
"Mas, perginya 2 hari kan. Lusa sudah pulang kan?"
"Iya loh, sayang. Aku pergi cuma 2 hari. " Arka menghela nafasnya. Tah sudah berapa kali Nara bertanya untuk memastikan.
"Setelah selesai aku langsung pulang. Kamu mau dibawai oleh-oleh apa?"
Nara menggeleng, ia tak menginginkan ole-ole. "Aku cuma mau kamu cepat pulang, Mas."
Tangan Arka meraih tubuh Nara. Memeluk tubuh yang kini makin berisi.
"Aku akan cepat pulang. Kamu jangan telat makan. Kasihan nanti anak kita kelaparan."
"Iya... Mas Arka juga ya. Jangan telat makan."
Arka dan Nara keluar dari kamar. Untuk berpamitan pada Mommy.
"Kamu dinas luarnya berapa hari, Ka?" Tanya Mommy bingung. Arka membawa 2 koper besar. Seperti akan pergi lama.
"2 hari, Mom." Jawab Arka sambil tersenyum. "Nara membawakanku semua yang aku butuhkan di sana."
"Iya, Mom. Nara bawai selimut, takutnya Mas Arka nggak bisa tidur nyenyak di sana. Nara bawakan juga bantalnya." Nara memberitahu apa isi koper tersebut.
Melihat wajah senyum Arka yang mengangguk, Mommy pun mengangguk mengerti.
"Ya sudah, Mom. Aku pergi dulu." Arka berpamitan pada sang ibu.
Nara mengantar sampai teras rumah. Lalu sebelum berangkat, Arka berpamitan pada istri dan anak dalam kandungan.
"Sayang..." Arka jadi tak tega mendengar suara tangisan istrinya. Nara sudah menangis dalam pelukannya.
"Setelah selesai aku segera pulang. Kamu jangan nangis seperti ini dong. Aku jadi nggak tenang perginya."
Nara melonggarkan pelukannya. Ia mengusap air mata sambil melihat pria di hadapannya.
Selama kehamilan, Nara merasa gampang menangis. Dan juga makin bertambah manja. Mungkin ini bawaan anak.
"Hati-hati ya, Mas." Nara harus mengerti pekerjaan suaminya. Lagian Arka pergi juga untuk urusan kantor.
Arka mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Nara melambaikan tangan mengiringi mobil yang melaju pergi.
Nara terus melambaikan tangan. Ia sampai berdiri di tengah jalan.
'Nara!'
\=\=\=\=\=\=
Pagi itu, Adam sarapan dengan pikiran yang mengingat Nara. Ucapan Yola, sungguh menganggu pikirannya kembali. Membuatnya jadi penasaran dengan mantan istrinya.
Setelah berpamitan, Adam pun pergi ke kantor. Dalam perjalanan, ia bukannya ke kantor. Malah pergi ke rumah Arka. Ia yakin, Arka akan membawa Nara tinggal bersamanya di rumah orang tuanya.
Sampai di komplek perumahan Arka, Adam berhenti tidak beberapa jauh dari rumah Arka. Lama Adam menunggu, hingga mobil keluar dari rumah itu.
'Nara.'
Adam merasa kesal, mantan istrinya itu terus melambaikan tangan. Membuatnya mengingat kembali saat bersama wanita itu. Saat ia pergi ke kantor kala itu.
__ADS_1
'Kenapa dia agak gemukan? Pasti kebanyakan makan?'
Tubuh Nara mulai berisi sekarang.
Arka itu orang kaya. Semua bisa dibelinya. Bahkan, pria itu sangat royal dan tidak pelit. Nara pasti dijejeli berbagai macam makanan. Dan jadilah tubuh wanita itu mengembang.
Adam memakai sabuk pengamannya, ia melajukan mobil dan akan kembali ke kantor saja. Ia akan datang lain waktu, untuk bertemu Nara dan suaminya itu.
Mobil yang dilajukan Adam keluar dari komplek perumahan. Wajah Adam tersenyum sinis, saat melihat seseorang yang menjegatnya.
"Ada apa?" Tanya Adam begitu keluar dari mobil.
"Bukannya justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Ada apa kau pagi-pagi ke rumahku?" Tanya Arka tidak senang. Tadi saat pergi, ia melihat mobil Adam di sekitar rumahnya. Arka ingin turun dan bertanya langsung, cuma ia tak mau membuat Nara melihat mantan suaminya itu. Jadi lebih memilih menunggu Adam di luar komplek.
"Tidak ada." Geleng Adam seakan tak ada masalah.
"Oh iya, tadi kulihat Nara cukup berisi sekarang. Apa kau membuat hidupnya hanya untuk makan tidur makan tidur saja?" Tanya Adam dengan nada mengejek.
Arka tersenyum. "Sepertinya itu bukan urusanmu. Mau apapun yang kulakukan, selama dia bahagia. Tidak jadi masalah, bukan?"
Adam jadi tertawa melihat ekspresi temannya yang mulai emosi.
"Arka Arka... Kenapa kau menganggapku sebagai musuhmu? Kita ini teman bukan. Aku tidak masalah kau menikahi wanita bekas-"
Bugh
Tangan Arka melayang terbang ke wajah Adam. Ia tak akan membiarkan Adam menjelekkan istrinya.
"Tutup mulutmu!!!"
Arka makin emosi. Adam sudah merusak moodnya di pagi yang cerah ini. Ia pun kembali memberikan bogem mentahnya.
"Kenapa kau memukulku?" Adam tidak terima dan membalas bogeman tersebut.
Mereka terlibat perkelahian. Membuat security yang berjaga melerai. Keduanya berkelahi tak jauh dari pos jaga.
"Aku peringatkan, jangan pernah mengusik hidup istriku lagi!!!" Arka merasa curiga pada apa yang akan Adam lakukan, dengan pagi-pagi mengintai rumahnya.
"Aku juga tidak akan peduli. Lagian dia cuma wanita mandul!!!" Adam masih menjelekkan Nara.
Arka ingin kembali membalas, tapi security sudah memegangi mereka.
"Dia..." Arka tak jauh berucap. Untuk apa juga ia memberitahu pria itu. Jika ternyata Nara sedang hamil.
"Anda tidak apa, Pak?" Tanya security pada Arka, setelah menyuruh Adam pergi.
"Saya tidak apa." Jawab Arka kembali masuk ke dalam mobil.
Arka memutar kembali mobilnya memasuki komplek.
"Loh, Mas Arka kok sudah pulang?" Tanya Nara melihat pria itu. Baru saja pergi, Arka sudah kembali pulang.
"Mas Arkaku sayang, wajahnya kenapa?" Nara heboh melihat wajah lebam suaminya.
"Kejedut pintu mobil." Karang Arka.
__ADS_1
"Kok bisa?"
Tak lama...
"Sakit sayang."
"Diam dulu."
Saat ini, Nara mengompres bengkak di wajah Arka dengan es batu.
"Nara... Tolong jangan tinggalkan aku." Arka yang masih berbaring di tempat tidur menggenggam erat tangan wanita itu. Pertemuannya dengan Adam, membuat ketakutannya mulai muncul.
Arka merasa, Adam akan menjadi pengganggu dalam pernikahannya. Mantan suaminya Nara itu memang mengatakan sudah tidak peduli dengan Nara. Tapi, kenapa temannya itu mengintai rumah mereka.
Pasti ada udang di balik batu.
"Nara, tolong jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu." Arka menatap mata yang melihatnya bingung.
"Mas, kamu kenapa? Nggak demam kok." Tangan Nara terulur menyentuh dahi Arka.
"Sayang... Janji padaku."
"Iya... Kita akan bersama selamanya." Nara mengelus kepala Arka dengan sayang. Meskipun Nara agak heran kenapa suaminya mendadak manja seperti ini.
Nara meraih ponsel Arka yang berdering. "Mas, Pak Sam telepon."
Arka menerima ponsel dari Nara. "Halo, Sam..."
Arka bangkit dari tempat tidur dan menjauh untuk menjawab telepon.
"Kamu saja yang handle urusan di sana, Sam."
...
"Saya sedang tidak enak badan."
...
"Saya percayakan padamu."
Arka mengakhiri panggilan. Matanya melihat Nara yang berwajah bingung.
"Mas, nggak jadi pergi dinas luar?" Nara masih penasaran.
"Tidak, sayang. Sam sudah menghandle semuanya. Aku tidak akan pergi jauh. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Nara merasa aneh. "Mas, apa yang telah terjadi? Mas, tidak mungkin kejedot pintu. Apa Mas berkelahi?"
"Ti-tidak." Jawab Arka mendadak gugup.
"Jangan bohong. Katakan padaku!!!"
.
.
__ADS_1
.