KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 50 - Percaya Padaku


__ADS_3

"Mau kah kamu hidup bersamaku selamanya?"


Deg


Hati Nara berdesir mendengar perkataan tiba-tiba dari Arka. Perkataan yang dapat dianggap sebagai awal keseriusan.


"Apa anda selalu mengatakan hal seperti itu pada wanita-wanita yang anda dekati?" Tanya Nara berusaha bersikap santai. Meski debaran hatinya masih terasa.


"Apa?" Arka tercengang. Wanita itu malah bertanya demikian.


Arka segera menjauhkan tangannya dari Nara. "Kamu pasti dengar gosip-gosip nggak jelas itu, kan."


Arka menghembuskan nafas. Pria itu tak mempermasalahkan tanggapan mereka, karena ia merasa tidak penting juga untuk memberikan penjelasan pada mereka.


Tapi, sekarang... ia mulai paham. Mungkin Nara terus-terusan menolaknya, disebabkan gosip yang beredar tersebut.


"Saya..." Arka berpikir sejenak. Mau dijelaskan dari mana? kisah asmaranya terlalu panjang dan rumit.


"Saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada mereka." Arka kembali fokus ke intinya saja. Biarkan kisah masa lalunya akan diceritakannya perlahan. Itu pun jika Nara bertanya.


Itu hanya masa lalunya saja. Masa depannya menjadikan Nara pelabuhan terakhirnya.


Nara melihat Arka masih dengan wajah meragukan.


"Saya mengatakan hal tersebut hanya denganmu."


"Kenapa?" Tanya Nara ingin tahu.


"Karena saya ingin serius sama kamu." Tegas Arka kembali.


Lagi dan lagi, wajah Nara masih meragukannya. Bahkan ekspresi Nara tambah sangat meragukannya.


"Saya ingin menjalin hubungan serius dengan kamu. Menjadikan kamu milik saya seutuhnya dengan pernikahan. Lalu kita akan hidup bersama selamanya..." Ungkap Arka jujur dari hatinya yang paling dalam.


Arka yang beberapa waktu lalu berpikiran akan menduda selamanya. Kini, ingin menjalani kehidupan pernikahan. Menikah dengan wanita yang memang ingin ia nikahi.


Ya, Arka ingin menikah dengan Nara dan hidup bersama berdua selamanya.


"Bagaimana dengan anak?" Tanya Nara dengan serius.


"Anak?" Arka tampak berpikir. "Ya, kita akan memiliki anak. Kamu mau punya anak berapa? 2, 3, 4?"


Deg


Perasaan Nara sedikit sedih. Semua pria pasti menginginkan adanya anak dalam pernikahan.


"Bagaimana jika..."


Arka masih menunggu perkataan Nara.


"Jika ternyata saya mandul." Nara akan mengatakan sejujurnya saja. "Saya bercerai karena hal itu."


Arka diam menatap Nara yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Anda sudah tahu sekarang. Jadi lebih baik anda jauhi saya dan-"

__ADS_1


Ucapan Nara terhenti karena tiba-tiba Arka memeluknya.


"Nara, saya hanya ingin bersama kamu. Jika kamu tidak bisa memberikan seorang anak, itu tidak masalah." Arka memeluk erat wanita yang mulai terisak.


"Jika menginginkannya, kita bisa adopsi anak dari panti asuhan." Arka perlahan melepas pelukannya. Ia melihat wajah Nara yang sudah berlinang air mata.


"Anda tidak akan punya keturunan jika bersama saya."


"Hei..." Arka menghapus air mata Nara. Wanita itu terlihat begitu sedih. "Saya tidak peduli itu. Hidup bersama kamu itu sudah lebih dari cukup."


"Anda akan menyesal-"


"Kenapa saya menyesal? Nara... Jangan mempersulit keadaan. Sekarang katakan jawaban kamu!" Paksa Arka yang jadi tidak sabaran.


"Saya ingin hidup bersama kamu, ada atau tidak adanya anak, itu bukan masalah. Selama bersama kamu." Tergas Arka kembali meyakinkan wanita itu. Nara pasti trauma dengan pernikahan dan wanita itu juga sepertinya minder dengan kondisinya.


Nara kembali menatap mata Arka yang begitu yakin mengatakan hal itu.


Tik tik tik


Butiran air mulai berjatuhan. Arka melepas jasnya dan meletakkan di atas kepala Nara.


"Ayo, kita pulang. Sebelum hujan makin deras." Arka meraih tangan Nara dan menggandengnya. Mereka berlari kecil melewati gerimis sore itu.


'Apa aku boleh percaya sekali lagi?!' Nara melirik Arka yang menggandengnya menuju ke tempat mobil terparkir.


Setelah menerjang gerimis, mereka sampai di dalam mobil.


Nara kembali terpaku dengan perhatian pria itu. Arka segera mengelap wajahnya dengan tisu. Padahal ia tidak basah karena ada jas pria itu.


"Terima kasih." Ucap Arka memandangi wajah cantik di hadapannya.


"Su-sudah, Pak." Nara menghentikan tangannya. Ia mendadak gugup dilihat seperti itu dan memilih mengalihkan pandangan ke sisi kirinya.


"Nara..." Panggil Arka lembut.


"I-iya, Pak. Kita pu-" Nara kembali menoleh ke arah Arka. Dan...


Nara menahan dada Arka saat pria itu tanpa basa basi mencium bibirnya.


"Pak, I-ini-" Nara menutup mulut Arka dengan tangannya.


"Izinkan aku membuatmu bahagia." Arka perlahan meraih tangan Nara yang menutup mulutnya dan meletakkan tangan Nara di bahunya.


"Percaya padaku!" Tatap Arka lembut membuat Nara mengangguk pelan.


Arka kembali menyatukan bibirnya dengan bibir seksi milik wanitanya. Meresap rasa manis dan kenyalnya bibir merah tersebut.


Perlahan tangan Nara mulai melingkar di leher Arka. Nara mulai membalas setiap pangutan dari pria itu.


Debaran hati keduanya saling bersahutan, diiringi suara derasnya air hujan yang turun membasahi bumi.


Beberapa saat berlalu. Keduanya terlihat canggung dan hanya melihat sisi jendela saja.


"Nara... Ki-kita pulang?" Tanya Arka gugup, sambil melihat ke arah Nara.

__ADS_1


"I-iya, Pak." Jawab Nara menganggukkan kepala saja, tak berani melihat atasannya.


"Kalau begitu pasang sabuk pengamanmu." Pinta Arka lalu melihat ke arah depan.


"Ng-nggak bisa, Pak." Ucap Nara pelan.


"Kenapa nggak bisa?" Arka melihat ke arah Nara kembali. "Apa kamu mau saya yang memasangkan sabuk pengamannya?" Tanya Arka sambil mengulum senyum. Ia sangat senang, sepertinya Nara ingin bermanja dengannya.


"Bukan, Pak." Sanggah Nara melihat wajah Arka sejenak lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Jadi?" Arka merasa bingung sendiri.


"Itu... tangan saya, Pak."


Arka melihat ke arah tangan. Lalu segera melepasnya. Ia tidak sadar dari tadi tangannya sudah menggenggam tangan mungil Nara.


Setelah genggaman tangan Arka lepas, Nara memasang sabuk pengamannya. Ia melirik Arka yang juga memasang sabuk pengamannya.


Dalam perjalanan keduanya saling diam dan menatap jalanan depan. Tak ada obrolan.


"Sudah sampai." Ucap Arka menyadarkan lamunan Nara.


"Astaga, Pak Arka. Kenapa berhenti pas di depan rumah?" Tanya Nara menatap tak percaya.


Arka menurunkan di depan rumahnya dan bukan di tempat biasa.


"Sa-saya mau bertemu dengan calon mertua." Jawab Arka menormalkan wajahnya dengan ekspresi santai.


"Ca-calon mertua?" Ulang Nara dengan wajah tercengang.


"Saya mau memberi salam-"


"Tidak Pak." Potong Nara menyela perkataan Arka. Ia menahan tangan pria itu yang akan membuka pintu mobil.


"Kenapa? Kamu malu?"


"Bu-bukan begitu. Tidak sekarang."


"Kapan?"


"Nanti."


"Nantinya itu kapan, sayang?"


Wajah Nara merona dipanggil sayang.


"Kapan-kapan. Saya permisi, Pak. Hati-hati di jalan." Nara segera keluar dari mobilnya Arka. Dan berlari masuk ke dalam rumah.


Arka melihat Nara yang sudah kabur meninggalkannya. Ia jadi senyum-senyum sendiri melihat Nara yang makin lama makin menggemaskan.


'Sebentar lagi kamu tidak akan menjadi janda menggemaskan lagi, tapi... Istriku yang menggemaskan!!!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2