KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 12 - Menurutimu


__ADS_3

Plak


Di pagi yang masih cerah, Ayah mendaratkan satu tamparan di wajah pria yang sudah membuat putrinya menangis.


Adam pagi-pagi telah datang ke rumahnya. Dan menjelaskan semua maksud hatinya. Rencana masa depan dengan kedua istrinya.


Ayah sangat marah dan tak menerima putrinya jika harus dimadu.


"Ceraikan Nara!" Tegas Ayah pada sang menantu.


"Ayah, kenapa malah mendukung kami berpisah? Seharusnya Ayah mengerti maksudku." Adam tak mengerti, bisa-bisanya Ayah menginginkan sang putri menjadi janda.


"Cukup!!!" Bentak Ayah yang sudah terbakar emosi.


Adam terdiam sejenak, tatapan pria paruh baya itu sangat tidak bersahabat.


"Ayah... Aku mencintai Nara. Aku sangat mencintai putri Ayah. Aku ingin dia juga dapat merasakan menjadi seorang ibu, merasakan merawat-"


"Aku bilang hentikan!!!" Ayah bangkit dan mencekam kerah pakaian Adam. Rasanya ingin saja mencekik pria itu, memasukkan dalam goni dan menghanyutkannya ke laut.


"Jika kau mencintai Nara, bukan seperti ini caramu."


"Tapi, Yah-"


"Diam!!! Apa aku harus merobek mulutmu agar kau tak bisa berbicara lagi?!" Maki Ayah pada pria yang sudah menyakiti hati putrinya. Mendengar rencana Adam saja, Ayah sangat tidak suka. Bagaimana lagi perasaan putrinya saat ini?


Nara yang berada di balik tembok hanya bisa menangis. Ayah tadi tak memperbolehkannya bertemu dengan Adam. Karena Ayah ingin mendengar sendiri, apa keinginan suaminya secara langsung.


"Kak... Aku mendukungmu bercerai." Gio mengelus pundak sang kakak. Salahnya, tadi Ayah tak mengizinkannya bertemu pria itu, padahal ia sangat ingin memberi pelajaran pada abang iparnya yang kurang ajar.


'Lihat saja saat diluar, akan ku habisi kau!!!' Gio sangat geram sekali. Ia akan izin tidak masuk kantor dan menunggu Adam di tengah jalan.


"Ayah, biarkan aku bertemu Nara. Aku ingin meluruskan masalah ini." Mohon Adam.


"Tak ada yang perlu diluruskan lagi, Mas. Sekarang yang aku inginkan hanya bercerai darimu." Nara datang ke ruang tamu.


"Nara, jangan begini. Aku melakukan semua ini demi kebaikan kamu-"


"Kebaikan apa?" Tanya Nara cepat.


"Nara... Aku hanya ingin memiliki anak. Kita bertiga dapat membesarkan anak itu bersama-sama."


Omongan Adam membuat Ayah jadi panas. Tapi Bunda menahan suaminya. Membiarkan Adam dan Nara bicara, dengan keduanya masih dalam pengawasan mereka.


"Aku nggak mau, Mas. Aku nggak mau merawat anak pelakor itu." Bagaimana pun Nara tak bisa menerima. Hati kecilnya menantang keras hal tersebut.


"Nara... Itu anakku. Darah dagingku." Tegas Adam kembali.


"Jika kamu menginginkan anak, kita bisa adopsi, Mas. Bukan seperti ini caramu." Nara menggelengkan kepala sambil mengusapi air mata yang terus berlinang.


"Anak adopsi itu bukan darah dagingku, Na. Apa aku salah menginginkan memiliki anak kandung? Kamu seharusnya berpikir, Nara. Seharusnya kamu tidak egois seperti ini." Adam membalas ucapan Nara.

__ADS_1


"Terus maksudmu sekarang, aku harus merawat anak kandungmu dari si pirang itu? Aku nggak mau!!!" Nara terang-terangan menolak.


"Nara... Kamu seharusnya mengerti kalau kamu itu mandul, kamu-"


"Adam!!!" Pekik Bunda.


Plak


"Jaga ucapan kamu!!!" Ucap Bunda setelah melayangkan tangannya. Lama-lama Adam makin kurang ajar.


"Atas dasar apa kamu bilang Nara mandul?" Tanya Bunda dengan nada tinggi.


"5 tahun-" Adam akan menjelaskan.


"5 tahun Nara tak mengandung anakmu, sementara baru beberapa bulan wanita itu sudah mengandung anakmu. Atas itu kamu bilang Nara mandul?" Bunda jadi emosi. Tidak terima omongan Adam.


"Kamu dengar sendiri apa yang dokter katakan? Nara itu sangat sehat dan tidak mandul. Dia bukan tidak bisa mengandung, tapi belum waktunya saja. Seharusnya kamu yang mengerti perasaan Nara, bukan Nara yang harus mengerti dengan perselingkuhanmu." Bunda mengomeli Adam habis-habisan.


"Bunda-" Adam masih memelas.


"Ceraikan Nara. Aku nggak akan mengizinkan putriku hidup bersama pria sepertimu."


"Nara..." Adam beralih menatap Nara. Istrinya itu harus mengerti.


"Aku mau bercerai." Tegas Nara.


"Terserah kamulah, Na. Seharusnya kamu mengerti niat baikku. Tapi, ya sudah kalau kamu ingin seperti itu."


Bagi Adam... Nara dan keluarganya sama saja. Menyalahkan dirinya tanpa melihat niat baiknya.


Nara terhuyung setelah kepergian Adam. Ayah dan Bunda menahan dan memapah sang putri menyandar di sofa.


Hati Ayah sakit melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Ia menyesal pernah merestui hubungan mereka.


\=\=\=\=\=\=


Citt


"Kenapa ini?!" Adam merem mendadak mobilnya saat sepeda motor menghadangnya.


"Turun." Ucap seorang pria mengisyaratkan Adam turun.


"Apa Yo?" Tanya Adam membuka pintu mobil.


Dengan segera, Gio menarik Adam dan menghajar pria itu bertubi-tubi.


"Beraninya kau menyakiti kakakku." Gio menghajar Adam.


Adam tak dapat membalas, karena Gio membawa teman-temannya yang kini memegangi dirinya.


"Kau nggak mengerti, Yo. Coba kau berpikir jika di posisiku." Adam mencoba menjelaskan pada Gio.

__ADS_1


"Posisimu saat berselingkuh seperti apa? Terlentang, terlungkup, menungging?" Gio benar-benar emosi.


"Segera ceraikan kakakku. Dan jangan pernah muncul di hadapannya lagi. Atau aku akan membunuhmu." Ancam Gio seraya menghempas tubuh Adam yang sudah babak belur.


"Ayo, cabut." Ajak Gio pada teman-temannya.


Adam masuk ke dalam mobil dengan tertatih-tatih. Ia mengelap sudut bibirnya yang berdarah.


Wajahnya sudah babak belur, mana mungkin ia ke kantor dengan wajah seperti ini.


Adam melajukan mobilnya menuju rumah. Ia akan meminta izin tak masuk ke kantor.


"Mas Adam... Sakit ya." Yola mengobati luka wajah Adam. Suaminya itu pulang-pulang sudah babak belur. Pasti di hajar keluarga Nara.


"Mas... Maafkan aku. Aku menjadi orang ketiga diantara kalian. Biarkan saja aku pergi. Aku nggak mau kalian jadi bertengkar." Ucap Yola merasa dirinya menyebab Adam dan Nara bertengkar.


"Tidak, kamu tidak bersalah. Aku yang salah." Adam menggeleng. Ia tak mau Yola berpikiran yang tidak-tidak. Nanti bisa mempengaruhi perkembangan anaknya.


"Mas, kita berpisah saja. Aku akan membawa bayi ini. Biarkan kami hidup berdua dan kamu bisa kembali pada istrimu."


Adam menggeleng. Ia tak setuju rencana Yola.


"Kamu tenang saja. Nara itu sangat keras kepala dan keluarganya juga. Jika mereka menginginkan perpisahan, aku akan turuti." Adam sudah letih meyakinkan Nara.


"Maksud, Mas Adam?" Tanya Yola memastikan. Ucapan Adam mengandung angin segar untuk kejelasan statusnya.


"Mereka menginginkan perceraian, aku akan turuti." Tegas Adam.


Bagi Adam sekarang, ia hanya ingin membangun sebuah keluarga kecil dengan buah hatinya. Jika Nara tidak ingin berada di keluarga kecilnya, biarkan saja wanita itu mencari kebahagiaannya sendiri.


'Siapa yang mau dengan wanita mandul.'


"Mas akan menceraikan Nara?" Yola memastikan.


"Itu yang dia mau." Jawab Adam.


Yola bersorak riang dalam hatinya. Ia meraih tangan Adam dan menggenggamnya. Seolah sedang menenangkan pria itu.


"Sabar ya, Mas." Yola menatap sendu Adam. Merasa prihatin, padahal ia sangat senang. Ia akan menjadi istri Adam satu-satunya.


Tok


Tok


Tok


"Adam!!! Keluar kamu!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2