KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 108 - Persiapan Mental


__ADS_3

"Sayang, berat ya." Arka kasihan melihat Nara. Perut istrinya sangat besar.


"Nggak, Mas." Nara menggeleng sambil mengelus wajah sang suami.


Arka mendengus. Nara berkata seperti itu, agar ia tidak cemas dan juga khawatir. Mana mungkin tidak berat. Selama berbulan-bulan istrinya membawa kedua buah hatinya.


"Sayang." Arka memeluk Nara. Kehamilan istrinya sudah memasuki bulan kelahiran. Dalam waktu dekat, kedua buah hatinya akan terlahir ke dunia. Dan Nara...


Arka memijat pelipisnya, membayangkan Nara melahirkan kedua buah hatinya. Bagaimana sakitnya mengeluarkan anak dari lubang yang sempit itu.


"Mas Arka kenapa?" Nara bingung. Suaminya tampak sangat gelisah. Seperti banyak masalah.


"Sayang, setelah nanti anak-anak kita lahir. Kita tidak usah nambah anak lagi, ya. Kita besarkan kedua buah hati kita ini saja." Arka menganggukkan kepalanya.


"Mas Arka... kalau kita dikarunia anak lagi. Aku akan menerimanya dengan senang hati." Nara tak akan menolak, jika nanti ia bisa hamil dan memiliki anak lagi.


Arka agak kecewa, Nara masih mau menambah anak lagi.


"Mas Arka, prediksinya kalau nggak minggu ini, minggu depan anak kita lahir." Nara sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan.


Arka menelan salivanya dengan susah. Tubuhnya mendadak merinding.


"Mas Arka, jangan takut gitu deh." Nara merangkup wajah tampan sang suami.


Pria itu menatap lembut sang istri tercintanya.


Banyak kejadian yang terjadi saat melahirkan. Ada yang ibu dan bayi selamat. Ada yang salah satunya tidak selamat.


Rasanya Arka merasa tidak bisa bernafas lega dengan kekhawatirannya. Ia benar-benar takut.


"Mas Arka... kita berdoa yang terbaik saja. Semua akan baik-baik saja. Kita akan bersama-sama merawat dan membesarkan anak-anak kita." Nara menenangkan suaminya.


Arka mengangguk. Ia menkecup kepala Nara dengan sayang.


\=\=\=\=\=\=


"Mom oh Mom..." Panggil Arka mendudukkan diri di samping ibunya.


"Hmm." Jawab Mommy masih sibuk dengan ponsel.


"Lagi ngapain sih, Mom?" Tanya Arka penasaran.

__ADS_1


"Ini lagi cari nama bagus untuk cucu kembar Mommy. Menurut kamu mana yang bagus Adam Hawa, Alan Alana, Alex Alexa, Putra Putri, Eko Eki..." Mommy mengatakan beberapa nama.


"Mom..." Arka lagi tidak mood membahas nama anak. Ia masih diliputi ketakutan persalinan Nara nanti.


"Bagaimana dulu Mommy melahirkanku?" Tanya Arka serius.


"Dilepeh." Ledek Mommynya.


"Mom!!! Arka serius." Arka menunjukkan wajah cemberutnya.


"Hmm... dulu Mommy melahirkan kamu, seperti wanita melahirkan lainnya lah." Ucap Mommy sambil meletakkan ponsel di atas meja.


"Bagaimana rasanya, Mom? apa begitu sakit?"Tanya Arka masih penasaran.


Rasanya wanita paruh baya itu ingin tertawa saja, wajah putranya pucat dan ketakutan.


"Kamu khawatir sama Nara?"


Arka mengangguk.


"Nak, wanita itu sudah dianugerahi kekuatan yang luar biasa. Lihat saja, selama 9 bulan sanggup membawa anak dalam kandungan ke mana pun dia berada." Jelas Mommy perlahan.


"Jadi, wanita juga sudah diberikan kekuatan yang luar biasa, untuk melahirkan anak tersebut. Kamu bayangkan saja, semana besarnya bayi baru lahir. Tapi seorang ibu itu hanya merasakan kesakitan sesaat, dan rasa sakit itu akan hilang, saat tangisan bayi itu terdengar." Mommy menceritakan apa yang dialaminya.


"Jadi, jika anaknya kembar... apa mereka keluar bersama-sama?" Arka masih membayangkan bagaimana sakitnya Nara nanti.


"Astaga!!! Ya, nggaklah Arka."


"Jadi?"


"Ada beda waktunya."


"Berapa lama?"


"Tergantung. Ada yang selisih 5 menit, sejam atau sehari."


Arka menghembuskan nafas kembali. Ia masih takut.


"Arka... kamu harus yakin. Nara bisa hamil anakmu, berarti ia juga bisa melahirkan dan juga merawat anak-anak kalian bersama." Mommy mengelus kepala putranya. Arka sama dengan mendiang suaminya. Yang begitu cemas saat ia akan melahirkan Arka kala itu.


"Kamu harus nemani Nara nanti lahiran."

__ADS_1


Lagi dan lagi Arka diam. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti saat ia berada di ruang persalinan. Melihat Nara kesakitan, mungkin Arka bisa saja pingsan.


"Arka, kamu harus siapkan mental kamu. Saat persalinan, Nara butuh dukungan dari kamu. Tapi kalau kamu ketakutan seperti ini. Malah Nara yang jadi khawatir sama kamu." Mommy membangkitkan semangat sang putra.


Arka mengangguk. "Baiklah, Mom. Aku akan mempersiapkan mentalku. Aku akan jadi suami dan Papa yang kuat dan siaga." Arka meyakinkan dirinya. Ia adalah seorang pria. Jadi tidak boleh membuat Nara khawatir.


"Nah... gitu dong, baru anak Mommy."


Arka mengangguk. "Aku mau ke rumah Dika, Mom. Nanti kalau Nara bangun, bilang saja aku keluar sebentar."


"Mau ngapain ke sana?"


"Mau cari info. Dika lebih pengalaman." Arka pun pamit pergi.


\=\=\=\=\=\=


Dika terkekeh-kekeh melihat Arka datang ke rumahnya dan bertanya apa saja yang dia lakukan saat menemani istrinya melahirkan.


"Dika... Jangan tertawa terus." Uli memberitahu suaminya. Dika dari tadi tidak bisa berhenti tertawa.


Melihat ekspresi Arka sekarang, Uli mengerti kekhawatiran pria itu. Apa lagi istri Arka hamil kembar. Pertama kali melahirkan. Kekhawatiran Arka pasti double.


"Arka percayalah. Wanita mungkin terlihat lemah. Tapi kami sangat kuat. Sekarang yang terpenting persiapkan mentalmu. Nara butuh dukunganku."


Apa yang Uli katakan sama persis seperti perkataan Mommynya.


"Benar, Ka. Yang penting sekarang mentalmu. Kalau nanti saat menemani istrimu, dia berteriak kesakitan. Kau harus bisa menenangkannya. Jangan kau pula yang malah ikut teriak dan lebih parahnya sampai pingsan pula." Dika menggeleng membayangkan jika Arka seperti itu.


Uli mencubit lengan suaminya. Dika senang sekali meledek Arka. Padahal ekspresi Dika kala itu, sama saja dengan Arka sekarang. Penuh ketakutan.


Arka menarik nafas panjang. Benar, ia harus mempersiapkan mental dari sekarang. Karena sebentar lagi Nara akan melahirkan. Ia harus mendukung istri tercintanya.


"Aku pulang. Aku merindukan istriku." Arka pun pamit.


"Heh... dasar bucin!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2