KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 98 - Hasilnya


__ADS_3

Nara menutup mulutnya, merasakan perasaan bahagia yang membuat air matanya berlinang.


"Sayang-sayang Mama, Mama jadi nggak sabar melihat kalian terlahir ke dunia. Sehat-sehat di sana ya, Nak." Ucap Nara pelan sambil memandangi foto hasil USG yang terpajang di dinding. Foto itu telah dibuat besar. Sebesar bingkai foto pernikahan mereka.


Foto tersebut berada di ruang tamu, di samping foto pernikahannya dengan Arka.


"Nara..." Panggil Mommy. Setiap hari ia selalu melihat menantunya, berdiri memandangi foto tersebut. Nara sering berbicara pada foto tersebut dengan air mata berlinang.


Mommy sangat mengerti perasaan Nara. Menantunya itu pasti sangat bahagia hingga terharu. Diberikan momongan setelah lama mengarungi pernikahan. Ya, walaupun Nara mendapatkan anak dari suami keduanya.


"Iya, Mom." Jawab Nara menghapus air matanya.


"Kamu jangan nangis gitu. Nanti anak kamu jadi mewek." Mommy mengingatkan.


"Ma-maaf, Mom."


"Mommy mau ajak kamu membeli kebutuhan cucu-cucu Mommy." Wanita paruh baya itu membawa Nara duduk.


Mommy memberikan katalog perlengkapan bayi pada Nara.


"Kamu pilih saja mana yang kamu suka. Nggak usah takut... Kualitas produk top."


Nara mengangguk dan melihat katalog tersebut. Ada begitu banyak pakaian bayi yang begitu imut dan menggemaskan.


"Kalian sedang lihat apa?" Tanya Arka yang baru pulang dari kantor. Ia menyalami Mommy lalu barulah istrinya.


"Mas..." Nara melirik tajam. Arka dengan santainya menciumi pipinya. Pria itu lupa masih ada Mommy di sana.


Mommy menggeleng melihat kebucinan putranya. Mencoba wajar saja.


"Halo anak-anak Papa." Arka tak menanggapi, ia memilih menyapa perut Nara sambil mengelusnya dengan sayang.


"Kalian nggak sempit-sempitan kan di dalam? Kalau sempit cepat keluar ya-"


Mommy menjewer kuping Arka. Putranya itu berbicara ngasal.


"Kalau bayinya keluar sekarang bahaya loh Arka!!! Bayi itu di dalam kandungan selama 9 bulan-"


"Aku kan cuma becanda, Mom." Arka mengelus telinganya yang sudah memerah.


"Sayang, kamar bayinya mau dicat warna apa?" Tanya Arka mengalihkan obrolan. Daripada dengar Mommynya terus merepet panjang.


"Warna apa ya? Menurut Mommy cocoknya warna apa...?"


Tak lama, Nara berdiri di teras rumah. Menikmati udara sore yang menyegarkan.


"Sayang, dingin?" Tanya Arka yang memeluknya dari belakang.


"Mas, nanti ada yang lihat." Nara merasa malu dengan perlakuan suaminya. Mereka sedang berada di luar kamar.


"Biarkan saja." Arka tidak peduli, ia menyanggahkan dagu di pundak Nara. Memandangi pergunungan yang makin membesar. Sudah lama ia tidak menjadi penjelajah.


Nara menggeleng. "Mas, mau teh? Biar aku buatkan?"


"Nanti saja." Tolak Arka.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu, sayang?" Tanya Arka pelan.


"Aku sangat bahagia, Mas. Akhirnya ada bayi di dalam perutku. Kita akan memiliki anak." Nara sangat senang. Kebahagian sedang berpihak padanya. Kebahagiaan yang di dapat dari suami keduanya.


"Aku akan jadi suami dan Papa yang terbaik untuk kalian." Janji Arka meyakinkan dirinya. Nara dan anak kembar dalam kandungan itu adalah tanggung jawabnya.


Nara mengelus wajah Arka. "Kamu yang terbaik, Mas Arka."


Arka tersenyum mendengar pujian Nara.


"Sayang, ayo kita masuk." Arka menuntun Nara untuk kembali masuk ke rumah. Ia membawa Nara menuju kamar mereka.


Begitu masuk kamar, Arka perlahan menurunkan tali pakaian istrinya.


"Mas, mau apa?" Tanya Nara menepis pelan tangan Arka.


"Memang mau apa lagi! Aku mau mengunjungi anak-anak kita..."


"A-a-apa?"


\=\=\=\=\=\=


Adam pulang dari kantor dengan wajah yang begitu sangat letih.


"Mari-" Saat masuk rumah, Adam segera menggelengkan kepala. Hampir saja ia memanggil anak itu.


Biasanya setiap pulang dari kantor, ia akan mencari bocah kecil itu. Rasa letih dan penatnya seakan sirna tatkala melihat Mario.


Adam masuk ke dalam kamarnya dan lagi, ada bayangan Mario yang tersenyum padanya di atas tempat tidur.


Adam mengusap wajahnya kasar. Ini sudah beberapa hari ia tanpa anak itu. Tapi, Mario masih saja membayanginya.


'Aku harus melupakannya! Dia bukan anakku!'


Adam sadar, Mario bukanlah anaknya. Tapi, ia selalu merasakan begitu merindukan anak tersebut. Pria itu tidak mengerti dengan perasaannya. Apa karena mereka selalu bersama, hingga ia merasa kehilangan anak itu sekarang.


Ponsel Adam berdering. Ia pun menjawabnya.


"Halo..."


...


"Tes DNA?" Adam mulai berpikir. "Baiklah, saya akan ke sana."


Pria itu menutup panggilannya. Ia baru ingat, jika ia telah melakukan tes DNA dan hasilnya sudah keluar.


Adam membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia bingung mau melihat hasil tersebut atau tidak.


Dilihat atau tidak dilihat, akan sama saja. Mario bukanlah anaknya.


Adam memejamkan matanya, bergumul dengan pikirannya.


'Apa aku memang mandul?!'


Adam mencoba mengingat perkataan dokter, saat ia dan Nara pernah melakukan konsultasi.

__ADS_1


'Aku tidak mandul!'


Dokter sendiri yang mengatakan, jika ia dan Nara sama-sama sehat. Sesuai dengan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.


'Aku akan melihat hasilnya!!!'


Adam bangkit dan bergegas keluar kamar.


"Mau ke mana, Dam?" Tanya Mama yang bingung melihat putranya yang baru pulang, kini tampak akan pergi lagi.


"Ke rumah sakit, Ma." Jawab Adam sambil menyalami Mamanya untuk pamitan.


"Kamu sakit?" Tanya Mama khawatir melihat tubuh anaknya.


Adam menggeleng dan melirik rindu yang membuang wajahnya. Adiknya sepertinya masih marah padanya.


"Maaf ya dek yang waktu itu." Adam meminta maaf sambil mengelus kepala Rindu. Ia merasa bersalah membentak gadis yang tidak tahu apa-apa itu.


Rindu tak menjawab, ia menkerucutkan bibirnya.


"Kamu mau ngapain ke rumah sakit?" Tanya Mama kembali.


"Mau lihat hasilnya, Ma." Adam pun pergi. Ia terlihat terburu-buru.


"Hasil apa ya, Rin?" Tanya Mama bingung.


Rindu mengangkat bahunya. "Nggak tahu, Ma. Mungkin saja hasil tes DNA."


"Apa?" Pekik Mama kaget.


"Ke-kenapa?"


Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang. Ia ingin segera sampai ke rumah sakit. Dan melihat hasil tes DNA tersebut.


Berkali-kali Adam menghembuskan nafasnya. Ia harus memastikan Mario memang anaknya atau bukan.


Adam telah sampai di rumah sakit. Ia sedang berada di ruang dokter. Dokter tersebut menjelaskan perihal tes, yang beberapa hari lalu telah dilakukan pemeriksaan.


Kertas hasil tersebut Adam remas kuat. Menahan emosinya yang kian memuncak. Yola sudah menipunya. Wanita itu memang penipu ulung, yang penuh dengan tipu muslihat.


Hasil tes tersebut menunjukkan jika Mario benar adalah anak kandungnya.


Adam sangat geram. Karena emosinya saat itu, ia jadi berpikiran dangkal. Dan mempercayai apa yang Yola ucapkan padanya.


Padahal seharusnya ia menunggu sampai hasil tes DNA tersebut keluar. Yola saat itu membuatnya murka dan dengan mudahnya memberikan Mario pada wanita itu.


Adam meraih ponsel dan akan menelepon Yola. Tapi, nomor tersebut sedang tidak aktif.


'Yola... Aku akan membunuhmu!!!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2