KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 67 - Bertemu Mantan


__ADS_3

"Jadi begitu, Mas." Ucap Nara setelah menceritakan tentang Adam pada Arka. Menceritakan dengan mata berkaca-kaca.


Arka mengelus kepala Nara dengan lembut. Ia tak tega melihat wajah Nara yang begitu menyedihkan. Wanita ini pasti sangat menderita dan sakit hati.


"Aku pernah percaya pada seorang pria dan dia menyakitiku. Dan sekarang, aku ingin percaya lagi pada seorang pria."


"Aku tidak seperti dia. Percaya padaku, Nara." Arka menggenggam erat tangan Nara.


"Jika Mas Arka sama seperti Mas Adam. Ya sudahlah, mau bilang apa lagi. Memang nasibku yang tak beruntung." Ucap Nara sambil tersenyum.


Nara akan mencoba percaya sekali lagi pada seorang pria. Dan jika pria itu sama dengan sang mantan. Benarlah ungkapan yang mengatakan semua lelaki sama saja.


"Sayang, percaya padaku!" Arka meyakinkan kembali.


Nara tersenyum tipis, ia pun menyedot kopi dingin tersebut.


Arka melihat Nara dengan serius. Wanita itu sudah terbuka tentang masa lalunya. Apa dia harus mengatakan tentang masa lalunya juga?


"Nara... Begini..." Arka akan menceritakan dirinya. Dari pada jadi masalah di suatu hari nanti. Dan Nara mendengar dari orang lain.


"Kenapa, Mas?" Tanyanya bingung.


"Itu... aku menikah dan bercerai di hari yang sama."


Nara melihat Arka dengan wajah bingung. Apa maksud pria ini?


"Jadi..." Arka pun bercerita panjang tentang dirinya yang mendadak duda.


Nara mendengarkan sambil menutup mulutnya tak percaya. Percintaan pria tampan ini, tidak semulus jalan tol.


"Jadi begitulah." Ucap Arka bernafas lega. Sudah tidak ada yang ditutupi dari Nara, perihal mendadak dudanya.


"Jadi... Kuharap. Saat kita telah menikah, tolong jangan tinggalkan aku. Tetaplah di sisiku apapun yang terjadi." Ucap Arka dengan tatapan yang dalam.


Nara menganggukkan kepala. "Mas, juga jangan pernah meninggalkanku ya."


"Pasti! Kecuali jika maut memisahkan kita." Arka akan bertekad akan bersama wanita itu selama sisa hidupnya. Sampai maut menjemput mereka nantinya.


"Oh iya. Ayo kita pulang. Kita singgah dulu beli pizza. Bunda mau makan itu." Arka ingat untuk membawakan Bundanya Nara pizza.


"Nggak usah, Mas. Bunda hanya becanda itu." Tolak Nara.


"Sudah, ayo..." Arka meraih dan menggandeng Nara keluar dari kafe tersebut.


Saat sampai rumah.


"Kok benaran dibawai sih?!" Bunda berbasa basi. Arka membawakannya pizza berukuran jumbo.


"Nggak apa, Bun. Tadi sekalian lewat juga."


'Bunda sudah kena suap!' Gio mendumel melihat Bundanya yang begitu baik pada calon menantu playboynya tersebut.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu." Arka menyalami Bunda.


"Terima kasih banyak ya. Lain kali jangan sungkan-sungkan ya." Bunda tersenyum disalami calon menantunya tersebut.


"Adik ipar, abang pulang dulu ya." Ucap Arka pada Gio.

__ADS_1


"Masih calon." Jawab Gio membenarkan. Ia pun meringis mendapat cubitan dari Nara.


"Ayo, Mas." Nara akan mengantar Arka sampai teras rumah.


"Aku pulang dulu ya. Besok, jangan lupa." Arka mengingatkan.


"Iya, Mas. Nanti malam aku mau membuatkan kukis untuk ibu."


"Tidak usah. Nanti kita beli saja. Kamu tidur dan istirahatlah." Arka tak mau Nara kelelahan.


"Buat itu sebentar saja, Mas." Nara meyakinkan Arka.


"Ya sudah... Yang penting kamu jangan kecapekan." Arka kembali mengelus kepala Nara.


Arka melihat sekitarnya. Ia ingin menkecup pipi Nara atau bibirnya jika memungkinkan.


Pria itu tersenyum, saat melihat ada seseorang di balik tembok.


"Aku pulang." Arka memilih melupakan keinginannya. Adiknya Nara sedang mengawasi mereka. Jika ia berani menyentuh wajah Nara, pasti adiknya itu akan langsung menghalangi.


Nara melambaikan tangan mengiringi mobil Arka yang perlahan mulai menjauh. Senyum terus terlihat jelas di wajahnya.


Saat Nara akan masuk ke rumah.


"Astaga Gio!!!" Pekik Nara yang kaget adiknya ada di balik tembok. Dari tadi pasti Gio mengawasi mereka.


"Kak Nara serius sama pria itu?" Tanya Gio menyelidik.


Nara mengangguk.


"Ya sudah, aku restui kalian. Tapi, kalau dia menyakiti kakak. Aku, orang pertama yang menghajarnya dan memberinya pelajaran." Gio memperingatkan dengan memberi ancaman.


Gio sudah melihat wajah Nara dan Arka yang sama-sama berbinar saat menatap. Ia dapat merasakan keduanya yang sama-sama saling jatuh cinta. Sebagai adik yang baik, ia ingin kak Naranya dapat bahagia kembali.


"Tapi, katakan pada pak Arka. Untuk menaikkan gajiku." Ledek Gio.


"Gio!!!"


\=\=\=\=\=\=


Nara berjalan menuju sebuah mini market. Bahan-bahan untuk membuat kukis ada yang kurang. Jadi ia pergi membelinya.


Keranjang sudah terisi penuh, oleh bahan-bahan yang diperlukannya. Ia pun menuju kasir dan membayar belanjaannya.


Nara berjalan keluar mini market dengan membawa beberapa bungkusan. Langkah kaki Nara terhenti saat melihat sosok seorang pria di depannya.


"Nara." Ucap pria itu.


"Mas Adam." Ucap Nara pelan.


Adam dan Nara duduk di kursi-kursi yang berada di depan mini market tersebut. Katanya Adam ingin berbicara sebentar.


"Nara... kamu apa kabar?" Tanya Adam menatap Nara yang semakin cantik.


"Baik." Jawab Nara singkat. Entahlah, setelah lama tak pernah bertemu. Nara menjadi canggung dan tidak nyaman.


"Baguslah." Adam mengangguk sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Wajah Adam berubah serius saat melihat cincin melingkar di jari manis mantan istrinya itu.


Adam jadi bertanya-tanya, apa Nara sudah memiliki pria lain?


Yang dia tahu, selama ini Nara belum menikah lagi.


"Gimana kabar Ayah sama Bunda? Gio juga?" Tanya Adam kembali.


"Mereka baik." Nara menjawab sekenanya.


Semenit...


Dua menit...


Lima menit...


Sepuluh menit pun telah berlalu...


Mereka saling diam tak bicara.


Adam merasa Nara sekarang berubah. Wanita itu irit bicara. Menjawab pertanyaannya hanya sekenanya saja. Nara tak mau berbasa basi.


Seharusnya Nara bertanya, kenapa dia ada di sekitaran rumahnya?


Nara melihat jam di ponselnya. Hari sudah makin malam. Ia harus pulang. Karena mau membuat kukis untuk calon mertuanya. Jika membuat pagi-pagi, tidak akan sempat.


"Mas, ini sudah malam. Aku permisi pulang." Pamit Nara sambil bangkit dari duduknya.


Ada rasa sedih di hati Adam. Nara ingin pergi begitu saja.


"A-aku antar ya?" Tawar Adam.


"Tidak usah, Mas." Nara menggeleng. Ia tersenyum tipis dan akan berlalu pergi.


"Nara..." Panggil Adam.


Langkah kaki Nara terhenti. Ia menghembuskan nafas pelan dan membalikkan badannya.


"Ada apa?" Tanya Nara.


"Itu... Bi-bisakah kita kembali bersama?" Adam mengutarakan maksudnya.


Nara terdiam sesaat. Setelah sekian lama, Adam ingin kembali padanya? Untuk apa? Dia hanya wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan.


"Maaf, Mas. Aku akan menikah." Nara mengangkat tangannya. Menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.


"Ka-kamu mau menikah? Dengan siapa?" Tanya Adam menahan emosi yang mendadak singgah di hatinya.


"Dengan seorang pria yang aku cintai." Ungkap Nara dengan tegas.


"Aku akan mengundang Mas Adam saat kami menikah." Setelah mengatakan itu, Narapun meninggalkannya.


'Kamu mau menikah?!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2