KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 8 - Bingung Harus Jujur?


__ADS_3

"Nara... Pijatin aku dong." Adam masuk ke kamar sambil mengelap rambutnya. Pria itu telah selesai mandi.


"Sayang..." Adam melihat Nara diam saja di pinggir tempat tidur. Tangannya memegang sesuatu.


'Apa yang dipegangnya?' Adam takut jika ada sesuatu di koper itu. Sesuatu yang menyangkut tentang Yola.


"Nara... Kamu ngapain?" Tanya Adam mendudukkan diri di samping istrinya.


"Ini rambut siapa, Mas?" Tanya Nara menunjukkan sehelai rambut yang cukup panjang.


Adam melihatnya sebentar, rambut panjang berwarna pirang. Itu adalah rambut Yola.


"Rambut kamu." Jawab Adam berusaha santai. Seolah dia tidak tahu apapun. Adam tak mau Nara mencurigainya.


"Bukan, rambutku hitam. Ini rambut warna pirang. Aku menemukan rambut ini lengket di pakaian Mas yang ada di dalam koper." Nara menatap Adam tajam. Rambut pirang yang panjang, pasti ini rambut seorang wanita. Apa Adam bermain gila di belakangnya?


"Aku nggak tahu itu rambut siapa." Adam menaikkan bahunya, berusaha untuk tetap tenang.


"Apa mungkin itu rambut rindu?" Adam mulai memikirkan alasan.


"Rambut Rindu sama denganku, hitam juga. Nggak pirang seperti ini." Nara masih mengintrogasi Adam. Perasaannya mulai tidak enak.


"Rambut temannya mungkin. Sebelumnya Rindu, kan pernah meminjam koper saat pergi ke acara perpisahan sekolah. Kamu belum mencuci kopernya?" Adam mengarang alasan yang yang masuk akal. Mengatasnamakan adik bungsunya.


Nara masih melihat Adam. Ia ingat adik iparnya pernah meminjam koper itu. Bisa jadi, itu rambut temannya Rindu, yang tidak sengaja lengket. Tapi, kenapa bisa menempel di pakaian Adam?


"Sayang, apa kamu pikir aku berselingkuh darimu? apa ada tampang aku mau mendua?" Adam kini gantian menatap Nara. Ia menunjukkan wajah sedih, karena Nara sudah meragukan dirinya.


Adam meraih tangan Nara dan menggenggamnya erat. Menatap wajah sang istri penuh cinta. "Nara...Kamu sangat tahu, jika aku sangat mencintaimu. Mana mungkin aku berselingkuh di belakangmu."


Tatapan mata Adam membuat Nara luluh dan percaya. Ia yakin Adam tidak mungkin seperti itu. Pasti ini hanya kebetulan saja.


"Kamu percaya padaku, kan?" Adam masih bertanya.


Nara mengangguk. "Tapi... aku ingatkan ya, Mas. Jika kamu berselingkuh, segera ceraikan aku."


"Kamu bicara apa sih? Aku nggak ada macam-macam, Na." Adam menepisnya segera. "Sudah, kamu jangan berpikirkan yang tidak mungkin."


"Aku cuma mengingatkan Mas Adam. Aku sangat percaya sama kamu, tapi jika kamu mengkhianati kepercayaanku. Maka kita harus bercerai. Tiada toleransi untuk pengkhianatan." Jelas Nara memperingatkan. Ia mengancam seperti itu, agar Adam berpikir 2 kali, jika ingin menduakannya.


"Nara, aku tidak berselingkuh sayang..." Adam masih meyakinkan Nara.


"Iya, aku percaya kamu, Mas Adam."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu lagi. Kamu membuatku seolah-olah, seperti orang benar-benar berselingkuh."


"Maaf Mas." Nara segera menampik pikiran-pikiran yang tadi sempat singgah di kepalanya. Ia akan percaya pada suaminya.


"Na... Aku merindukanmu."


Tubuh Nara mulai meremang, saat merasakan hembusan nafas Adam di lehernya.


Adam membawa Nara naik ke tempat tidur. Pria itu mengungkung sang istri.


"Mas... Tunggu." Nara menahan Adam, saat pria itu akan menciumnya.


"Kenapa?" Tanya Adam bingung. Apa Nara menolaknya malam ini, karena masalah rambut pirang itu.


"Pi-pintunya dikunci dulu. Nanti kalau ada yang masuk, gimana..." Nara menunjuk pintu kamar.


Adam pun bangkit dan segera mengunci pintu. Dan kembali lagi, memposisikan tubuhnya di atas Nara.


"Mas, sekali saja ya."


Adam menggeleng. "Seperti biasanya."


"Mas Adam!!!"


Pagi itu Nara menyajikan sarapan. Ia menyodorkan sepiring nasi goreng pada Adam, lengkap dengan teh manis hangat.


"Terima kasih, sayang." Ucap Adam senang, seraya mengelus kepala Nara dengan sayang. Nara melayaninya dengan tulus dan penuh senyuman.


"Ma, kapan orang dua ini pulang?" Tanya Rindu yang juga berada di meja makan. Pagi-pagi disuguhi adegan romantis, membuat iri saja.


"Nanti sore kami pulang." Jawab Nara melirik adik iparnya. Remaja itu malah tertawa-tawa.


"Nanti aku mau cari suami seperti Bang Adam. Baik, pengertian, romantis, bertanggung jawab, setia-"


"Kuliah dulu. Nggak usah mikirin nikah-nikah." Adam menarik gemas hidung adiknya.


"Kak Nara... Hidungku merah." Adu Rindu pada Nara.


"Makanya jangan mikirin nikah saja. Kuliah dulu, Ada masanya menikah." Omel Nara. Ia setuju dengan Adam.


Rindu mencemberutkan wajahnya. Nggak ada yang mau membela dirinya.


Tak lama Adam melajukan mobil setelah berpamitan pada Mama dan Nara.

__ADS_1


'Bagaimana aku menjelaskannya?!'


Dalam perjalanan, Adam dilanda kebingungan. Bagaimana memberitahu dan menjelaskan semua ini pada Nara. Tentang dia yang telah menikah lagi. Menjadikan Yola istri keduanya.


Adam sangat mencintai Nara. Selama 4 tahun hidup bersama, ia sangat bahagia bersama Nara. Nara itu wanita yang sangat perhatian, pengertian, sabar dan tak banyak menuntut. Dan paling penting, Nara sangat mencintainya.


Tapi walau merasa sangat bahagia, Adam masih merasa ada yang kurang. Tak ada suara tangisan bayi di antara kebahagiaan mereka. Walau kadang ia bersikap seolah tak apa jika mereka masih berdua, tapi sebenarnya ia sangat ingin mempunyai anak.


Hingga setahun yang lalu, Adam tak sengaja mengenal Yola. Wanita itu seorang pelayan di sebuah rumah makan yang sering Adam datangi, saat jam makan siang kantor.


Awal mulanya mereka hanya sekedar dekat. Jalan, makan, menonton, seperti yang dilakukan pasangan pada umumnya. Mereka menjalin hubungan meskipun Yola tahu, Adam sudah menikah dan memiliki istri.


Adam sering datang ke kos-an Yola. Dan selalu pulang malam. Beralasan pada Nara bahwa ia lembur di kantor.


Adam yang berani hanya mencumbui Yola. Mulai penasaran dengan dirinya.


Adam ingin tahu, apa ia yang mandul. Walau dokter mengatakan baik ia atau Nara sama-sama sehat.


Yola yang melayang dengan permainan jari Adam di intinya, juga ingin merasakan kenikmatan yang sesungguhnya. Tapi, ia tak berani meminta itu. Adam bisa saja menolaknya.


"Yol... Apa kamu bisa mengandung anakku?" Tanya Adam menatap wanita itu.


"Kita akan mencobanya bersama." Yola mengangguk atas perkataan Adam. Ia senang mendengar hal itu.


Adam mengangkat kaki Yola. Perlahan ia memasukkan benda pusaka itu ke inti Yola. Dan terjadilah pergulatan panas, diiringi desa-han.


Hati Adam sangat bahagia, saat tahu Yola hamil. Adam pun menikahi Yola secara siri. Karena Yola telah mengandung anaknya. Anak yang selama ini sangat diharapkannya. Tapi, ia hadir di rahim Yola dan bukanlah Nara.


Adam memberikan tempat tinggal dan membiayai kebutuhan Yola. Ia juga datang 2-3 kali dalam sebulan. Dengan alasan dinas luar kota pada Nara.


Adam ingin anak itu ada status di dalam kartu keluarga, saat terlahir ke dunia.


Yola sangat senang mendengar rencana Adam. Yola juga tak ingin terus dianggap simpanan. Ia juga ingin mempunyai status yang sah. Walau sebagai istri kedua, itu tidak masalah.


Tapi... Untuk mengatakan sejujurnya pada Nara, Adam tak pernah bisa. Pria itu hanya dapat mengulur-ulur waktu. Hingga sekarang... anak itu dalam beberapa minggu lagi, akan segera terlahir ke dunia.


'Nanti malam aku akan mengatakan semuanya di rumah.'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2