
Suasana terasa dingin. Tatapan mata yang saling menatap tanpa ekspresi.
"Minum, Ka." Tawar Adam mencairkan suasana. Setelah tadi mengahadang Arka, Adam mengajak ke sebuah kafe. Ia akan berbicara empat mata dengan pria itu.
"Sudah lama ki-"
"Minggu depan aku akan menikah." Sela Arka cepat. Ia merasa Adam sudah tahu kabar pernikahannya.
"Aku akan menikah dengan Nara." Arka menunjukkan wajah seriusnya.
Hati Adam mulai tak senang mendengarnya.
"Aku akan menikah dengan Nara, mantan istrimu." Sambung Arka kembali memperjelas.
Adam berusaha tenang. Ia bingung mau menanggapi apa. Rasa panas di hatinya mulai menjalar.
"Kau dan Nara? Kalian akan menikah?" Adam memastikan kembali.
"Iya. Kami akan menikah."
"Kenapa? Kenapa harus dia? Apa tidak ada wanita lain lagi, Arka!" Adam menaikkan intonasi suaranya. Dari sekian banyak wanita, kenapa harus mantan istrinya?
"Dia..." Adam menarik nafasnya.
"Dia itu wanita mandul. Kau tahu alasanku menceraikannya, bukan?!" Adam mengingatkan Arka, akan kekurangan Nara. Yang membuatnya menceraikan wanita itu.
"Aku tidak peduli semua itu. Yang aku tahu, aku sangat mencintainya." Arka mempertegas perkataannya.
"Arka, kau sudah tidak waras." Ada rasa tak rela Nara menikah dengan temannya itu.
"Aku sangat waras dan sadar, Adam. Jika kau ada waktu datanglah ke pernikahan kami."
"Arka... Kau akan menyesal menikah dengannya!" Adam memperingatkan.
"Menyesal atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu." Arka menenggak minuman di atas meja.
"Apa kau memang sudah mengincarnya?" Tanya Adam dengan sorot mata tak senang. "Kau tahu aku ingin kembali padanya dan kau malah akan menikahinya? Apa kau temanku?"
Arka menghembuskan nafas pelan. Adam membawa pertemanan mereka.
"Kalian sudah lama bercerai. Dan tidak mungkin kembali bersama lagi."
"Kau mau merebutnya dariku?" Adam menajamkan pandangannya.
"Nara dan kau sudah bercerai. Aku tidak merebutnya dari siapapun. Status Nara sedang sendiri. Dan aku berhak memilikinya." Tegas Arka menatap Adam.
"Dia masih milikku!!!"
"Aku dan dia akan menikah. Dia sudah memilihku. Dia milikku."
"Kau..." Adam memijat pelipisnya. Arka benar-benar membuatnya kesal.
"Jangan pernah berpikir untuk mencoba mendekati Nara kembali." Arka bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki setelah mengatakan itu.
"Aku akan merebut kembali apa yang pernah menjadi milikku." Ucapan Adam membuat langkah kaki Arka terhenti.
"Dan aku tak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku." Arka pun melangkahkan kaki meninggalkan temannya itu.
Sementara Adam meremas tangannya geram. Arka mau menikah dengan Nara. Apa yang diharapkan Arka dengan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan itu? Apa Arka hanya bermain-main dengan Nara?
__ADS_1
Arka melajukan mobilnya melintasi jalanan malam. Ia kesal mengingat perkataan Adam tadi.
'Aku tak akan melepaskannya. Nara milikku!'
Arka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ia menghampiri Mommynya yang sedang berada di dapur.
"Mom." Panggilnya.
"Hmm." Jawab wanita paruh baya itu sambil menuangkan air ke gelas.
"Mom, percepat pernikahan kami." Pinta Arka dengan wajah memelas. Ia takut, Adam benar-benar menjadi penghalang mereka.
"Mana bisa. Menunggu minggu depan saja kamu nggak sanggup." Cibir Mommy melihat sang putra yang tak sabaran.
"Resepsinya biarkan saja minggu depan. Akadnya besok saja ya, Mom." Melas Arka kembali. Jika ia dan Nara sudah akad, Adam tidak bisa merebut Nara kembali.
"Astaga!!! akadnya sudah sekalian dengan resepsi. Kamu kenapa sih?"
"Itu Mom..." Arka berwajah kecut.
Tak lama
Suara tawa menggema di dapur tersebut. Mommy tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Arka. Ketakutan Arka tentang mantannya Nara.
"Mom!!!" Arka kesal Mommy malah tertawa diatas kecemasannya.
"Apa yang kamu takutkan dari mantan suaminya Nara? Perasaan mereka? Mommy yakin sebagai wanita, Nara sudah tidak mempunyai perasaan padanya. Siapa juga yang masih mau mencintai pria yang sudah menyakiti hati!" Jelas Mommy menenangkan Arka.
"Tapi, Mom..." Arka masih dilanda cemas tak menentu.
"Kamu takut Adam datang dan membatalkan pernikahan kalian? Dia membakar aula pernikahan atau menculik pengantin wanitamu?" Mommy menggeleng tak percaya.
"Itu tidak akan terjadi!" Ucap Mommy dengan senyuman penuh arti.
"Kenapa Mommy yakin?" Tanya Arka curiga.
"Kamu tenang saja!!!" Mommy mengelus kepala Arka dengan sayang. Putranya akan segera menikah dengan wanita yang dicintainya. Mommy harus memastikan tak ada orang yang akan merusak pernikahan putranya.
\=\=\=\=\=\=
'Aku harus menemui Nara!' Adam melajukan mobilnya menuju rumah Nara.
Adam menepikan mobil di pinggir jalan, saat ponselnya berdering. Ia melihat atasannya yang menelepon.
"Halo, Pak."
Tak lama, Adam sampai ke rumah dan sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Kenapa mendadak?" Tanya Mama membantu melipat pakaian Adam.
"Ada pekerjaan yang harus aku urus di luar kota, Ma. Aku titip Mario ya, Ma. Tolong jaga dia selama aku pergi." Ucap Adam.
Mama mengangguk pelan.
"Ma, tolong jangan berikan Mario pada Yola. Jangan izinkan dia bertemu dengan anakku." Adam mengingatkan. Ia tak mau pulang dari dinas luar kota, Mario sudah bersama Yola.
'Hanya 3 hari. Aku masih ada waktu menemui Nara!' Adam akan menyelesaikan urusan pekerjaannya. Setelah itu, ia baru mengurus tentang Nara.
Adam pamit pergi pada Mama dan adik-adiknya. Tak lupa juga dengan putranya.
__ADS_1
"Anak ganteng, Papa pergi dulu ya. Nanti pulang... Papa belikan mainan yang banyak untuk Mario." Adam memeluk sang anak dengan erat.
"Pa-pa." Ucap Mario dengan senyum polosnya.
Adam pun tersenyum sambil mengelus kepala Mario dengan sayang. Tak lama Adam pun pergi.
Sementara di rumah Arka. Terlihat Mommy sedang menelepon.
"... Terima kasih banyak, Pak." Ucap Mommy sambil tersenyum senang.
...
"... Tolong anda juga atur, agar dinas luarnya menjadi 2 minggu."
...
Mommy tersenyum lalu mengakhiri panggilannya.
"Mom." Panggil Arka.
"Astaga!!!"
Pletak
Mommy yang kaget, repleks menokok kepala Arka. Putranya itu mengangetkannya saja.
"Mom, menelepon siapa tadi?" Tanya Arka ingin tahu, sambil memegang kepalanya yang sudah benjol.
"Teman Mommy." Jawab Mommy cepat.
"Teman? laki apa perempuan?" Arka memicingkan matanya.
Mommy menggeleng.
"Mommy, sudah punya gebetan baru ya?!" Tanya Arka kembali. Pasti Mommy sedang dekat dengan seseorang.
"Sembarangan kamu." Mommy menjewer telinga Arka. "Gebetan baru? Mommymu ini masih sangat mencintai mendiang daddymu."
"Ya, kalau Mommy mau menikah lagi, nggak apa kok."
"Tidak!!!" Pekik Mommy kesal.
"Jangan marah-marah, Mom." Arka pun memeluk Mommy. "Arka sayang sama Mommy. Aku yakin daddy pasti setuju jika Mommy mau menikah lagi."
"Aduh, Mom!!!" Arka meringis, perutnya kena capitan Mommy.
"Daddy kamu itu tak akan bisa terganti sampai kapanpun."
Arka mengangguk. Setelah Daddynya meninggal, Mommy tak pernah dekat dengan pria manapun. Mommy sangat setia dan masih sangat mencintai Daddynya.
"Sudah ah, kamu buat Mommy rindu sama Daddy saja." Mommy menahan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Daddymu pasti bahagia, melihat putranya akan menikah dengan wanita yang dicintainya..."
"Pasti Mom. Aku kangen Daddy..."
.
.
.
__ADS_1