris?"
"Ta-tapi saya nggak punya pengalaman sama sekali dibidang itu." Jawab Nara jujur apa adanya.
"Itu tidak masalah, nanti bisa diarahkan. Yang penting kamu serius dan benar-benar ingin bekerja. Mengenai gaji..." Sam menjelaskan panjang lebar.
'Lumayan gajinya!' Nara sudah mengkhayal memegang uang sebanyak itu.
"Baik, Pak. Saya mau." Nara akan mencobanya. Ini kesempatan langkah, jadi tidak boleh dilewatkan.
"Kamu bisa langsung bekerja sekarang."
"Sekarang?" Nara kembali kaget.
"Apa ada masalah?" Tanya Sam menatap Nara serius.
Nara menggeleng. "Tidak, Pak. Saya siap bekerja sekarang. Hari ini juga."
Wanita itu sangat senang, ia tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya.
Sam terpaku melihat senyum dari wanita di hadapannya.
'Janda memang menggoda!!!'
.
.
.
__ADS_1